Chapter 18

Akward. Yah itulah yang mereka rasakan saat ini. Selama 15 menit di perjalanan, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka percakapan. Mereka tetap fokus pada pikiran mereka masing masing.

"Ekhem" dehem Arlan mencairkan suasana. Tapi Indira tetap menatap keluar jendela dan melamun entah kemana.

"Ndi" panggil Arlan yang hanya di balas dengan gumaman.

"Masalah tadi kakak minta maaf, kakak yakin Adlan gak niat ngomong kaya gitu" ucap Arlan berusaha menjelaskan.

"Gak papa kok kak, santai aja" jawab Indira tanpa melihat ke arah Arlan.

"Kakak tau kamu masih kepikiran, tapi kakak harap kamu ngga ambil hati. Dan hadiah tadi, semuanya ak..." perkataan Arlan tiba tiba di potong oleh Indira

"Iya gak papa kok, Indi juga paham. Hadiah tadi gak usah di pake aja kalo mau kadih ke orang atau kakak buang" jawab Indira dengan hati yang terasa di sayat sayat

'Aku tau apa yang ingin kau katakan. Tapi maaf, aku tidak ingin mendengarnya' batin Indira miris

Arlan sangat terkejut mendengar penuturan Indira hingga ia menepikan mobilnya.

"Apa maksut kamu" tanya Arlan dengan penuh penekanan.

"Liat kakak Ndi" ucapnya lagi ketika Indira mengacuhkannya.

"Ndi" panggilnya yang kali ini dengan sedikit berteriak seraya membalikan tubuh Indira hingga mereka berhadapan.

"Karna semua itu memang benar, aku aja yang selama ini ngga sadar dan berharap lebih" jawabnya dengan lemah. Tak terasa air mata telah merembas di kedua pipinya. Arlan terkejut melihat Indira menangis hingga ia sangat khawatir.

'Shit, apa dia nangis karna gua bentak. Plis jangan nangis, dada gua sesek banget ngeliat lo nangis' batin Arlan dengan kesal

"Kakak gak pernah bilang kalo kakak gak suka hadiahnya, dan kakak juga gak pernah ada niat mau kasih ke orang lain apalagi mau buang semua hadiah kamu" ucap Arlan serius dengan kedua tangannya masih memegang pundak Indira dan mentap mata Indira dengan dalam.

'Apa ini, Tuhan apalagi ini, aku merasa sangat senang kak Arlan berbicara lembut padaku' batinnya seraya tersenyum, tetapi tiba tiba tubuhnya menjadi tegang. Katna Arlan sedang memeluk tubuhnya dengan erat saat ini

'Hari ini adalah hari yang menyakitkan dan menyenangkan bagiku. Yah sakit karna disadarkan pada kenyataan, dan senang karna mendapat mimpi baru. Meski ku tau ini hanya sekejab' batin Indira dengan tatapan nyalang

'Sial, tubuhku bergerak sendiri. Ada apa ini, kenapa perasaan ku menjadi tidak menentu' batin Arlan dengan kesal.

Seakan tersadar apa yang mereka lakukan Arlan pun melepaskan pelukannya. Sesaat mereka saling menatap lalu sama sama membuang muka. Dan saat ini keadaan dalam mobil lebih terasa menegangkan dari pada sebelumnya.

☆☆☆☆☆

POV INDIRA

'Sial, karna pelukan singkat dari kak Arlan gua jadi ngga bisa tidur'

"Aarrghhhhh, kok gini banget sih efeknya" teriak ku dengan kesal.

'Bodoh Ndi, lo disini mati matian ngga bisa tidur karna mikirin dia, padahal lo tau dia gak bakal mikirin lo apalagi sampe gak bisa tidur'

"Ya, gua tau gua bodoh. Tapi plis jangan ingetin kenyataan ke gua kalo dia ngga bakal mikirin gua" gerutuku dengan kesal manjawab apa yang kupikirkan dari tadi.

Merasa bosan, aku pun melirik kearah jam yang terpampang di dinding kamarku dengan indah. Dan sialnya sekarang jam 04.15 Am.

"Huft..." entah untuk ke berapa kalinya ku hembuskan nafasku dengan keras. Berharap bisa mengurangi rasa sesak itu.

Tok...tok...tok

'Siapa yang ketok pintu kamar jam segini?'

Ku langkahkan kakiku menuju pintu kamar dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarku jam segini.

"Eh kak Dy, ada apa?" tanyaku heran.

"Kakak cuma mau pamit aja, kakak mau ke Bali sama rekan kerja. Soalnya ada masalah disana" tuturnya dengan memegang srbuah koper ditangan kanannya dan sebuah map di tangan kirinya

"Kasian kak Dy yang selalu berjuang keras. Tuhan berilah kemudahan bagi keluargaku"

"Ndi" panggilnya membuat lamunanku terbuyar

"Eh iya kak, hati hati di jalan" jawabku dengan senyuman, lebih tepatnya senyuman palsu. Karna bagai mana pun aku sayang dan kasihan melihatnya harus membanting tulang demi kami semua. Apa lagi semenjak ayah meninggal dan ibu masuk rumah sakit. Aku yakin bebannya semakin bertambah banyak

"Ndi, dari tadi bengong terus" pangggilnya dengan kesal

'Huft.... Mulai lagi deh cerewet nya'

"Maaf elah, emang kakak tadi ngomong apa?" tanyaku dengan nada malas

"Mangkanya orang ngomong tuh di dengerin, bukannya malah bengong. Kesambet setan sukurin lo" gerutunya dengan kesal.

"Iya iya maaf, udah tadi ngomong apa. Indi mau mandi nih mau sekolah" balasku tak kalah kesal

"Kamu di rumah jagain Zahra, jangan suruh dia keluar malem dan kamu juga jangan keluar malem" ucapnya panjang lebar yang bahkan ku jawab hanya dengan anggukan kepala.

☆☆☆☆☆

"Pagi kak" sapa Zahra dari arah belakang membuatku membalikan badan dan menatapnya

"Udah buru makan, nanti telat" timpalku tanpa menjawab sapaannya. Zahra pun mematuhi perintahku dan memakan makanannya dengan santai.

Ya Zahra adalah adikku. Saat ini dia duduk di bangku SMP kelas 1. Walau dia masih tahap pertama pertumbuhan, tapi aku yakin dia akan sangat cantik. Bagaimana tidak, karna dari kecil semua orang telah menyukainya karna wajahnya yang mungil, tubuhnya yang montok terutama dibagian bokong dan dada. Saat ini pun ia terlihat semakin cantik walau hanya dengan seragam sederhana dan dengan bedak bayi.

"Kak ayo" panggilnya seraya beranjak pergi. Aku pun mengikutinya dari belakang lalu berjalan keluar pagar untuk mengantarnya ke sekolah dengan motor ku yang sederhana.

☆☆☆☆☆

POV AUTHOR

Seorang gadis tengah duduk melamun di balkon dengan pandangan yang bersinar, tak lupa puka senyuman manis tak luput dari bibirnya.

'Syukurlah semua berjalan dengan baik, hubunganku dengan Indira membaik dua minggu yang lalu. Sedangkan hubunganku dengan kak Adlan sudah berjalan dua bulan dengan sangat lancar' batinnya tersenyum ria.

"Hai sayang" ucap seseorang sambil memeluknya dari belakang.

"Kak Adlan" ucapnya semringah

"Kakak kapan pulang? Kok ngga ngabarin" gerutunya sedikit kesal

"Sengaja gak ngabarin, kejutan buat kamu" jawab Adlan seraya tersenyum manis.

"Kak" panggilnya dengan ragu

"Ada apa sayang, kalo ada yang kamu mau, bilang aja sama kakak. Nanti kakak kasih" jawab Adlan dengan mantap

"Beneran nih dikasih?"

"Iya" jawab Adlan dengan kedua tangannya berada di kedua pipi Adira

"Dira kan udah lulus SMA, terus mau masuk PTN di tempet kakak" ucapnya sengaja memberi jeda untuk melihat reaksi Adlan

"Iya, terus?" tanya Adlan

"Aku mau seluruh kampus nanti kenal kita sebagai sepasang kekasih, bukan kakak adik" tutur Adira dengan sayu. Saat ini perasaannya tak menentu.

'Tuhan, apa kak Adlan mau nurutin keinginan aku? Perasaan ini, sangat besar untuknya hingga aku ingin slalu bersamanya' batin Adira dengan tatapan nyalang.

"Iya tenang aja, pasti mereka ngenal kita sebagai kekasih" jawab Adlan seraya tersenyum walau di hatinya ia merasa ragu.

"Kak, kapan kita ngomong sama mama papa tentang ini semua?" tuntut Adira

"Iya nanti malam kakak ngomong waktu kita makan" jawab Adlan meyakinkan

'Yah benar, aku harus memberi tau kedua orang tuaku." batimnya dengan penuh tekad.

☆☆☆☆☆

Matahari telah terbenam sejak satu jam yang lalu, tapi Adlan enggan beranjak dari tempat duduknya

'Huft...' entah untuk keberapa kalinya ia menghembuskan nafas dengan keras berniat mengurangi rasa sesak di dadanya.

'Gimana cara gua ngomong sama mama dan papa. Apa gua harus ngomong sekarang? Tapi gua gak mau ngecewain Adira.' batinnya bimbang

"Den" panggil seorang wanita paruh baya

"Iya bi" jawabnya seraya menoleh ke belakang.

"Aden sudah di tunggu di ruang makan" jawab wanita itu dengan logat jawa yang kental.

"Iya bi" jawab Adlan seraya beranjak dari duduknya

Sesampainya di ruang makan, Adlan melihat mama, papa, Arlan, dan Adira telah duduk dikursinya masing masing. Adlan pun berjalan ke kursibya yang berada disebelah kiri Adira lalu menyantap makanannya.

Tidak ada yang berbicara sama sekali, hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring di ruangan itu.

'Apa kak Adlan gak bakalan ngomong masalah ini? Apa dia lupa. Atau emang gak mau ngomong' batin Adira dengan miris, hatinya terasa seperti di sayat sayat dan ditambah dengan ribuan jarum menusuk ulu hatinya.

"Pa, jangan pergi dulu" cegah Adlan ketika Brams ingin beranjak dari duduknya.

"Ada apa Dlan" tanya Brams seraya duduk kembali di kursinya.

"Adlan mau ngomong hal yang penting" ucapnya memberi jeda. Ketika srmua pandangan mata menatap kearahnya dengan heran, ia pun melanjutkan.

"Adlan dan Adira saling mencintai, jadi Adlan harap papa sama mama ngga ngelarang hubungan kita. Kalian tau sendiri kalo kita bukan saudara kandung" tutur Adlan dengan lantang dan mantap. Semua orang terdiam terkejut atas apa yang di ucapkan Adlan

'Ya Tuhan, ternyata kak Adlan menepati janjinya' batin Adira senang. Tapi perasaannya tiba tiba menjadi buruk ketika mendengar perkataan papanya.

"Kalian emang buka saudara kandung, tapi kalin besar bersama dan kalian di kenal sebagai saudara. Papa ngga setuju" jawab Brams dengan tegas.

"Kalo gitu Adlan akan sampaikan ke media masa jika Adlan dan Adira bukanlah saudara kandung." jawab Adlan tak mau kalah.

"KA....." teriakan Brams terhenti ketika mendengar nada dering ponselnya berbunyi.

"Ya" jawabnya seraya mengatur nafas dan emosinya

'Maaf pak mengganggu, saya dokter yang menangani Adira waktu kecelakaan. Bisakah anda kemari? Karna ada hal penting yang ingin saya sampaikan' ucap seseorang di sebrang sana.

"Baiklah" jawabnya dan mematikan sambungan telfon.

★★★★★

Hai all akhirnya ku kembali lagi dengan 1453 kata 😊
Maaf yah lama update ^^
Dan maaf kalo nama kakaknya Indira aku ganti :v

Btw ternyata yang ada di Bali bukan cuma Arlan loh, tapi Adlan juga WOW terus Adiranya kemana yah? Kok ngga ikut 😂
Mungkin Adira gak ikut karna lagi sibuk mau masuk PTN kali yah.

Oh iya cek work aku yah, di sana ada kumpulan tugas tugas aku dari grup yang aku ikutin. Dan mungkin kalian suka.

Dan aku juga mau publish cerita baru, yaitu cerita Indira sama cerita yg bener bener baru (gak ada sangkut pautnya sama cerita ini).
Tapi aku masih bingung covernya. So, bantu aku milih yah. Nnti akan di publis pilihan covernya.

Thanks udah mau baca dan nunggu.
See you next chapter😘

Asni_putri

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top