Prolog

Satu cerita baru dimunculkan bersamaan dengan mengedit AORTA karena mengikuti parade menulis di Pena Nahwa Publisher... Yuk silakan tekan bintang dan jangan lupa membacanya di FB pena nahwa yaaa... makasih..



Gempuran Israel ke Palestina, berita yang tidak pernah ada habisnya dari masa ke masa. Rasanya belum kering air mata yang menetes kemarin, sekarang sudah terjadi lagi. Mayat bergelimpangan seperti nyawa tak lagi ada harganya. Sementara itu banyak jeritan anak-anak kecil yang mengharap uluran tangan. Ketakutan dan kelaparan menjadi problem berikutnya.

Sisi manusiawi mulai bergerak seirama dengan hati yang terus melafazkan doa terbaik, meminta perlindungan dari sebaik-baiknya perlindungan. Allah tidak pernah tidur, tapi manusia juga tidak bisa berpangku tangan hanya merasa kasihan tanpa berbuat sesuatu untuk mereka. Saudara-saudara seiman di Palestina yang sangat membutuhkan pertolongan.

Pendaftaran relawan dari Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia pun telah dibuka. Ketika sebuah nama tercantum dalam deretan anggota relawan yang akan berangkat dalam minggu ini, sebuah keluarga di pesisir pantai selatan Jawa sedang berbicara dengan sangat serius.

"Mas yakin dengan keputusan itu?" tanya Aqila dengan wajah bias.

"Lihatlah air mata mereka, Sayang. Sebagai seorang muslim, hati suamimu ini terketuk untuk membantu mereka." Rendra menatap Aqila teduh.

"Tapi di sana sangat berbahaya, Mas. Qila takut terjadi sesuatu dengan Mas Rendra selama menjadi relawan di Palestina." Aqila memilih untuk menggelendot manja ke tubuh suaminya. Hatinya belum sepenuhnya rela, tapi melihat air mata yang tertumpah di bumi Palestina rasanya tidak adil jika dia menolak keinginan Rendra.

Rendra tersenyum lembut sembari mengusap kepala Aqila. "Ini bukan hanya tentang hablun minannas, Sayang. Ini juga tentang kaidah jihad seorang muslim. Bukankah kamu seringkali mendengar cerita bagaimana dulu seorang laki-laki wajib berperang untuk menegakkan agama Allah?"

"Iya, Mas, masalahnya sekarang Qila sedang mengandung. Bagaimana nanti kalau anak kita lahir tapi Mas Rendra belum kembali ke Indonesia?" Aqila kembali menegakkan tubuhnya.

Perutnya sudah mulai kelihatan membuncit. Usia kandungan yang sudah memasuki minggu ke-12 membuatnya ingin bermanja lebih pada sang suami. Namun, sepertinya Rendra memiliki pemikiran yang berbeda.

"Paling lama aku hanya sampai empat bulan di sana. InsyaAllah ketika Rendra junior lahir, aku sudah ada di sini lagi bersama kalian." Rendra mengecup pucuk kepala Aqila dengan lembut.

Aqila menatap Rendra dalam-dalam. Air matanya sudah menyeruak keluar. Dia tidak bisa membohongi hatinya terlalu lama. Lebih baik memperlihatkan kejujuran itu di depan suaminya daripada nanti justru semakin membelenggu hatinya dalam kesedihan yang tak memiliki ujung.

"Kenapa menangis, hmm?" Rendra tersenyum mengusap air mata Aqila.

Aqila menggelengkan kepalanya. Dia tidak lagi memiliki kata untuk beradu pendapat dengan suaminya. Calon ibu itu sepenuhnya tahu bahwa niat suaminya adalah kebaikan yang nanti akan mendapatkan balasan yang sesuai di hari akhir dari Allah.

"Kita sama-sama berdoa ya?" Rendra kembali mencium kening Aqila. "Hidup, mati, jodoh dan takdir seseorang itu sudah tertulis di lauhulmahfuz 50.000 tahun sebelum semesta tercipta. Jadi jangan pernah takut akan ketetapan Allah untuk kita."

Rendra menundukkan kepalanya. Membacakan doa, mencium perut buncit Aqila lalu membelainya dengan kasih sayang.

"Jangan nakal bersama Umma di dalam, Nak. Baba selalu sayang kalian meski kita akan beradu jarak untuk sementara waktu."

Tangan Aqila akhirnya tergerak untuk membubuhkan tanda tangan. Persetujuan keberangkatan Rendra sebagai relawan ke Palestina selama empat bulan kedepan.

"Aku tinggalkan toko kelontong kita sebagai nafkah selama aku tidak ada di sisi kalian." Rendra kembali memeluk Aqila dan menghujaninya dengan ciuman setelah berulang kali dia mengatakan terima kasih atas keikhlasan sang istri.

Tentang penjagaan, Aqila menyerahkan Rendra sepenuhnya kepada Allah. Jaminan yang sesungguhnya, bukan? Dialah sebaik-baiknya penjaga semesta beserta isinya.¤

Blitar, 03 November 2023

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top