Bab XXV - Impromptu

Cinta itu sederhana. Yang rumit itu kamu. 
Mencintaimu itu mudah. Yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku

Rumit - Langit Sore.

.
.
.
.
.
.
.
.


Bola bowling dilepas Rizi. Berguling lintasi lane, menyapu 10 pin sekaligus. “Strike!”

Rekan main tak bersuara, Rizzi mengecek ke belakang. Tahu-tahu, Mikuna sedang memotretnya. Gadis itu langsung menyaku ponsel kelabakan.

“Maaf.” 

Rizzi menatapnya, kombinasi menghargai sekaligus gemas. “Buat Lambe Turah, ya?”

“Enggak! Cuma buat Insta Stories. Sorry, bikin Bang Izzi nggak nyaman.”

Ditanggapi serius. Padahal Rizzi cuma bercanda. Dua hari jadi teman jalan, Mikuna teridentifikasi sebagai gadis berkepribadian bak roti lapis. Anak manis produk keluarga superagung. Akunya, sepanjang hayat, cuma berteman dengan 50 besar manusia terpintar di sekolah, atau yang ber-IPK di atas 3,5. Didikan rumah, menyetel Miku ke modus cewek lugu, tapi orbit pertemanan tularkan sisi ekspresif. Kombinasi unik: agresif, innocent, spontan tapi sangat beradab.

Menyenangkan.

Rizzi merasa keji pernah menyimpan niat kurang ajar pada gadis yang lantang bilang suka, tapi selalu minta maaf ketika tangan mereka bersentuhan sewaktu mengambil popcorn

“Boleh pinjem ponsel Miku?”

Gadis itu memberinya sembari klarifikasi, “Semua foto punggung Bang Izzi, akan aku hapus, kok.”

Sangkanya, akan ada inspeksi isi galeri. Ternyata Rizzi merangkul bahunya erat. Atur posisi agar dapat angle yang pas untuk ber-wefie.

“Sudah memenuhi standart aesthetic buat Insta Story Miku, belum?” tunjuk Rizzi tepat ke tangkapan mukanya dalam potret.

Gadis itu mengangguk excited. Seandainya Rizzi tahu, bagi Miku, berada dalam apitan badan 182 Sentimeter-nya itu adalah puncak estetik sebuah potret. Rizzi adalah feeds Instagram terindah tanpa Lightroom dan VSCO.

Tag ke akun saya, yah.”

Mata Miku berpendar penuh harap. “Memangnya boleh?”

“Kenapa harus nggak boleh?”

“Ya..., barangkali, ada yang triggered?”

“Siapa?” pancing Rizi, melengkungkan alisnya dengan jenaka. “Pacar Miku?”

Yang digoda merona. “Aku ... belum punya.”

“Benar?”

When you said, ‘benar?’, i heard ‘apa saya boleh daftar jadi pacar kamu?”

Pecah tawa Rizzi. Mikuna awasi rautnya penuh sinyal. Sorot tersirat itu bikin Rizzi sadar, seharusnya dia lebih preventif untuk Mikuna yang ofensif. Kamusnya beri alarm pengingat: lelaki bijak bukan yang menikmati digilai. Melainkan dia yang sadar tak bisa membalas, lalu bantu mengawal perasaan lawan jenis agar tak meluber kemana-mana.

Situasi sekarang adalah ranjau. Salah sikap, bisa memupuk harap besar. Masalahnya, Rizzi sedang berada dalam mode terlarang untuk disukai siapa pun. Bahkan segerombol Bidadari Langit. Andai, mata Kaum Hawa dilengkapi X-ray, mereka akan melihat tulisan ‘DANGER’ di seputaran hatinya.

“Saya traktir es krim?”

Sadar ini pengalihan, Mikuna menyungging setengah ejek. “Itu kompensasi karena tolak cinta aku?”

“Saya nggak nolak. Hanya nggak pernah mengambilnya.”

Gadis itu mendengus. Lalu terkikik. “Eufemisme, huh?”

“Tolong, kamu jangan terlalu peka,” sela Rizzi, merasa konyol tertebak. “Saya lagi berusaha menghindari status tersangka penolakan cinta.”

“Tenang saja, aku bisa jadi korban yang legowo, kok.”

Sampai di sini, keduanya menjangkiti tawa.

Rizzi suka ini. Berbeda dengan perempuan umumnya, cenderung drama queen, Miku diciptakan dengan ingridients Kaum Adam. Presentasenya, 60 logika, 40 perasaan. Jenis gadis yang sadar konsekuensi, punya kendali bagus pada hatinya sendiri sekaligus bertanggungjawab atas perasaannya. Dia tahu, kapan akan ngotot maju, kapan lapang dada mundur. Anti drama.

“Jaga baik-baik hati kamu. Suatu saat, tanpa kamu jajakan lebih dulu, akan ada orang yang berusaha mengambilnya. Kamu akan dirampok. Tapi jangan khawatir, satu-satunya perasaan kerampokan paling menyenangkan di dunia adalah kerampokan hati.”

Miku terima kecupan di punggung tangan. Ekspresinya bertukar secepat cahaya. Perlakuan Rizzi berhasil menyeretnya ke modus sendu. Padahal, hanya kecupan ringan bak bulu, Miku sampai harus mengecek kaki, apa masih berpijak di tanah?

Dasar pemain pro! Rizi tahu caranya menerbangkan perempuan tanpa pesawat.

Kembali eling, Miku sudah dituntun menuju kedai es krim tidak jauh dari arena bowling. Rasakan cengkraman tegas namun lembut di pergelangan, gadis itu berpikir: siapa kelak, perempuan yang memiliki kuasa atas rasa sayangnya Rizzi?

Jika teman jalan akhir pekan, turut merasa spesial oleh sepak terjangnya, bagaimana dengan teman hidup? Yang berhasil dapatkan lisensi hatinya? Yang membuatnya ‘kerampokan’ itu?

***


Awan menggumpal bak marshmallow digantung ke langit. Shabila mengintai dari langkan kamar. Permainan warna pastel dan jingga yang indah bahkan tak mengurangi kegundahannya. Menuju sembilan belas petang, wanita itu makin gamang. Pesta ulang tahun terancam berjalan tanpa sang peniup lilin.

Puluhan anak telah datang penuhi undangan. Mereka duduk di atas barisan tatami. Berebut aneka kudapan. Kejar-kejaran, dan berkelahi dengan belasan figur superhero sewaan. Lebih dari 7200 detik mereka di sana tanpa Marvel, empunya pesta. Satu-dua tamu telah pamit. Seisi rumah kerja keras pertahankan jumlah undangan tersisa. Gencatkan bujukan agar tetamu bersedia menunggu sebentar lagi.

“Belum berhasil dihubungi juga?” tanya Randara sembari menggelar sajadah. Istrinya masih giat dengan ponsel meski sudah beratribut salat.

“Bang Dilan benar-benar keterlaluan!”

Jelas Shabila geram. 22 panggilan terabai. Bejubel chat, status read receipts-nya masih centang dua abu-abu. Dia bersumpah akan mencekik abangnya bila pesta ini kacau gara-gara keteledoran Dilan.

“Padahal sudah diingatkan sejak jauh-jauh hari, ada pesta bersama teman-teman sekolah Marvel sore ini.”

“Mungkin kelupaan, karena asyik main di suatu tempat berdua.”

“Bagaimana kalau terjadi apa-ap—”

“Pst. Jangan aneh-aneh, ah.” Randara berupaya meredam kekalutan istrinya. “Salat dulu, semoga ada kabar setelah ini.”

Shabila mematok batas waktu di kepala, dalam beberapa jam kedepan, jika Dilan tak kunjung mengirim kabar, dia akan membuat laporan kehilangan.


***

Moment salat Magrib Rizzi,  dimanfaatkan Mikuna untuk wisata mata. Kebetulan, mall ini sedang mengadakan bazar. Sambil menunggu, gadis itu berkeliling dari booth ke booth.

“Hei.”

Bahunya ditepuk Rizi. Gadis itu tersenyum. “Sudah?”

Keluarkan sesuatu dari saku. “Tadi ada yang jual ini. Saya suka, tapi itu terlalu feminim untuk saya.”

Gelang kumihimo. Rizzi cerita, yang jual adalah dua anak kecil dengan sorot mata bak pasir isap. Menariknya sampai tenggelam. Akhirnya Rizi terhipnotis untuk beli. 

“Taktik marketing-nya bagus,” puji Miku, tergelak. “Orangtua mereka pasti S2 Marketing Management, jebolan Harvard.”

Rizi menimpali, “Calon kontestan masuk Surga lewat jalur pemasaran.” Setelah tawa lawan bicaranya reda, dia sodorkan gelang itu. “Kayaknya bagus di tangan kamu. Boleh saya pakaikan?”

Dengan senang hati Miku julurkan tangan. “Ini lambang persahabatan.”

“Oh, yah? Saya baru tahu ada filosofi kayak gitu.”  

“Sebenarnya Bang Izzi nggak perlu repot-repot begini. Aku sudah sadar posisiku, loh.”

Direspons dengan kuluman. “Mikuna, dengar, kalau persahabatan ada lambang, berlian pun nggak bisa jadi simbol pertemanan kita. Karena jadi teman kamu nilainya lebih mahal dari apa pun.”

Sialan. Kulit muka Miku terpanggang. Ini semakin bahaya, gadis itu langsung  minta dipulangkan. Jika durasi bersama mereka diperpanjang, Miku rasa akan hangover karena ucapan manis Rizzi.

“Kenapa? Saya nggak lagi buru-buru."

“Ini terlalu malam untuk jatah waktu jalan siang.”

“Oh, ya sudah. Besok Minggu. Kita bisa mengulang keseruan.”

“Memangnya, kita masih bisa jalan bareng?”

“Kapan pun. Selama luang.”

“Terima kasih.” Gadis itu berjinjit demi mencium pipi Rizzi. Malang, karena tinggi badan, ciuman itu hanya berlabuh ke tulang Mandibula.

Miku berderap mendahului. Ekor kudanya berayun-ayun. Yang ditinggal masih geming. Aneh. Kenapa susah sekali mendesir untuk sesuatu yang biasanya mendidihkan darah lelakinya?

Halo kebutuhan bawah perut. Apa kabar? Kenapa tidak menggelegak lagi?

Rizzi baru tahu, mencintai seseorang begitu kuat, bikin area bawah perutnya pilih kasih. Sial. Sejak kapan hati menjalin tali kasih dan sahabatan dengan penis? Kenapa sesuatu senormal ereksi pun mau diperintah hati? Kalau tidak cinta, tidak bisa bekerja?

Rizzi rasa jatuh cintanya kali ini agak menyeramkan. Apa dia akan kembali menjadi perjaka suci?

***

Mobil keluar dari basement parking. Bertolak belakang dengan penghuni-penghuni kendaraan yang mengantuk, jalanan masih melek dan agresif. Rizzi-Miku mengobrol ringan seputar riwayat pacaran. Gadis itu mengaku single sejak lulus SMA. Mantan terakhir, sedang mengejar gelar Sarjana bidang Food Technology di negeri Paman Sam.

“Kalau Bang Izzi? Terakhir pacaran sama siapa? Putus karena apa?”

Tipikal kekepoan anak milenial.

“Sama Bu Ridara.” Rizi mengawasi respons Miku lewat cerlingan. Si Sipit cantik itu membelalak siratkan jeritan ‘serius?’. “Sebenarnya dia pacar yang manis. Tapi banyak hal bikin kami enggak cocok.”

Bergidik Miku bayangkan orang selembut Rizzi menjalin asmara dengan bos-nya yang mirip serigala Skandinavia itu. “Lalu, apa ada orang sudah ‘merampok?”

Tipikal kekepoan anak milenial (2)

Jawab Rizzi, “Ada.”

“Oh, ya? Siapa tuh, orangnya?”

Pertanyaan itu menjembatani Rizi pada ingatan tentang Si Rok Merah Muda. Orang itu memang semena-mena belakangan ini. Muncul sembrono di pikiran. Tak mampu Rizi buka mulut. Giginya mengatup rapat. Berusaha tersenyum meski bibirnya seperti disemen. Hanya beri satu anggukan untuk jawaban.

“Aku penasaran banget! Deskripsi orangnya, dong. He he.”

Rasanya sulit bicara lebih jauh walau Miku menuntut detil. Orangnya mana, kepribadian seperti apa? Sebagai pengalihan, diturunkannya kaca mobil. Malam masih belia. Lampu jalan dikerubungi laron. Jalur pedestrian ramai. Pemandangan ini cukup menghibur gundah. Beruntung, salah seorang driver ojol wanita lintasi mereka, Miku terdistraksi.

“Baru-baru ini, aku lihat di Instagram tentang Feminisme dan Gender Equality. Terus, ada yang bilang, Feminisme cuma menekan equal rights sementara equal responsibilty-nya nol. Minta disetarakan, giliran disuruh benerin genteng bocor bilangnya cowok tega. Nih, ojek perempuan ini buktinya kalau perempuan juga bisa memikul tanggung jawab seperti laki-laki. Gimana menurut Bang Izzi?”

“Benar.” Syukurlah. Rizzi tertolong oleh topik berat ini. “Banyak kok, perempuan yang jadi tulang punggung keluarg—” Terhenti karena tangkapan matanya menubruk sebuah punggung familier dari area pedestrian. “Ci?” gumamnya, kurangi kecepatan mobil.

Konsentrasi menyetir buyar. Mata itu menyipit demi perjelas tangkapannya. Per dua detik sekali, berguling pindah dari jalan ke sosok yang tengah menapak pelan, seolah kehilangan isi kepala.

Memang, punggung yang sangat ingin didekap, pasti dikenal sekalipun tertelan dalam pagar manusia. Namun, Rizzi tak mau terbawa perasaan. Kadang, mata sering mendukung rekayasa pikiran. Ciptakan sosok-sosok palsu. Ini ilusi! Iya. Benar, rindu yang memuncak bikin orang halusinasi.

Difokuskannya perhatian ke jalan.

“Bang Izzi kenapa?”

“Nggak apa-apa, Miku.”

Sekali lagi Rizzi berpaling demi buktikan penglihatannya salah. Sayang, pemandangan sama masih ia lihat. Apalagi, posisi mobil sudah sejajar dengan sosok itu. Rizzi bisa melihat dengan jelas profil wajahnya walau menyamping. Tidak salah lagi, itu benar-benar Suci Medina! Gaya pakaian, bentuk tubuh, muka bersampul rumit, sudah konfirmasi.

Sampai mobil melaju tinggalkan sosok itu di belakang, mata Rizzi masih menetap di sana. Mikuna ikut-ikutan penasaran. Lantas mengecek apa yang dilihat Rizi sampai-sampai kepala lelaki itu berputar sediemikian rupa.

“Bang, hati-hati, kita bisa nabrak kalau kayak gini,” tegurnya.

“Miku bisa nyetir manual?” tanya Rizzi, mendadak. Meski keheranan, Gadis itu mengangguk. “1-10, berapa tingkat mahirnya?”

“Mungkin 8,5?”

“Pernah nabrak?”

“Pagar rumah—Dulu tapi.”

“Terakhir menyetir kapan?”

Ng ... Minggu lalu kalau nggak salah.”

Rizzi bernapas lega meski bola matanya tetap berdansa gelisah. “Miku masih ingat jalan sampai rumah?”

Heh? “Iya, dong. Sekalipun tiap hari diantar supir, tapi aku hafal jalan pulang.”

Sekali lagi pria itu menoleh. Sempat gigit bibir, nampak sedang menimbang sesuatu di kepala. Lalu akhirnya menyetir buru-buru cari tempat aman untuk menepi. Rizzi memang harus turun. Dia tidak akan bisa pulang dengan tenang. Pikirannya sudah tertinggal di belakang. Pada Suci Medina.

Begitu mobil berhenti, Rizzi berkata buru-buru, “Saya lupa sesuatu.” Mikuna dibuat mengernyit oleh perangainya. “Saya bakal turun di sini. Boleh nggak, minta tolong Miku bawa pulang mobil saya?”

“Ke rumah Bang Izzi?” sahut gadis itu kebingungan.

“Bukan. Bukan.” Rizzi jelaskan ada hal urgent. Tak bisa ditinggal. Miku diminta menyetir pulang sendiri. Besok pagi atau malam, Rizi baru datang menjemput mobil.

“Emang nggak bisa putar balik berdua? Aku nggak masalah temenin Bang Izzi selesaikan urusannya.”

“Terima kasih. Tapi, Ini akan lama, dan rumit.“—Dan kamu pasti cemburu—“Lebih baik Miku pulang.”

“Oh, o-ke.”

Setelah mengambil dompet dan ponsel, Rizzi pastikan gadis itu duduk aman di balik setir. Sesuaikan kursi kemudi dengan ‘supir’ barunya. Terakhir, membungkuk pasangkan seat belt. Rizzi terlalu sibuk untuk menyadari ketegangan gadis di samping yang berjuang tenangkan rontaan jantung.

Jarak seintim ini, tersudut dengan posisi tubuh Rizzi sebagai kerangkeng, parfum berkandungan feromon tinggi, Miku dibuat terbakar oleh kemaskulinan lelaki itu.

Tiba-tiba ada benda kenyal menyentuh tulang belikat. Dari balik bahu, Rizi menoleh hanya untuk temukan cetakan bibir Miku pada polo shirt-nya. Wajah mereka nyaris tabrakan. Bisa Rizzi lihat blush on alami di pipi Miku. Gadis itu menengadah, putuskan untuk sudahi rasa penasaran tentang mulut yang biasa memproduksi kata-kata manis. Dia cium Rizzi. Meraup bibir itu penuh penghayatan. Ini pertama kali untuk mereka tapi langsung menjadi kesempatan terakhir bagi Miku.                                                                       
Berbeda dengan Si Pencium, yang merasakan pergerakan sekeliling di-pause, Rizzi biasa saja. Dunianya tak berhenti. Pun, denyut jantung tetap stabil. Ciuman ini tak berefek. Satu detik setelah Miku memisahkan bibir, pria itu langsung menarik diri secara sopan tanpa menimbulkan rasa tersinggung.

“Miku hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, tolong kabarin saya.” Dia tepuk kepala yang sedang tertunduk malu itu. Tersenyum singkat. ”Jangan ngebut, ya.”

Tak ada sahutan. Rizzi menutup pintu mobil. Di balik kaca, Miku sudah membentur-benturkan jidat ke setir. Setelah ini, apa dia masih punya nyali bertemu Rizi?

Tok tok.

Kaca jendela diketuk, Miku terkejut. Si empunya mobil ternyata belum pergi. Dia masih menunggu dengan senyum. Tawa awkward simpang siur antara mereka. Sampai akhirnya Rizzi mundur sopan. Bungkuk badan sedikit, gerakkan tangan kanan persilakan Miku pergi lebih dulu.

Begini saja Mikuna merasa dihargai luar biasa.

Pada akhirnya gadis itu berlalu setelah beri klakson sekali. Dilihatnya, Rizzi masih muncul di spion, mengintai sampai Miku benar-benar hilang.

Ugh! Malam nanti, Mikuna pasti mimpi indah.

***

Ya ampun kalian dimana, sih, Bang?

Kasih kabar biar orang rumah nggak khawatir.

Nggak ada kabar, aku bikin laporan kehilangan.

Bomb chat sang adik belum dibalas Dilan. Lima jam sudah berkedara, dibalut drama motion sickness Marvel, hingga beberapa kali harus menepi demi mencari permen mint, akhirnya mereka berhasil temukan tujuan. Ini alamat final. Sesuai deskripsi dalam pesan singkat siang tadi. Juga petunjuk random dari beberapa orang yang ditemui di jalan.

Rumah itu sederhana. Dengan persil ditanami Kubis Cina. Pada bagian kanan, ada jerambah panjang beratap. Puluhan pot gantung berisi Seledri turut menyumbang keasrian.  

“Kita di mana, Uncle Dil?”

Suara Marvel merebut fokus Dilan. Segera dia tukar muram roman dengan senyum lebar. Sudah cukup hari ini. Anaknya tak layak melihat kesedihan. Sisa waktu Hari Jadi-nya harus diisi memori bagus.

“Di rumah Pak Atmaja.”

Bak lompatan roti dari panggangan, Marvel melonjak senang. “BENAR?”

Dilan melenggut selagi senyum. Tidak lama kemudian pintu rumah dikuak. Muncul pak Atmaja. Bersarung serta kaos putih tipis andalan. Betapa semringah rautnya. Hampiri mobil dengan entakan kaki tergesa.

Sepanjang membuka seat belt, tak henti Marvel teriaki nama Atmaja. Sangat antusias seolah puluhan tahun alpa temu muka. Sedetik pintu mobil tersinggir, anak itu melompat dalam gendongan sang kakek. Hujan ciuman menerpa wajahnya. Mereka tertawa, saingi suara jangkrik.

“Selamat ulang tahun Bos Kecil. Bapak kangen banget sama Bos.”

“Vel juga kangen Pak Atmaja!” Pucuk halus jemari Marvel bertemu dengan kantong mata Atmaja. Aktivitas aneh itu sekarang menjadi ungkapan rindu.

“Apa kabar, Nak? Vel sehat? Sekolahnya gimana? Akrab nggak sama Pak Hendr—astaga! Vel makin gede! Bapak hampir nggak kuat gendong Vel.” Atmaja tergelak geli, menahan bobot tubuh cucunya.

Terkikik anak itu, merosotkan diri turun. Jangan pikir dia berhenti memeluk. Tangan gempal itu posesif melingkar ke pinggang bersarung Atmaja.

Dilan paling muka. Haru bertalu-talu. Dia selalu berangan, cuplikan jenis ini diperani oleh Suci. Sambutan hangat,  bibir renggang banyak senyum, hujan pelukan. Sayang, Tuhan masih meletakkan dalam fantasi. Belum bisa—atau bahkan tak bisa—direalisasi.

“Oh, ya, Bapak punya ketan bakar. Vel mau? Makan bareng sama Om Enda?”

Diberondong pertanyaan, Marvel manggut-manggut antusias. Patuh dalam bimbingan Atmaja menuju rumah. Dilan terabaikan. Lelaki itu memutuskan untuk turun. Bergabung bersama keluarga Atmaja.

Satu jam diisi barter cerita topik beragam. Ibu Ayu bermurah hati siapkan ketan bakar bumbu serundeng, berpasangan dengan teh hangat. Lihat anaknya tertawa semangat, Dilan tahu, ide memboyong Marvel ke Lembang memang tepat. Ini jarak terjauh dari rumah, tapi tempat ‘terdekat’ dengan Suci. Populasi manusia yang suguhkan rasa familier pada anaknya walau tanpa klaim ‘keluarga’.

“Kalian yakin mau nginap di sini? Atau Bapak carikan hotel saja?”

Atmaja dan Dilan berpindah ke serambi. Duduk di bale bambu. Pintu terbuka perlihatkan Enda dan Marvel sedang bercengkrama.

“Di sini saja. Boleh?”

“Sangat boleh. Kalian bisa pakai kamar Enda.” Atmaja mengawasi cucunya dari jauh. “Andai kamu bilang dari awal mau ke sini, Bapak bisa siapkan hadiah bagus untuk Marvel.”

“Kalian hadiahnya.” Membawa Marvel ke sini, sama seperti menuntun anaknya ke pelukan sang ibu. Itu kado terbaik.

“Marvel sudah ketemu ibunya. Tadi siang.” Suara Dilan merendah untuk privasi,

“Bagaimana bisa?” Ekspresi kejut menopeng wajah tua Atmaja. “Apa dia—” Bahu itu merosot dapati gelengan tertolak Dilan beserta rangkuman cerita siang tadi.

Atmaja menepuk belakang kepala lelaki itu penuh esensi kebapakan. Dilan mungkin sudah kenyang dengan nasihat ‘jangan buru-buru’ tapi itu memang petuah semata wayang. Sebab terlalu sukar prediksikan masa depan jika menyangkut kata maaf Suci. Segalanya terlalu kabur. Tidak ada clue apa pun. Mungkin lebih mudah memanjat obelisk ketimbang membaca Suci. Sekarang ini, yang tahu isi hati wanita itu, hanyalah Yang Maha Membolak-Balikkan Hati.

“Menurut Bapak, apa saya masih punya kesempatan?”

Anggukan iya. "Selama kamu nggak mematikan harapanmu sendiri.”

Cari ide bertemu, eksekusi, tertolak. Dilan hidup dalam circle itu. Usaha hampir tiap hari, baik pasif maupun agresif. Semua itu belum membuahkan hasil. Harapan sudah pasti deras. Meski sekarang harapan itu seperti berelasi dengan jumlah nyawanya. Satu kali gagal, satu nyawa terengut. Puncaknya tadi siang. Suci berikan shot telak. Dilan rasa nyaris mati. Putus asa, kehabisan cara dan ketakutan.

Segalanya merambang.

Bagaimana jika selamanya nasib Marvel hanya sebatas tertolak? Dilan tak kuat membayang anaknya tumbuh tanpa memori pelukan seorang ibu. Apa yang Marvel bawa kelak untuk masa depan? Sejumput cerita kasih sayang dari oma, opa, tante-nya? Tak cukup. Demi Tuhan, itu jauh dari komplet tanpa satu figur besar bernama ibu.

Kelak, pada umur menunjuk belasan, anak itu akan bertanya, denyut gairah seperti apa yang membawanya lahir ke dunia? Dia hanya tahu, ada dinding selimut bernama rahim, rumah tinggal semasa jabang, ruang berbagi dentum detak, tapi tak tahu siapa pemiliknya.

Kenapa bahagia Marvel hanya berbentuk kepingan? Bukan yang utuh seperti anak lain?

“Bapak ingin bilang sesuatu, tapi Bapak harap, kamu jangan tersinggung.”

Renung retak oleh suara rendah berwibawa itu. Dilan persilakan lewat anggukan.

Atmaja berdeham, lalu melirik Dilan hati-hati. “Beberapa bulan lalu, ada laki-laki yang datang ke rumah. Dia teman baru Suci.”

Suara itu terlalu pelan, tapi Dilan rasakan seperti diteriaki oleh dolby atmos-nya bioskop. Seluruh persendiannya dicabutpaksa. Pacu jantung bak orkestra. Bahkan, ponsel di tangan meluncur mulus ke tanah. Dia tak menyangka, kabar seperti ini akan didengar bahkan sebelum dirinya mendapatkan maaf dari Suci.

Ponsel dipungut Atmaja. “Bapak nggak bermaksud bikin kamu takut, anggap saja informasi ini senjata kamu untuk perangi banyak kemungkinan. Salah satunya ... kalau ada orang lain yang mengisi hati Suci.”

“Mereka ... dekat?”

“Kamu tahu, selama delapan tahun, Suci selalu tertutup. Baru kali ini ada teman laki-laki selain Pandu yang datang ke rumah. Asumsimu bagaimana tentang hubungan seperti itu?” 

Lama Dilan terdiam. Menopang siku ke lutut. Urut wajah dengan dua telapak. Kenapa harus ada tambahan plot dan tokoh baru sementara cerita dirinya dan Suci masih stuck pada posisi benci dan mengusahakan.

“Siapa, Pak? Siapa orangnya?”

“Dia ... Rizzi.”

Dengar namanya saja Dilan merasakan terancam luar biasa.

Rizzi,” ulang lelaki itu, merekam baik-baik di kepala. Sebagai nama yang harus dia hindarkan dari Suci.


***

Seumur hidup, cinta tidak pernah menjadi alasan Rizzi berbuat sinting. Seperti Rama, pernah menangis sesenggukan ketika diputusi Tiwi dan memilih tidur di depan pintu rumah wanita itu walau tak digubris. Malam ini, Rizzi baru mengklasifikasikan diri sebagai Rama yang lain.

Nyaris 160 menit lelaki itu menjelma seperti bayangan Suci, Ikuti ke mana pun perginya wanita itu. Hanya ini kapasitas Rizzi, berdiri dalam jarak 20 Meter. Dia tak bisa berbuat lebih. Meski hatinya mendesak untuk dekat. 

Rizzi benci menjadi penasaran. Namun, semua gerak-gerik Suci justru membuatnya haus informasi. Apa, kenapa, mengapa jam segini perempuan keras kepala itu berkeliaran di jalan? Sendirian? Seperti orang putus harap yang terenggut semangat hidupnya? Kemana laki-laki bernama suami itu? Kenapa dia biarkan istrinya luntang-lantung? Tidak tahukan dia, ada beribu ancaman bahaya di jalan?

Perut itu, yang pernah mengandung benihnya, apakah sudah diisi makanan hari ini? Kaki kecil itu, mengapa dibiarkan kelelahan jalan berkilometer?

Kemana si brengsek itu? Rizzi ingin meninju rahangnya.

“Kenapa kamu serahkan hidup kamu ke orang yang berjam-jam, biarkan kamu bertingkah nggak jelas begini di jalanan?! Kemana tanggungjawabnya?!”

Seruan itu sarat emosi. Rizzi ingin menendang bak sampah. Dia marah dapati Suci linglung. Bak robot baterai tanpa remote, dirancang hanya untuk bergerak tanpa arahan. Tabrak sana-sini.

Rizzi bukan siapa-siapa, hanya kebetulan jatuh cinta. Tetapi dia bersumpah, jika wanita itu miliknya, mau sekeraskepala apa pun Suci menolak kehadirannya, tak akan Rizzi biarkan perempuan itu luntang-lantung. Selama matanya terjaga, Rizzi ingin mengawasi. Lindungi sampai tenaga terakhir.

Kenapa, perasaan yang sama, tidak bisa diaplikasikan laki-laki sialan itu? Yang bahkan sudah jelas-jelas punya kuasa penuh atas Suci? Apa dia tidak belajar menjadi laki-laki becus?

Sialan! Kalau bertemu, ingin Rizzi berteriak di depan hidungnya, "Ayo tukar posisi!” 

***

“Suci istri saya, Pak,” lirih Dilan, terpukul.

Atmaja mengebuskan napas, kasihan. “Tapi, Nak, sudah delapan tahun kalian berpisah.”

“Dia masih hak saya. Sampai detik ini belum pernah sekali pun jatuh talak. Begitu juga sebaliknya, dia nggak pernah minta diceraikan. Tolong, jangan biarkan orang lain mencuri milik saya.”

Dalam pemahaman Dilan, berjauhan tak lantas gugurkan ikatan perkawinan. Meski tak serumah, dia selalu tunaikan tanggung jawab. Setiap bulan sepanjang tahun-tahun terpisah, Dilan tak pernah alpa memberi nafkah. Walau satu Rupiah pun tak lolos ke tangan Suci, lalu pada akhirnya dikembalikan.

Hampir setiap hari, minta update kabar. Mengabsen nama itu pada sepertiga malam. Kalau soal bathiniah, tidak mungkin Dilan penuhi dalam keadaan serumit itu.

Memang, kewajiban seorang suami itu kompleks. Dilan sadar betul, banyak hak Suci yang belum dia penuhi. Itu semua bukan sengaja. Mereka terpisah karena keadaan. Bukan atas keinginannya. Andai saja, Suci beri akses, Dilan pastikan hidupnya diserahkan bulat-bulat untuk wanita itu  

Kalau seperti ini caranya, Dilan mungkin akan lebih gila melindungi Suci. Ada tambahan PR untuknya. Yaitu memastikan agar hati itu tak dimasuki siapa pun. Dilan berkeyakinan kuat, dia yang paling halal untuk mencitai Suci. Sementara cinta selundupan milik lelaki itu, hanya berstatus ilegal. Tuhan tak akan restui hal semacam itu.

“Pak Atmaja,” sebut Dilan, pelan dan dalam. “Tentang Rizzi, saya akan cari orangnya. Ingin bicara dan ingatkan dia, jangan ganggu Suci! Jangan kacaukan keluarga kecil kami! Jangan buang-buang waktu merampas apa yang nggak akan jadi miliknya. Minggir dari hadapan! Sampai kapan pun, posisi saya nggak akan bisa ditukar!”

***

Sudah terlalu larut. Jalanan mulai lengang, satu-dua kendara melaju kencang hingga derum mesin pekakan telinga. Betapa pegal kaki Rizzi. Dia tak mau istirahat selama Suci menapak. Punggung itu, tak lepas dari pelupuk.

Entah ke mana tujuan Suci. Jalan ini bertolak arah dengan indekost maupun rumah lama. Saat dia duduk di bangku  trotoar untuk mengusap perih kaki, Rizzi menatapnya dengan pertanyaan terselip: dosa apa yang dilakukan wanita itu? Dia sedang menghukum diri dengan berjalan kaki sejauh ini.

Gestur itu ungkapkan bahwa Suci sedang terisolasi dalam masalah besar. Lihat, dia bahkan tak menggubris sekeliling. Rizzi yakin, jika ada iring-iringan karnaval tiba-tiba lewat depan mata Suci, wanita itu tak akan menyadarinya.

Perjalanan dilanjutkan. Rizzi mulai emosi, tiap kali ada pengendara motor sengaja pelankan laju jalan hanya untuk menggoda Suci. Cara mereka serukan ‘hai’ apalagi tawarkan mengantar, sangat mengganggu di kuping. Ingin Rizzi keluarkan bola mata kurang ajar itu dari cangkangnya. Memuntir lidah cabul itu supaya tidak seenaknya merayu perempuan.

Tiba-tiba, Suci turun ke jalan. Hendak menyebrang. Rizzi dibuat gregetan oleh caranya tak acuh pada keadaan sekeliling. Dia bahkan tak melihat kanan-kiri, seenak bibirnya melaju. Dia pikir, motor dan mobil adalah kapas terbang.

Seperti orang gila, Prasetya Alfarizzi berlari mendekat. Gemas sekaligus geram bukan main karena Suci mengabaikan teriakan beberapa pengendara yang memperingatinya. Langkah itu lebar dan buru-buru.

Saat Rizzi berhasil menggapai pergelangan Suci, wanita itu dibuat tersentak oleh satu tarikan kuat. Rizzi terlalu hafal spontanitas Suci, maka sebelum tinju dan cakaran itu melayang ke pipi, lebih dulu dia menangkap gerakan itu. 

“Cita-cita kamu mati ketabrak?!” teriak Rizzi, sambil menarik Suci ke tepi. Nyawa wanita itu belum terkumpul sepenuhnya. Kaget, dan heran, kenapa Rizi bisa muncul di hadapannya seperti hantu? “Sengaja hilangkan diri demi lari dari tanggung jawab?”

Tak ada yang Suci ucapkan. Amarah Rizzi terlalu konyol untuk direspons. Pun, dia kehilangan hasrat berseteru. Suci menarik diri. Naik ke trotoar dan lanjutkan perjalanan. Seharian ini, hidupnya kacau. Dia tidak bisa berhenti. Perjalanan panjang lelahkan diri adalah distraksi dari godaan menyilet diri.

“Kenapa keluyuran di sini?” Kembali Rizzi sejajarkan langkah.

Masih didiami.

“Kamu ... sama sekali nggak punya mentalitas seorang istri dan ibu. Nggak menghormati statusmu sendiri. Biarkan diri jadi pusat perhatian pengendara malam. Kamu menikmati bagian digoda dan dikurangajari?”

Kalimat itu jadi penyetop. Rizzi lihat, dada Suci mengembang oleh tarikan napas putus-putus. Saat berhasil berdiri di depan wanita itu, Rizzi tertegun. Tak menyangka, kata-katanya jatuhkan air mata Suci. Dia ... baru saja membuat manusia yang dia cintai segenap rasa, menangis.

Tangan itu terkepal. “Berhenti!” bentaknya. Palingkan muka. Dia benci melihat air mata itu, lebih benci lagi diri sendiri karena jadi penyebabnya. ‘AKU BILANG BERHENTI NANGIS!”

Lapisan diri terbawah, tempat penyimpanan perasaan terjujur,  mengkomando untuk berikan pelukan, dan bilang bahwa melukai adalah caranya lindungi harga diri. Tapi, lapisan diri yang lain, tempat penampung rasa sakit karena cinta salah alamat itu, berhasil hidupkan sisi jahat.

Keinginan Rizzi terpecah. Mencintai atau menyakiti. Karena pilihan pertama tak bisa dia lakukan, dia memilih yang terakhir. Rizzi kecanduan menyakiti wanita itu. Lagi dan lagi.

“Apa cuma ini senjatamu menarik iba? Raut innocent minta dikasihani, mata polos penuh kedok cerdik. Caramu menipu, nggak ada duanya. Bangun karakter lugu untuk menarik simpati laki-laki?” tertawa remehkan. “Kemampuanmu hanya segitu? Mendulang cinta dengan cara seperti itu?”

Sinting! Rizzi mengenal baik dirinya. Suara barusan terlalu asing di pendengaran sendiri. Itu bukan Rizzi. Tapi monster.

“Seharusnya kamu di rumah, bukan? Bersama suami dan anakmu? Kenapa masih mencari perhatian di jalanan? Apa yang kamu kejar?!”

Cukup lama Suci diam, masih tak ingin bicara. Bungkamnya bikin Rizi nyaris menendang satu per satu batang leher pengendara motor yang lewat.

“Kenapa diam? Merasa cocok dengan semua kalimat itu?”

Suci menghalau air mata. Untuk kedua kali tinggalkan lelaki itu. Bukannya berhenti, Prasetya Alfarizzi naik pitam. Dia cegat Suci, kali ini pakai cengkraman agak keras sampai wanita itu meringis.

Tersadar sudah menyakiti fisik, Rizzi lepaskan tangan, mundur selangkah. 
“Maaf,” serunya, panik bercampur bersalah. Dia usap lembut bekas cengkramannya. “Maaf, aku—” Satu dorongan keras di dada Rizzi, putuskan percobaan heroik itu.

“Mau kamu apa?” Suci meledak dalam isaknya. “Apa yang kamu harapkan dari aku?!”

Bahu Rizzi merosot. Gumpalan pahit menyekat tenggorokan. Dia sudah keterlaluan. Tindakannya berseberangan dengan rasio. Ini sudah sampai pada tahap mencintai yang kekanakan. Cintanya sendiri sudah merampas hubungan baik yang pernah terjalin dengan Suci.

“Aku cari perhatian di jalan? Aku murahan? Lalu apa sebutannya untuk kamu, satu-satunya yang memperhatikan dan menghampiri aku di sini?” Jarak mereka dilenyapkan lewat langkah Suci yang menantang.

“Kamu jatuh cinta, itu perkaramu. Kamu kalah bahkan saat masih di garis start. Kenapa aku harus tanggungjawabi kecewamu?” serang Suci lagi-lagi.

Prasetya Alfarizzi tersudut. Suci sedang menembusnya dengan sorot penjinak singa, yang mengitari singa untuk dilemahkan. Persis. Perempuan itu sudah membaca sampai lapisan terbawah. Rizi kalah. Seorang alpha di ujung masa kejayaan. Jinak dan bertekuk lutut. Suci sudah memegang kartu sang Don Juan yang rewel karena patah hati.

“Kamu harap, aku jadi pembunyi terakhir lonceng bujanganmu? Lalu aku akan pakai cincinmu? Hm?”

Seluruh amarah Rizzi telah dilucuti habis. Tersisa hanyalah perasaan konyol. Mood beregenarasi secepat kedip. Bukannya tersinggung diserang kalimat sarkas, seulas senyum samar silangi bibir. Dengan cara tak terduga, rindunya baru saja terbayar tunai. Rizzi baru sadar, kata-kata pedas dan serangan tertohok Suci Medina adalah pemanggilpulang kewarasannya.

Perlahan, telapak Rizzi menangkup tempurung kepala Suci, tekankan maju sampai jidat gadis itu menubruk dadanya. Suci dibuat kesal bukan main, lantas berontak loloskan diri.

“Aku sarankan kamu cari orang lain untuk digilai. Jujur, dari aku, nggak ada apa-apa untuk kamu dan cintamu yang kekanakan itu. Bahkan sekadar terima kasih!”

Mungkin, ini yang namanya luka kehormatan. Saat seseorang berhasil menggali sesuatu paling agung dalam dirinya, tuang ke dalam cawan berlian, lalu serahkan pada yang dicinta, tapi ditepis hingga tumpah.

Rizzi mendengus geli. Lalu tertawa kecil. “Kalau gitu, kembalikan waktu. Dari awal, dan hapus bagian pertemuan kita. Kalau kamu mampu, saranmu diterima.”

“Gila!” maki Suci, menepis jemari Rizzi yang coba menyelisik ke dalam helai-helai rambutnya

“Kamu yang gila,” balas pria itu, setenang danau. Dia berhasil menangkup rahang Suci meski wanita itu bersikeras menjauh. “Juga rumit,” desisnya di depan hidung Suci.

Bisa Rizzi rasakan kulit pipi itu memanas dalam telapak. Tawanannya meremang lalu tunduk, putuskan usaha Rizzi yang hendak terobosi matanya. Mengancam mengorek-ngorek rahasia di sana. Lewat satu dobrakan tegas ke dada Rizzi, wanita berhasil lolos.

Amati punggungnya yang menjauh, Prasetya Alfarizzi sadar bahwa mencintai Suci, sama seperti membaca buku sobek. Halamannya tidak lengkap.  Bagaimana bisa tamat? Jika belum temukan bab yang hilang?

Lelaki itu berlari kecil meraih pundak Suci. “Ayo kita pulang, ke rumahku. Itu jarak terdekat dari sini. Kamu butuh makan."

Suci tak peduli.

***

“Hati-hati di jalan, Dil. Nanti, kalau Bapak ke Jakarta, Bapak akan main ke rumah.”

Dilan mencium tangan Atmaja. Minta maaf sekali lagi karena tak jadi menginap. Begitu kantongi alamat yang dia inginkan, lelaki itu bersikeras ingin pulang. Saat itu juga. Dia sudah tak sabar, ingin mengorek informasi dalam-dalam soal seseorang yang  mengancam ingin mengacau kelarganya.

Ayu berikan selimut dan sebuah bantal kecil untuk mendukung kenyamanan tidur Marvel dalam perjalanan. Tak lupa, beberapa makanan untuk berjaga-jaga jika mual. 

“Kalau gitu, saya pamit, Pak, Bu, Enda. Sampai ketemu lagi.”

Setelah biarkan Atmaja mengusap kepala Marvel yang sudah tidur, Dilan memacu mobil. Melaju jauh tinggalkan tiga orang dalam mode melambai.

Semua capek akibat menyetir seharian tadi sudah terbang, tergantikan rasa penasaran tinggi. Dilan ingin cepat sampai dan mencari orang itu. Mengingatkannya agar menarik diri sejauh-jauhnya dari Suci.

***

Taksi online berhenti di depan sebuah Rumah. Seabrek drama Suci lalui untuk menolak ajakan Rizzi, kalau tidak diancam, mana mungkin dia rela menginjakan kaki di sini kedua kali.

“Ayo turun,” perintah Rizzi dengan gaya mengancamnya yang Suci benci.

“Saya akan langsung pulang.”

Rizzi menggeleng tidak. Siapa yang percaya, kalau wanita itu tidak melakukan hal-hal bodoh lagi? Bisa saja dia turun di jalan dan membahayakan diri untuk kedua kali.

Selanjutnya, drama tolak-menolak kembali terjadi sampai akhirnya supir taksi berhasil ‘diusir’ tanpa membawa Suci.

“Masuk dulu. Ibu pasti punya sesuatu untuk kamu makan. Setelah itu, aku akan antar kamu pulang. Pakai mobil beliau.”

“Nggak perlu.”

Rizzi mulai kehilangan kesabaran. “Bisa nggak sih, sekali aja, kepalamu itu aku tinju? Supaya batunya retak?”

Tangan Suci bersedekap angkuh.

Bunyi pintu terbuka. “Izzi?”
Maya, dalam balutan kimono satinnya, berdiri keheranan di pintu.

Suci terkesiap dan mengutuk keadaan, kenapa Rizzi harus menyeretnya terperangkap situasi seperti ini?

“Sama siapa itu? Kok nggak diajak masuk?”

“Ini hampir pagi, kenapa Ibu belum tidur?”

Maya bergabung bersama mereka. Perhatikan teman pulang anaknya. Wajah itu sekusut surat kabar basah. Tertunduk segan. Tumben? Rizzi membawa pulang perempuan, setelah 1000 purnama?

Sadar situasi, Suci beranikan diri membalas tatapan Maya. Minus sorot menyelidik. “Halo. Saya Suci, Bu. Temannya Mas Izzi.”

Iya, Maya tahu, semua perempuan yang dibawa ke rumah sudah pasti teman. Tapi, teman seperti apa? Yang model begini, ketemu di mana? Masuk dunia kerja, lingkaran sosial Rizi mulai sempit. Tak ada lagi teman Kutu Buku, atau mahasiswi non polesan seperti zaman kuliah. Yang datang, pasti pria-pria necis parlente, dan perempuan-perempuan modis.

Rizzi jarang punya teman ‘lugu’ seperti ini. Siapa dia?

“Halo Suci. Salam kenal, ya. Maaf, Tante dengan setelan tidur.”

Mereka yang salaman dan bertukar ciuman di pipi, Rizzi yang salah tingkah dengan perut bergolak hebat. Menghubungkan wanita yang dia cinta dengan wanita pertama dalam hidupnya. Kalimat itu terdengar sangat sakral. Andai, Rizzi bisa mewujudkannya dalam versi lain. Yang lebih nyata, bebas dan resmi. Tidak seperti sekarang, saat ada borgol pernikahan melingkupi tangan Suci.

Argh.

“Zi. Kok tengah malam ajak anak orang keluar? Orangtuanya nggak marah dan nyariin?”

“Itu, tadi....” Dia ceritakan secara singkat bagaimana pertemuannya dengan Suci di jalan. Tentu saja dengan taburan bumbu. Bahwa Suci kehilangan dompet hingga harus ditumpangi pulang.

“Trus mobil kamu mana?”

Sialan! Rizzi melupakan fakta itu. “Ada di temen. Oh, ya, Ibu punya sesuatu yang bisa dimakan selain kelabang goreng?” potong Rizzi sebelum Maya bertanya macam-macam. “Aku lapar, temanku juga. Boleh dibiarin masuk dulu? Diinterogasi juga butuh tenaga, bukan?”

“Ish kamu!” tampar Maya di pundak anaknya. "Ada, tadi dimasak Mbak. Ayo masuk dulu."

“Saya ... nggak akan lama,” sela Suci. “Saya cuma mau pakai kamar kecilnya setelah itu saya akan pulang.”

Untuk kali pertama Rizzi biarkan permintaan wanita itu tanpa debat. Yang penting, dia bersedia masuk ke rumah. Untuk urusan perut, biarkan Rizzi pikirkan ancaman apa yang bakal manjur untuk memaksa perempuan itu mengisi perutnya.

***


Buru-buru, Maya siapkan makan. Sewaktu Suci minta izin ke kamar mandi, Rizzi peringatkan ibunya agar mengawasi wanita itu. Jangan sampai dia kabur tanpa diantar sementara lelaki itu putuskan untuk mandi ekspress dan menukar pakaian. Ini momen perdana makan bersama Suci. Di rumahnya! Paling tidak, dia harus tampil fresh meski tidak yakin Suci sudi menatapnya barang sedetik.

Rizzi kembali dalam 25 menit. Makanan sudah siap. "Suci mana, Bu?"

"Tadi dia mau bantu Ibu tapi Ibu tolak dan suruh dia istirahat. Mungkin anaknya---Astaga kok gak kedengeran lagi suaranya? Kamu periksa gih, jangan-jangan udah pergi?"

Berdecak, Rizzi mulai menginspeksi isi rumah. Dari kamar kecil yang Suci pakai, teras samping, tidak ada tanda-tanda jejaknya. Firasatnya tak enak. Si keras kepala pasti kabur.

Awas saja kalau ketemu di jalan, Rizzi pasti---Pria itu tercenung begitu dapati sosok Suci di sofa ruang tengah. Wanita itu tertidur dengan dua kaki yang masih menjuntai ke lantai tapi kepala direbahkan ke tangan sofa. Sementara punggung tangannya sendiri dijadikan bantal.

"ZIIII? KETEMU NGGAK--"

"Psttt." Letakkan telunjuk ke bibir. Ingatkan ibunya untuk pelankan suara.

"Astaga, kasihan, dia tidur," bisik wanita itu. Ikut-ikutan berdiri di samping anaknya demi menonton wajah tidur Suci.

"Makanannya gimana?"

"Nanti Izzi beresin."

"Loh, katanya mau mak---" Kali ini mulut Maya sudah dibungkam Rizzi. Dia menuntun ibunya ke dapur.

"Itu siapa sih, Zi? Kamu jangan aneh-aneh, deh, bawa orang ke rumah. Gimana kalau dia pencuri?"

Iya. Dia memang pencuri. Pencuri segalanya. Dari isi kepala sampai isi hati Rizzi.

"Iparnya Rama, Bu. Yang kue-nya pernah Ibu cicip."

"Oh, tapi kalian---"

"Ibu tidur, ya. Biar izzi yang beresin meja."

Setelah pastikan ibunya naik ke kamar, Rizzi beresi meja makan lalu kembali ke ruang tengah.

Lihat suguhan pemandangan di depan, Rizzi mengusap tengkuk yang meremang. Kebaikan apa yang dia lakukan baru-baru ini? Tuhan baru saja memberinya kesempatan istimewa: menonton wajah tidur Suci---meski tanpa tidur bareng.

Rizzi matikan lampu utama. Biarkan downlight dari langit-langit plafon, jadi penerangan. Dia ingin ciptakan suasana rileks. Malam ini, nyamuk pun akan Rizzi grepek bila mengganggu nyenyaknya Suci. Walau di sofa, Tuan Puteri harus merasa aman dan nyaman seperti tidur di awan.

Saat berdiri makin dekat, tepat di samping sofa, Rizzi meresapi rasa menyenangkan ini. Dia suka, terperangkap hanya berdua dengan Suci. Tak ada orang lain.

Dengan hati-hati, Rizi membungkuk, dekatkan wajah ke sisi wajah Suci. Dia tak berbuat apa-apa. Hanya pandangi kelopak itu. Juntaian helai rambut yang menutup sebagian pipi, bibir jahat pedasnya itu terkatup dengan manis.

Wanitanya itu sedang berada di sini. Begitu intim hingga napasnya bisa Rizzi dengar. Tapi, Rizzi tahu ada jurang pemisah antara mereka. Ini dekat yang bersekat.

Jakun Rizzi bergerak bahasakan sesuatu dalam diri yang mendesak. Dia ... menginginkan Suci. Lebih dari sekadar melihatnya tidur. Dia ingin menyentuhnya pada bagian paling dalam yang tak bisa dijangkau siapa pun. Ingin memiliki segala darinya.

"Bagaimana kalau kali ini ... aku yang keras kepala, Ci?" Suara itu pelan, bak nyanyian tidur untuk yang tercinta. "Betul. Aku yang jatuh cinta. Itu perkaraku. Bukan tanggungjawabmu. Maka dari itu, aku ingin selesaikan ini dengan caraku."

Jarak wajah mereka hanya sejari. Hingga penglihatan Rizi dibuat buram oleh kedekatan ini. Dia bicara, setelah menyentuhkan hidungnya ringan ke hidung Suci, "Kalau menurutmu aku sudah kalah di garis start, kamu mungkin nggak kenal sesuatu yang bernama 'curang.'"

Dia tersenyum. "Silakan bilang aku gila, tapi ... aku akan rebut kamu."

***


Ancaman Shabila tak manjur bekerja. Masih tak ada kabar sampai waktu bergeser ke hari baru. Setelah orang rumah dibuat putus asa dan hampir saja membuat laporan, Dilan baru muncul pukul sepuluh pagi.

Semua informasi dan rasa penasaran keluarga, dijawab tuntas oleh Marvel dengan ceria. Mereka tak jadi marah karena anak itu bercerita panjang soal pemandangan indah di jalanan menuju Lembang, sampai pertemuan dengan pak Atmaja.

Sementara Dilan menghilang hanya untuk kembali dengan versi yang lebih segar. Siap-siap untuk pergi. Shabila mencegatnya di pintu.

"Mau kemana, Bang Dilan? Kamu masih punya utang cerita."

"Ceritanya nanti saja."

Menyetir buru-buru sampai ke sebuah alamat di ponsel. Hasil 'menjarah' kepada Atmaja.

Itu rumah baru Pratiwi. Sepupu Suci. Satu-satunya orang yang tahu tentang lelaki bernama Rizzi.

Belum sempat Dilan turun. Sebuah mobil masuki pekarangan itu lebih dulu. Kakinya lemas begitu tahu siapa yang turun dari mobil itu. Suci. Disusul seorang laki-laki asing.

Pintu rumah terbuka. Muncul Pratiwi. Dilan bisa menangkap secercah ketidaksukaan di mata wanita itu begitu memandangi sang lelaki asing. Tapi gurat wajahnya melembut lantas tersenyum lebar pada Suci.

Walau kakinya berat, karena amarah terlanjur mengerubungi, Dilan putuskan untuk keluar. Senyum Tiwi langsung lenyap. Pandangannya berpindah-pindah antara Dilan, Suci, dan si lelaki asing.

Ekspresi Tiwi membuat dua orang di depan kebingungan. Suci yang lebih dulu menoleh ke belakang. Mukanya pucat kesi seketika. Dia terjebak dalam keadaan yang tak mampu dia hadapi, tapi harus dia lalui.

Impromptu!

Seseorang di sebelah Suci sadar perubahan roman wanita itu dan ikut-ikutan menoleh demi menemukan sumber penasarannya.

"Mas Izzi," desis Suci, "Tolong pulang. Sekarang."

Dilan benci cara Suci melafal nama itu. Tapi yang terpenting, sekarang, dia tahu si pengganggu bernama ... Rizzi!







.

.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top