Proí
Kau tahu apa kata mereka sejak dulu? The early bird catches the worm. Tidak? Bagaimana dengan kalau bangun siang rezeki bakal dipatok ayam? Ya, yang itu. Keduanya punya arti yang kurang lebih sama—dan keduanya sama-sama omong kosong.
Uang tidak pernah ditentukan dari seberapa cepat kau bangun setiap harinya, atau seberapa keras kau bekerja. Kadang seseorang bekerja sangat keras sampai-sampai keringat mereka bercampur dengan ingus dan darah, tetapi pendapatannya tetap begitu-begitu saja. Lalu di satu sisi ada yang baru membuka mata, menarik napas sekali, dan tiba-tiba saja, tring! Uang masuk ke dalam dompet.
Bangun pagi-pagi sekali tak pernah ada dalam kamusku. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali sebelum pukul tujuh pagi. Selama berkuliah, sebisa mungkin aku menghindari kelas pagi. Bahkan jika terpaksa sekalipun, pada akhirnya aku selalu menitip absensi pada orang-orang baik yang dapat diajak berbuat kejahatan.
Namun, ini hari yang lain. Hari ini aku berusaha membuktikan bahwa semua pendapatku tentang bangun pagi mungkin salah. Sebelum jam alarm di ponselku berbunyi, sebelum petugas cleaning service itu datang untuk membersihkan lorong, atau sebelum suara kaki Leony mencakar-cakar pintu kamar Kafta terdengar, aku sudah meninggalkan asrama.
Tujuanku satu: menghadang Mifta di kedai kopinya.
Aku tidak bisa menemukan letak kamarnya, tetapi dia pasti akan datang ke kedainya. Pasti. Aku berdiri di seberang jalan kedai kopi, menunggu pemiliknya tiba dengan sabar.
Satu jam berlalu. Aku berpindah tempat ke teras depan, berteduh di bawah kanopi. Sejam berikutnya aku duduk di atas lantai karena kelelahan. Sejam berikutnya aku mulai mengintip ke dalam jendelanya yang buram karena jarang dibersihkan.
Lalu sejam berikutnya.
Lalu sejam berikutnya lagi.
Lalu sejam yang berikutnya. Sebuah mobil mengerem. Kepalaku terangkat dengan penuh semangat, tetapi mobil itu langsung pergi sebelum aku bahkan dapat melihat di balik kaca jendelanya yang hitam.
Aku menarik napas setelah menyadari satu hal. Semua teori soal bangun pagi itu memang sampah. Sudah tengah hari, dan Mifta tak kunjung muncul. Bahkan saat hatiku meminta untuk menunggu sebentar lagi, tetapi kepalaku berteriak-teriak tentang rencana ini yang sama tidak bergunanya seperti semua hal lain yang kulakukan akhir-akhir ini.
Tepat pukul satu siang, aku menyerah dan meninggalkan kedai tersebut. Perutku bergetar-getar minta diisi, tetapi pikiranku sudah pecah-pecah terlebih dahulu.
Di mana sebenarnya Mifta berada? Apa dia pergi untuk urusan keluarganya juga? Dia kaya. Kafta dulu sering sekali menghilang demi ‘bisnis keluarganya’. Bisa saja Mifta juga begitu.
Atau—seperti kata satpam itu—tak ada yang namanya Mifta di asrama ini.
Atau, mungkin aku bahkan tidak perlu mencari Mifta sama sekali. Karena bagaimana kalau memang bukan dia yang mencuri Leony? Lagipula Mifta jauh lebih mabuk daripada aku. Meski dia sudah menghilang sebelum aku bangun pagi itu, tetapi bagaimana kalau memang itu yang terjadi? Dia bangun lalu pergi begitu saja tanpa melakukan apapun seperti menukar Leony dengan kucing lain.
Tapi siapa lagi yang kira-kira mencuri Leony?
Saat Kafta menelponku beberapa hari yang lalu, dia bilang ada seorang pencuri yang berkeliaran di asrama. Apa itu dia? Kafta juga memperingatkanku untuk tidak memberitahu nomor kamarnya pada siapapun, tetapi saat itu aku sudah terlanjur memberitahu Praga.
Apa dia pelakunya? Praga mencuri? Untuk apa dia mencuri? Bahkan kalau ya, untuk apa dia mencuri kucing? Sejak awal semua ini sudah aneh. Kenapa ada yang mau mencuri kucing?
Aku benar-benar ingin berteriak sekarang. Di sini, tengah lorong asrama dan tak peduli andai ada yang tiba-tiba lewat. Untung saja itu tidak terjadi karena tanpa sadar kakiku tersandung, tetapi beruntung aku tak terjatuh karena tanganku dengan cepat bertumpu pada sesuatu yang keras. Dada si Cleaning Service, ember pelnya nyaris terguling, dan sedikit airnya yang keruh tumpah ke atas lantai.
Petugas itu buru-buru membantuku menemukan keseimbangan. Kukira dia akan memarahiku karena tak melihat, tetapi di bawah topi coklatnya dia justru menatapku khawatir.
“Kamu nggak papa?” Dia bertanya, aku hanya bisa mengangguk saking terkejutnya. Semua ini benar-benar membuatku sudah gila. Petugas itu tersenyum padaku.
“Kamu yang tinggal di gedung C lantai tiga, kan?” Dia bertanya lagi, dan aku hanya mengangguk lagi.
Dia menarik topinya turun sedikit. “Lain kali hati-hati, ya,” katanya, dan berlalu pergi. Aku menoleh, memperhatikan punggungnya menghilang di belokan. Aku bahkan tak sadar sedang menahan napas sampai dia akhirnya pergi.
Kembali ke rencana. Mifta dicoret dari daftar tersangka, jadi selanjutnya adalah Praga. Baiklah, itu langkah selanjutnya. Setidaknya kali ini aku tahu di kamar mana Praga tinggal, dan ke sanalah aku pergi. Walau sebenarnya aku tidak benar-benar yakin Praga memang mencuri Leony, belum lagi aku juga sudah berjanji tak ingin bertemu dengannya lagi, tetapi pilihan apa yang kupunya?
Setelah berjalan ke gedung asramanya selama beberapa menit yang melelahkan, dan hasilnya adalah omong kosong lain.
Praga tidak ada di dalam kamarnya. Aku sudah mengetuk pintunya berkali-kali, sampai terpaksa memanggil namanya keras-keras, tetapi tak ada tanda-tanda keberadaan pria itu di dalam sana. Saat mengintip lewat lubang kunci, kosong.
Jadi kucoret juga Praga dari daftar. Mungkin dia bukan pencuri. Tapi kalau begitu siapa lagi? Pelaku setidaknya harus mengetahui di kamar mana Kafta tinggal untuk dapat menemukan Leony dan menukarnya dengan kucing lain.
Dan tiba-tiba saja terbesit satu nama di kepalaku. Bukan nama, lebih tepatnya wajah.
Petugas cleaning service itu. Dia tahu di kamar mana aku tinggal. Tapi apa memang dia? Saat pergi ke kolam pagi itu, kami berpapasan di lorong. Saat kembali ke kamar dari kolam, kami juga berpapasan begitu keluar lift.
Aku sontak berlari untuk kembali ke gedung C. Lift tak kugunakan, melainkan melangkahi dua anak tangga sekaligus. Dia pasti masih ada di sana. Begitu tiba, aku tak membuang waktu untuk memeriksa setiap lantai. Meski dadaku sudah panas karena sesak, aku terus mencari petugas tersebut.
Tak ada tanda-tanda dirinya di lantai dua. Di lantai tiga harapanku mulai mengikis. Empat dan lima juga sama saja. Sial! Sialan! Padahal aku sudah bangun pagi seperti kata mereka, kenapa aku masih sial saja?!
Lalu aku tersadar, masih ada cara untuk menemukan petugas cleaning service tersebut. Kali ini aku tidak menggunakan tangga, tetapi saat pintu lift terbuka di lantai satu, aku mempercepat langkah untuk bergegas ke pos depan. Satpam itu mungkin tidak tahu siapa Mifta, tetapi dia pasti pasti tahu rekan kerjanya sendiri.
Di pos depan, aku menemukan satpam yang sama. Setidaknya kali ini dia tak bermain ponsel, tetapi mungkin karena ada satpam lain yang tengah duduk di sampingnya. Rekannya menggunakan topi hitam dan fokus membaca sesuatu di kertas. Keduanya terkejut saat aku mengetuk jendelanya keras-keras, tetapi—untungnya—tidak memarahiku.
Satpam berambut panjang itu juga masih mengingatku. “Kamu lagi?”
“Saya mau minta tolong, pak,” kataku cepat.
“Cari temanmu lagi? Kan kemarin aku udah bilang kalau—”
“Bukan. Bukan teman,” potongku. Setelah mengatur napas, aku melanjutkan. “Saya mau tanya soal petugas cleaning service yang biasa bersih-bersih di gedung C. Boleh tahu nggak, pak, dia tinggal di mana?”
Sejenak satpam itu hanya menatapku dengan mulut setengah terbuka, dan aku tersadar kalau pertanyaanku sepertinya kurang tepat, jadi aku mengulang. “M–Maksudnya, bapak tahu di mana dia sekarang?”
Dia masih terdiam. Jadi aku langsung mengganti pertanyaan. “Atau, boleh saya tahu jadwal tugasnya? Saya cuman mau ngobrol sama dia.”
Kini kedua satpam itu menatapku sama anehnya. Lalu mereka menoleh untuk saling menatap, sebelum kemudian kembali padaku yang semakin kehilangan harapan. “Kenapa kamu mau tahu soal petugas cleaning service di asrama ini?” tanya si Satpam Gondrong.
“Kamu temannya?” tanya satpam yang satunya.
Aku tak menjawab, karena memang tak tahu harus menjawab apa. Kalau misalnya kubilang karena aku menuduh petugas cleaning service tersebut mencuri kucing, maka aku dalam masalah besar.
Si Gondrong kembali berkata. “Kami nggak bisa kasih kamu informasi tentang itu.”
“Eh? Kenapa?”
Satpam itu menghela napas. “Karena kamu bukan penghuni.”
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top