-20⚡-

"Jam 6 kan?" Jairo tanpa membuka helm berbicara pada Kaira yang berdiri di depannya. Kedua remaja itu kini sedang ada di depan rumah Sonya.
Kaira mengangguk setelah menyerahkan helm pada Jairo. "Awas aja kalo gak datang lo."
"Gue masih dendam ya lo ngasih tahunya pas h-1," peringat Jairo dengan wajah yang sama seperti tadi malam. Kaira memutar matanya, bosan mendengar itu yang sudah berulang kali diucakannya selama 24 jam terakhir ini. "Gue balik."
Kaira memandang motor Jairo yang menjauh. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah Sonya dengan totebag dan paper bag berisi pakaian dan kotak sepatu baru.
Seperti yang diduga Kaira sebelumnya-karena ia sudah tidak lagi mengikuti kompetisi tari atau pun sekedar berlatih, Jairo senang bukan main saat gadis itu memberitahu bahwa ia akan mengikuti perlombaan yang diadakan sekolahnya. Dan ketika Kaira sempat bilang bahwa ia ingin membeli sepatu baru, Jairo dengan semangat empat-lima langsung berkata kalau ia akan menemani sekaligus membantu gadis itu mencari sepatu yang bagus.
Kaira berdiri di depan pintu kamar Sonya yang terlihat berantakan. Alat make-up di mana-mana, juga lima pakaian dengan warna berbeda yang digantung pada bagian yang dirasa aman dari segala gangguan kecelakaan yang bisa saja terjadi. Ada makanan yang tidak terlalu berat di beberapa bagian ruangan. Serta plastik atau pun bekas perintilan yang mereka gunakan sebagai aksesoris dan properti. Tiba-tiba ia merasa sentimental karena akhirnya bisa melihat suasana seperti ini lagi.
"Dapat sepatunya?" Aura yang pertama mengajak Kaira bicara saat gadis itu melangkah ke dalam kamar.
Kaira mengangguk. "Dapat diskon lagi."
Luna yang wajahnya sudah full make-up mendongak dari layar ponsel ketika mendengar kata diskon. "Beli di mana?"
"Biasa," jawab Kaira.
"Distro deket sekolah?" tanya Aura lagi dan Kaira mengangguk.
"Kai, udah makan? Udah mandi? Itu makan dulu nasi bungkus punya lo. Kalo mau mandi, mandi aja." Sonya yang sedang merias Sissy menoleh sebentar. Bukan hanya hebat membuat koreografi, tetapi perempuan berkepala dua itu juga sangat kreatif mengaplikasikan segala jenis riasan pada wajah orang lain.
"Udah, kok, tadi pas dari beli sepatu aku singgah mandi di rumah dulu." Kaira berjalan ke arah meja samping tempat tidur yang terdapat plastik putih berisi satu bungkus nasi padang. "Makan ya, gue," tegurnya pada yang lain.
Sepuluh menit kemudian tiba giliran Kaira untuk dirias Sonya. Gadis itu menduduki kursi di dekat jendela, menunggu apa yang akan dilakukan kakak dari temannya itu pada wajahnya.
"Udah pake yang aku suruh tadi?" Kaira mengangguk taat lantas menutup mata, membiarkan Sonya mengutak-atik mukanya.
🌍
Ruang kesenian disulap sedemikian rupa menjadi panggung yang tidak terlalu besar. Di depannya ada dua meja dan kursi khusus untuk penanggung jawab dan juri yang akan menilai. Di belakang mereka barulah tersusun beberapa baris kursi untuk penonton. Walaupun ini baru tahap eliminasi, tidak bisa dipungkiri kalau banyak siswa yang sangat antusias.
Peserta lomba dikumpulkan di satu ruang kelas yang tepat bersebelahan dengan ruang kesenian. Mendengar kegaduhan dari ruang di sampingnya membuat beberapa dari mereka mendadak gugup. Pun dengan salah satu gadis yang matanya terus bergerak mengamati sekitar.
"Duh, kok tiba-tiba gue gugup, ya," gumam Sissy ketika mereka berlima sedang duduk di salah satu sudut ruangan.
"Perasaan lo aja kali," sahut Luna.
"Bagi minum lo, dong," Sissy meminta pada Qila yang langsung menyerahkan minumannya yang sisa setengah.
"Santai aja, Si. Anggep aja kita lagi latihan," ucap Kaira dan tersenyum menenangkan.
"Ah, paling juga lo gugup karena nanti ditonton sama gebetan lo," celetuk Aura.
Ekspresi wajah Sissy terlalu mudah ditebak olah yang lain, sehingga kini perempuan itu menjadi bahan godana untuk sejenak.
"Kai!" seruan itu membuat Kaira menoleh ke asal suara. Ternyata Julia yang sedang berdiri di depan pintu, bersama Jairo, Shaun, Serhan, dan Jake. "Mangats, gengs!" seru gadis itu lagi pada Kaira dan yang lainnya.
Kaira mengacungkan jempol diikuti teriakan terima kasih Aura, Luna, dan Sissy. Qila hanya tersenyum dan mengangguk.
Jairo dengan wajah datarnya yang kerap dibilang sombong, tersenyum tipis pada sahabatnya. Kaira membalas dengan ikut menarik sudut bibirnya lebih lebar dan memainkan sebelah alis seolah ingin menunjukkan kalau ia siap beraksi.
Setelah Jairo dan teman-temannya pergi, Aura mendekatkan diri pada yang lainnya seakan ingin berkata sesuatu sehingga Kaira, Qila, Luna, dan Sissy ikut mendekat.
"Akhirnya setelah setangah tahun, kita bisa ngumpul dan kayak gini lagi. Jangan jadiin masa-masa latihan kita yang penuh kerja keras dan keringat jadi sia-sia. Kita harus bayar itu." Aura meliat Sissy. "Sissy, jangan terlalu pikirin kegugupan lo, gue yakin kalo lagunya udah diputar pasti lu langsung auto fokus." Sissy mengangguk mantap.
"Ayo, doa dulu."
Setelah berdoa, Kaira menyempatkan memeriksa ponsel. Dan langsung disambut pesan teratas yang pengirimnya adalah Jairo.
J🦊
| Kalo lolos gue traktirin deh
| Apa pun
Kaira semakin semangat. Dalam hati bertekad ingin menang. Selain karena agar kerja mereka terbayar, ia juga ingin ditraktir Jairo. Rasa senangnya bertambah karena pesan terakhir cowok itu. Kalau begini, ia bisa dengan bebas meminta apa pun yang dimaunya, dan lelaki itu tentu saja tidak akan menolak karena sudah lebih dulu berkata demikian.
🌍
Annyeong!
Fyi, aku mikir panjang bat mau post foto di atas atau yang lain aja.
Soalnya di situ Jay gak ada obat, asli☹️
Maunya jadi konsumsi pribadi aja :v. Tapi gak papa deh, demi pembacaku tercinta. I wuf u, guys!😘
& selamat malam minggu😁🤪
luv, zypherdust💋
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top