❣IL 5❣

Ada yang kangen sama Asoka nggak?
Maaf, ya, lama banget nunggu update-annya.
Semoga suka dengan ceritaku
Happy reading
😘😘😘
--------------------******--------------------

"Kenapa nggak lo gampar aja sih, si nenek gerandong itu? Coba gue ada di sana, pasti udah gue ceburin ke kolam ikan." Seperti biasa, Ilalang selalu emosi jika menyangkut Yasmine. Ia berlipat kali lebih membenci Yasmine ketimbang Asoka.

"Biar apa coba? Yang ada tambah ribet, La." Asoka menyeruput strawbery milkshake. "Kasihan Bang Naga juga kalau aku selalu berantem sama Yasmine."

"Yang selalu cari masalah juga Yasmine, Ka. Memang dasar suami lo itu lembek, nggak bisa tegas sama Yasmine, jadinya dia tambah sok-sokan berkuasa 'kan." Semenjak Naga menikah lagi, rasa kagum Ilalang munurun drastis. Ia hanya sekadar menghormati Naga sebagai suami sahabatnya, bukan lagi sesosok pria yang dijadikan patokan dalam mencari pendamping hidup.

"Ya, memang sebenarnya semalam aku sama Bang Naga yang salah—"

"Salah dari mana?" potong gadis berambut ombre itu cepat. "Dari awal, si Yasmine yang salah, dasar wanita licik. Eh, kebetulan ketemu sama suami lo yang goblok."

"La," tegur Asoka. Dia paling tidak suka saat ada yang menjelek-jelekkan Naga. "Bukan salah Bang Naga juga kan, La. Yah, anggep aja aku dan Bang Naga berada dalam waktu dan situasi yang nggak tepat. Udah takdir."

"Mulai, kan. Lo tuh nyebelin banget kalau sok baik gitu, Ka. Andai suami lo tahu kelakuan Yasmine, gue yakin, langsung talak lima."

Asoka tertawa renyah. "Mana ada talak lima, La? Udah lah, nggak usah dibahas lagi. Ngomong-ngomong gimana hubunganmu sama Septian?" Asoka mengganti topik pembicaraan. Hujatan dan umpatan Ilalang sudah cukup memperbaiki perasaannya yang kacau.

Ilalang menyenderkan punggung, matanya menerawang jauh ke depan. "Gua mau minta putus aja, Ka." Ucapan Ilalang hanya terdengar seperti gumaman.

Alis Asoka terangkat satu. "Why?" Dia berusaha menjaga nada suara agar tidak terdengar menghakimi atau pun mendukung.

Sejak melihat Ilalang berdiri di kliniknya dengan celana jin belel, kaos gombrang dan rambut penuh warna, Asoka sudah mengira ada masalah antara sahabatnya dengan Septian.

Ilalang menarik napas berat. Sudah hampir 3 tahun ia menjalin hubungan dengan Septian, selama itu Ilalang mencoba mengerti dan menerima pemikiran kolot lelakinya.

"Gue nggak sanggup lagi diatur-atur." Walau diucapkan dengan lirih, tapi tak dapat ditampik bahwa kalimat itu telah dipikirkan secara matang.

"Selama tiga tahun ini, gue ngerasa kehilangan jati diri," imbuh Ilalang setelah menyesap capucinonya.

"Kapan rencananya?"

"As soon as possible. Lo kan tahu se-sok sibuk apa Septian itu. Tiap gue minta ketemuan, selalu ada aja alesan. Yang ibunya minta dianterin arisan, adeknya butuh beli buku, tetangganya hajatan. Cocok banget tuh orang jadi ketua RT, semua-mua diurusin. Kecuali gue."

"Kamu baper?" Tawa Asoka kembali pecah melihat ekspresi jenuh Ilalang.

"Cukup tiga tahun, Ka. Kalau harus dilanjut, gue angkat tangan."

"Kalau memang menurutmu pisah jalan terbaik, bisa bikin kamu lebih happy, ya sudah. Let's do it." Sudah lama Asoka menyadari tidak ada kecocokan antara Ilalang dengan Septian. Ya, walau sebenarnya dalam setiap hubungan pun tidak melulu harus ada persamaan satu sama lain—asalkan kedua belah pihak dapat menerima dan tidak tertekan.

"Trus lo kapan?"

Asoka mengernyit, bingung dengan pertanyaan Ilalang. "Apanya yang kapan?"

"Kapan lo mengakhiri semua drama bullshit dalam hidup lo ini? Lo butuh bahagia juga, Ka. Hidup lo nggak guna banget kalo cuma buat nurutin kata-kata Bunda Dahlia."

Asoka termenung menatap kaca tembus pandang di samping kiri. "Aku bahagia dengan caraku."

"Seandainya aja dulu si Raf—" Ilalang buru-buru menutup mulut, hampir saja keceplosan mengungkit masa lalu. "Sori, gue khilaf. By the way, menurut lo enaknya gue putus di mana?" Ilalang segera mengubah topik.

Namun, terlambat. Secuil nama laki-laki itu membuat Asoka teringat akan secarik kertas yang tersimpan rapi di dompet. Membuatnya kembali termenung.

Serentetan ucapan Ilalang hanya ia tanggapi dengan anggukan, deheman atau kata terserah. Pikirannya terpecah. Bahkan hingga kembali ke ruang kerja, Asoka masih belum dapat mengurai perasaannya yang ruwet.

Berkali-kali Asoka memegang kartu nama itu, lalu diletakkan kembali di meja. Resah melanda. Bukan karena sepenggal nama yang kembali merasuk ke hati. Bukan. Nama itu telah ia kubur sepuluh tahun lalu bersamaan dengan ijab kabul terucap.

Asoka menyandarkan kepala, memandang tembok berkelir kuning gading. Seolah di sana terpampang jawaban atas kegelisahannya. Kebimbangan untuk menghubungi lelaki itu atau tidak.

Bertahun-tahun Asoka menghindar, bahkan memutus komunikasi. Lalu bagaimana mungkin sekarang ia bisa dengan santainya menelepon Giraffa. Walau hanya sekadar urusan pekerjaan.

Tidak. Asoka belum mempunyai keberanian. Lebih tepatnya, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Pura-pura tidak kenal, jelas hal yang bodoh. Bersikap biasa, seperti sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa pun bakal sulit ia lakukan.

Entah helaan napas panjang yang keberapa dalam satu jam terakhir, tapi tetap saja belum dapat melonggarkan beban pikiran Asoka. Sesaat ia sempat memutuskan biar Randu yang menghubungi Giraffa terkait hak asuh Elang. Namun, setelah ia pikirkan lagi, terasa sangat tidak etis.

Atau aku nggak perlu telepon? Ide itu terasa menggiurkan, tapi juga tidak mungkin ia lakukan.

Diambilnya lagi kartu nama milik pria yang dulu pernah mengisi relung hatinya. "Ayo, Asoka. Kamu pasti bisa," gumamnya.

Gagang telepon telah diangkat, nomor telah ia tekan, alih-alih mendengarkan nada sambung, Asoka meletakkan lagi gagang telepon secepat mungkin.

"Sial!" rutuknya sambil melempar kartu nama secara asal.

Berkali-kali ia memberanikan diri untuk menelepon Giraffa, tapi gagal. Nyalinya terlalu ciut.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, tak lama lagi Anwar pasti datang. Kalau hari ini ia tidak juga menghubungi Giraffa, ia yakin besok akan ada huru-hara lagi. Cempaka pasti akan mengamuk.

Dalam satu hentakan, Asoka bangkit, memungut kembali kartu nama yang terserak di lantai, lalu bergegas ke ruangan Kenanga. Cuma ini satu-satunya jalan aman.

"Din, Bu Kenanga ada klien tidak?" tanya Asoka pada Andini—asisten Kenanga.

"Kosong, Bu."

Setelah dua kali ketuk, Asoka langsung membuka pintu. "Mbak, sibuk tidak?"

Kenanga mengangkat wajah sekilas. "Masuk aja, Ka. Sebentar lagi selesai."

Asoka mengamati ruang kerja Kenanga yang didominasi warna hijau. Sangat Kenanga sekali. Tanpa dipersilakan, Asoka duduk di hadapan wanita berkacamata itu.

"Gimana, Ka?" Kenanga meletakkan bolpoin kemudian melepas kacamata.

"Aku mau minta tolong, Mbak."

"Apa yang bisa aku bantu?" Kenanga mengernyit, "Ada masalah, ya?"

Asoka menyorong tangan, menyerahkan kartu nama yang menjadi sumber masalah.

"Apaan ini?" Kenanga membaca kartu. "Maksudnya gimana?"

"Tolong telepon orang itu, ya, Mbak. Dia pengacaranya Cempaka. Katanya butuh surat rekom secepatnya, tapi aku belum kasih kalau belum ketemu Elang." Asoka menjelaskan dengan singkat.

Kenanga bersandar, tidak biasanya Asoka melempar tugas seperti ini. Ia memutar-mutar kartu, kembali melihat nama yang tertera di sana. Berusaha mengingat-ingat apakah ia mengenal laki-laki ini.

"Tumben." Kenanga gagal menemukan memori tentang Giraffa Camelio Pardalis.

"Tolong, ya, Mbak." Asoka memasang wajah memelas. Ditangkupkan kedua tangan untuk memohon.

Kenanga mengedikkan bahu. Ditekannya tombol telepon sesuai nomor yang tertera di kartu.

"Mbak, jangan sebut namaku, ya," bisik Asoka.

Kenanga mengangguk sesaat sebelum terdengar suara di ujung sana. Asoka mendengarkan dengan seksama, sambil kembali mengulang pesan tanpa suara untuk jangan menyebut namanya.

"Gimana, Mbak?" Asoka memajukan tubuh, penasaran dengan percakapan mereka.

"Kalau penasaran, kenapa nggak telepon sendiri?" sindir Kenanga. "Besok dia mau ke sini."

Asoka menganga. Rasa lemas melanda sekujur tubuh. Percuma sedari tadi ia menghindar, kalau ternyata pertemuan tak terelakkan.

*****

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top