-06⚡-

Watu menunjukkan pukul lima sore saat Jairo tengah menggerakkan badan mengikuti irama musik. Koreografi yang ia buat sendiri itu bertempo keras dan cepat. Bulir-bulir keringat membasahi wajah dan separuh tubuhnya. Napas lelaki itu memburu seiring dengan bunyi bass yang berdentum. Walaupun begitu ia sama sekali tidak berniat berhenti untuk beristirahat sebentar.
Detik berikutnya, Jairo tidak bisa menahan keseimbangan sehingga ia akhirnya terjatuh.
Jake yang baru saja memasuki ruang latihan langsung menghampiri Yoandri yang duduk bersandar pada dinding dengan laptop di pangkuannya. "Jiro kenapa tuh, Bang?"
Yoandri melirik sebentar pada Jairo yang masih belum beranjak dari lantai. Cowok itu tersengal dan wajahnya terlihat marah. "Paling juga kesel sama si Andre."
"Andre siapa?"
"Rivalnya buat menangin hati Clara."
Wajah Jake terlihat bingung sekaligus tidak percaya. "Emang ada cowok lain yang deketin Clara juga? Gue kira Jiro aja."
"Ke mana aja lo selama ini?"
Jake nyengir.
"Makanya jangan godain cewek mulu." Hessan yang baru bergabung langsung mencibir Jake. Cowok itu sekarang sedang melakukan pemanasan ringan sebelum mulai latihan.
"Kayak Kak Esa nggak pernah godain cewek aja."
Hessan kontan menatap Jake dan seketika cowok yang satu tahun di bawahnya itu kembali menunjukkan cengiran khasnya.
"Becanda, Kak, becanda."
Sementara Yoandri terkekeh. "Emang sejak kapan lo pernah liat Esa deketin cewek?"
Jake terbahak mendengar itu. Sementara Esa terlalu malas menanggapi mereka, memilih berfokus pada gerakan pemanasan yang dibuatnya.
Jairo menyadari ponselnya yang tergeletak di atas meja di salah satu sisi ruangan berdering. Cowok itu berdiri dan langsung mengusap layar ponsel untuk kemudian ia tempelkan ke telinga. Tidak sampai satu menit dan Jairo menyambar jaket di atas sofa dan juga kunci motornya.
"Gue duluan Bang, Jake," katanya sembari bergantian menatap Jake, Yoandri, dan Hessan di sana. Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Jairo bergegas keluar dari ruang latihan.
"Di luar hujan, woi!" seru Jake dari tempatnya duduk. Tetapi Jairo sama sekali tidak menjawab atau pun menoleh. Tiga orang lelaki di ruangan itu saling bertukar pandang dan setelahnya sama-sama mengedikkan bahu.
Dan seperti yang dikatakan Jake, hujan mengguyur sebagian kota Jakarta. Langit tidak menampakkan bintang seperti malam-malam sebelumnya. Namun Jairo tetap membawa motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan sepi dan derasnya hujan di depannya.
Seolah belum puas dengan melampiaskan emosi dengan tariannya, Jairo menggenggam erat stir motor dan melajukannya cukup kencang. Tidak peduli dengan air dingin yang mulai merembes ke badan walaupun tubuhnya dilindungi jaket kulit hitam yang tebal.
Ah, iya. Jairo tadi sempat mampir sebentar ke apotik 24 jam, membeli paracetamol yang diminta Clara. Ya, seseorang yang tiba-tiba menelepon Jairo di tengah latihannya juga membuat cowok itu langsung tancap gas dan pergi, adalah Clara.
Perempuan itu dengan suara serak bekas menangis meminta tolong Jairo untuk membelikan obat. Ibunya yang memang sakit-sakitan, tanpa diduga demam tinggi. Tidak ada orang di rumah selain dirinya, sementara mobil dibawa sang kakak ke luar kota. Ditambah hujan deras dan panas Ibunya yang tidak kunjung turun, membuatnya semakin panik dan tidak memiliki pilihan lain selain menghubungi Jairo-cowok yang selalu diandalkannya.
Jairo memberhentikan motornya di sebuah rumah yang lumayan besar. Cowok itu bisa melihat Clara yang mondar-mandir gelisah di teras rumah saat ia turun dari motor dan menghampiri gadis itu.
"Ini," kata Jairo sembari menyodorkan plastik putih.
Clara mengecek isi plastik itu dan mendongak. "Makasih, ya Jiro. Mama ..." Ia terlihat ingin menangis lagi, tetapi ditahan. "Tiba-tiba demam. Aku nggak tahu harus ngapain. Maaf ngerepotin kamu."
Clara menarik napas, berusaha memperbaiki nada suaranya.
Jairo tersenyum. Menjulurkan tangan kanan untuk mengusap kepala Clara pelan. "Nggak, papa."
Clara menatap wajah Jairo yang juga tengah memandangnya. "Kamu basah. Mau masuk dulu?"
Sesungguhnya, Jairo senang mendapat tawaran seperti itu dari orang yang disukainya. Tetapi kemudian ia menggeleng tegas. Ini sudah malam, dan ia basah kuyup. Lagi pula, Clara pasti harus merawat Ibunya. Sedang bagi Jairo sendiri, ia tidak suka merepotkan orang lain, terlebih perempuan yang ditaksirnya.
"Nggak usah. Aku langsung pulang aja."
Jairo lantas berpamitan pada Clara. Saat ia akan berbalik, tangan Clara menahan lengannya.
"Muka kamu pucat, Jiro. Yakin nggak mau mampir bentar?" tanyanya memastikan. Raut wajah Clara dipenuhi rasa bersalah dan khawatir.
Jairo lagi-lagi tersenyum. Padahal sebenarnya saat di jalan tadi, ia sangat emosi perihal kedekatan Clara dan Andre. Ia cemburu dan bermaksud meminta kejelasan pada Clara. Jairo tahu sikapnya tidak tahu diri, toh dia bukan siapa-siapa Clara. Tetapi perasaannya sakit, dan juga bukan suatu rahasia lagi kalau seorang Jairo Mahesa mendekati dan berniat menjadikan Clara pacar-dan ia hanya tinggal menunggu kapan gadis itu menjawab iya.
Namun, saat di depan Clara sekarang, semua kekesalannya terhadap hubungan antara Clara dan Andre langsung sirna. Ia bahkan selalu bisa kembali tersenyum lembut pada Clara walaupun sering kali kesal dengan kedekatan Clara dengan lelaki lain. Seperti saat ini.
Jairo menggenggam tangan Clara dengan kedua tangannya yang dingin. "Aku nggak papa. Sekarang kamu masuk, ya. Temenin Mama kamu," kata Jairo tanpa menghilangkan tarikan di bibirnya.
🌍
Lampu ruang tengah sudah dimatikan saat Jairo berjalan menaiki tangga dengan lemas dan badan yang sempoyongan. Wajar saja karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Cowok itu yakin kalau kedua orang tuanya sudah terlelap di kamar mereka.
Entah kenapa Jairo merasa denyutan di kepalanya saat ia latihan tadi kembali datang. Bahkan ini terasa lebih jelas dari sebelumnya. Ia merasa anak tangga yang ditapakinya tidak juga habis. Cowok itu bahkan harus menahan pada lengan tangga dan tembok di sisi kanannya. Tetapi Jairo tidak mau terus merasa seperti itu sehingga ia mempercepat langkah agar bisa sampai di kamarnya. Wajahnya pucat persis seperti mayat hidup dan bibirnya bergetar karena pakain yang basah.
Jaira memaksakkan diri merogoh ponsel dari saku. Dengan tidak fokus ia menekan lama angka nomor 2 dari barisan angka yang lainnya. Sisa-sia angin malam membuat Jairo merasa tubuhnya seperti ditusuk-tusuk paku beku. Badannya juga terasa amat berat. Sejurus kemudian, akhirnya cowok itu berhasil masuk dan mendorong asal pintu kamarnya hingga tertutup dan menimbulkan bunyi yang lumayan nyaring.
Dan pada dering kedua, panggilannya terhubung dengan seseorang yang beruntung masih bisa ia hubungi.
"Halo?"
"Ra? Gue ... menggigil-" ucapan Jairo terhenti saat pandangannya berputar. Kepalanya semakin pening dan denyutannya semakin menjadi. Ia berusaha melangkah untuk sampai ke tempat tidur. Tetapi sayang karena pada detik berikutnya cowok itu kehilangan keseimbangan dan ia ambruk dengan pandangan yang sepenuhnya menjadi gelap.
🌍

Ini Jake, soulmate-nya Jiro🤪
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top