Kólasi
Hitam berubah jadi merah, tetapi mungkin hanya perasaanku saja.
Karena merah itu bukan warna sebenarnya. Lebih seperti lapisan tipis yang menempel di mataku. Aku tidak berbaring, tetapi tahu tadi baru saja tidur—mati sebentar. Aku bisa mengingat semuanya sebelum ini. Ferry memukulku, Kafta menahanku. Mereka melarangku tidur.
Namun, saat mataku mulai memahami cahaya yang baru, aku tidak menemukan mereka di sini. Tidak ada dinding, tidak ada pintu, tidak ada langit. Hanya satu permukaan datar yang licin dan hangat—seperti gabungan daging dan batu. Di hadapanku berdiri seorang perempuan, dan dunia lain seakan terhapus.
Rambut panjangnya jatuh seperti tirai yang berat, menutupi sebagian dadanya yang kencang, dan terus turun mencapai perutnya yang halus. Dia berdiri terlalu dekat sampai-sampai mataku hanya bisa menatap tubuh telanjangnya.
Lalu aku sadar, bajuku telah dilepas.
Kami berdua sama-sama tanpa busana, tetapi birahiku sama sekali tak bergerak. Tidak ada dorongan, tidak ada rasa ingin. Perempuan itu sama sekali tidak membuatku bergairah, meski bentuk tubuhnya sempurna. Namun, aku tahu itu bukan karena kenyataan dia adalah perempuan yang pernah kulihat lewat teropong sedang bercinta dengan Praga.
Apa ini semua bahkan nyata?
Tubuhku ringan, seperti buah dada langit sedang menahan gravitasi agar aku tidak jatuh. Aku tak merasa mual, tidak pusing, tidak sakit. Namun aku juga tahu ini bukan mimpi. Terlalu jelas. Terlalu tajam. Terlalu dingin.
Perempuan itu menyingkir tanpa suara. Tidak berjalan—lebih tepatnya meluncur, seolah lantai menariknya pergi. Dia menghilang di balik semacam kabut yang tidak pernah benar-benar tampak. Dan barulah aku melihat sesuatu yang lain.
Ada orang-orang yang berdiri di belakangnya.
Kafta ada di sana—juga telanjang. Di sampingnya berdiri kakaknya—juga telanjang. Tubuh mereka tegak dan kaku, tanpa gerakan kecil seperti manusia normal. Tidak ada helaan napas, tidak ada kedipan. Wajah mereka kosong seperti topeng yang tidak selesai dibuat.
Lalu mataku mulai mengenali yang lain. Mifta. Praga. Setan Lorong. Arsyad. Cleaning service tua. Satpam gondrong. Satpam bertopi. Satpam tua.
Mereka semua telanjang. Kami semua telanjang.
Kemaluan mereka menegang—keras, identik, terikat pada tubuh yang tidak menunjukkan emosi apapun. Aku ikut menegang sama kerasnya hingga terasa kemaluanku akan terlepas dari selangkanganku.
Jadi, apa ini memang di neraka?
Untuk apa aku di sini? Apakah karena membunuh kucing? Karena mencuri ikan?
Untuk apa mereka ada di sini? Arsyad mencuri kucing. Cleaning service tua makan kucing. Setan Lorong memukul orang-orang. Pemuda misterius ingin membunuhku. Praga memperkosa seorang gadis. Mifta mabuk.
Tapi bagaimana dengan satpam-satpam itu? Atau Ferry? Atau Kafta?
“Apa ini neraka?” tanyaku, entah pada siapa. Aku juga tak berharap ada salah satu dari mereka yang akan menjawab.
Namun, sebuah suara malah menjawab.
“Ya …,” kata Kafta.
Namun, suara itu tidak berasal dari mulut—tetapi langsung masuk ke kepalaku. Tidak ada getaran di udara. Tidak ada gema. Seperti suara yang tidak melewati dunia fisik sama sekali. Mulut mereka semua terkunci.
Hingga aku sadar, mulutku pun begitu. Tertutup, tetapi berbicara. Aku tak merasakan deru napas di hidungku. Tidak ada di dingin di dada. Aku tahu tubuhku masih ada—lagipula kemaluanku menegang, tetapi disaat bersamaan juga terasa hanya menumpang. Tak ada dari kami yang tubuhnya bekerja.
Kenapa aku di sini?
Untuk kesalahanmu. Giliran suara Ferry yang masuk begitu saja.
Apa kesalahanku?
Kau sudah tahu. Giliran Mifta. Mereka menjawab secara bergiliran.
Aku tidak tahu.
Kau sudah tahu.
Aku benar-benar TIDAK tahu!
Kenapa kau tidak tahu?
Pertanyaan macam apa itu?!
Kau sudah tahu, Salis. Kau pernah menceritakannya padaku. Suara Praga, dan hatiku dibuat merosot begitu cepat, seakan ada lubang besar yang terbuka di tengah dadaku.
Mantanku…?
Mereka mengangguk bersamaan. Serempak dan terlalu sinkron untuk disebut manusia.
Apa salahku?
Kau sudah tahu.
Aku tidak tahu!
Kau sudah tahu!
Karena aku berhubungan seks dengannya?! Tanyaku putus asa. Apa itu salah?! Baiklah, itu salah, tapi kalau begitu dia juga salah, kan?! Lalu mana dia?! Kenapa hanya aku yang ada di sini?! Seharusnya bajingan itu juga ada di sini juga bersamaku!
Lalu beberapa dari mereka menyingkir. Bergerak seperti pintu gerbang yang terbuka. Pemandangan di belakang mereka perlahan terungkap.
Seseorang berdiri di sana.
Sama telanjangnya seperti kami. Sama menegangnya seperti kami.
Dan aku ingin tertawa. Sangat ingin. Tetapi tidak bisa. Rasa menggelitik itu menumpuk begitu tebal, tetapi tak dapat pecah. Emosi dalam bentuk apapun pasti dilarang di sini.
Dia berjalan ke arahku. Langkahnya tidak bersuara, lututnya tidak membengkok. Wajahku tidak bisa menoleh, tetapi aku tahu mataku dipaksa untuk melihat setiap inci dari kemunculannya.
Dia tidak hanya berjalan untuk berdiri di hadapanku. Dia duduk di sampingku.
Hai, Silas. Suaranya masuk tanpa ketukan di pintu pikiran.
Aku ingin menelan ludah, tetapi tubuhku tidak mengizinkan. Aku tiba-tiba jadi takut—tetapi rasa takut itu pun terasa terputus setengah, tidak sampai.
Hai, Lian…. Aku membalasnya.
Dia masih sama seperti dulu. Wajah yang mulus. Rambut pendek yang rapi. Tubuh yang ideal untuk disentuh.
Suaranya masih lembut seperti saat kami berpacaran diam-diam. Suara yang sama saat dia mendesah di telingaku. Juga suara yang sama saat kami bertengkar sebelum putus.
Satu-satunya yang berbeda adalah matanya. Saat kutinggalkan dia di kamar kos itu, katanya matanya berdarah. Katanya dia menusuk dirinya dengan serpihan akuarium yang pecah yang dia lempar ke arahku.
Saat ini, matanya utuh. Keduanya.
Ini salahmu, Silas.
Bukan salahku.
Kamu yang bunuh aku.
Aku tidak membunuhmu. Kamu bunuh diri.
Karena kamu aku bunuh diri.
Aku ingin menamparnya. Mencekiknya. Mengulang adegan terakhir itu. Saat kami bertengkar, saat aku putus dengannya. Aku ingin memanggilnya dengan sebutan sundal lagi. Namun, tubuhku tidak bisa bergerak.
Kamu bunuh diri karena kamu milih itu. Aku berkata padanya.
Aku bunuh diri karena kamu melanggar janjimu.
Bukan salahku kamu bunuh diri, Lian!
Salahmu. Kamu bilang nggak akan pergi. Kamu bilang akan bertahan dan hadapin semuanya sama-sama. Tapi kamu pergi.
Tentu saja aku pergi! Kamu pikir aku mau pacaran lama sama laki-laki? Semua itu salah, Lian! Kita nggak seharusnya pacaran!
Jadi kenapa kamu tinggal, kalau begitu? Kenapa kamu nggak langsung pergi meski tahu itu salah? Kenapa kamu terus pakai tubuhku meski tahu itu salah?
Karena .... Kata-kataku berhenti di situ. Tak ada jawaban yang tersisa di kepalaku. Padahal terasa penuh sekarang, tetapi malah jadi kosong. Aku tidak bisa menjawabnya, tak bisa mencari alasan lain. Kenapa aku bertahan dengannya meski tahu itu semua salah?
Aku nggak salah… aku nggak salah….
Lian terdiam. Dia masih di sampingku. Sementara yang lain perlahan menghilang, ditelan oleh kabut yang sama seperti perempuan tadi.
Menyisakan kami berdua, dengan kemaluan masing-masing yang menegang di tengah kehampaan. Dia tak menghilang seperti yang lain, dan aku juga masih di sini bersamanya tanpa bisa kemana-mana.
Sesuatu berjalan mendekati kami. Langkah kecil yang tenang. Suara kuku menyentuh lantai daging itu. Tenang, tidak terburu-buru.
Lalu dia berhenti di hadapanku. Satu matanya menatapku. Dia mengeong sekali.
Kemudian merah akhirnya jadi hitam kembali.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top