Trelós

Ferry bilang ibunya sudah mati, dan dia pulang ke Indonesia untuk mengurus pemakaman. Sementara itu Kafta mengatakan operasi ibunya sudah selesai, dan dia akan pulang ke Indonesia untuk mengurus lagi Leony.

Siapa yang benar? Siapa yang gila? Apakah Kafta yang tidak bisa menerima kematian ibunya? Atau Ferry yang ... kenapa Ferry gila? Dia tidak punya alasan untuk berbohong soal kematian ibunya. Setidaknya itu yang kulihat sejauh ini. Atau mungkin ada sesuatu yang lain. Perebutan warisan? Apa iya orang kaya masih butuh saling berebut uang?

Saat Ferry mengatakan ibunya sudah mati hari itu, aku membayangkan bagaimana keadaan Kafta di Belanda. Mungkin dia terus duduk di kamar yang sama, mondar-mandir menunggu dokter mengumumkan jadwal operasi, dan kemudian duduk lagi menunggu kabar baik yang tidak akan pernah datang—tetapi ternyata malah datang.

Aku sedang duduk, sambil menyaksikan tubuh kucing di hadapanku yang tidak lagi bergerak. Tidak kaki, perut, hidung, dan mungkin mata. Apa dia sudah mati? Apa dia sudah gila?

Aku tidak tahu apakah menyesal sudah membunuhnya, atau menyesal karena salah mengambil mata. Karena bahkan kalau kucing itu masih benar-benar hidup, tidak mungkin kuserahkan dia pada Kafta. Meski Kafta juga sudah gila, tetapi cintanya pada Leony akan bertahan. Dia akan tahu kucing baru ini kehilangan mata kanan dan bukannya kiri. Bahkan kalau pun dia tak sadar akan hal tersebut, Kafta masih akan menyadari kucing ini berbeda lewat porsi makan, pola tidur, atau bagaimana dia akan siap mencakarmu dengan keempat kakinya.

Untungnya, aku sudah punya rencana. Kali ini, aku yakin akan berhasil. Aku tahu di mana bisa mendapatkan kucing baru yang sama persis untuk operasi berikutnya. Bahkan aku bisa mendapatkan lebih banyak kucing andai masih gagal.

Kutinggalkan mayat Leony palsu di tempatnya dan keluar kamar asrama. Masih tak lupa untuk mengunci pintu. Aku tidak mau ada lagi yang dicuri, atau yang niat mencuri dan malah menemukan bangkai kucing tersebut. Walau sebenarnya akan bagus kalau itu terjadi, karena pertama: aku mungkin akan tahu siapa yang mencuri Leony, dan kedua: dia mungkin akan membantuku membuang mayat kucing tersebut.

Cahaya matahari sudah mencapai cakrawala. Kali ini, Arsyad tak terlihat di lorong untuk bersih-bersih. Padahal beberapa hari belakangan aku ingat dia masih melakukan pekerjaannya di jam-jam begini.

Justru akan gawat kalau ternyata dia masih di kantor cleaning service, tempatku ingin mengambil satu atau dua kucing. Meski rencana yang tersusun di kepalaku saat ini adalah masuk ke kantor dengan alasan lupa sesuatu, kemudian membuka pintu tempat kucing-kucing itu disimpan, dan membiarkan mereka semua kabur. Lalu aku akan pura-pura membantu mengambil lagi kucing tersebut, tetapi sebenarnya membawa mereka ke kamar asrama Kafta dan mencongkel mata kirinya. Kali ini dengan obat bius agar kucing itu tidak mati.

Aku melangkah dengan pasti melewati rute menuju kantor cleaning service. Melewati kolam yang lagi-lagi mengingatkanku pada ikan-ikan yang harus dicuri. Banyak sekali yang harus dicuri pada akhirnya. Pemuda aneh yang kutemui tadi sudah tak ada di bangku. Matahari hampir kehilangan cahaya, digantikan oleh lampu-lampu yang menyala otomatis di area kolam.

Kudapati lampu cleaning service masih menyala. Apa mereka tinggal di sini juga? Kuketuk pintu tiga kali, tak ada respon. Terdengar gemerisik di dalam sana, apa itu suara kucing? Entah kenapa suaranya sangat mirip seperti saat kucongkel mata Leony palsu.

Aku mengetuk lagi. Belum ada yang membuka pintu. Kurapatkan telingaku ke pintu, kini terdengar ada suara seseorang yang sesenggukan. Bukan kucing. Manusia. Ada yang menangis atau menahan tangisnya di dalam sana. Suara tatakan yang samar, jadi sulit memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Sekali lagi kuketuk pintu lebih keras, dan tak puas atas pengabaian yang diberikan, aku langsung menarik gagang pintu, yang ternyata tidak dikunci.

Tak ada siapa-siapa. Tidak ada Arsyad yang duduk di salah satu kursi sambil merokok, atau cleaning service tua yang belum aku tahu namanya. Namun, aku tahu ada orang karena suara sesenggukan itu terdengar lebih nyata.

Pintu yang tadi siang kulihat mengarah ke tempat kucing-kucing disimpan terbuka dengan lebar. Aku bergegas ke sana, dan menemukan masih ada beberapa kucing yang tertidur, tetapi tak ada kucing berbulu kuning dan bertubuh besar. Beberapa bangun dan menatapku, tetapi kemudian terlelap lagi. Kemana kucing-kucing yang lain?

Suara tatakan tadi kini jadi lebih jelas. Aku memberanikan diri untuk mengecek area belakang, tempat sumber suara tersebut. Tangisan yang sejak tadi membayangiku terdengar lebih kencang di setiap langkah. Ada salah satu pintu yang terbuka, mengeluarkan kepulan asap tipis. Kulitku terasa menghangat. Seseorang sedang memasak.

Aku mengintip di pintu tersebut, dan akhirnya tahu kalau Arsyad adalah orang yang sedang menahan tangis itu. Dia juga yang menimbulkan suara tatakan tersebut. Tangannya mengenakan sarung tangan karet khas petugas kebersihan, tetapi sekarang dilumuri merah darah dari daging yang sedang ia potong-potong.

Aku tidak tahu kenapa dia sesenggukan begitu, karena perhatianku juga sudah teralihkan dengan cepat. Bahkan aku tidak bersembunyi lagi setelah melihat dengan jelas seantero ruangan tersebut.

Bukan karena darah-darah itu—karena aku tidak takut darah. Bukan juga karena tumpukan kulit dan tulang kecil di atas wastafel. Namun, sebuah kalung kucing yang tergeletak di meja dekat Arsyad memotong daging. Kalung kecil dengan lonceng, yang kuyakini andai sedang dikenakan dan berdenting, akan tahu siapa pemilik kalung tersebut.

Lalu tiba-tiba saja teriakan Arsyad mengembalikanku ke dunia nyata. Dia jatuh terduduk, mundur menggunakan bokongnya sambil mengarahkan pisau dengan tangan bergetar hebat. Aku tahu dia tidak berniat menyakitiku. Dia takut, tetapi lagi-lagi bukan takut padaku.

“Dia yang maksa aku! Aku nggak punya pilihan! Aku nggak mau dipecat!” rintihnya. Aku akhirnya mengerti mengapa dia terlihat malas saat memberi kucing-kucing itu makan.

Lalu seseorang tiba-tiba memanggil di belakangku. Berdiri mengenakan kaos singlet putih sambil membawa mangkuk dengan satu tangannya yang agak keriput, sementara tangan satunya asik menggigiti daging alot. Dia menampilkan seringai yang dipenuhi daging matang di sela-sela giginya.

“Kamu mau? Enak, loh. Bergizi. Kayaknya ini bisa nyembuhin lehermu juga,” kata cleaning service tua.

Aku sangat ingin berteriak padanya. Berteriak dan melompatinya. Lalu kuhajar dia sampai gigi-gigi itu rontok semua. Namun, yang kulakukan hanya berlari melewatinya. Aku bahkan tidak lagi ingat tujuanku datang ke kantor cleaning service karena setelah berhasil melewati pintu depan, aku muntah. Muntah mengalahkan kehebatan saat habis mabuk dengan Mifta. Padahal aku yakin belum makan apapun hari ini.

Saat aku masih sibuk mengeluarkan isi perut, langkah-langkah kaki lainnya berderap mendekatiku. Aku tak bisa mendongak, hanya menatap sepatu kulit berwarna hitamnya yang memantulkan kilat lampu-lampu di sekitar.

“Kami ikut kami, sekarang!” kata salah satunya—suara satpam gondrong. Kemudian dua tangan menjepit kedua sisi tubuhku. Kurasa itu rekannya yang bertopi. Aku tidak bisa memastikan. Perutku melilit, kepalaku berputar-putar, aku mungkin akan pingsan dalam hitungan detik.

Di sisa waktu itu, kugunakan kembali untuk mengingat semua hari-hariku di Asrama Kolam Ikan. Sekarang aku benar-benar yakin wajah cleaning service tua memang tidak asing. Malam itu, menggunakan teropong Kafta, kulihat dia berdiri di tepi kolam, menatapku tajam.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top