-02⚡-

Hari sudah gelap ketika Jairo berjalan santai memasuki sebuah rumah berlantai dua di suatu kompleks perumahan. Ia menggelengkan kepala saat mengetahui kalau pintu tidak dikunci padahal garasi sedang kosong.

Laki-laki itu masuk ke dalam rumah dan tak lupa menutup pintu. Ia berjalan menaiki tangga sembari memutar-mutar kunci motornya dengan satu tangan dan bersiul pelan.

Jairo membuka kamar dengan pintu berwarna hitam. Ia menyembulkan kepala melalui celah di antara pintu yang telah dibukanya sedikit, dan mendapati Kaira yang tengah fokus dengan beberapa buku di meja belajar. Ia melangkah ke dalam tanpa menimbulkan suara dan langsung pergi ke kamar mandi. Sesungguhnya ia menahan sesuatu yang seharusnya sudah ia keluarkan dari sepuluh menit yang lalu.

Saat Jairo keluar dari kamar mandi di dalam kamar Kaira pun, gadis itu sama sekali belum beranjak dari posisinya semula. Jairo tidak ingin memusingkan hal itu, ia juga tidak berniat menganggu Kaira seperti biasanya. Sebab hari ini ia begitu kelelahan setelah selesai menemani Clara seharian penuh. Kepalanya pening dan seluruh tubuhnya pegal sekali.

Jairo lantas naik ke kasur besar Kaira. Rasanya begitu nyaman saat sebagian tubuhnya menyentuh benda empuk itu. Ia meluruskan kakinya dan menyandarkan badan pada punggung tempat tidur. Sebenarnya Jairo mengantuk, tetapi ia memutuskan untuk menunggu Kaira sampai gadis itu selesai belajar.

Ponsel Jairo berkedip, menampilkan satu pesan masuk di layarnya. Cowok itu langsung membuka pesan tersebut yang ternyata adalah dari Ibu Kaira yang berpesan untuk menitipkan anaknya. Orang tua Kaira memang selalu mengandalkan Jairo untuk menjaga putri sulung mereka. Jairo tersenyum dan menjawab pesan itu seperti biasanya.

Lebih dari 30 menit Jairo berada di kamar Kaira. Sama seperti Kaira sebelumnya, Jairo sama sekali tidak bergerak dari duduknya. Sesekali terlihat menguap lebar. Walaupun begitu ia tampak asik menikmati tontonan di ipad Kaira yang tadi sempat ia ambil di meja kecil samping tempat tidur.

Jairo meregangkan kedua tangannya yang terasa semakin pegal bertepatan dengan Kaira yang kini membereskan alat tulisnya. Gadis itu juga menyempatkan untuk menyiapkan pelajaran esok hari. Kaira memang bukan anak yang terlalu rajin, tetapi ini memang sudah menjadi kebiasannya sejak kecil.

"Mama sama Papa gue di bawah nggak?" tanya Kaira.

"Perasaan lo yang dari tadi di rumah dan gue yang baru datang, deh," heran Jairo. "Udah pergi. Pas gue dateng tadi garasi lo kosong. Lo beneran nggak denger?"

"Enggak."

Jairo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kebiasaan banget, sih. Nggak bisa apa lebih peduli gitu?"

Kaira yang sekarang sedang mengeringkan kaki di keset depan kamar mandi tampak malas mendengar ocehan Jairo. "Jiro bacot, deh!"

Kaira membuang badannya ke atas ranjang, menyebabkan decitan yang membuat telinga Jairo sakit. Posisi Kaira sekarang tengkurap dengan kepala yang menghadap ke arah Jiro.

"Capek banget gue. Soal Fisika emang bener-bener nguras pikiran, ya, " keluh Kaira dengan mata terpejam. "Lo dari mana aja? Tumben seharian nggak keliatan, di sekolah juga nggak ada. Tapi bagus sih, soalnya gue suka kesel liat muka sok ganteng lo."

Jairo memutar matanya. Heran, karena walaupun Kaira kelihatan capek dan suaranya parau, gadis itu sangat sadar untuk mengejeknya.

"Ke mana aja lo?" tanya Kaira lagi. Gadis itu memang akan terus bertanya sampai ia mendapatkan jawaban, bahkan Jairo sangat hafal itu.

"Biasa."

Kaira berusaha membuka matanya yang terasa berat. "Jai."

Jairo menoleh. Kaira memanggilnya seperti itu jika ia sedang menginginkan sesuatu, dan Jairo tidak akan pernah lupa.

"Gue ngantuk. Garukin kepala gue dong," katanya pelan dengan suara yang sengaja diimut-imutkan.

"Lo udah keramas belum?"

"Udah. Tapi 3 hari yang lalu," Kaira menunjukkan cengirannya dengan mata yang kini tertutup sedikit. Gadis itu kelihatan sangat mengantuk.

Lagi, Jairo memutar kedua matanya. Kendati demikian, Jairo tetap menggaruk kepala Kaira pelan dengan sebelah tangan. Tangan yang lain tetap ia gunakan untuk menahan ipad. Jairo sangat yakin kalau tidak butuh waktu lama untuk Kaira bisa terlelap. Dan diam-diam cowok itu mengecilkan volume suara ipad di pangkuannya.

Hampir satu jam lewat Jairo melakukan hal yang sama. Sesekali ia meregangkan tangannya. Kini Jairo mengintip wajah Kaira yang sudah pulas. Ia mengepalkan tangan dan mendesahgemas. Ingin sekali mencubit pipi gadis itu keras. Ia lantas membuka ponsel dan mengambil gambar Kaira yang tengah tertidur.

"Mampus, aib lo nambah satu," gumamnya.

Jairo turun dari tempat tidur. Mengambil selimut dan mengibarkannya, setelah itu ia membuang kain besar itu asal hingga menutupi sebagian wajah Kaira. Tapi tidak masalah sebab Kaira memang suka sekali menutup muka dengan apa pun jika ingin tidur.

Cowok itu keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan. Saat ia keluar dari pagar rumah pun, ia berusaha untuk menutup rapat-rapat pagar besi itu. Kompleks perumahan ini memang aman, tetapi Jairo tetap harus hati-hati. Beruntung ia sudah mengunci pintu rumah dengan satu dari dua kunci cadangan yang sempat ia ambil dari kamar Kaira tadi.

Jairo menaiki motor sport hitamnya lantas mulai menuju ke rumahnya sendiri yang terletak tiga rumah dari rumah Kaira.

🌍

Annyeong!
Setiap part cerita ini nggak bakal aku buat panjang-panjang, kok😉
Keep vomment🙏
zypherdust💋

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top