-18⚡-

Hari ini hari Sabtu. Yang berarti waktu pulang sekolah Kaira lebih cepat dari biasanya. Dan karena itu Kaira dan teman-teman setim dance-nya bersepakat membawa baju ganti untuk dipakai latihan di rumah Sonya. Mereka berencana langsung ke rumah sepupu Qila itu setelah pemberitahuan selesainya pelajaran terakhir. Tetapi Kaira tidak membawa baju ganti, karena rumahnya dekat dengan Sonya.
Jairo menghampiri kelas Kaira, berniat pulang bersama gadis itu. Di samping kiri dan kanannya ada Jake dan Shaun. Mereka sampai di kelas 11 Mipa 2 bertepatan dengan Kaira, Serhan, dan Julia yang baru saja keluar kelas.
Mereka berenam kemudian berjalan bersama sampai ke lapangan parkir. Jairo mengeluarkan motornya dan berhenti tepat di depan Kaira yang tampak sedang celingukan ke mana-mana. Merasa tidak diacuhkan gadis itu, Jairo menarik gas motornya membuat Kaira yang terkejut spontan menatap nyalang padanya.
"Ayo," kata Jairo.
Mengerti dengan ucapan lelaki itu, Kaira malah mengangkat sebelah alis dan bersikap sinis. "Nggak jemput Clara, lo?"
Sama sekali tidak berusaha menutupi kalau ia masih menyimpan dendam untuk gebetan sahabatnya itu.
"Kai," tegur Jairo.
Kaira mengabaikan Jairo. Matanya kembali melihat sekitar. Ketika mendapati Aura yang baru memasuki lapangan parkir, perempuan itu melambai dan tersenyum. Ia hendak berjalan menghampiri Aura tetapi lengannya lebih dulu ditahan Jairo.
"Mau ke mana?" tanya Jairo.
"Ke rumah Azka," ucap Kaira enteng seolah sebelumnya ia sama sekali tidak pernah menghindari nama cowok yang disebutnya barusan. Dan tanpa sebab hal itu terdengar menyebalkan di telinga Jairo.
"Gengs, gue duluan, ya."
Setelah itu Kaira melepas pegangan Jairo di lengannya dan berlari ke arah Aura yang sudah siap dengan motor putihnya.
"Emang sejak kapan Kaira deket sama Azka?" ucap Jairo pada Julia karena setahunya gadis itu yang paling dekat dengan Kaira selain dua lelaki di depannya ini.
"Lah, lo nggak tahu?" kata Julia. Sengaja berkata demikian padahal yang ia tahu pun hanya sebatas Kaira berlatih di rumah sepupu Qila yang ternyata adalah Azka. Ia masih mempertahankan ekspresi misteriusnya dengan niat memancing reaksi Jairo. Bukan menjadi rahasia kalau gadis itu adalah penganut shipper Jaira (Jairo-Kaira) garis keras. Julia tertawa dalam hati dan senang bukan main ketika melihat wajah Jairo yang seperti tidak terima dengan fakta yang baru didengarnya.
🌍
"Kita mandi dulu, ya." Kaira masuk duluan ke dalam rumah diikuti Aura dari belakang.
"Terserah, gue ikut aja."
"Lo duluan, deh."
Kaira menyerahkan handuk baru yang ia ambil dari dalam lemari dan memberikannya pada Aura. Aura lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan pakaian bersih di tangannya.
Kaira membaringkan diri di kasur. Tidak berniat mengganti seragamnya karena sehabis ini pun ia akan membersihkan diri. Gadis itu mengecek ponsel. Beberapa menit kemudian ia berdiri dan membuka lemari besarnya. Ia mengambil salah satu baju di bagian di mana biasanya ia menaruh pakaian untuk bepergian. Saat menaruhnya di atas kasur baru Kaira menyadari tindakannya.
Kenapa juga gue harus pake baju ini? Batinnya.
Perempuan itu memasukan baju tadi dan mengambil kaos oblong biru dari bagian tumpukan pakaian rumahnya. Tidak berhenti di situ, Kaira malah berperang dengan hatinya karena ingin memakai baju coklat yang pertama ia ambil tadi. Untungnya Aura keluar dari kamar mandi dengan wajah segar sehingga Kaira langsung masuk ke ruangan kecil di kamarnya itu. Sengaja agar tidak lagi memikirkan pertarungan antara keinginan dan akal sehatnya.
Lewat lima belas menit, Kaira keluar dengan rambut yang basah.
"Perasaan nanti kita keringetan lagi, ngapain lo keramas?"
Ditanyai seperti itu barulah–sekali lagi, Kaira tersadar. "Pengen aja," jawabnya akhirnya.
Kaira melihat kaos putih di kasur. Mendesah sebentar sebelum akhirnya menukar dengan kaos coklat yang sudah ia simpan sebelumnya. Setelah berpakaian, gadis itu membedaki wajah dan memoleskan pelembab bibir yang mengandung sedikit pewarna.
Aura yang melihat tindakan Kaira yang tidak seperti biasnya saat akan latihan, menautkan alis bingung. "Kai, ini kita mau latihan, loh, ya."
Sedetik kemudian wajah Aura mulai mencurigakan. "Apa–"
"Enggak!" elak Kaira karena sudah tahu apa yang ingin dikatakan Aura. Dan ia tidak ingin perkataan itu malah membuktikan beberapa tindakannya barusan sebagai pembenaran dari pikiran yang sedari tadi ia coba hindari. Kaira dan Aura bertatapan selama dua detik sebelum akhirnya Kaira menarik kasar tisu dari atas meja rias dan mengusap bibirnya. "Ayo!"
Kaira meraih ponsel yang sempat ia sambungkan dengan pengisi daya, memberi anggukan pada Aura sebagai ajakan terkahir hingga mereka benar-benar keluar dari kamar. Motor Aura ia biarkan di rumah Kaira dan mereka berjalan kaki menuju rumah Sonya.
Selama perjalanan mereka hanya saling diam. Aura bersenandung kecil bagian chorus lagu Toxic milik Britney Spears sambil mengingat-ingat gerakan yang dua hari lalu mereka praktekan.
Kaira sendiri masih saja memperdebatkan hal yang sama. Karena sekarang mereka hanya berjalan dan itu membuat Kaira semakin bebas memikirkan hal yang coba ia hindari. Kaira mengakui ia agak tidak sabar untuk bertemu dengan Azka. Dan ia sangat meyakini kalau perasaan itu ada hanya karena penasaran dengan tingkah lain cowok itu yang belum pernah dilihatnya. Tetapi kenapa Kaira merasa ia sedikit memperhatikan penampilannya hari ini? Padahal ia hanya ingin pergi latihan, dan kebetulan tempatnya adalah di rumah Azka. Yang lebih membuatnya merasa gelisah adalah karena aksinya itu disadari Aura. Mendadak Kaira cemas. Apa sekarang ia sedang dalam tahap awal memiliki ketertarikan pada Azka?
🌍
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top