J_A - Ketiga belas
I CAN LOVE YOU EASY
by
CHRISTIAN BAUTISTA
🎹
We've been connected all this time
By an invisible string attached
From your heart to mine
We circle the obvious like
Satellites that roam around the earth
No. I'm never gonna let you go.
I can love you easy
If you give me the chance
Suddenly we feel so close
And it happens so fast
Let's take tonight
This heart can't lie believe me
Baby I can love you easy
.
.
.
💖💖💖
.
.
.
"Izinkanlah aku untuk menyentuh hatimu. Percayalah sepenuhnya kepadaku. Dan berikanlah aku kesempatan untuk mencintaimu."
~Kapten Inf. Arganindra B.~
🏹
Tepat pukul 03:00, aku terbangun. Dengan atau tanpa alarm, aku sudah biasa terjaga di waktu menjelang pagi.
Beberapa hari ini, aku memang tak bisa menjumpai Mitha. Semua dikarenakan aku yang sedang mendapatkan giliran untuk menjadi PA (Perwira) Jaga—menjaga keamanan teritorial Batalyon/Kesatuan—yang kerap disebut, Naik Jaga atau Naik Piket. Alhasil, hanya pesan-pesan singkatlah yang bisa kukirimkan padanya.
Mataku tertuju pada nakas, sebelah almari. Pada sebuah amplop, SPRIN (Surat Perintah) yang kuterima semalam. Aku mengirim pesan pada Mitha, memintanya untuk bertemu denganku.
Pukul 04:44, Mitha kembali membalas pesanku. Ia mengabarkan bahwa dirinya akan tiba di kantor pukul 08:00.
Mitha, Mitha ... baru beberapa hari tidak bertemu saja, rasanya sudah luar biasa. Bagaimana jika tiga minggu kedepan? Pasti rindunya sangat, sangat luar biasa.
Langkahku terasa semakin mantap untuk meng-halal-kan Mitha. Segala berkas-berkas pribadi juga sudah kukumpulkan guna menuju proses Pengajuan Nikah.
Bahkan aku sudah melapor pada kesatuan dan mendapatkan izin untuk menyelesaikan urusan pribadiku, pagi ini.
~~~
#Pukul 06:08
Mobil kupacu meninggalkan kesatuan, menuju kediaman keluarga Atmoko. Bukan untuk menemui Mitha, melainkan orang tuanya.
Ada beberapa hal penting yang harus kusampaikan secara langsung.
Sesampaiku di rumahnya, Mbok Nah yang membukakan pintu kemudian mengantarkanku ke sini. Sebuah taman yang indah untuk dipandang.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah papa Surya yang tengah menghampiriku.
"Assalamu'alaikum, Pap." Kuucapkan salam, lalu kucium punggung tangan kanan beliau.
"Wa'alaikumussalam! Gimana kabarnya, Nak?"
"Siap! Alhamdulillah, saya baik Pap. Papa, Mama, sama adek-adek—"
Kalimatku terjeda oleh Papa Surya.
"Mitha-nya, nggak ditanyain?!"
Aku tersenyum rikuh, sambil mengusap tengkukku. Papa Surya tersenyum melihat tingkahku. "Alhamdulillah, kami sekeluarga baik-baik saja!" sambung beliau.
"Izin, Pap! Siap salah. Saya baru bisa sowan (berkunjung) ke sini, setelah lepas jaga. Ini adalah daftar berkas-berkas yang harus dipersiapkan pihak keluarga wanita," ujarku seraya menyerahkan sebuah map dengan beberapa lembar file yang harus diisi dan ditandatangani oleh Mitha, sekeluarga.
"Tidak apa-apa, Nak! Namanya juga tugas."
"Siap. Satu hal lagi, Pap ... semalam saya mendapat SPRIN. Dan saya ditunjuk sebagai salah seorang prajurit yang terpilih mewakili Batalyon dalam Latgab (Latihan Gabung) Militer tahun ini. Jadi untuk acara lamaran akan tetap berlanjut, namun orang tua saya yang akan mengambil peran."
Beliau mengangguk sebagai tanda memahami setiap perkataanku. "Nak Andra ini, lucu. Kami menerima Nak Andra sebagai calon pendampingnya Mitha, tentu kami juga tau dengan segala konsekuensinya. Jadi tidak usah terlalu formil, Nak! Jangan lupa, meskipun Papa ini arsitek, tapi Papa juga anak seorang prajurit."
Alhamdulillah ... yaa Allah! Lega rasanya. Jujur aku sempat takut dengan tanggapan orang tua Mitha. Mengingat profesiku yang lebih mengutamakan kedaulatan dan kedamaian negeri ini.
Aku jadi teringat saat dulu sempat menemani Bang Faris, ke rumah orang tua istrinya—yang kala itu masih calon mertuanya. Aku menjadi saksi bagaimana penolakan sempat ia terima. Bahkan masih teringat jelas saat (calon) ayah mertuanya berkata, "kalau hampir dua puluh empat kau berada di luar rumah, lantas kapan waktumu untuk membahagiakan anakku?!"
Tapi lagi-lagi aku lupa,
Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu menulis kisah yang berbeda bagi tiap-tiap hambanya. Begitu pula dengan kisahku.
"Izin, Pasi. Sudah lama tak bersua, kabar baikkah?" tanya Richie yang kini sudah menempati sisi kiri Papa Surya.
"Alhamdulillah, Dek! Kuliah gimana, lancar?" Aku memang sudah cukup akrab dengannya, meskipun saling berkirim pesan, dan tentu saja laporannya segala hal yang berkaitan dengan Mitha.
"Alhamdulillah, Mas! Ini proposal atau ... ya bisa dibilang semacam biografi Mbak Mitha. Supaya Mas, bisa lebih mengenal kakakku."
Aku menerima map pemberiannya. "Kalau kamu bilang semalam, Mas juga akan siapkan hal yang sama!"
"Ngga perlu! Cukup Mas meraih dan menjaga hatinya. Aku jamin dalam hitungan detik, dia langsung bisa tau semua hal tentang Mas Andra!"
"Kok gitu!" Aku bingung dengan ucapannya. Apa Mitha punya indera keenam?
"Hehehe ... buat Mbak Mitha, orang yang dicintainya adalah dunianya, orbit tempat dia hidup dan berkembang!"
Jadi seperti itu caramu mencintai Mith?! Itukah yang membuatmu terluka begitu dalam? Yaa Allah ... izinkanlah aku menjadi dunia serta orbitnya.
Aku berpamitan kepada Papa Surya dan juga Richie. Tak lupa kuberitahukan bahwa aku akan menuju kantor Mitha, untuk bertemu dengannya.
🏢🏢🏢
Lima menit sudah, aku berada di sini
dan tempat inilah yang menjadi favoritku, kafe miliknya.
Me > [Calon]Nyonya.Andra
"Assalamu'alaikum." 08:01
"Sudah berangkatkah? Atau sedang di jalan?" 08:02
Pesan, tak ada balasan. Telepon pun tak terjawab. Pukul 08:05, Mitha masih belum menampakkan dirinya. Seharusnya tadi, kutunggu dan kubuntuti saja Mitha. Agar aku tak cemas seperti ini.
Hingga dua menit kemudian ... kulihat dia berjalan memasuki kafe, lalu suara hangatnya terdengar menyapa salah seorang rekan kerjanya.
Kulangkahkan kaki menuju arahnya, kemudian memberondongnya dengan kalimat-kalimat sarkas.
Mitha tampak terkejut. "Saya kan tadi sarapan dulu, Mas!" jawabnya dengan nada yang dibuat serendah mungkin.
Ada raut bingung dan mungkin juga kekesalan ditunjukkannya, tentu saja disebabkan oleh ulahku. Tidak taukah kamu, seberapa khawatirnya aku, Mitha?!
Untuk mencairkan suasana, aku mempersilakannya duduk di hadapanku. Kuutarakan apa yang menjadi tujuanku menemuinya. Kali ini aku memintanya dengan sangat, untuk memikirkan tentang konsep pernikahan ini, sesuai dengan keinginannya. Sekalipun Mitha belum mengetahui, bahwa ialah sang calon mempelai wanita.
Seorang pramusaji menginterupsi perbincangan kami, lalu meletakkan dua buah gelas di atas meja.
"Permisi, Bu! Ini pesanannya Pak, dua medium Oat to klat. Silakan, selamat menikmati!"
"Terima kasih!" sahutku dan Mitha bersamaan. Sejurus kemudian, ia nampak mengulum senyum.
Kucoba memberitahunya perihal SPRIN, yang semalam kuterima. "Tiga minggu kedepan, saya tidak bisa menghubungi kamu—Mitha mengangkat kepalanya, kini menatapku—Saya mengikuti Latgab. Oleh sebab itu, saya meminta kamu yang memikirkan hal ini sesuai dengan keinginanmu. Setelah lepas tugas saya akan mengadakan acara pribadi antar keluarga dekat kami!"
Tarikan nafasnya terdengar kasar. Raut wajahnya tak bisa terbaca, pasca penjelasan yang kuberikan padanya.
"Ehm ... hari-hari yang akan saya lalui cukup berat. Karena hampir dua puluh empat jam, temen deket saya itu cuma pistol, senapan, dan perlengkapan persenjataan lainnya. Kamu, bisa bantu saya untuk menikmati keindahan?!"
"Hah! ... maksudnya, Mas?" tanyanya hampir tersedak.
"Jangan kaget! Jangan datar gitu mukanya. Kamu tau nggak? Tampangmu sekarang ini, kayak anggota saya yang nggak bisa ambil cuti, atau kena dinas dadakan!" selorohku santai.
Seketika Mitha tertawa. Sungguh sebuah tawa yang memancarkan pesona yang begitu berbeda. Kuaktifkan kamera pada ponsel, lalu segera kupotret tepat saat ia memalingkan wajahnya ke samping,
Maaf jika aku tak meminta izin, biarlah foto ini yang akan menemani hari-hariku esok.
Selanjutnya, aku yang terus mengajaknya bicara. Tentang tempat ini, menu-menu ciptaannya, dan segala hal tentangnya.
Mungkin saat ini dia bingung dan bertanya-tanya, dari mana aku mengetahui semua tentangnya. Secepatnya kamu akan tau, Mith!
Kuputuskan untuk menyudahi perbincangan kami. Sebab yang kutahu, ada klien yang kini sedang menantinya.
Saat sedang dalam perjalanan kembali menuju batalyon, kukirimkan pesan padanya, Agar ia turut mendo'akan aku, sebagai pengiring langkahku saat bertugas.
Terima kasih sudah tersenyum tulus dengan sendirinya, karena senyumanmu ini yang akan menemaniku selama beberapa minggu kedepan. Sampai jumpa tiga minggu lagi.
.
.
.
To be continued ....
*Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Friends ....😘
Makasih buanyak buat kalian yang sudah dan selalu setia menemani perjuangan Mas Andra🤗
Maaf buat typo yang masih suka seliweran sana-sini🙏
Pc : ²6-³¹Agustus²0¹9
Published 31.08.19 20:17
Revisi 16.05.20
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top