-45⚡-


Mata Kaira bergerak canggung ketika Serhan muncul dari pintu dan berjalan ke tempatnya duduk. Kelas masih sepi, hanya ada mereka di sana. Serhan memang biasanya selalu datang pagi-pagi sekali. Dan hari ini Kaira sengaja sampai di sekolah lebih dulu daripada teman sebangkunya itu.

Serhan duduk di tempatnya, terlihat biasa saja tapi sebenarnya rasa canggung Kaira menular padanya. Ia mengeluarkan ponsel kemudian memiringkan layar setelah membuka aplikasi game online.

Kaira semakin bingung harus bagaimana apalagi karena Serhan sama sekali tidak bersuara dari dia masuk.

"Soal kemarin ...," tarikan napas terdengar sebelum Kaira melanjutkan. "sorry, ya, Ser. Gue nggak maksud jadiin lo objek buat bercandaan."

Tangan Serhan sibuk memainkan game di ponsel, tetapi hatinya serasa dipatahkan. "Santai. Emang kenapa harus jadi candaan, sih? Oh, lo mau nunjukkin ke Jiro?"
Serhan tidak berniat untuk menjuteki Kaira, tapi nada suara yang tidak bisa dikontrol itu membuatnya jadi merasa bersalah.

"Nggak gitu! Gue gak expect suasananya bakal jadi canggung. Pokokknya gue minta maaf karena udah buat lo nggak nyaman."

"Tapi Kai," Serhan menoleh, untuk pertama kali sepanjang pertemanannya dengan Serhan, lelaki itu mengalihkan pandangan dari permainan game onlinenya.

Serhan menatap Kaira yang menunggunya berbicara. Tetapi sedetik kemudian lelaki itu kembali melihat ponsel. "Nggak jadi, gue nggak mau jadi beban buat lo."

Kaira sempat heran, lantas berdengus. "Yang ada gue kali yang selama ini jadi beban buat lo," gumam gadis itu mengingat ia seringkali merepotkan Serhan sebagai chairmate-nya.

🌍

Jam istirahat sudah selesai dari sepuluh menit yang lalu, tetapi kedua pemuda berseragam putih abu itu tetap diam padahal anak-anak yang lain sudah lebih dulu berjalan ke kelas masing-masing.

Seolah mereka berdua sudah saling tahu kalau ada yang perlu dibicarakan sehingga tidak  bergerak dari posisi semula. Lebih tepatnya si lelaki yang sedang duduk, tengah menunggu seseorang di depannya membuka mulut tetapi masih juga tidak bersuara sehingga ia bersiap bangun.

"Naksir Kaira, lo?" Jairo tidak lagi bersandar pada tembok, ia melihat Serhan yang menoleh setelah tiga langkah melewatinya.

Serhan mengangguk. "Iya ... kenapa?"

Serhan sadar kalau Jairo berusaha merespon senormal mungkin. Tubuh lelaki itu sepenuhnya menghadap Jairo. "Lo juga suka Kaira," lanjut Serhan lebih kepada pernyataan. "bukan sebagai sahabat."

Jairo bungkam.

"Oh ... lo belum sadar?" Serhan kelihatan tenang dan seperti sudah menduga kalau mereka berdua akan melakukan pembicaraan ini. "Atau sengaja nggak mau sadar?"

Jairo tetap diam, tapi wajahnya mengkerut. Seakan ketahuan melakukan sesuatu karena pertanyaan sobatnya. Ia berakhir dengan mendengkus dan maju selangkah.

"Cepet-cepet sadar, deh. Malas gue harus bersaing sama orang yang bahkan gak tahu sama perasaannya sendiri," ucap Serhan lalu melanjutkan langkahnya.

Jairo berdecih, tapi tetap berjalan dan menyamai langkahnya dengan Serhan.

🌍

Kaira melihat notifikasi yang muncul tanpa membukanya. Menatap lama nama si pengirim dan isi pesannya. Akhir-akhir ini Serhan selalu mengiriminya pesan. Biasanya ia dan lelaki itu memang saling chatting, tetapi hanya membahas sesuatu seperti tugas atau jika mereka dan yang lainnya akan keluar bersama, Serhan akan bertanya apa ia harus menjemput Kaira.

Namun pesan Serhan beberapa hari terakhir ini jauh lebih intens, begitu pikir Kaira. Walaupun mereka setiap hari bertemu di kelas, tetapi cowok itu selalu saja menemukan topik pembicaraan yang ingin ia bicarakan lewat chat. Kaira awalnya tetap menanggapi pesan Serhan seperti biasa, tetapi kebingungan akan perubahan ini akhirnya ia rasakan sekarang.

Shaun dan Julia muncul dari pintu depan dengan menenteng plastik putih di tangan masing-masing. Kaira yang melihat itu kemudian mengetikkan pesan balasan untuk Serhan dan menaruh ponsel di meja dengan layar menghadap ke bawah. Ia menghela napas, dan kembali mengetik di laptop.

"Helaan napas apa lagi kali ini," sindir Julia.

Shaun yang semula tidak sadar, alhasil menoleh pada Kaira.

Ditatap penasaran dan penuh keingintahuan, membuat Kaira berhenti mengetik. Memandang bergantian pada kedua remaja itu sebelum menyuarakan isi kepalanya.

"Aneh gak sih kalo sebelumnya lo chattingan sama cowok buat bahas hal yang penting-penting aja, tapi sekarang chattnya malah jadi lebih sering."

"Lebih sering ini maksudnya gimana?"

"Ya, jadi lebih intens aja."

"Seperti?"

"Selalu punya topik yang mau dibahas."

"Contohnya?"

Kaira berpikir sebentar. "Dari minta gue bantu milihin sepatu yang mau dia beli, sampai bahas brand-brand sepatu terkenal. Trus juga kadang kita bahas drakor yang lagi gue tonton atau game yang lagi dia mainin. Nah, baru-baru ini dia sempet ajak gue ke pameran gitu, gegara gue story-in lukisan yang gue ambil di pinterest. Sepupunya kan jurusan seni, trus angkatan mereka kek lagi buat pameran gitu."

"Trus selama di pameran dia gimana?"

"Gue tolak anjir ajakannya."

"Lah, kenapa?"

Kaira mendesah. "Ya karna dia ajaknya pas gue udah sadar kalo dia berubah, kalo nggak pasti gue mau-mau aja. Gue auto awkward dong kalo bareng dia berdua doang."

"Siapa sih emangnya?" Julia gregetan sendiri.

"Serhan," tukas Kaira, sambil mengamati ekspresi kedua temannya.

Julia terlihat biasa saja, seperti sebelumnya ia sudah memperkirakan hal itu. Ia mengambil terang bulan keju yang kemudian disuapkan ke mulutnya.

"Dia baper kali gara-gara tod kemarin," sambung Shaun.

"Tapi menurut gue Serhan gak akan baper cuman karena hal kecil kayak gitu sih."

"Kalo gitu bisa aja 'kan dia selama ini udah suka sama lo, trus karena tod kemarin dia ngerasa kalo rasa sukanya kebalas makanya dia mulai berani pdkt-in lo," jelas Julia.

"Itu lebih nggak mungkin lagi. Lagian gue udah jelasin soal tod itu kok pas besoknya."

"Anjir, lo bilang kalo lo sebenarnya suka sama Jairo?" Julia heboh

"Ya, enggaklah."

Tiba-tiba hening. Julia merasa seperti ia sudah melakukan hal yang tidak seharusnya. Ia dan Kaira saling memandang sebelum serentak menoleh ke satu-satunya lelaki di antara mereka.

"Kok gue nggak tahu sih?!" Shaun mengerucutkan bibirnya dengan tatapan tajam, bergantian mengarah pada Kaira dan Julia.

Kaira menarik napas, lalu dengan wajah memelas bersuara, "sorry, Shaun."

Lelaki itu berdecak. "Pantas aja akhir-akhir ini lo ngehindar dari dia."

"Keliatan ya?"

"Banget, anjir!"

"Apa gue bilang!" tambah Julia.

"Trus sekarang gue harus gimana?"

"Soal Jairo?" tanya Shaun.

Kaira menggeleng. "Soal Serhan."

Julia dan Shaun kelihatan berpikir sambil menikmati terang bulan mereka yang entah keberapa. Kaira juga ikut mengambil terang bulan dan karena tidak ingin membuang waktu, ia lanjut mengetik makalah kelompok mereka.

Walaupun begitu, Kaira sama sekali tidak bisa konsentrasi pada tugasnya sampai beberapa kali salah ketik. Ia berdiri dan mengambil air mineral di dapur. Meyakinkan diri kalau ia kurang minum air sehingga tidak fokus, padahal pikiran gadis itu sedang menanti apa yang akan dikatakan dua temannya.

Notifikasi yang muncul di bagian bawah laptop Kaira berasal dari pesan Shaun yang berisi beberapa sumber dari artikel yang digunakan sebagai materi dalam makalah.

"Referensinya udah gue kirim." Shaun menaruh kembali ponselnya diiringi anggukan Kaira. "Kalo menurut gue ya, lo pura-pura nggak tahu aja sama tingkah Serhan itu."

"Kok jahat sih, pura-pura nggak tahu," sungut Julia, lalu lanjut mengunyah.

"Kan emang kita nggak tahu niat dia itu apa. Yaudah, tanggapin aja kayak biasa, usahain jangan kelihatan juga kalo lo nyadar dan malah jadi awkward."

"Semoga bisa deh, ya." Kaira menyalin pesan Shaun yang sudah rapi seperti penulisan daftar pustaka pada umumnya untuk dimasukkan ke makalah.

"Harus bisa dong! Jadi serba salah nanti semisal dia tahu kalo lo nyadar sama tingkahnya."

"Setuju, setuju!" tambah Julia, menerima laptop dari Kaira dan melanjutkan untuk mengedit yang menjadi tugasnya.

"Tapi, masa sih?"

"Emang lo mau balas perasaan Serhan kalo dia beneran suka dan tahu kalo lo nyadar lagi di-pdkt-in?"

Kaira langsung diam.

🌍

annyeong!
jan lupa vomment, yaw!
luv, zypherdust💋

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top