Chapter 9

Setelah kejadian dimobil saat itu, Adira terlihat menjauhi Adlan, hal itu membuat Adlan frustasi.

'Sial, kalo Adira jauhin gua terus kaya gini, gimana gua bisa deketin dia' batin Adlan

"Arghhhh....."erangnya frustasi. Ia tak tau lagi harus melakukan apa agar bisa mendapatkan Adira atau melupakannnya.

Oh there she goes again
Every morning it's the same
You walk on by my house
I wanna call out your name

Suara dering telfon menggema diseluruh penjuru kamar. Yang membuat Adlan berhenti membanting barang-barang yang berada didekatnya.

'Oh sial nada dering ini bakal gua ganti nanti. Ini ngingetin gua sama kenyataan yang gua alamin sekarang. Yah hanya imajinasi. Imajinasi untuk bersamanya'

"Halo"

"Kenapa lama sekali hah" teriakan kesal terdengar dari sebrang telfon

"Katakan saja, ada apa" jawab Adlan tanpa menghiraukan perkataan seseorang tadi.

"Info tentang Adik lo"

"Cepat katakan"

"Di cafe butterfly jam 10 pagi" ucapnya, Adlan yang mengerti langsung memutuskan sambungan telfon dan bersiap-siap walau masih satu jam lagi hingga jam 10

☆☆☆☆☆

Saat ini Adlan sedang duduk di cafe sambil menunggu seseorang yang akan memberitau informasi tentang adiknya dan rivalnya. Sudah setengah jam lebih Adlan duduk menunggu hingga menghabiskan kopi dua gelas. Dua puluh menit kemudian seseorang datang menghampiri Adlan dengan memakai kaos putih yang dipadu dengan celana dasar hitam dan jaket kulit hitam.

"Gimana" tanya Adlan to the point sebelum orang itu duduk di hadapan Adlan.

"Wow, sabar man" jawabnya setelah duduk dihadapan Adlan.

"Ok, sekarang kasih tau gua"

"Gerry itu sepupu putra" lanjutnya ketika ia mengetahui bahwa Adlan tidak ingin menunggu lebih lama lagi.

"Putra?, maksut lo Aldi putra pratama" tanya Adlan yang di angguki Tian—sahabatnya yang mencari tau informasi tentang adik dan rivalnya—

"Terus apa hubungannya sama Gerry yang pacaran sama Adira"

"Lo inget waktu lo taruhan sama Putra di kampus" ucap Tian mengabaikan pertanyaan Adlan. Ucapan Tian hanya diangguki oleh Adlan

"Te..."

"Lo inget persyaratan yang di ajukan Putra" potong Tian ketika ia tau apa yang ingin di ucapkan Adlan.

Flashback on*

Saat ini Adlan, Tian, dan Redy sedang duduk dikantin kampus sambil menikmati makanan yang telah mereka pesan. Tiba-tiba meja mereka dipukul dengan keras oleh seseorang

"Apa maksut lo hah" ucap orang itu dengan marah

"Harusnya gua yang nanya, apa maksut lo gebrak meja gua" jawab Adlan dengan santai

"Gak usah sok bego deh lo. Gua tau lo mau rebut Miley dari gua kan" ucapnya dengan penuh amarah

"Buat apa gua rebut Miley dari lo. Lagian gua gak suka sama dia. Dia-nya aja yang kegatelan sama gua" jawab Adlan dengan santai. Tak ia hiraukan amarah dari Putra

"Jaga mulut lo. Miley bukan cewek kaya lo bilang" ucapnya dengan menunjuk wajah Adlan.

"Denger,gua gak akan tinggal diam kalo lo berani deketin Miley lagi" ancam Putra. Adlan yang mendengar pun merasa tertantang dan mendapatkan ide hingga membuatnya tersenyum.

"Ok, kita buat kesepakatan" ucapnya, Memulai apa yang telah ia rencanakan sembari menepis telunjuk Putra yang berada di depan wajahnya. Redy dan Tian hanya melihat perdebatan Adlan dan Putra. Bagi mereka selagi tidak bermain fisik mereka tidak akan ikut berdebat. Karna itu hanya akan menguras tenaga dengan sia-sia.

"Kesepakatan apa" jawab Putra tertarik dengan apa yang diucapkan Adlan

"Kita taruhan, siapa yang bisa jadian sama Miley dalam waktu seminggu dari sekarang dia pemenangnya. Dan yang kalah harus jadian sama orang yang suka sama dia. Lo paham kan maksut gua?" tanya Adlan dengan tetap memakan makanannya

"Lo gila. Jadiin Miley sebagai taruhan" teriak Putra yang tidak setuju dengan keputusan Adlan. Adlan yang mendapat reaksi seperti itu hanya mengangkat alis dan tersenyum miring  sebelum menjawab ucapan Putra.

"Kenapa. Lo takut kalah"

"Ok. Gua terima tantangan lo"jawab Putra cepat

'Cih, gua gak akan kalah dan gak akan sudi diremehin sama lo' batin Putra

"Tapi..." lanjut Putra dengan sengaja menggantungkan ucapannya. Adlan yang mengetahui maksut Putra hanya merespon dengan alis terangkat seolah berkata 'tapi apa?'

"Tapi kalo gua yang kalah gua mau saudara gua yang jalanin hukuman itu. Karna gua gak mau berhubungan dengan siapa pun selain Miley" ucap Putra berusaha bernegosiasi

"Gak bisa" jawab Adlan acuh

"Apartemen. Gua kasih lo apartemen kalo lo mau nego"

"Ok. Apartemen dan hukuman oleh saudara"jawab Adlan langsung

'Hm, boleh juga dapet apartemen gratis' batin Adlan sambil tersenyum miring

"Deal" ucap Putra seraya mengulurkan tangannya.

"Deal"

Flashback off*

"Oh sial. Ini gak bisa dibiarin" ucap Adlan dengan emosi dan menggebrak meja hingga mereka menjadi pusat perhatian.

"Hm senjata makan tuan" ucap Tian dengan senyuman mengejek

☆☆☆☆☆

Sepulangnya dari cafe Adlan langsung menuju kampus untuk menemui Putra, walau ia tau bahwa jadwalnya hari ini adalah jam 1 tapi ia tetap pergi untuk menemui Putra dengan amarah yang terlihat dengan jelas diwajahnya.

"Sialan lo" teriak Adlan dengan memukul wajah Putra. Putra yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba hanya bisa terkejut dan mencerna apa yang terjadi.

"Apa maksut lo hah" ucap Putra tidak terima atas apa yang dilakukan Adlan.

"Lo sengajakan jebak gua" jawab Adlan dengan emosi yang belum mereda. Putra yang melihat itu semua dan mengerti kemana arah pembicaraan Adlan hanya tertawa mengejek dengan mata menatap Adlan seolah merendahkan.

"Kenapa? Lo baru tau kalo taruhan lo malah kena adek lo hah" ucap Putra dengan senyuman mencemooh

"Sialan jadi semua ini sudah lo rencanain" ucap Adlan tambah naik pitam. Saat ia akan memukul Putra tiba-tiba Arlan datang menghentikan niat Adlan

"Lepasin gua" ucap Adlan dingin

"Ada apa ini" tanya Arlan menghiraukan ucapan Adlan dengan masih memegang tangan Adlan.

"Lo taukan adek lo pacaran" jawab Putra dengan tampang tanpa dosa.

"Lalu"

"Iya karna itu Adlan ngamuk, seharuanyakan dia marah sama Adira kalo dia gak seneng Adira pacaran sama sepupu gua" ucap Putra dengan santai. Adlan yang mendengar itu hanya bisa menahan amarahnya dan pergi dari tempat itu

"Sial, liat aja apa yang bisa gua lakuin" batin Adlan penuh amarah. Arlan yang melihat Adlan pergi hanya mengikuti kemana kembarannya itu pergi.

☆☆☆☆☆

"Lo sebenernya kenapa?" tanya Arlan ketika mereka berada ditaman kampus

"Gua gak kenapa-kenapa" jawab Adlan dingin tanpa repot-repot melihat kearah Arlan

"Kenapa lo marah Adira pacaran sama sepupu Putra" tanya Arlan lagi ketika ia belum mendapatkan jawaban apapun dari Adlan

Adlan yang mengetahui sifat Arlan pun hanya bisa menghela nafas dengan kuat. Ya dia tau sifatnya sama seperti Arlan. Tidak akan berhenti sebelum mendapat apa yang mereka inginkan

Hufftt.... Sekali lagi Adlan menghela nafas sebelum menjawab

"La taukan hubungan gua sama Putra gimana? Gua gak mau siapapun yang deket dengan gua berhubungan sama Putra ataupun keluarganya, terutama Adira" jawab Adlan dengan nada pasti untuk meyakinkan Arlan hingga ia tidak akan di introgasi lebih lama lagi.

Arlan yang mendengar jawaban Adlan hanya menganggukan kepalanya seolah mengerti.

"Lo fikir gua bodoh Dlan, nggak gua gak semudah itu bisa lo bohongin. Oke kalo lo gak mau kasih tau, gua bakal nyari tau sendiri"  batin Arlan seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya

"Gua duluan" ucap Arlan yang hanya dibalas gumaman dari Arlan

★★★★★

Hai guys ku update lagi^^ maaf yah kalo up nya lama (banget). Tapi sekarang aku usahain ngetik kalo ada waktu biar bisa cepet up😂

Btw, makasih buat yang udah vote sama komen aku terharu banget. Padahal aku gak terlalu berharap soalnya aku sadar cerita ini jauh dari kata bagus😂 sekali lagi makasih ya.

See you next chapter😘

Asni_putri

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top