Twin
ipen wiken - 16 Februari 2019
tema: kembar yang terpisah jauh
kata kunci: pinang, pesugihan, gubuk buluk, gagal keren, dan pak bos.
diksi: abaimana, ablepsia, abrasi, aksa dan anggara.
▫
▫
▫
▫
▫
Bintang-bintang di angkasa mulai kelihatan ketika Uzumaki Naruto membawa langkahnya mengelilingi stan makanan di pasar malam. Mencicip ini itu, mencoba sini sana. Ya, sesungguhnya Naruto tidak punya niat berbelanja di pasar. Dia hanyalah seorang pemuda yang gemar berburu makanan gratis--meski hanya icip-icip--ketika malam minggu tiba. Maklum, Naruto adalah pemuda independen--dalam hal ini hubungan percintaan, jadi dia selalu menghibur dirinya dengan cara seperti ini ketika malam jahat tiba.
Sedang berakting sendiri layaknya pemburu kuliner kelas atas yang menyuap setusuk dango ke dalam mulut, aksi Naruto malah membuatnya gagal keren. Hal itu karena tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang, membuat kepala Naruto maju ke tangannya sehingga dango di tangan masuk dalam-dalam dan menabrak amandelnya.
Naruto mundur selangkah, kemudian terbatuk hebat. Matanya sampai berair karena kesakitan akibat dango yang menyundul keras amandelnya. Sementara seseorang yang diduga pelaku penabrakan hanya berdiri di depan Naruto sambil menatap pemuda pirang itu.
Saat batuk mereda, Naruto berbalik dan menengadahkan kepala. Memincing ke arah pemuda bermata hitam yang lebih tinggi darinya, kemudian Naruto mulai menyemprotkan kekesalannya, "hei, mata itu dipakai, dong! Kau tidak lihat ada orang berdiri di sini, hah?! Kalau mau lari-lari, ke lapangan sana! Ini pasar, bukan tempat marathon--"
"Jadi kau memilih untuk menjadi pengecut, Keparat?"
"... Ha?"
Pemuda di depan Naruto menyeringai. Belum sempat Naruto memproses apa yang dikatakan lelaki itu, dia sudah jatuh ke pelukan lelaki asing itu sebab tengkuknya dipukul dengan sangat keras dari belakang. Sebelum kesadarannya menghilang, Naruto sempat menangkap percakapan singkat lelaki asing tersebut dengan pemilik stan dango di belakangnya.
"Terima kasih, Konohamaru."
"Sudah merupakan tugas saya, Pak Bos Sasuke."
▫
▫
▫
▫
▫
Perlahan, kelopak mata Naruto terbuka. Matanya mengerjap sebentar, menyesuaikan diri dengan ruangan yang tidak terlalu gelap. Tangannya yang terikat di punggung terasa sangat sakit--Naruto menebak pergelangan tangannya mengalami abrasi akibat gesekan tali yang mengikat.
Naruto yang kemudian menyadari bahwa dia sedang berada di dalam sebuah gubuk buluk membuatnya sedikit banyak merasa ngeri. Ingatannya tentang kejadian sebelum dia kehilangan kesadaran membuatnya bertanya-tanya, kenapa dia ditangkap dan disekap di tempat bau ini? Lalu kenapa dia ditinggal sendirian? Jangan bilang dirinya akan dijadikan tumbal untuk pesugihan oleh penculiknya?
"Sudah sadar, ya."
Naruto mengerjap, berusaha mencari sumber suara yang dirasanya tidak aksa darinya. Kemudian Naruto mendapati pelaku penabrak di stan dango tadi sedang berdiri sambil bersandar di dinding tepat di samping kanan Naruto. Lelaki yang tadi dipanggil 'Pak Bos Sasuke' oleh pemilik stan dango itu membawa langkahnya mendekat ke arah Naruto dengan gerakan pelan.
Naruto membelalakkan matanya. "Ma-mau apa kau?" tanya Naruto gemetar sambil beringsut mundur, akan tetapi keadaan tangannya yang terikat membuat ruang geraknya terbatas.
Uchiha Sasuke--pelaku penyekapan itu--menumpukan sebelah lututnya di lantai kemudian menatap mata Naruto dengan tatapan intens. Sedetik kemudian, dia mendengus. "Sampai rela memotong cepak dan mengecat rambut menjadi pirang, kemudian melakukan tanning kulit ... bukankah itu berarti kau memang benar-benar berusaha agar keberadaanmu tidak bisa dilacak, Rubah Sialan?"
Naruto mengernyit bingung, sementara otaknya yang jarang dipakai ia paksa untuk memproses informasi yang baru diterima. Berdetik-detik kemudian setelah Naruto berusaha mencerna apa yang dikatakan Sasuke, akhirnya Naruto sudah dapat menyimpulkan sesuatu.
Lelaki di depannya ini ... salah orang.
"Maaf kalau setelah ini kau jadi malu, hanya saja, aku bukanlah Rubah Sialan atau siapalah itu yang kaumaksud." Naruto terdiam sebentar, menunggu reaksi Sasuke. Karena tiada reaksi dari Sasuke Naruto pun melanjutkan, "aku adalah Naruto, siswa dari Konoha Gakuen yang sedang dalam persiapan mengikuti ujian akhir. Jadi, tolong lepaskan aku."
"Kaupikir aku akan percaya padamu?" Sasuke mendengus sakrastik. "Dengar. Kuakui, kau memang sangat jago menyamar, aku saja hampir tidak mengenalimu. Untung saja tanda lahirmu tak dapat diakali olehmu."
Tanda lahir?
"Lagipula, siapa manusia selain kau yang memiliki tanda lahir aneh berupa codet yang mirip kumis kucing di pipimu, Namikaze Menma?"
Di detik itu, Naruto terperanjat. Sangat terkejut setelah mendengar nama yang disebut oleh Sasuke. Naruto jadi bingung, ingin menyesal atau bersyukur atas kejadian ini.
"Kau ... mengenal ... saudara kembarku?"
Sasuke mengernyit. Drama apa lagi yang dimainkan sahabat sejawatnya ini?
"Berhenti bercanda, Menma."
"Demi Tuhan! Kau benar-benar mengenal saudara kembarku?!"
"..." Sasuke bingung ingin bilang apa.
Tiba-tiba saja, Naruto memberontak. Menggeliat di lantai dengan anggara, berusaha melepaskan ikatan yang membatasi ruang geraknya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Lepaskan aku!" Naruto berteriak, kemudian menggeliat lagi.
Sasuke hanya menonton.
Setelah dua menit terlewati, Naruto menyerah. Dengan posisi menunggingkan bokong ke wajah Sasuke, Naruto menoleh ke belakang sambil memohon, "tolong buka simpul tali ini, Tuan Penyekap. Kalau kau mengenal saudara kembarku dan sedang mencarinya, tolong, lepaskan aku dan ayo kita cari dia bersama-sama."
Sasuke menatap wajah pemuda yang disangkanya sebagai Menma, kemudian menatap bokong yang sedang menungging di udara. Sedetik kemudian, dia mendengus. Tangannya bergerak mengelus bokong Naruto. "Benar juga, Menma tidak memiliki bokong seksi seperti ini." Kemudian ia menampar bokong si pirang dengan keras.
Naruto terkesiap. "Apa-apaan kau ini?! Dasar cabul! Berani-beraninya melecehkan bokongku!"
Menghindari kaki Naruto yang diarahkan kepadanya, Sasuke menarik Naruto hingga terduduk di pangkuannya. Lelaki berambut hitam itu hendak membuka simpul tali yang mengikat tangan Naruto, tetapi dia kesulitan sebab Naruto terus menggeliat di atas pangkuannya. Mendengus, Sasuke memegang pinggang Naruto kuat-kuat.
"Lepaskan aku, Sialan!" Geliatan Naruto semakin menjadi-jadi.
"Diamlah."
"Kau menyuruhku diam saat aku akan dilecehkan oleh lelaki mesum sepertimu?! Jangan mimpi!"
"Diam, atau kutusuk abaimanamu dengan penis besarku sekarang juga."
Naruto terdiam seketika. Sasuke akhirnya berkesempatan melepas simpul tali yang membatasi ruang gerak Naruto.
Setelah terlepas, Naruto sudah ancang-ancang untuk meninju wajah Sasuke, tetapi aksinya terhenti setelah mendengar tiga kata yang keluar dari mulut Sasuke.
"Ayo cari kembaranmu."
▫
▫
▫
▫
▫
"Jadi, aku dan Menma adalah saudara kembar. Saat ayah dan ibuku memutuskan untuk berpisah, aku memilih untuk ikut dengan Ibu sedangkan Menma dengan Ayah, itulah kenapa kami terpisah sejak kecil."
Sasuke hanya menyimak dalam diam. Matanya memperhatikan kaki mereka yang menapaki jalan setapak menuju ke pasar malam. --Omong-omong, ini masih dini hari. Untung saja jalan setapak ini diterangi oleh lampu taman, jadi mereka tidak perlu berjalan seperti orang ablepsia.
"Aku tak pernah tahu mereka di mana selama ini. Kami tidak pernah saling bertemu satu sama lain, karena Ibu melarangku bertemu dengan mereka. Hanya saja, aku memang benar-benar ingin bertemu lagi dengan Menma. Kautahu, kami adalah kembar, seperti pinang dibelah dua, rasanya ada yang kurang setiap kali aku ingat bahwa aku punya saudara tapi kami tak pernah bertemu lagi."
"... Hn."
Mereka semakin dekat dengan pasar malam. Suasana pasar terlihat lengang, pengunjung yang tadinya lumayan padat sekarang hanya dapat dihitung dengan jari. Para pemilik stan pun sudah bergerak menutup lapak mereka.
"Ah, ya, apa hubunganmu dengan Menma? Lalu di mana kalian tinggal?" Naruto bertanya pada Sasuke untuk memecah keheningan.
Sasuke menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan sedikit keras. "Menma adalah sahabatku, kami tinggal di Tokyo."
"TOKYO?!"
"Hn."
Naruto terbelalak sebentar. "Wuah ... ternyata kalian dari kota besar, ya." Kemudian dalam hati Naruto menyesal tidak ikut dengan ayahnya. Kalau saat itu dia memilih untuk ikut dengan sang ayah, mungkin dia sedang hidup dalam ingar-bingar kota besar. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Kau sedang mencari Menma?"
"Beberapa hari yang lalu, Menma kabur dari Tokyo karena suatu masalah. Aku ke sini untuk mencarinya karena aku sempat melacak lokasinya saat aku masih di Tokyo, dan yang kudapati keberadaannya ada di sini--Yokohama. Aku dan adik kelasku--Konohamaru--memutuskan untuk mulai mencarinya di pasar malam, karena orang semacam Menma memang suka menghabiskan waktu di tempat semacam pasar malam."
Naruto mengangguk paham. "Lalu, masalah apa yang membuat Menma kabur dari Tokyo?"
Tersenyum tipis, Sasuke menjawab, "kau akan tahu nanti."
"Cih, sok miste--"
"Itu dia!"
"--rius ... hah? Dia? Siapa? Menma?"
Tak menjawab Naruto, Sasuke segera berlari ke arah seorang pemuda bersurai hitam yang juga ikut berlari--mungkin pemuda itu sudah sadar kalau dirinya telah ditemukan. Tanpa babibu, Naruto ikut berlari, mengejar Sasuke yang sedang mengejar pemuda yang dia duga sebagai Menma.
▫
▫
▫
▫
▫
"... Sial."
Namikaze Menma terduduk di pinggir jalan dengan sebelah kaki yang dipegang oleh Sasuke, sedang tangannya sedang mengurut kaki lainnya yang terkilir dan membuatnya terjerembab di jalan. Mendapati Sasuke sedang menatapnya tajam, mau tidak mau Menma jadi salah tingkah. Dibuangnya tatapan ke arah langit malam.
"Langit Yokohama indah, ya. Tidak seperti langit Tokyo yang gelap gulita, di sini kita masih dapat melihat taburan bintang." Menma berkomentar, berusaha mencairkan suasana tegang di antara mereka.
"Kaukira aku jauh-jauh ke sini untuk mendengar komentar tidak pentingmu itu?"
"Diamlah! Kakiku sakit."
"Siapa suruh kau lari?"
"Aku takkan lari kalau kau tidak mengejarku."
"Jadi, kau berharap aku takkan mengejarmu setelah kau membuat kekacauan di Tokyo?"
Menma yang kehabisan kata-kata akhirnya hanya berdecih. Sasuke ikut-ikutan berdecih.
Bunyi ketukan sepatu dengan jalan menarik kembali perhatian Sasuke dan Menma. Mereka menoleh, mendapati Naruto yang berdiri menjulang sambil menatap Menma dengan tatapan tak percaya. Menma pun demikian--menatap Naruto dengan tatapan tak percaya, sementara Sasuke hanya tersenyum miring.
"Lihat siapa yang kutemukan, Menma."
Menma masih menatap tak percaya. Sementara Naruto bergerak mendekati Menma, berjongkok di depan pemuda yang memiliki tanda lahir yang sama dengan miliknya di pipi.
"... Menma?"
Menma menggerakkan tangannya ke pipi Naruto, mengusapkan ibu jarinya ke codet di pipi saudara kembarnya. "Asli, ya ..." Menma berujar lirih. "Jadi, kau ... Naruto?"
Di detik berikutnya, Naruto sudah menabrakkan tubuhnya ke tubuh Menma, memeluk saudara kembarnya erat-erat sambil menangis. Menma sendiri sudah berkaca-kaca, dia hanya menyengir sambil mengusap-usap punggung Naruto.
Peristiwa haru itu disaksikan oleh Uchiha Sasuke yang hanya menatap dengan bosan.
"Setelah ini, kau ikut aku, Menma."
"Jangan ganggu momen mengharukan kami, Berengsek!"
Sasuke mengatupkan kembali mulutnya ketika diteriaki oleh si kembar di depannya. Menengadah ke langit, Sasuke bergumam pelan, "kenapa pula aku salah orang tadi, penampilan mereka bahkan terlihat sangat berbeda. Memalukan."
▫
▫
▫
▫
▫
"Maaf sudah memukul kepalamu tadi malam, Naruto-san. Saya hanya mengikuti perintah."
"Tidak masalah, Konohamaru-san. Lagipula, tidak terlalu sakit, kok. Hehe."
Hari sudah pagi. Naruto, Menma, Sasuke dan Konohamaru sudah berada di stasiun kereta. Sedang menunggu kereta yang akan membawa pulang Sasuke dan Menma ke Tokyo.
"Nah!" Menma menepuk tangan sekali, kemudian menyeringai. "Terima kasih sudah menemukan kembaranku, Sasuke. Aku berhutang budi padamu, serius."
"Bayar hutang budimu dengan menyelesaikan masalah yang kau timbulkan."
"Sial!"
"Tunggu." Naruto memotong perbincangan Menma dan Sasuke. "Masalah apa yang dilakukan Menma sampai dia harus kabur ke sini?"
Sasuke serta Konohamaru menatap Menma dengan tatapan tajam, sementara Menma pura-pura bersiul sambil menoleh ke arah lain.
Naruto mendengus, kemudian menarik tangan Menma. "Menma, jelaskan padaku!"
"Err ... itu ... itu ...." Menma gelagapan. Melihat Naruto memincingkan mata, Menma akhirnya menjelaskan. "Kemarin lusa, aku bersama Sasuke dan teman-teman kami mengikuti pertandingan sepak bola di sekolah saingan kami. Karena wasitnya curang, jadi ... err ... jadi--"
"--Menma menyerang wasit itu sampai berakhir di rumah sakit, dan dia malah kabur ke sini." Sasuke menyelesaikan laporan pada Naruto dengan tatapan datar.
Sedetik kemudian, Naruto menampar kepala Menma berkali-kali. "Dasar bandel! Kaukira manusia itu sama dengan sak tinju, hah?!"
"Maaf, maaf! Aku melakukannya karena dia curang! Maaf!"
"Tidak ada pembelaan untuk tindakan bodohmu!"
"Maaf, Naruto! Hei, sakit! Tolong hentikan!"
Naruto pun menghentikan tamparannya. Bukan karena permintaan Menma, tetapi karena kereta sudah berdiri di depan mereka.
"Ah, keretanya sudah tiba," gumam Menma.
Naruto menatap Menma dengan mata yang berkaca-kaca. "Menma, setelah ujian akhir nanti ... bisakah kau kemari?"
Saudara kembar Naruto mengangguk. "Tentu saja! Tunggu aku, ya!"
Naruto tersenyum, kemudian melambaikan tangan saat ketiga orang itu melangkah menjauhinya. "Hati-hati!"
Ketiga pemuda itu memasuki gerbong kereta ketika Naruto membalikkan badan, berjalan meninggalkan stasiun dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Sementara Menma, Sasuke dan Konohamaru ...
"Kau sering bercerita tentang kembaranmu yang tidak identik denganmu, tapi kau tak pernah mengatakan kalau kembaranmu itu lumayan manis dan punya bokong yang tebal."
"Dasar cabul! Berani-beraninya kau memberi penilaian terhadap bokong kembaranku?!"
"... Aku berkata jujur."
"Benar kata Pak Bos Sasuke. Bokong Naruto-san sangat penuh."
"Berhenti berpikir cabul terhadap saudaraku, dasar mesum!"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top