7

Empat belas tahun lalu ...

Riuh tepuk tangan menutup pertunjukkan ekskul teater. Deretan pemain; Kaira di antaranya, berpegangan tangan, serempak membungkukkan tubuh di depan penonton yang tampak puas akan pertunjukkan mereka.

Semarak perayaan hari jadi sekolah Kaira itu telah mencapai puncak acara, setelah melewati acara yang panjang dari penampilan seluruh ekskul, juga perwakilan kelas. Gegap gempita musik dari panggung utama mengiringi bubarnya para pemain teater dari lapangan dan berganti dengan seluruh siswa yang akan menikmati lagu yang dimainkan sebagai penutup acara.

Kaira dan teman-temannya kembali ke ruang ekskul tepat saat lagu berakhir. Sampai di ruang ekskul, mereka melakukan evaluasi atas penampilan mereka tadi. Cukup singkat, karena drama musikal yang mereka tampilkan tadi amat minim dari kesalahan. Kaira bergegas merapikan tas, diambilnya satu buku catatan yang kemudian ia simpan dalam dekapan.

"Mau kemana lo, Kai? Buru-buru amat?"

Langkah riang Kaira tertahan di ambang pintu. Ada Devan; salah satu teman satu ekskulnya, di sana yang berpose bagai seorang model.

"Ada deh!" seru Kaira. "Minggir! Gue mau lewat!"

"Lo nggak mau nungguin Anggara? Tadi dia bilang mau kesini buat kasih ucapan selamat ke lo."

"Selamat apaan, selamat ulang tahun? Masih lama gue ultahnya!"

Devan berdecak. "Ucapin selamat atas pentas lo tadi lah!"

Kaira mengangguk-anggukan kepala. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dengan buku catatan yang masih berada di sana. "Jadi, Bapak Wakil Ketua ekskul basket, kasih ucapan ke gue, setelah ucapin Ibu Ketua PMR dulu?" Kaira mengedikkan dagu searah jarum jam pukul dua.

Kaira berhasil membuat Devan enyah dari ambang pintu saat lelaki itu menoleh pada arah yang ia tunjuk tadi. Kaira meneruskan langkahnya, meninggalkan lorong dengan ruang-ruang yang berhadapan di mana setiap ekskul memiliki ruangan sebagai basecamp di sana. Sambil berjalan, Kaira menjauhkan buku catatan itu dari dekapan. Senyumnya terbit saat membaca nama si pemilik buku di sana.

"Septian ... Septia," gumam Septia diakhiri senyum yang lebih lebar. "Kaisar ... Kaira ...." Ia lalu terkekeh, "kebetulan macam apa ini!"

Sampai di ujung lorong, ia berbelok dan menuruni undakan tangga. Lantai keramik yang tadi ia pijak kini berganti dengan konblok abu terang yang jalannya mengarah pada Mushola yang memang terletak di sudut sekolah.

"Kaira?"

Kaira mendesah lega, karena Kaisar muncul dengan sendiri tanpa perlu ia sulit mencari. Apalagi dengan situasi cewek-cewek di beranda Mushola yang menatap Kaira dengan enggan. Kaira sebenarnya cukup nekat dengan mendatangi Kaisar si anak Rohis di Mushola. Namun, ia tak menyesali keputusannya kali ini, karena wajah basah Kaisar dan tetesan air dari rambut depannya yang sudah memanjang, membuat Kaira berhasil meneguk ludah.

"Kai ...." Kaira urung memanggil, karena laki-laki yang tadi ia lihat masih berdiri di depan tempat wudhu kini berlari kecil memasuki mushola.

Kaira memutar tubuh, dan memilih bangku beton di bawah pohon mangga yang jaraknya sedikit jauh dari Mushola sebagai tempat ia menunggu Kaisar. Tidak lama bagi Kaira untuk menunggu. Ia mendongak saat mendengar derap langkah yang mendekat ke arahnya.

"Aku kelamaan ya, Kaira? Sampai kamu samperin aku kesini," ujar Kaisar dengan wajah semringah. Jangan lupakan rambut depannya yang masih setengah basah, yang tentunya menyita perhatian Kaira.

"Nggak kok ... aku cuma mau sekalian lihat-lihat susana basecamp anak Rohis aja." Kaira beralasan. Ia bahkan tiba-tiba saja beranjak dari duduknya, lalu menyerahkan buku Kaisar tanpa berucap apapun.

Kaisar tertawa. "Oh iya, Kaira. Selamat ya pertunjukkan teater tadi bagus. Apalagi akting kamu."

"Iya pertunjukkan kami memang bagus, tapi nggak akting gue juga kali!" Kaira refleks mendorong pundak Kaisar yang kini sedang berjalan beriringan dengannya menuju gerbang sekolah.

"Aku serius, Kaira."

"Akting gue biasa aja, kok," ucap Kaira dengan semu merah di pipi. "Ya walau tokoh yang gue perankan tadi beda banget sama gue. Dia punya karakter yang istimewa, dia anak kesayangan guru, kalem, dan dia pintar banget sampai nilainya selalu tinggi. Jauh banget lah, sama gue!"

Tanpa Kaira duga, ia lihat Kaisar menggeleng. "Kamu juga istimewa dengan apa adanya diri kamu, Kai," ucap Kaisar.

Kaira hanya melepaskan tawa.

"Tapi ... aku bisa bantu kamu kok kalau kamu mau dapat nilai yang selalu tinggi."

"Ha?"

"Kita bisa belajar bareng. Kapan pun kamu mau, aku siap temani kamu," jelas Kaisar.

Flashback off.

***

"Kaisar!"

Roti lapis yang berada di gigitannya, membuat Kaisar hanya bisa menggumam demi merespon panggilan Syafira.

"Nanti malam kamu pulang ke sini, kan?" tanya Syafira.

Kini roti lapisnya sedang melewati tenggorokan, dan Kaisar hanya bisa menggerakkan kepala dengan raut wajah bertanya, demi menjawab pertanyaan sang kakak barusan.

"Kamu nggak lupa kan, kalau kamu udah sepakat sama kakak untuk kembali tinggal sama kakak di rumah ini. Capek kakak tuh tiap hari ingetin kamu buat pulang kesini!"

Dua hari belakangan ia memang tidak pulang ke rumah ini, karena ada perjalanan dinas ke luar kota. Sementara semalam, Syafira secara khusus menjemputnya di Bandara dan membawanya pulang ke rumah ini. Kaisar mendorong tubuhnya ke sandaran kursi, diperhatikannya sang kakak yang menatapnya sengit. Seakan-akan Syafira tahu kalau dirinya akan melakukan negosiasi. "Kakak nggak lagi ada masalah sama Bang Andra, kan?" tanya Kaisar.

Komentar dari Kaisar membuat Syafira refleks melotot. "Heh, kalau ngomong jangan sembarangan, ya!" omel Syafira.

Kaisar tak menyahut, kemudian menyibukkan diri dengan melahap satu roti lapis yang tersisa di piringnya. Syafira memang sebelumnya bercerita kalau ibu dari suaminya itu sakit. Dan, sebagai anak tunggal jadi Bang Andra memang sepatutnya lebih sering pulang ke rumah ibunya.

Hanya saja Kaisar merasa seharusnya kakak iparnya itu turut serta mengajak kakaknya tinggal bersama di rumah ibunya. Bukannya membiarkan istrinya tinggal sendirian di rumah.

"Kakak tuh masih ikut nginap di sana kok. Tugas kamu tinggal di sini ya juga buat jaga rumah ini kalau lagi kosong!" jelas Syafira membuat Kaisar sukses mendengkus.

"Terus jarak rumah ibunya Bang Andra terbilang jauh dari kantor kakak. Bang Andra sendiri yang minta kakak untuk nggak tinggal di sana. Terus, kasihan Kaira juga kalau kakak tinggal di rumah ibunya Bang Andra. Kejauhan dong dia kalau jemput kakak," tutur Syafira lagi.

Kaisar hanya menggumam, menahan diri untuk tidak berkomentar tentang Aspri baru kesayangan sang kakak.

"Lagipula ya, kakak tuh cuma bermaksud baik biar kamu nggak kesepian tinggal di rumah sendirian. Kalau di sini juga kan, kakak masih bisa memantau kamu, jagain kamu, perhatiin kamu. Ya ... kecuali kamu sudah menikah ... kakak nggak akan khawatir lagi sama kamu."

"Nggak menikah, bukan berarti kesepian, Kak," sahut Kaisar. "Aku tahu benar dengan pilihanku sekarang."

"Ya, kamu bisa bilang seperti itu karena sekarang kamu masih muda, sehat, dan merasa hidup kamu begitu mudah. Tapi nanti, siapa yang tahu kamu kelak menyesali pilihan kamu."

Kaisar memilih diam. Ia tahu bukan pilihan bagus jika terus menyangkal petuah yang Syafira berikan. Syafira pun sama, membiarkan hening mendekap suasana.

Hingga ucapan salam yang terdengar dari luar membuat Syafira terpaksa beranjak lebih dulu. Saat melewati belakang bangku yang Kaisar duduki, wanita itu berhenti dan mendaratkan tangannya di pundak sang adik. "Kakak percaya apapun pilihan kamu tentang hidup kamu. Tapi Kai ... tolong jangan terlalu lama menutup diri."

"Nggak ada yang menutup diri, Kak ... aku cuma belum ketemu jodohnya aja."

Syafira terpaksa memutar tubuh. Ia harus membiarkan Kaira menunggunya lebih lama, karena ia perlu meladeni sang adik yang selalu pintar menjawab ucapannya itu. "Oh, ya? Belum ketemu?"

Kaisar menjawab pertanyaan Syafira dengan menggumam pelan.

"Yakin, belum ketemu atau memang sengaja tidak ingin ketemu karena terus-terusan kamu menutup diri?"

"Kak ...." Kaisar mulai lelah dengan intimidasi sang kakak. Ia melepas napas gusar, sebelum kembali berbicara, "gini aja ... kalau Kak Syafira punya kenalan atau apapun itu, boleh Kakak kenalkan ke aku. Dan, lihat apakah nanti aku akan menutup diri."

"Yang bener Kai?!" Syafira hampir saja melompat saat menghampiri sang adik.

"Iya .... tapi kalau aku kurang cocok meski sudah berusaha saling mengenal, Kak Syafira harus menerima. Intinya, dalam hal ini aku berniat untuk menambah teman dan relasi."

Syafira mengangguk puas. "Deal! Nanti segera kakak kenalkan kamu ke dia."

"Hah?"

"Iya ... Kakak sudah punya incaran untuk kakak jadikan adik ipar. Dan, tepati janji kamu untuk tidak sok menutup diri!"

Terima kasih sudah baca. Vote, komen jangan lupa 😗
Insyaallah Rabu aku apdet lagi yaaa ....

Sabtu, 05 Juli 2025

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top