Terpotek


tema: tahun baru yang TERNODA
kata kunci: tisu, putih suci, kandang sapi, bidadari kayangan
Genre: romens
Divisi : campuran

Wewe  GabyGabyAurora

--------------

Hal pertama yang kulakukan saat denting jam menunjukkan pukul 12 malam di akhir tahun menandakan tahun berganti adalah berdoa. Banyak doa yang kupanjatkan, terlebih untuk mereka di sana, keluargaku.

Ini pertama kalinya aku mengakhiri dan mengawali tahun baru sendirian, aku tak bisa kembali ke kota kelahiranku. Sebab, masa kerjaku diperusahaan belum setahun, sehingga cuti belum bisa diproses.

Apalagi jabatanku di perusahaan--sebuah perusahaan pabrik susu terpercaya--ini cukup tinggi, manager bagian produksi, yang mengharuskanku memantau langsung ke lapangan, termasuk proses memeriksa kandang sapi yang harus rutin dijaga kebersihannya agar sapi tetap sehat, tetek yang montok sehingga menghasilkan susu yang maksimal.

Setelah berdoa aku menyantap makanan yang sudah kupersiapkan. Tahun baru di sini ternyata lumayan meriah meski tak semeriah di kotaku. Bunyi kembang api masih ramai terdengar sekalipun waktu telah melewati pukul satu. Aku memutuskan untuk melakukan video call dengan keluargaku melalui aplikasi skype di ponsel.  Biasanya jam segini mereka sudah selesai ibadah kecil di awal tahun.

"Halo, semuanya selamat tahun baru-" aku tertawa saat di layar ponselku menampilkan keluargaku yang berebutan ingin melihatku. Ya, Tuhan, aku merindukan mereka ....

Cukup lama kami melakukan komunikasi online dan aku mengakhirinya dengan mengabadikan  moment video call tersebut dengan aplikasi screenshoot. Haah ... seru sekali melihat mereka di sana. Keluarga besar kumpul semua, hal menyenangkan di pergantian tahun melihat semua keluargamu berkumpul.

Dan terasa komplit seandainya kesayanganku tak harus dinas keluar kota. Halah, berak! Yowesss. Sebaiknya kutidur karna pagi nanti berencana ke rumah priaku. Memasakkan sesuatu untuk kami santap saat ia pulang.

Memasuki kamar, pintu rumah kontrakanku diketuk dan suara-suara cempreng saling bersahutan.

"Fellyyy ... FELLYYYY .... BUKA, WOIII!"

Kepalaku mendadak pening mendengar suara-suara cempreng yang berada di luar rumahku.

Ishhh ....

Dengan hati yang berat aku turun dari ranjang.

"Selamat tahun baru, Felly Semvak Ketad," ucap mereka serempak saat aku membuka pintu.

"Hishhh, kok datang, sih! Mengganggu, acu mau tidur cancik, syalan!" Bibirku mencebik kesal yang diabaikan mereka.

"Berterima kasihlah pada kami yang sayang denganmu, Esmeralda," ujar mereka sembari mencium pipiku. Dante di pipi kiri dan Ein di pipi kananku.

"Babi! Ngapain cium-cium," aku mengusap kasar kedua pipiku, menatap kesal kedua gadis yang dengan kurang ajarnya langsung nyelonong masuk.

"Beb, piring-piring. Tante Dante yang cancik bawa banyak makanan untuk Felly yang durjana."

"Kasihan, kasihan," Ein menimpali dengan nada mengejek sembari menghidupkan televisi.

Aku masih berdiri di depan pintu, menatap mereka bengis. Mereka bukan temanku! TITIT.

♡♡♡♡♡

"Turun!" Pinta Dan kejam yang membuat bibirku mencibir nista.

"Santai, Babi!" Aku menutup pintu mobil dengan keras yang membuat Dan berteriak di balik kemudi.

"Masih kredit, Felly Kampret!"

"Engga tahu diri," sambung Ein yang berada di samping Dan.

"Aye ... aye ... blekping." Aku menirukan tarian girlband mengabaikan ucapan cabe mereka yang menghasilkan tawa dari mulut kedua teman gesrekku itu.

"Fell, barang belanjaan sudah semua?" Ein memperhatikan dua kantong plastik yang kupegang.

"Uwes, Mbaknya."

"Okeh, kami tinggal. Beneran bisa masak dengan benar? Kau yakin tak akan menghancurkan dapur priamu demi memasak makanan untuknya?"

"Ck ... jangan menyepelekanku. Aku sudah mencobanya beberapa hari yang lalu. Dan rasanya sudah sesuai dengan makanan manusia seperti biasanya."

"Wanjir, jadi kau mengakui kalau selama ini makanan buatanmu rasanya seperti ampas babi?" Bibir Dan membentuk seringaian mengejek sementara Ein tertawa lepas.

"Diyam! Pulang kalian sana! Dasar bawahan tak sopan!"

"Ulu ... ulu. Buk Menejer, atit ati, huuu tatuttt." Ein menggodaku dengan alisnya yang dinaik turunkan.

Aku mendengkus kasar. "Ber to de rak."

"Hahaha ...." mereka tertawa menatapku.

"Sudah, sana, pulang!"

"Okeh, kabari kami kalau butuh bantuan, Fel." Ein melambaikan tangannya.

"Dadah, Fellyku sayanggg," Dan memberikan kecupan terbang yang kubalas dengan berpura-pura muntah.

Cih, mereka memang menyebalkan dan lebih menyebalkan lagi dengan diriku yang nyatanya sangat bersyukur memiliki mereka meski pertemanan yang kami jalin baru seumur jagung.  Rasanya seperti sudah mengenal sejak dulu. Dan aku tak menyangka mereka akan mendatangiku saat tahun baru padahal aku tahu mereka juga sedang berkumpul dengan keluarga besar mereka. Cih, mereka memang sok manyis.

Diluar mereka sahabatku ... di perusahaan mereka, bawahanku. Saat di mana aku bisa membully mereka dengan leluasa. AHAHAHAHA.

Dengan bersenandung aku membuka pagar halaman sebuah rumah minimalis di depanku. Rumah priaku.

Aku membuka pintu dengan kunci cadangan yang kupunya. Meletakkan barang yang kubawa ke lantai sebelum mengunci kembali pintu.

Aku memasukkan bahan makanan ke dalam lemari pendingin sebelum memutuskan akan tidur sebentar. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Masih ada waktu untuj istirahat sejenak, karena kedatangan dua gadis sialan itu waktu tidurku hanya dua jam dan priaku akan tiba sekitar pukul lima sore.

Senyumku memudar ketika aku membuka pintu kamar seseorang--seseorang yang membuat jantung dan sumurku selalu bergetar basah. Mulutku terbuka membentuk huruf o sementara mataku membesar melihat pemandangan di dalam sana.

Aku harap ini semua hanya mimpi. Salah satu keinginanku yang semalam kupanjatkan adalah semoga di tahun ini akan ada berita bagus antara aku dan dia. Berita bagus mengenai jenjang hubungan kami yang lebih serius, berujung pada janji sutchi yang disebut pernikahan.

Harapan yang kusimpan di dalam hatiku yang putih suci bagaikan pembalut tanpa noda ....

Pupus sudah! Hatiku retak dan dadaku berdenyut sakit.  Aku bisa merasakan bunga matahariku mulai berdenyut tanda ambeianku kumat. Ya, Tuhan! Tolong ... ambeianku.

Dia, kesayanganku ... tengah berbaring di ranjang besar miliknya. Berbaring menyamping tanpa sehelai benangpun dengan bagian belakangnya yang saling terhubung  dengan seseorang yang mendekapnya erat.

Aku melihat sesuatu yang berwarna merah muda yang tertancap dibelakang priaku. Pantatnya.

YA, TUHAN!

Itu ... TORPEDO SAPI!!! BESAR SEKALI! BERURAT! OKEH, FOKUS FELLY! SIALAN!!!

ITU BURUNG!

"GINAN!"

Aku menghempas kasar pintu kamarnya membuat dua orang yang tertidur di ranjang itu terkejut dan langsung terduduk.

Aku bisa mendengar jelas bunyi plop saat mereka berdua terpisah.

Kepalaku terasa berdenyut.

"Fel-ly?" Ginan menatapku kaget lantas dengan cepat menutupi tubuhnya yang telanjang disertai rintihan saat bergerak panik menarik selimut. Sementara seseorang yang berada di sampingnya menatapku datar lalu sedetik kemudian menyeringai, seolah kehadiranku adalah moment yang paling ditunggunya.

Oh, bidadari kayangan? Kau memang tak berguna. Apa kerjamu di atas sana? Apa gunanya dirimu? Kenapa kau tak bisa membantuku mempertahankan hubungan ini?

Wae? Waeee?---kenapa

Tisu mana? Tisu, plis, acu butuh tisu untuk air mataku yang dengan kurang ajarnya mengucur deras.

Bahu mana? Plis, acu butuh bahu tempatku untuk bersandar dan menumpahkan air mataku yang sutcih ....

Tahun baruku yang seharusnya ....

Cinta suciku yang ....

BAZENGAN KAU, ARYA! BERANINYA KAU ... KAU ... KAU ....

YA, TUHAN! DIA, BOSKU!! KUHARUS BAGAIMANA?

Selesai

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top