Dióptres
Malamnya aku tidak bisa tertidur.
Setelah Praga meninggalkanku sendirian di kolam, aku sudah sempat tertidur. Malah aku tertidur dengan pulas dan tak ada siapapun yang repot-repot mau membangunkanku. Dengan panik dan tergesa-gesa aku meninggalkan kolam tersebut yang sudah diterangi cahaya lampu taman. Sempat kupikir aku mungkin kehilangan barang-barang, tetapi dompetku yang berisi uang pemberian Kafta masih tersimpan. Ponselku juga aman, yang kugunakan untuk mengecek waktu. Aku terbangun pukul setengah tujuh malam.
Bodohnya aku. Siapa juga orang di dalam asrama ini yang mau mencuri?
Atau mungkin aku hanya kesulitan tertidur karena sofa Kafta mulai terasa keras di punggungku.
Setelah makan malam, Kafta sempat menghubungiku. Di seberang telepon dia bertanya kondisi kucingnya dengan sangat bersemangat.
“Dia lagi makan,” jawabku. Saat itu, Leony memang sedang menikmati porsi ketiga mangkuk makanannya dengan lahap. Lalu kutambah lagi setengah sendok seperti tadi pagi.
Perintah Kafta setelah itu membuatku mengernyitkan dahi. Karena dia memintaku menyerahkan ponsel pada Leony. Namun, aku tetap melakukannya. Dalam mode loudspeaker, Kafta memanggil-manggil Leony dengan suara melengking, memancarkan keceriaan bagai seorang ayah yang begitu bangga pada putri kecilnya yang imut. Sementara satu-satunya suara yang Leony hasilkan adalah rahangnya yang mengunyah makanan kucing dengan keras.
Lalu kami mengobrol sebentar lagi. Kafta pada akhirnya menanyakan kabarku, yang seharusnya dia lakukan lebih dahulu daripada mengkhawatirkan kucing rakus dengan satu matanya itu.
“Aku baik,” kataku. Sempat ingin kuceritakan padanya tentang pemuda bernama Mifta itu sekalian, tetapi kuurungkan. Sebagai gantinya, aku malah menceritakan tentang kesan pertamaku dengan kolam ikan tersebut.
“Kolamnya ternyata besar banget, ya? Terus tadi aku ketemu satu orang di sini, bapak-bapak. Katanya sih dia mahasiswa S3, terus—”
“Bapak-bapak?” potong Kafta langsung. “Bapak-bapak kayak gimana?”
“Kayak ... umur empat puluhan gitu, tapi rambutnya udah ada uban, terus—”
“Kamu nggak ngasih tahu nomor kamarku ke dia, kan?” potong lagi Kafta, terpancar kekhawatiran yang jelas dari suaranya. Membuatku ikut gugup untuk menjawabnya. Karena tadi aku memberitahu nomor kamar ini pada Praga. Blok C, nomor 8, lantai tiga.
“N–Nggak, kok,” ucapku.
“Baguslah,” katanya lega.
“Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Nggak kenapa-napa, kok. Cuman di asrama ada bapak-bapak yang suka nyolong di kamar orang. Takutnya bapak-bapak yang kamu temuin itu pelakunya. Aku juga bingung sih sama satpam, kenapa ya kalau ada orang asing nggak diusir aja dari asrama.”
Gawat! Bagaimana kalau pencuri itu memang Praga? Mungkin itu alasannya kenapa dia berkata kenal dengan semua orang di asrama lalu bertanya di kamar nomor berapa aku tinggal.
Terdengar suara tarikan napas panjang di seberang telepon. “Sebenarnya aku mau ngasih tahu, kayaknya aku bakalan lebih lama tinggal di Belanda. Kamu nggak papa, kan, kalau harus tinggal di asrama sedikit lebih lama?” lanjutnya, ragu-ragu.
“Kenapa?”
“Jadwal operasi ibuku belum keluar, jadi kayaknya aku bakalan tinggal lebih lama di sini,” ujarnya, terdengar semangat yang tadi ia pancarkan saat menanyakan kabar Leony tiba-tiba saja runtuh. Aku jadi penasaran ibu Kafta sebenarnya menderita penyakit yang seperti apa.
Namun, soal permintaan Kafta, tentu saja aku tidak keberatan sama sekali. Tinggal di sini lebih lama, menikmati kesendirian di asrama elit dengan bayaran yang terlalu besar. Aku hanya bingung memilih kata-kata yang tepat untuk mengatakannya pada Kafta.
“Nanti aku tambah bayarannya,” sambung Kafta, dan setelah itu aku langsung berkata ya tanpa pikir panjang.
“Kamu jangan khawatir. Kamu fokus aja sama ibumu di sana, aku bakalan rawat Leony di sini,” ujarku tanpa malu. Kafta tertawa di seberang telepon.
“Makasih, ya, Silas. Kamu beneran teman yang baik,” ucapnya terdengar bersungguh-sungguh, dan aku bangga dengan pujian itu.
“Oh, iya, satu lagi,” lanjut Kafta. “Kamu jangan masuk kamarku, ya.”
Dan karena panggilan telepon itulah, kuputuskan untuk tetap tertidur di sofa. Kebetulan sekali setelah Mifta datang kesini dan Kafta langsung memperingatkanku untuk tidak masuk kamarnya. Sebenarnya paket apa yang dimaksud itu?
Sekarang sudah hampir tengah malam. Leony tertidur pulas di dapur. Aku baru teringat, sampai sekarang belum kudengar kucing itu mengeong. Satu-satunya suara yang terdengar dari makhluk itu hanyalah suara lonceng kecil di lehernya.
Aku mencoba bermain gim di ponsel sampai lelah, tetapi rasa bosan menguasaiku terlebih dahulu. Tidak ada yang menarik di TV, tetapi siapa juga yang masih menonton TV sekarang? Sayangnya video internet juga tidak membantu. Aku mulai terpikir untuk menonton film dewasa saja, tetapi tega kah aku mengotori tempat tinggal Kafta dengan masturbasi?
Jadi aku hanya terus berbaring di sofa, dan mulai mencoba menghabiskan malam ini dengan mengenang. Pertemuan pertamaku dengan Kafta adalah saat acara pengumpulan seluruh mahasiswa baru. Saat itu aku salah mengambil tempat duduk di antara mahasiswa fakultas kedokteran karena kupikir kita bisa duduk di mana saja, tetapi aku tidak repot-repot untuk berpindah ke tempat yang seharusnya karena Kafta menahanku untuk tetap duduk.
Kafta. Nama yang aneh. Entah darimana inspirasi namanya. Mungkin orangtuanya terinspirasi dari Franz Kafka, tetapi tidak mau anaknya sama depresi seperti penulis itu. Makanya Kafta selalu jadi pemuda yang ceria. Tapi memangnya kesulitan seperti apa yang Kafta bisa alami hingga membuatnya sedih dan depresi? Dia punya cukup banyak uang yang mungkin bisa digunakan untuk mengobati seluruh kesedihan yang dialami oleh semua orang di gedung kosanku.
Lalu aku teringat Mifta. Aku sangat yakin baru pertama kali bertemu anak aneh itu hari ini. Setiap kali nongkrong dengan Kafta, tak pernah ada pemuda berwajah pucat dengan headphone mengalung di lehernya yang duduk bersama kami. Biasanya kami akan ditemani oleh teman-teman mahasiswa kedokteran lainnya, yang mana kami semua akan selalu ditraktir oleh Kafta.
Kemudian Praga. Pembicaraan tadi sore menyenangkan, tetapi rasanya juga aneh. Mengesampingkan peringatan Kafta, aku ingat sekali Praga berkata, “kalau kamu mau obrolin masalahmu, kamu bisa datang ke aku.” Mungkin dia berkata seperti itu karena dia adalah mahasiswa psikologi. Atau dia memang hanya ingin mencuri. Dari sekarang aku harus memastikan untuk mengunci pintu sebelum keluar.
Aku tidak punya masalah—yang butuh penanganan psikolog. Bahkan kalau pun memang ada, aku tidak akan repot-repot membayar psikolog. Menurutku itu hanya cara penyelesaian untuk orang-orang lemah mental yang tidak mampu mengatasi masalahnya sendirian. Lebih baik habiskan uangmu untuk hal-hal yang lebih berguna. Namun, mengapa dia berkata aku punya masalah?
Ngomong-ngomong soal aneh, hari pertamaku di sini—yang mana kemarin—adalah yang paling aneh. Aku mulai berpikir, andai saja aku dan Kafta menghentikan perkelahian di lorong kemarin, pemuda itu pasti akan baik-baik saja sekarang. Tidak perlu dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Apa yang terjadi dengan pemuda yang satunya? Apakah dia melarikan diri? Tidak kusangka perkelahian antara orang kaya bisa sampai seberdarah itu. Atau mungkin pelakunya bukan penghuni asrama sama sepertiku?
Lalu tiba-tiba saja aku teringat dengan orang lain. Mantan pacarku. Aku jadi memikirkannya setelah membayangkan darah.
Tapi dia tidak pantas diingat.
Tapi aku terus mengingatnya.
Tapi dia tidak pantas diingat.
Tapi aku terus mengingatnya.
Tapi aku terus membayangkannya.
Tapi dia tidak pantas diingat.
Sialan! Aku terbangun dari sofa yang keras itu. Aku tidak peduli lagi. Aku akan tidur di tempat tidur Kafta. Persetan dengan semuanya. Aku tidak akan menghabiskan sisa waktuku di atas sofa yang keras.
Setelah meregangkan punggungku sampai berbunyi, aku beringsut masuk kamarnya. Sejenak kupikir bagaimana kalau ternyata kamarnya dikunci, tetapi ternyata tidak.
Kamar itu luas, lebih luas dari kamar kosku. Tempat tidurnya king size. Lebih besar dari kasur di kamar kosku. Ada selimut tebal, empat bantal tidur, dua bantal guling. Kamar ini didesain untuk dua orang, tetapi setahuku Kafta tinggal sendiri.
Ada lemari pakaian, meja nakas dengan tiga laci dan sebuah lampu tidur. Terdapat sebuah jendela yang memperlihatkan pemandangan di luar. Tapi hanya nampak gedung-gedung asrama lain, yang sebenarnya saling berjauhan satu sama lain. Akan kesulitan melihat kalau ada orang lain yang juga kebetulan mengintip di gedung berbeda.
Kasurnya sangat empuk, lebih empuk dari sofa di luar, lebih empuk daripada kasur manapun yang pernah kutiduri. Aku pasti akan tidur dengan nyenyak di sini. Namun, aku benar-benar salah. Lewat tengah malam, dan aku tak kunjung terlelap. Kepalaku masih terus membayangkan semua nama yang tadi sudah kubayangkan sebelumnya. Kafta, Mifta, Praga, pemuda yang berdarah, bahkan pria cleaning service yang kutemui tadi sore.
Tak terkecuali mantan pacarku. Benar sialan dia. Aku seharusnya melupakan bajingan itu. Bisa-bisanya dia kembali ke dalam kepalaku hanya karena membayangkan darah.
Aku teringat, soal Mifta, tadi pagi dia menyebutkan soal paket. Mungkin paketnya benar-benar di simpan di tempat ini. Apa di lemari? Apa boleh kubuka lemari Kafta? Malaikat di sampingku berkata, aku sudah cukup salah dengan tidur di kamar Kafta tanpa izin, sementara iblis di sebelah kiri menggodaku untuk memeriksanya. Mungkin itu akan membuatku mengantuk.
Jadi aku bangun dan membuka lemarinya, yang juga tak dikunci. Aku lebih dibuat terkejut karena lemari itu masih setengah penuh. Tetapi selain kemeja, baju kaos, celana, dan pakaian dalam, tak ada apapun di dalam lemari ini. Tak ada paket yang terbungkus rapat.
Atau mungkin di nakas? Aku berpindah ke nakas untuk memeriksa ketiga lacinya. Di laci pertama justru tersimpan dengan rapi perlengkapan medis, termasuk gunting, perban, pisau bedah, dan lebih banyak logam lain yang tak kuketahui namanya. Lalu ada kondom.
Ah ... mungkin ini yang berusaha dia sembunyikan. Baiklah, Kafta.
Di laci kedua malah kutemukan benda yang berbeda, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia medis atau apapun yang diperlukan oleh mahasiswa kedokteran.
Sebuah binokular.
Lengkap dengan tali untuk dikalungkan di leher, dan kaca hijau yang mungkin bisa digunakan untuk melihat di tengah kegelapan. Benar-benar seperti binokular untuk keperluan militer yang pernah kulihat di film-film action.
Untuk apa Kafta menyimpan ini? Apa dia punya keluarga dari kalangan militer? Ayahnya? Tapi di foto keluarga Kafta, ayahnya tak menggunakan seragam apapun. Bukankah orang militer akan selalu bangga dengan seragamnya dan akan selalu menggunakannya di situasi apapun?
Aku menatap keluar jendela, dan pemikiran itu terlintas. Tidak ada salahnya kurasa.
Kuambil binokular itu dan melihat-melihat dari luar jendela. Tepat seperti dugaanku. Teropong ini bisa melihat ke segala arah, bahkan ke setiap gedung. Binokular ini juga punya fitur zoom in dan zoom out, termasuk mengganti lensanya dengan mode malam yang berwarna hijau, atau apapun namanya.
Jauh lebih jelas jika menggunakan dengan lensa jernih. Aku bisa menyaksikan setiap jendela di setiap gedung yang tertutup dan sebagian besar mematikan lampunya. Beberapa juga tertidur dengan lampu menyala. Aku bisa melihat kolam dari sini dan menyaksikan ikan-ikan di dalam sana bergerak-gerak. Terdapat seseorang yang berdiri di dekat kolam. Pria dengan jaket tebal, berdiri tepat di samping bangku yang tadi kududuki, kepalanya terangkat kecil.
Hingga kusadari dia sedang menatapku.
Aku buru-buru melepas binokular untuk memastikan, lalu kusadari justru aku tak akan bisa melihatnya kalau tak menggunakan teropong itu. Saat kusorot kembali ke arah kolam, pria itu sudah menghilang, tak terlihat di manapun. Seolah tak pernah ada siapapun yang berdiri di sana.
Mungkin memang hanya perasaanku.
Aku kembali memeriksa gedung-gedung asrama, dan menemukan satu jendela tiba-tiba saja terbuka. Tak lama kemudian seseorang muncul di baliknya. Perempuan. Gadis seumuran denganku mungkin, dan aku tahu sudah saatnya untuk berhenti melihat-lihat dengan binokular itu.
Karena gadis itu tengah telanjang.
Tak ada satupun pakaian yang menutupi tubuhnya, dan aku bisa melihat semuanya. Perut kecil dan buah dadanya.
Aku meremas binokular itu dengan kedua tanganku. Malaikat dan iblis kembali bertengkar di atas kepalaku, berdebat siapa yang bisa mendapat kendali diriku, dan lagi-lagi iblis itu menang. Aku menaruh binokular di depan mataku, dan kali ini gadis itu mengikat rambut panjangnya.
Lalu kusadari ada orang lain di sana. Seseorang yang menghampiri gadis itu dari belakang. Seorang pria yang terlihat sedikit lebih besar dari gadis itu. Kedua tangannya mengelus-elus tubuh gadis itu perlahan-lahan, dan gadis itu menutup matanya, menikmati setiap gerakan yang dia terima.
Mereka berciuman, dan terus berciuman saat gadis itu menumpu kedua tangannya di kusen jendela, sementara pria di belakangnya mulai bergerak-gerak. Saat itu juga aku melepaskan binokular tersebut dan menyimpannya kembali di laci.
Kututup jendela dan kembali ke atas tempat tidur. Kulapisi tubuhku dengan selimut tebal Kafta meski sekarang tidak dingin. Justru tubuhku sangat panas.
Aku bukannya berhenti karena gadis itu tengah berhubungan badan dengan seorang pria yang mungkin terlalu tua untuknya, malah kelewat tua.
Tapi karena aku tahu siapa pria itu.
Dia Praga.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top