Chapter II
Aku masih terduduk di kursi halte, sedikit lebih baik setelah suara Haruto di ujung sana yang tidak berhenti menenangkan. Aku menangis hampir lima menit, untungnya Haruto masih tidak mematikan saluran telepon.
"You okay? Sekarang udah bisa cerita?"
Aku mengggigit bibir bawahku, berusaha merangkai kata yang tepat, haruskah aku katakan hal yang sebenarnya atau berkata bahwa aku baik-baik saja?
"Sorry..."
Akhirnya aku meminta maaf, Haruto terdengar menarik napas lega. "Kamu kenapa? Ada yang jahatin?" Tanya Haruto lagi.
"Nggak, lagi kangen kamu aja..." Ucapanku menggantung, jawabanku sembilan puluh sembilan persen benar, aku merindukan suara Haruto yang sudah hampir satu tahun tidak pernah lagi ku dengar selain dari voice note yang pernah ia kirim.
"Maaf ya anniversary tahun ini aku gak bisa pulang...." Ucapnya penuh dengan rasa bersalah.
"Haru... sekarang tanggal berapa ya?" Tanyaku dengan nada ragu.
"15 Januari, harusnya aku bisa pulang awal tahun kemarin tapi visa aku malah bermasalah." Jelasnya, aku berusaha menghubungkan anekdot yang bermunculan, anniversary, 15 Januariㅡ tepat satu bulan sebelum berita kecelakaan yang sampai di telingaku di pagi hari.
"Sayang?" Ucap Haruto lagi, memastikan apa aku masih ada di tempat atau tidak.
Baru aku ingin menjawab pertanyaan Haruto, tiba-tiba ada panggilan lain masuk ke dalam ponsel, aku buru-buru menolak panggilan itu karena takut akan kemungkinan aku tidak lagi bisa menghubungi Haruto setelahnya.
"Ada yang telfon?"
"Ah iya, paling Kak Junkyu."
"Angkat dulu aja, nanti aku telfon kamu lagi."
"Gapapa, nanti bisa aku chat orangnya."
"Aku juga gak bisa ngobrol lama, sekarang aku masih di kampus dan bentar lagi ada dosen masuk. Aku tutup ya nanti aku telfon lagi, love you."
Belum sempat aku menjawab, panggilan diputus secara sepihak oleh Haruto. Aku termenung, rasanya bahkan tidak dapat aku jelaskan, orang-orang di halte masih memandangku dengan tatapan aneh, aku buru-buru menghapus jejak air mata di pipi kemudian kembali menghubungi Kak Junkyu yang panggilannya sempat kutolak tadi.
"Heh bocil, kamu dimana sih udah jam segini juga." Omelan Kak Junkyu menguar tepat setelah ia mengangkat telepon, aku menghembuskan napas berat berusaha mengumpulkan sisa tenaga untuk menjawab semua pertanyaannya.
"Di halte, jemput dong Kak aku kayaknya gak kuat jalan sampe rumah."
"Halte biasa? Yaudah tunggu."
***
Kak Junkyu tidak berhenti bertanya perihal wajahku yang terlihat aneh sejak kita bertemu di halte tadi, aku menjawab seadanya, berkata kalau magangku terasa sangat melelahkan akhir-akhir ini. Dan akhirnya ia diam menerima semua kebohonganku.
Aku terbaring menatap langit-langit kamar, barusan aku sempat memeriksa log panggilan di ponsel dan nyatanya tidak ada satupun nama Haruto di sana. Aku pun beranggapan kalau kejadian di halte tadi mungkin tidak pernah terjadi.
Mataku hampir terpejam sampai tiba-tiba ponselku berdering,
Haruto is calling
Aku bahkan hampir terlonjak dari kasur, memandang ponsel yang masih menyala dengan tidak percaya.
"Halo, Doyie?"
Suara Haruto terlalu nyata untuk aku anggap khayalan semata, perasaan ini masih sama anehnnya seperti kali pertama.
"Sayang?"
"Iya, kenapa Haru?"
"Kok tadi diem aja?"
Sebentar, ini mulai terasa aneh. Ponsel Haruto hilang saat ia kecelakaan dan seingatku tidak bisa ditemukan di manapun, polisi beranggapan kalau ponselnya dicuri oleh orang yang berusaha menolongnya saat itu.
"Lo siapa?" Nada suaraku langsung berubah, sementara orang yang berpura-pura menjadi Haruto tetap diam di ujung sana.
"Jangan main-main sama gue ya, bercanda lo gak lucu." Ucapku lagi dengan nada sama ketusnya.
"Hah? Kamu kenapa sih?"
"Gak usah pura-pura jadi Haruto deh."
"Pura-pura gimana? Ini aku? Kamu gak bisa bedain suaraku?"
Suaranya sembilan puluh sembilan persen mirip dengan suara Haruto, tapi aku masih berusaha mengelak karena tidak mungkin orang yang meninggal tahun lalu bisa mengangkat teleponku dan bahkan kembali menghubungiku setelahnya.
"Bercanda lo gak banget, apalagi bawa-bawa orang yang udah gak ada."
"Ngomong apa sih? Kamu mabuk?"
Aku berdecak sebal, orang di ujung telepon sangat mirip dengan kekasihku bahkan hingga ke nada bicaranya.
"Haruto udah meninggal tahun lalu."
"Seriously? Bercanda kamu Doyie yang gak lucu."
Aku menjauhkan ponsel dari telinga, beralih ke aplikasi pesan dan langsung mengirim gambar berisi abu dengan nama Haruto di atasnya.
"Liat foto yang gue kirim?"
"2022? Ini masih 2021 Doyie."
Kepalaku seketika pening, hal yang sedang kuhadapi sekarang benar-benar tidak masuk akal.
"I've sent you a pic, as proof kalau aku emang pacarmu."
Ponselku bergetar, aku langsung membuka pesan yang masuk. Dan lagi-lagi dikagetkan dengan bukti kuat kalau orang yang sedang berbincang denganku sekarang adalah Haruto.
Potret kekasihku dengan latar belakang kalender yang ada di kelasnya, wajah Haruto persis dengan dia tahun lalu, bahkan hingga ke potongan rambutnya.
"See?"
"Tapi, gimana bisa?"
"Aku juga gak tau, kamu bilang di sana udah 2022 meanwhile aku di sini masih awal 2021."
Tanpa sadar aku kembali terisak, padahal aku sudah berusaha untuk menjalani hari tanpa Haruto di sisiku setelah kejadian kecelakaan tahun lalu, tapi mengapa semesta seolah berusaha agar aku tetap mengingatnya?
Ini terlalu konyol untuk bisa aku anggap nyata.
"Sayang? Udah jangan nangis ya, lebih baik kita berusaha buat manfaatin situasi ini buat ngobrol banyak. Di foto yang kamu kirim aku liat tanggalnya satu bulan lagi dari sekarang." Nada bicara Haruto terdengar sangat khawatir, ia memang paling tidak bisa melihat aku menangis sendirian.
"Iya." Jawabku singkat, aku benar-benar tidak tahu harus memberi jawaban apa lagi.
"Aku gak tau kalau aku ambil flight ke sana sekarang aku akan ketemu kamu yang ini atau justru Doyie yang gak tau apa-apa. Aku juga udah beli tiket pesawat buat pulang bulan depan."
"Satu hari sebelum tanggal kematian kamu kan?"
"Iya, aku kecelakaan setelah itu?" Haruto bertanya dengan nada ragu.
Aku kembali dipaksa mengingat kejadian yang sangat ingin aku hapus dari memori, "Taksimu ditabrak di depan bandara." Balasku.
"Astaga..."
"Haru, ini beneran kamu kan?" Tanyaku lagi, aku hanya ingin memastikan kalau ini bukan khayalan.
"Doyie, aku bahkan gak tau harus kasih bukti apa lagi buat nunjukin ke kamu. Tapi ini aku, and I'm still alive, you have no idea betapa takutnya aku sekarang. Dan kalo kamu nanya kenapa bisa kaya gini, aku juga gak tau jawabannya. Telfon kamu tiba-tiba masuk ke ponselku, aku juga dengan mudahnya bisa hubungin kamu, I really did nothing Doyie."
Suara berat Haruto terdengar lembut di telingaku, ini suara yang aku rindukan satu tahun belakangan, ini suara yang membuatku mudah terlelap di awal hubungan kita.
"Terus, sekarang kita harus gimana?" Dapat aku dengar Haruto menghembuskan napas berat di sana.
"Kita gak bisa apa-apa selain nunggu saat di mana aku pulang, dan liat apa kejadian di depan bandara bakal terulang lagi atau nggak."
"Aku takut, Haru." Air mataku masih mengalir deras seakan enggan berhenti, kenyataan terlalu menyakitkan untuk dapat aku terima, bagaimana bisa semesta berpikir kalau aku siap kehilangan Haruto untuk kedua kalinya?
"Aku juga sama takutnya, tapi kita beneran gak bisa ngelakuin apa-apa selain nunggu. Atau kita ambil sisi positifnya, mungkin kita bisa memperbaiki banyak hal yang belum selesai dan aku juga dikasih kesempatan buat siap-siap."
"Tapi aku gak mau kehilangan kamu lagi."
"Doyie, banyak hal yang gak bisa kita ubah, takdir salah satunya. Kepergian aku itu takdir, dan kesempatan ngobrol kita sekarang ini juga takdir yang harusnya bisa kita manfaatin. Kita jalanin sama-sama ya?"
Napasku terasa sesak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, aku kemudian mengangguk di sela tangisanku.
"Haru, aku sayang kamu."
"Kamu bahkan gak bisa bayangin seberapa besar rasa sayangku ke kamu."
...
jujur aku rada gak srek nulis buku ini... kayak apa sihh!!! gitu, apa efek libur berhari-hari ya huhu :( kalo ngerasa jelek terus sampe chapter depan kayaknya bakal aku unpub terus pikirin plot lain deh :")
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top