42

Pukul delapan pagi, Kaira sudah kembali hadir di toko. Begitu pun tim audit dari kantor pusat yang siap melakukan stok opname. Kaira juga mengatur jadwal masuk seluruh stafnya yang berjumlah empat orang, menjadi long shift untuk hari ini. Sebagian ia akan tugaskan di operasional toko, sebagian lagi membantunya dalam penghitungan stok yang akan diawasi tim audit.

Pekerjaannya hari itu berjalan cukup lancar. Waktu menjelang makan siang datang, ia menugaskan Lulu membeli makan siang untuk mereka.

"Sayang banget deh Resto Chinese Food yang semalam dibeli Pak Cakra masih tutup kalau siang begini. Padahal enak banget lho, menu-menunya!" ujar Lulu.

Kaira yang baru memberikan uang pada Lulu itu, mengernyit-berusaha mengingat menu yang ia makan semalam.

"Ya pasti rasanya enak, soalnya kan gratisan, alias elo nggak ngeluarin duit," sahut Rina sambil memainkan kunci motor di tangannya. Memang ia dan Lulu yang akan keluar membeli makan siang kali ini.

Kaira terkekeh mendengarnya.

"Tapi kan lo juga seneng ditraktir. Malahan elo yang ngasih ide kalau nanti Pak Cakra kesini lagi, kita makan di restoran Ramen di ruko sebelah," ucap Lulu pada Rina.

"Ya kan, Restoran Ramen sebelah masih satu induk perusahaan sama toko kita."

Kaira mengikuti arah pandang kedua stafnya kini, pada ruko yang tidak benar-benar bersebelahan dengan Mafaza Wear. Ruko yang terletak di paling ujung itu terlihat sangat sibuk, karena sedang persiapan pembukaan. Kaira sendiri baru mengetahui barusan, kalau restoran baru itu masih milik Heavenly grup.

"Oh iya Rin, gue tadi ada liat Mas-Mas ganteng, pake lanyard sama kayak tim audit yang lagi stok opname di tempat kita," ujar Lulu kemudian beralih pada Kaira. "Mungkin mereka orang kantor pusat juga ya, Mbak?"

"Entah," jawab Kaira dengan kedua bahu terangkat.

Rina malah berdecak. "Emang si Lulu nih Mbak, isi kepalanya, kalau ga makanan enak ya cowok ganteng! Udah yuk berangkat!" ajaknya.

Lulu hanya mengerucutkan bibir sambil tetap mengikuti langkah Rina menuju motornya yang terparkir di depan toko. Kaira melepas kepergian mereka dengan senyum kecil. Padahal ia sudah akan memesankan makan siang lewat aplikasi. Tapi Lulu dan Rina yang sudah jenuh dengan penghitungan stok itu mengajukan diri untuk membeli langsung saja. Kaira berpikir mungkin mereka perlu keluar mencari udara segar.

Kaira kembali ke ruang kerjanya. Hingga, Pak Rido, salah satu staf audit mengetuk pintu ruangannya. "Bu Kaira, sepertinya ada masalah dengan komputer server toko," lapornya.

"Oh ya, kenapa Pak?"

"Komputernya mati tiba-tiba dan belum bisa dinyalakan kembali. Ini menganggu sistem informasi persediaan toko jadinya, Bu."

"Saya hubungi dulu PIC IT Support yang bertanggung jawab ya, Pak." Dengan ponsel di tangan, Kaira berjalan meninggalkan ruangannya, bersama Pak Rido ia menuju ruangan server untuk melihat masalah yang terjadi.

Namun, beberapa kali Kaira berusaha menghubungi, berujung sia-sia. Mungkin karena waktu memasuki jam makan siang, jadi pegawai di kantor pusat jadi sulit dihubungi.

Kaira kini memasuki ruang meeting, melihat data yang tidak terbaca di laptop tim Audit. Hingga Pak Gunawan; staf audit lainnya turut mencari solusi. "Sepertinya saya punya teman di tim IT yang bisa membantu. Saya hubungi beliau dulu."

"Wah, syukurlah Pak kalau begitu. Terima kasih, Pak Gun," ucap Kaira.

"Sudah Bu, bantuan akan segera datang," ucap Pak Gunawan. "Saya jemput dulu orangnya di bawah," katanya lagi sembari bangkit dari kursi.

Kaira sedikit terkejut, karena ia melihat Pak Gunawan tadi hanya mengirim pesan singkat dari ponselnya.

"Orang IT yang dihubungi Pak Gun, mungkin tim yang sedang persiapan grand opening di ruko sebelah, Bu," ucap Pak Rido merespon kebingungan Kaira.

Kaira pun mengerti. Ia merasa beruntung permasalahan ini segera menemukan jalan keluar. Pasalnya, permasalahan server ini juga mungkin akan mempengaruhi operasional toko jika tidak segera ditangani.

"Assalamualaikum."

"Walaikumsalam," jawab Kaira dan Pak Rido berbarengan. Namun, setelahnya Kaira tercekat sendiri saat melihat siapa yang mengucapkan salam.

"Pak Kaisar!" sapa Pak Rido kelewat senang melihat laki-laki itu, berbanding terbalik dengan Kaira yang tiba-tiba saja merasa oksigen dalam ruangan itu lenyap.

Kaira refleks melangkah mundur saat Pak Rido berjalan melewatinya untuk keluar ruangan. Kaira bahkan tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, karena tiba-tiba saja ketiga laki-laki tadi sudah tidak berada di sana.

Ruang server yang terletak di pojok lantai dua menjadi tujuan mereka, pikir Kaira. Ia kemudian memilih kembali ke ruangannya, membanting tubuhnya di kursi dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kaira mencoba tenang, seraya memastikan apa benar itu Kaisar, yang masih saja tampan seperti biasanya.

Baru sesaat jantungnya berdegup normal, kali ini harus mencelos lagi kala Kaisar tiba-tiba saja berada di ambang pintu ruang kerja Kaira.

"Bu Kaira, Komputer server sudah menyala. Sekarang, Pak Kaisar mau pinjam komputer Bu Kaira untuk pemulihan data stok toko." Pak Ridho datang dari arah belakang Kaisar.

Kaira yang berusaha mengingat cara menarik napas itu, refleks bangkit dari kursinya. "Silakan, Pak." Tangannya menunjuk komputernya, langkahnya mundur mengambil tempat di sudut ruangan.

Kaisar berjalan melewatinya, tanpa melihatnya seolah keberadaan Kaira tidak menarik perhatian lelaki itu. Lalu terlihat Kaisar menelepon seseorang, dan tersebutlah nama Fadlan dan Galang dari bibirnya. Rupanya Kaisar meminta kedua bawahannya itu datang kesini untuk membantunya.

Kaira sontak merutuki diri. Entah lakon apa yang ia mainkan kini. Ia mungkin berhasil pura-pura tidak mengenali Kaisar di depan Pak Rido dan Pak Gunawan. Tapi, bagaimana respon Fadlan dan Galang saat melihatnya nanti?

Lagipula, Kaira tidak bermaksud pura-pura tidak mengenali Kaisar, hanya saja ia belum memiliki kesempatan untuk menyapa. Toh, Kaisar juga terlihat tidak ada niatan untuk menegurnya lebih dulu saat baru datang tadi.

Hanya beberapa menit berlalu sampai Fadlan dan Galang datang. Kaira sempat bertemu mata dengan mereka, walau setelahnya ia memilih sibuk menekuri ponsel sembari duduk di sofa.

"Selanjutnya dibantu oleh Fadlan dan Galang ya, Pak. Mereka akan mendampingi Pak Rido dan Pak Gun, sampai proses selesai, takut terjadi masalah teknis lagi. Kebetulan juga PIC IT yang bertanggung jawab atas toko ini sedang cuti hari ini," jelas Kaisar pada Pak Rido dan Pak Gunawan.

Dan, Kaira akhirnya bisa bernapas lega saat Kaisar tidak lagi berada di ruangan yang sama dengannya.

***

"Asing banget, kayak nggak pernah photobox berdua aja."

Sepasang mata Kaisar sontak menatap spion atas mobil yang ia tumpangi. Tatap tajam ia tujukan pada Galang yang duduk di kursi belakang, kini tengah tertawa tanpa suara setelah mengucap kalimat sarkas tadi.

"Asing banget, kayak nggak pernah ngaku-ngaku jadi calon tunangan aja."

Kali ini pelakunya adalah Fadlan yang duduk dibalik kemudi. Gelak tawa juga mengudara di sana. Kaisar sendiri menatap heran Fadlan yang biasa bersifat kalem itu, juga fakta yang barusan Fadlan ucapan membuatnya cukup terkejut.

"Saya tahu Pak, waktu kejadian di kedai kopi di lobi. Waktu Mbak Kaira diganggu cowok, terus Pak Kaisar datang dan jadi pahlawan," ucapnya lalu tertawa kecil. "Dari situ saya sudah kasih tahu Galang, kalau Pak Kaisar dan Mbak Kaira tuh memang ada apa-apa, tapi si Galang nggak percaya tuh!"

"Ya udah sih, Fad, toh sekarang juga Pak Kaisar dan Mbak Kaira sudah asing," sahut Galang menyinggung hati Kaisar. "Mengapa kini berubah asing, tak saling menyapa, lupa ku pernah di sana ... " Galang malah bernyanyi.

"Woi, Lang!" tegur Fadlan yang juga tak bisa menyembunyikan tawa gelinya. "Apa si Galang kita buang di jalan tol aja, Pak?" tawar Fadlan pada Kaisar.

Kaisar semakin menekuk wajah. Kepalanya ia sandarkan pada jendela di sebelah kiri. Anak buah brengseknya; Galang, malah memutar lagu yang ia nyanyikan tadi dari pemutar suara di mobil.

"Dahulu aku yang paling mengenalmu, semua kegemaranmu. Mengapa kini berubah asing, tak saling menyapa, lupa ku pernah di sana."

"Lupa kah kau sebenarnya ... "

Sial, Kaisar terpengaruh oleh lagu itu, yang kini ia resapi dalam pikiran tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan Kaira. Berapa mirisnya ia atas kehilangan yang menimpanya.

"Kaira juga nggak berniat nyapa saya tadi waktu di tokonya. Terus juga kalian lihat kan, dia dijemput laki-laki saat kita juga mau pulang tadi. Itu laki-laki yang direstui keluarganya, dan Kaira pilih dia daripada saya."

Fadlan dan Galang saling melempar tatap dari spion atas mobil. Fadlan berdeham, memberi kode agar Galang tidak berbicara, karena yang keluar dari mulut lelaki itu hanya akan membuat Kaisar meradang.

"Janur kuning belum melengkung, Pak. Saya yakin Mbak Kaira juga mungkin belum move on dari bapak. Soalnya dia nggak negur bapak juga, kan? Sebenarnya Mbak Kaira juga grogi tiba-tiba ketemu Bapak." Fadlan berusaha menghibur Kaisar. "Mungkin belum terlambat buat berusaha rebut Mbak Kaira lagi. Saya sama Galang siap bantu. Ya, kan, Lang?"

"Ya, itu juga kalau Pak Kaisar mau kita bantuin. Kalau nggak, ya Fadlan bisa bantuin saya aja buat rebut Mbak Kaira dari cowoknya yang sekarang," ujar Galang nyeleneh.

Kaisar tidak terpengaruh oleh ucapan Fadlan maupun Galang. Ia menegakkan tubuh, merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. "Kalian fix besok yang stand by di resto ya. Sampai tiga hari ke depan, saat grand opening. Surat dinas luar saya buatkan nanti, dan saya serahkan ke HRD. Besok pagi, kalian langsung berangkat saja. Untuk akomodasi, kalian persiapkan sendiri seperti biasa. Pilih hotel terdekat saja dari resto."

"Siap, Pak," ucap Fadlan dan Galang bersamaan.

"Kita juga sudah dapat kost harian yang letaknya dekat dari resto," ujar Fadlan.

"Iya Pak, waktu tadi kita tahu kalau kita akan stand by di resto, kita tanya ke staf Mafaza Wear yang tinggal di perkampungan sekitar. Terus kita direkomendasikan kost harian di tempat Mbak Kaira juga ngekost," jelas Galang.

Informasi dari Galang barusan, sukses membuat Kaisar memutar tubuhnya 180 derajat menjadi ke arah Galang. "Kalian akan satu kost dengan Kaira?"

Asing banget Kai, kayak nggak pernah bantuin bapaknya Kaira kerja bakti bersihin comberan aja 😏

Makasih, votenya yaa ❤️

Sabtu, 25 April 2026

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top