Dirham
Tuhan sangatlah baik. Dia selalu mendengar doa Ica dan segera mengabulkannya.
Nanda menghilang dari dunia Ica. Rutinitas kehidupannya pun kembali berjalan selama setengah bulan ini. Ayah masih suka mengomel, ibu masih asik dengan acara gosip—apalagi berita bisnis prostitusi artis sedang panas-panasnya—dan Agil pun tetap jadi kakak yang jarang mengajak Ica bicara panjang lebar. Bosan masih melanda hati Ica, cuma sekarang Ica lebih tahu diri. Sebagai anak sudah seharunya dia berbakti pada orang tua yang sudah membesarkan dia. Salah satu cara yang bisa Ica lakukan, ya, ini; duduk di balik meja kasir di toko material milik keluarganya.
“Mbak Iin bikin semur jengkol, Nduk. Makan dulu aja. Aku mau beli es dawet dulu.” Agil meletakkan satu set boks makanan ke meja Ica. Dia baru saja dari rumah karena istrinya meminta dia untuk mengambil makan siang buat Ica.
Mata Ica berbinar menerima boks merah muda dengan gambar kartun bebek itu. Semur jengkol adalah makanan favoritnya, tapi sayang ibu jarang memasak menu tersebut. Ayah tidak suka.
Ketika membuka boks, Ica berseru girang. “Waaah, kenapa paha ayamnya ditaruh sini, Mas? Nanti dicariin Kaila, lho.”
Agil diam. Tidak menanggapi ocehan Ica. Memang benar anaknya sangat memuja paha ayam layaknya Ica, tapi memangnya istrinya itu goblok sampai masak ayam kesukaan anak sendiri cuma satu. Kalau hilang sampai dicari-cari.
“Mau es dawetnya juga, nggak?” tanya Agil datar sebelum pergi. Hari sedang panas-panasnya. Dia sudah mandi lagi di pesiraman yang ada di rumah, tapi sampai di toko kembali dibanjiri keringat. Es dawet Pak Anggar yang punya gigi tonggos sudah melambai-lambai sejak ia lewati.
“Mau.” Ica mengangguk cepat dan memamerkan senyum. Merasa sangat berterima kasih atas kepedulian sang kakak yang meningkat setengah persen, biarpun cuma sebatas perihal makan siang.
Ica menikmati makan siangnya dengan tenang. Dia memilih duduk bersila di lantai sambil mendengarkan musik dan bermain sosial media, lebih tepatnya dia cuma menggeser timeline Instagram. Es dawet juga sudah tiba. Agil kembali sibuk dengan barang material di dalam gudang, mempersiapkan barang yang hendak diambil pelanggar sore nanti.
Namun, tengah asik-asiknya makan, nada dering panggilan dari ponsel Agil terdengar dari atas meja. Ponsel itu sedang di-charge jadi ditinggal. Ica setengah berdiri menggunakan lutut untuk melihat siapa yang memanggil.
Nanda.
Nanda? Nanda siapa, nih?
“Mas!” Ica berteriak. “Nanda telepon, nih!”
Ponsel itu terus mendendangkan lagu genre dangdut koplo dengan lirik nista—menurut Ica saja, sih. Agil tak kunjung menyahut atau muncul untuk mengangkat panggilan itu. Gemas jari Ica ingin menggeser ikon hijau di layar. Cuma sebagian dari dirinya takut kalau Nanda yang ini sama dengan Nanda yang waktu itu menolongnya.
Tak sabar akhirnya Ica mencabut charge dan berlari mencari Agil. Gadis itu menemukan kakaknya tengah berjibaku dengan tumpukan kardus keramik.
“Mas, ada telepon dari Nanda.” Tangan Agil langsung membeku sedetik mendengarnya. “Nanda siapa, ya? Kok, aku nggak pernah tahu--yaaaah, mati.”
Agil berdehem dan menerima uluran ponsel dari Ica. “Bukan urusanmu. Balik lagi ke meja sana.”
Ica merengut mendengar jawaban Agil.
“Udah sana!”
Melayangkan tatapan curiga, Ica akhirnya berbalik. Beberapa kali dia menoleh ke belakang dan kakaknya pun juga berkali-kali melirik, memastikan Ica benar-benar sudah kembali ke mejanya.
Agil pergi ke bagian gudang terdalam. Berdiri bersandar pada tumpukan stok bahan material. Pencahayaan di sana sangat minim. Biarpun dibersihkan secara rutin, debu-debu tak pernah benar-benar meninggalkan tempat itu. Agil melihat ke segala arah untuk mengamankan situasi, seolah-olah dirinya adalah agen mata-mata rahasia.
Pertama, Agil membuka aplikasi Whatsapp. Roomchat dengan kontak Nanda pun nangkring di deretan teratas. Senyum Agil sedikit melebar saat melihat tumpukan pesan sudah dikirim Nanda.
Pesan itu berupa kumpulan foto yang memuat wajah keluarganya. Dari ayah, ibu, Ica, bahkan dirinya juga. Foto itu diambil oleh Nanda sewaktu dia menginap dulu. Nanda berjanji akan segera mengirim foto cetakannya sendiri ketika dia memiliki waktu luang nanti. Saat sampai pada gambar Ica, Agil memandang foto sang adik cukup lama.
Foto Ica yang sendirian hanya ada satu. Anak itu sedang tersenyum lebar. Sangat manis karena gigi taringnya terlihat semakin menonjol. Hanya saja Ica tidak melihat ke arah kamera. Nanda pasti mencurinya. Senyum Agil berubah geli.
Kenapa telepon, Nda?
Balasan datang dengan cepat.
Bang, enaknya kasih kado ulang tahun apa buat Mama?
Mangkat saja kau, Nda!
Aduh! 😥 Pakanira jangan begitu kepada hamba.
A
lah, Bang. Cepetan. Mumpung aku lagi di bagian perabot rumah tangga.
Codet! Ngapain ke sana? Mending kirim potoku!
Diajak cewek, Bang. Menurut ahkam yang berlaku, cowok harus ngalah ke cewek.
Sukurin!
Bangke banget emang! Gara-gara ngeliput acara ghatering sama mak-mak jadi nyasar ke tempat gini.
Eh, beneran, nih. Biasanya kan Abang suka beliin Mbak Iin perabotan, jadi enaknya aku beli apa? Panci? Wajan?
Transfer duit 80 juta ae.
Alamak!
Chat basa-basi terus mengalir. Agil memang klop dengan Nanda. Saat mengantar Nanda ke Pasar Klewer Agil tahu ternyata mereka memiliki mimpi yang sama, yaitu petinju. Mereka sama-sama menggemari Muhammad Ali. Kalau suntuk, kadang mereka membicarakan berbagai hal lewat telepon di tengah malam. Iin lebih suka tidur memeluk sang anak dari pada menemani Agil begadang buat sekedar mengobrol. Jadi kadang Nanda bisa berperan pelarian.
Mereka menjadi dekat tanpa sepengetahuan Ica. Agil tahu ternyata Ica tidak menyukai Nanda bahkan antipati. Ica merasa nama baiknya di desa jadi tercoreng gara-gara Nanda. Padahal itu salah dia sendiri yang main kabur dari rumah karena sedang ngambek.
Selain karena itu, alasan kenapa Agil menyembunyikan sosok Nanda dari Ica adalah karena Agil sangat tertarik untuk menjadikan Nanda sebagai adik ipar. Semakin mengenal Nanda, Agil merasa pemuda itulah yang paling cocok buat menemani Ica yang ceroboh dan cengeng di peraduan. Nanda pun tidak malu-malu menerimanya. Agil akan susun skenario untuk mereka suatu hari nanti.
Nanda memang sengaja mengantar Ica sampai ke rumah karena tertarik pada gadis itu. Dia bahkan menolak uang ganti biaya rumah sakit Ica sambil menyatakan diri bahwa dia membantu Ica karena naksir pada gadis itu.
Awal pertama mendengar itu, Agil ingin menghajar Nanda di tempat. Namun, setelah mendengar alasan Nanda menyukai Ica, pria itu memutuskan untuk membiarkan Nanda memiliki rasa suka itu. Memiliki perasaan untuk orang lain adalah hak tiap orang. Toh, kita juga tidak bisa melarang karena tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan orang lain. Asalkan Ica tidak dirugikan oleh Nanda, Agil tidak akan ambil pusing lagi.
“Ica itu mirip adikku, Bang,” Nanda mengucapkan itu dengan wajah sendu. Adiknya sudah meninggal saat dia masih SMA.
[.]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top