-10⚡-

Serhan bersandar di dinding putih dengan kedua tangan yang dilipat. Matanya melirik jam di dinding koridor. Jarum pendek hampir menyentuh angka 11 dan jarum panjang berada di antara angka 8 dan 9. Kaira yang duduk di bangku besi di sampingnya, masih saja terdiam, sembari memainkan jemarinya pelan. Walaupun tidak terlalu kelihatan, Serhan tahu kalau gadis itu gelisah bukan main.
Ponsel Kaira berbunyi. Ia membuka tas dan mengambil benda persegi itu. Kemudian berjalan menjauh untuk menjawab panggilan tersebut.
"Iya."
"..."
"Belum tahu."
"..."
"Iya, nanti aku kabarin."
"..."
"Sama Serhan."
"..."
"Iya."
"Siapa?" tanya Serhan yang memang sedari tadi matanya tidak lepas dari Kaira semenjak gadis itu pergi menerima panggilan.
"Mama," kata Kaira pelan sembari mendudukkan diri pada bangku besi yang mungkin karena suhu ruangan, menjadi amat dingin saat menyentuh kulitnya.
Wanita paruh baya yang duduk di bangku lain, mendekat pada Kaira.
"Kai, kalo kamu kecapekan, nggak papa kalo mau pulang duluan, Sayang," kata wanita yang merupakan Ibu Jairo itu sambil mengelus rambut Kaira.
Kaira menggeleng dan memaksakan senyum tipis. Ia meraih tangan Mama Jairo dan balik menggenggam dan mengelusnya. "Nggak papa, Tan. Nanti kalo Dokternya udah keluar baru Kai pulang."
Mama Jairo dengan wajah yang dipenuhi bekas air mata itu menarik napas. Setelah bertukar pandang dengan sang suami, ia kembali berkata, "Makasih, Sayang."
"Kalo gitu Om dan Tante titip Jiro bentar, ya. Kasian Mamanya Jiro belum makan dari siang." Kaira mengangguk patuh pada lelaki yang berdiri itu yang tangannya merangkul bahu istrinya. Pandangan Ayah Jairo beralih pada Serhan, yang langsung berdiri tegap. "Nanti kalo Dokternya udah keluar dan kita belum kembali, langsung telpon Om, ya."
"Siap, Om."
Sepasang suami istri itu mengangguk lantas berjalan bersama, berlalu dari hadapan Serhan dan Kaira.
Selang dua menit, Kaira menutup mata dengan kedua tangannya. Dan tak berapa lama, suara helaan napas panjang mulai terdengar.
Kaira merasa sesak, tidak tahu kenapa. Ini memang bukan pertama kalinya sahabat laki-lakinya itu masuk rumah sakit. Dulu sekali, Jairo pernah dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi. Selain itu ia juga pernah dibawa ke sini karena tidak sengaja menginjak beling yang membuat kakinya harus mendapatkan dua jahitan.
Tetapi kali ini, perasaan gadis itu rasanya kacau sekali. Memikirkan hal apa yang berhasil menyebabkan Jairo berhujan-hujanan di malam hari dengan kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik, membuat Kaira kesal juga marah dengan cowok itu. Namun, saat membayangakan kecepatan laju motor Jairo hingga membuat lelaki itu jatuh terpental dan mengeluarkan banyak darah, membuat Kaira tidak bisa menahan bendungan di kedua matanya.
Tak bisa dipungkiri kalau Kaira ketakutan. Ia takut pada semua hal buruk yang bisa saja terjadi pada sahabatnya itu. Dan memikirkan bahwa ia akan kehilangan Jairo membuat kepalanya sakit. Tetapi kemudian ia menggeleng kuat, mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar ketika kepalanya digerakkan. Kaira tahu ia berlebihan sekali. Kendati demikian, ia tetap percaya pada Jairo dan juga para medis yang sedang membantu teman masa kecilnya itu di dalam sana.
Kaira yang sekali lagi menarik napas panjang, berusaha membuka suaranya, "Gue lebay, ya, Ser?"
"Nggak, kok. Biasa aja," jawab Serhan. Kaira tahu timing-nya tidak pas, tapi ia ingin sekali memukul kepala cowok di sampingnya ini.
Sejurus kemudian, Kaira merasakan tangan besar yang diletakkan di atas kepalanya. Tanpa usapan, tetapi membuat Kaira menjadi lebih baik.
"Nangis aja, gak usah ditahan," tegur Serhan.
Oh, Kaira salah. Kaira pikir ia akan tenang saat Serhan meletakkan tangan besar cowok itu di kepalanya. Tetapi saat Serhan mengeluarkan suara, ia malah langsung terisak detik itu juga.
Kemunculan lelaki tinggi dengan jaket abu dan beanie hitam, membuat Serhan tanpa terlalu kelihatan menurunkan tangannya dari kepala Kaira.
"Jiro gimana?" Hessan mengalihkan pandangannya pada Serhan, setelah sebelumnya menatap Kaira selama dua detik.
Serhan menggeleng. "Kita sampai sini pun, Jiro udah masuk ke dalam," jawabnya. Matanya menerawang ke ruangan dengan pintu kaca lebar di sisi kanannya.
Hessan menarik napas. Ia menaruh hoodie putih yang ia tenteng sebelumnya, ke atas pangkuan Kaira. "Pake, kalo lo nggak mau sakit."
🌍
Beberapa orang di koridor itu sontak berdiri ketika seorang dokter muda dengan baju serba hijau keluar dari dalam satu-satunya ruangan di sana. Seorang lelaki yang lebih pendek berdiri menemaninya di samping.
"Bagaimana, Dok?" todong Mama Jairo langsung. Si suami setia berdiri di sampingnya. Sama-sama menanti jawaban dokter muda itu.
Dokter itu bergantian menatap orang tua Jairo, Kaira, Serhan, dan Hessan. Ia tersenyum. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasien mendapat benturan keras di kepala, tetapi tidak sampai merusakkan organ dalamnya. Hanya saja hal itu menyebabkan Pasien membutuhkan beberapa jahitan pada bagian kepala luarnya. Operasi berjalan lancar. Anak Bapak dan Ibu setelah ini bisa langsung dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Makasih banyak, Dok." Mama Jairo berkata dengan air mata yang nyaris kembali turun.
"Terima kasih, Dokter." Kali ini giliran Ayah Jairo setelah ia menghembuskan napas lega.
🌍
Serhan, Kaira, dan Hessan kemudian memutuskan untuk pulang setelah memastikan Jairo sampai di ruang rawat inapnya. Ketiga remaja itu sekarang sedang berjalan bersama menuju parkiran rumah sakit.
"Di grup rame banget," kata Serhan dengan tangan yang terus men-scroll layar ponselnya. "Mereka katanya pada mau otw sini."
"Bilang nggak usah. Kita udah mau pulang. Papa sama Mama Jiro juga butuh istirahat, apalagi Jiro," tukas Hessan. Serhan pun melakukan apa yang dibilang Hessan.
Kaira menyandarkan bahunya dan membuang napas. Ia kini sudah duduk di dalam mobil dan Serhan yang bersiap memutar stir di depannya.
"Yo, Bang!" seru Serhan pada Hessan saat mereka sudah keluar dari lapangan parkir rumah sakit. Jalur perjalanan pulang mereka memang berbeda.
Tanpa menunggu lama, Kaira langsung mencari posisi yang nyaman untuk segera menutup matanya.
"Video yang tadi biar gue yang edit aja," ucap Serhan. Kaira hanya berdeham sebagai jawaban, sepenuhnya tidak mendengar jelas ucapan cowok itu.
🌍

Serhan😤

Kak Esa🥺
zypherdust💋
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top