Bab 2- Perasaan

Harapan hanyalah cara bertahan untuk mencintai lebih dalam.
✨✨✨
Hujan!
Vale panik setengah mati. Jika ada yang dibencinya di dunia ini hanya dua; hujan dan gelap. Meski sebagian dari teman-temannya menyukai hujan, menganggapnya romantis tapi bagi Vale itu menakutkan. Jika orang lain menganggap gelap adalah teman untuk mendamaikan hati, Vale menganggapnya sebagai kabut yang bisa menelannya hidup-hidup.
Waktu pulang sudah telat 20 menit yang lalu. Arnold meninggalkannya lagi. Fifi sudah pulang dijemput sopir tadi.
Bodoh!
Tadi mau aja diboncengi Fifi. Kan, nggak usah kejebak ujan kek gini. Terjebak di depan sekolah sendirian! Ya, tidak sendirian juga, sih. Ada beberapa murid lain, tapi mereka seolah menjaga jarak dengannya.
"Waw! Lagi nungguin pangeran, ya," sindiran tajam itu berasal dari seorang cewek di samping Vale. Vale yang melihatnya langsung berdecih. Arin, si rambut maroon tampak tersinggung.
"Ngajak berantem Lo!"
"Iya! Lo takut?" tanya Vale lebih ganas. Dia sudah berkacak pinggang dengan dagu terangkat.
"Lo mau kacamata Lo gue rusak?" tantang Arin ikut nyolot. Kebetulan sekali mereka hanya berdua. Artinya, Arin tampa babunya itu dan Vale tanpa Fifi atau Arnold. Jadi, nggak ada jaim jaiman lagi.
Vale tertawa mengejek. "Lo akan nyesel kalau ngelakuin itu," ujar Vale dengan emosi tertahan.
Mata Arin membesar. Hingga rasanya hampir keluar. "Ohhh, gue takut." Suaranya mendramatisir.
Vale mengangguk. Mencondongkan wajahnya ke depan Arin. "Copot aja!"
Ketika Arin hendak meraih ganggang kacamata Vale suara petir menyambar tiga kali. Di suara ketiga, sebuah asap hitam meledak di depannya. Vale tersentak mundur.
Kepulan asap itu berputar-putar dengan poros tengah yang mengeluarkan cahaya merah kebiruan. Api! Lalu sepasang sayap hitam berkepak pelan dikelilingi api itu. Beberapa detik terlewati, asap hitam itu membentuk tubuh seseorang dengan rambut panjang sepunggung. Dua telinganya memanjang ketara sekali dari belakang.
Ketika sosok itu berbalik, lalu seringainya tercetak jelas. Terlihat kekanakan dan menggemaskan.
"Hai." Sapaan itu sepertinya dibuat akrab, tetapi gagal.
Vale menggeleng pelan. Dadanya berdetak kencang saking terkejutnya.
"Hai, Hai," sapaan dua kali itu dilontarkan makhluk asing di depannya. Dua mata elang yang membingkai wajahnya, berwarna merah seperti darah. Bibirnya sewarna darah dengan dua taring memamerkan diri. Kulitnya pucat sekali.
Cowok itu adalah Hiro. Hari ini tugasnya akan dilaksanakan. Huh! Pendaratannya tadi tidak keren sekali. Yah, walau tanah yang dipijaknya sangat empuk.
Vale mendesah lega. Dilihatnya sekali lagi bahwa sepasang kaki menapak di tanah. Jadi, bukan hantu. "Lo lagi akrobat?" tanya Vale dengan mata memicing.
Senyuman Hiro luntur. "Hah?"
"Atau Lo lagi syuting, ya?" tanya Vale sekali lagi. Kali ini dengan memandangi sekitarnya. Bisa saja ada Kru yang bersembunyi.
"Hah!" Hiro menggaruk tekuknya yang tidak gatal. FYI, dia tau apa itu kru dari kemampuannya menyerap semua bahasa manusia.
"Atau Lo dari sirkus twilight," gumam Vale sambil manggut-manggut.
"Lo ... Lo-"
Bibir Hiro berkatup ketika melihat Vale menaikkan tangannya seraya berdecak.
Wah! Cewek ini! Tidak tahu saja siapa Hiro. Bisa jadi bergedel kalo bola-bola apinya dikeluarkan tadi.
"Udahlah gue mau pulang. Sorry, gue nggak tertarik sama pertujukan menipu gitu. Bye!"
Vale berjalan santai menuju gerbang. Hujan yang entah kapan sudah reda. Menyisakan tetes-tetes yang berjatuhan dari dedaunan. Langkah nya ringan ketika membayangkan akan bertemu Arnold lagi di rumah.
"Kak Arnold, i'm coming!"
Hiro yang berada di belakangnya berdecak takjub. Mengusap bibirnya yang tadi sempat melongo. Cewek itu nggak biasa. Siapa sih yang menolak pesona Hiro? Perlu dipakein kacamata orang ganteng kali, ya. Masa, yang kelewat ganteng kayak dia dicuekin. Pasti nggak pernah tau siapa Mario Maurer.
Hiro menyugar rambutnya.
"Ruby!"
Sebuah kilatan cahaya melesat ke arahnya. Hewan lucu terbang di depannya karena memiliki sayap sewarna dengan bulu; cokelat kemerahan. Hewan itu mengangguk-angguk menunggu perintah tuannya.
"Kita pulang ke rumah," ujar Hiro dengan wajah kesal setengah mati.
Dia mengepakkan sayapnya mengikuti Ruby yang sudah berada di depan. Tiba-tiba bibirnya menyeringai kejam.
"Ini akan menarik," gumamnya misterius. Dia tidak sabar menjalankan rencananya besok. Awas aja, darah Vale akan didapatkannya dengan mudah.
Dari tempat terjatuhnya Hiro tadi, Arin yang merasa ditimpa berton-ton baja langsung pingsan seketika. Memang, ya, Hiro itu tidak perasaan sekali sama orang lain.
🎈🎈🎈
"Kak Arnold!"
Arnold yang dipanggil oleh pemilik suara nyaring itu berhenti. Hapal sekali suara siapa yang memanggilnya. Tiap-tiap kesempatan, selalu saja berada di belakangnya.
"Kak! Vale bawain sarapan," ujar Vale seraya mengulurkan kotak makanan berbentuk hati. Warnanya pink lagi. Ada bulatan-bulatan hijau berbentuk mata. Lengkungan warna hijau yang tengah tersenyum.
Arnold menahan tawa. "Ini apa, Vale?" tanyanya penasaran. Menahan diri untuk tidak tertawa keras sekarang. Apalagi kini mereka jadi pusat perhatian.
"Sarapan. Isinya sandwich bentuknya hati. Vale buat sendiri tadi pagi. Mama bantu dikit doang, kok!" jelas Vale dengan mata berbinar-binar.
Arnold terkekeh. Mengelus kepala Vale lembut. Kotak makanan itu berpindah tangan.
"Gue Simpen dulu, ya," ujar Arnold.
Vale tersenyum kecewa. Senyumnya terbit kembali. "Oh, ya ..."
Arnold memotong. "Gue ada urusan sama Vanya."
"Tapi, ..."
"Arnold!"
Panggilan kencang itu membuat atensi mereka teralih. Vale langsung berang seketika. Vanya berdiri di depan kelas sambil melambaikan tangan. Vale tidak suka senyuman Arnold pada Vanya itu.
"Kakak nggak lupa kan ini hari apa?" tanya Vale menahan lengan Arnold. Tersenyum penuh harap.
Arnold berpikir sejenak. "Hari Senin, kan?"
Vale menggeleng keras. Wajahnya memerah seperti kebakaran. "Nggak. Coba ingat-ingat."
Tiba-tiba Arnold berseru lega. "Akh, hari ini kan gue harus foto buat sampul jurnalis sama Vanya."
Vale mendesah panjang. "Enggak, kak!" tolaknya keras.
Arnold menggaruk tekuknya. Seruan Vanya terdengar lebih kencang. Seolah bertanda kalau mereka sudah telat sekali ke ruang jurnalistik.
"Udah, ya. Gue mau ke ruang jurnalistik dulu."
Vale ingin menahan lebih lama, lidahnya kelu sekali. Dipandanginya punggung Arnold yang semakin menjauh. Senyuman Arnold terasa menusuk hati Vale. Langkah mereka berdua terasa mengejeknya. Vale tidak suka mendengar tawa Arnold yang begitu ringan. Seolah-olah Vale tidak berhak mendengar tawa itu dengan dia sebagai alasannya.
"Hari ini kan peringatan hari tunangan kita, Kak."
Vale menunduk dalam. Bibirnya bergetar. Rasanya dia ingin berteriak kalau mereka lebih dari sekadar pacaran. Bahwa ikatan mereka lebih besar dari sekadar dua orang yang mencintai sekali pun.
Vale ingin sekali berteriak. Memarahi semua orang agar bisa melihatnya lebih jauh. Jika saja ada yang bisa dilakukannya sekarang. Vale ingin merubah hidupnya.
Dia ingin mengerti rasanya bahagia.
-----
Hai, hai.
Jumpa lagi sama Hiro.
Hiro yang songong tapi ngemesin. Ada yang tau nggak aku nulisnya sambil dengerin lagunya siap? Wkwkwk
Selamat membaca.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top