-14⚡-

Kaira mengantar Julia sampai gadis itu menaiki ojek online yang beberapa saat lalu dipesannya. Sekarang jam 11 pagi. Sebenarnya mereka berdua berencana akan pergi ke rumah sakit tempat Jairo dirawat. Tetapi Julia mendapat telepon dari Ibunya, menyuruhnya pulang karena harus menjaga dua putri kecil sang Kakak yang tiba-tiba saja dititipkan.
"Sorry, ya, Kai, nggak bisa nemenin," kata Julia yang sudah duduk di atas motor. "Eh, tapi bagus juga, sih, biar bisa berduaan sama Jiro." Julia nyengir.
"Heh!" Kaira melotot, mengundang tawa kecil Julia. Ia melirik lelaki yang menggonceng Julia–badan tegapnya membuat Kaira yakin kalau ia tampan walaupun tertutup helm fullface-nya, lantas membisikkan sesuatu pada temannya itu. "Ganteng, tuh."
"Mohon maaf, aja. Tapi Ka Yoandri tetep di hati," tegas Julia angkuh.
Kaira mencibir. "Serah lo, dah! Kalo udah sampai chat, ya."
Julia mengangguk. Dan dengan begitu ia bergerak bersama si ojek online dengan motor beat hitam mengkilatnya, menjauh dari pandangan Kaira.
Kaira masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti kala melihat Mamanya yang sedang menyiapkan dua kotak tupperware di atas meja makan. "Buat apaan, nih, Ma?"
"Udah mandi?" Bukannya menjawab, Mama Kaira malah bertanya balik. Kaira mengangguk.
"Kalau gitu ganti baju sana. Papa keknya udah selesai siap juga. Abis ini kita langsung jalan."
"Hah? Mau ke mana?"
"Arisan di rumah Tante Dila."
"Sejak kapan ada arisan?"
"Makanya kamu tuh kalo diajak, ikut. Jangan cuman di rumah, tiduran sama main hp, aja." Dinda menuangkan ayam asam manis yang tadi sudah ia dinginkan pada kotak tupperware berwarna ungu.
"Aku gak ikut, deh."
"Baru aja dibilang." Dinda gemas sendiri.
"Ma, Jiro masuk rumah sakit, loh," ucap Kaira.
"Lah, kamu 'kan udah ke sana kemarin. Lagian kamu juga tiap hari ketemu dia. Kata Mamanya juga besok dia udah bisa pulang."
"Ma," rengek Kaira. Berusaha membuat wajahnya sememelas mungkin agar Dinda luluh.
"Nggak untuk kali ini, Kaira!" tegas Dinda.
Dinda dan Kaira sudah akan membuka mulut untuk saling berdebat, tetapi Julio terlebih dahulu muncul.
"Sekali-sekali kenapa, sih, Kai. Papa sama Mama juga selalu iyain, kan, kalo kamu biasanya nggak mau ikut kalo ada acara ngumpul-ngumpul, gini."
Kaira mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ingin berdebat, tetapi kalau sampai Julio sudah berkata seperti itu, berarti memang ia harus menurutinya.
Kaira lantas berjalan ke kamar dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan kesal, meninggalkan Julio dan Dinda yang malah mengomel karena kelakukan putri semata wayangnya itu.
Kaira duduk di ranjang. Sempat memikirkan bagaimana kalau ia pura-pura tertidur atau mengunci diri di kamar. Namun, kembali teringat akan keras kepala Dinda–yang sebenarnya menurun padanya, yang bisa saja malah menyebabkan keributan di rumah.
Kaira mengakui kesalahannya yang kerap kali menolak ajakan orang tuanya untuk berkumpul bersama keluarga besar. Waktu itu pun ia pergi karena Omanya sendiri yang langsung meneleponnya. Sebenarnya bukan karena ia tidak suka, tetapi karena tiap kali Papa dan Mamanya mengajak, Kaira selalu saja ada di kondisi yang tidak tepat. Seperti saat mood-nya yang tidak baik, merasa dirinya terlalu lelah, sedang dalam keadaan yang malas keluar rumah, atau pun sudah ada janji dengan teman-temannya. Ya, mau bagaimana lagi.
Setelah memakai bedak tipis, gadis itu memasukkan perintilan barangnya ke dalam tas. Charger, headseat, botol parfum kecil, ikat rambut, dan sebuah novel. Berharap buku fiksi dengan tebal 200 halaman yang baru dibacanya setengah itu bisa menghilangkan rasa malasnya. Karena memang, sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Terbukti Kaira yang sekarang malah berada dalam suasana hati yang buruk.
🌍
Kaira bangkit dari duduknya. Menghampiri Dinda–yang sebelumnya asik bercengkerama di ruang tengah rumah Tante Dila, yang barusan lewat ke kamar mandi. Ia duduk di kursi meja makan sambil menunggu Mamanya selesai dengan urusan di dalam ruang kecil yang tak jauh di dekatnya itu.
"Ma, pulang, yuk." Kaira langsung berdiri begitu Dinda muncul. Sebenarnya ia ingin mengajak wanita separuh baya itu sedari tadi, cuman merasa tidak enak pada om dan tantenya yang lain. Jadilah ia harus mengambil celah-celah untuk nemberitahu Dinda. Dan entah sudah keberapa kalinya perkataan itu diajukan pada sang Mama.
"Belun sejam, udah minta pulang."
Kaira yang mengekori Mamanya sontak melayangkan protes. "Apaan yang belum sejam! Lagian 'kan arisannya udah selesai, Ma."
Dinda tampak tak menghiraukan putrinya itu dan berjalan kembali ke arah ruang tamu.
Gadis itu menarik napas. Tapi tetap tak menyerah kala melihat Papanya datang dari arah berlawanan.
"Kai, ambilin Papa air, dong."
Kaira dengan sigap langsung meraih gelas di sisi meja dan menuangkan air dari cerek kaca di sebelahnya. Lantas memberikan pada lelaki berkepala empat di sampingnya.
"Pa, pulang, yuk."
"Udah tanya, Mama?"
Kaira mengangguk.
"Mama bilang apa?" tanya Julio setelah menghabiskan seperempat air dari gelasnya.
"Ya, Papa pasti tahu, lah, jawaban Mama," jawab Kaira. Terkihat jengkel jika mengingat Dinda yang pura-pura tidak mendengar suaranya tadi.
"Yaudah, berarti tunggu aja." Setelahnya Julio berbalik pergi, meninggalkan Kaira yang mengeluarkan napas panjang.
"Pa!"
"Papa!"
Dengusan kesal keluar dari bibir gadis itu. Dengan sangat malas melangkah ke kamar Mira, saudara sepupu yang umurnya dua tahun di bawah Kaira. Saat masuk, ia disambut Mira yang sedang menggunting kukunya di atas sofa panjang, Lean yang sedang duduk di kursi meja rias sembari menonton drama Korea dari laptop Mira. Serta Diana, Olivia, dan Carol yang sibuk dengan ponsel di posisi masing-masing.
"Kenapa muka lo gitu, Kak?" tanya Mira.
"Tau, ah! Males gue," tukasnya.
"Dih!"
Kaira akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada seseorang di kontak ponselnya.
Kak Esaaa
Seperti dugaan, belum lima menit dan sudah ada balasan dari orang yang kini menjadi salah satu lelaki favoritnya itu.
Kak Esa
|Iya?
Ka Esa di manaa?
|Di rumah temen
|Lagi kerja kelompok
Eng, okeyy deh
|Kenapa?
Berpikie sebentar. Lantas Kaira mengirimkan sebuah foto dirinya dengan latar saudara-saudaranya yang sibuk melakukan aktifitas masing-masing.
Nggak papa, lagi males aja :v
|Hm, oke.
|Nanti kalo udah selesai, baru ka esa chat lagi.
Tanpa membalas pesan Hessan, Kaira membuang dirinya di kasur Mira. Sebuah langkah awal sampai akhirnya ia tertidur pulas di sana.
🌍
Padahal harusnya di-update Sabtu kemarin. Mon maap ges :(
Keep vomment!
Ah, iya, dan jan lupa untuk mampir ke cerita baruku, STRANGER.
Makasiii buat yang udah sempetin baca part ini.
luv, zypherdust💋
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top