Devil Inside

"Aakash Mahaputra, dengan ini, kuperintahkan untuk berhenti menyeretku seenaknya! Kalau terus begini, harusnya kulaporkan Killua saja biar jantungmu diambil!" Baru menyelesaikan perkataannya, bokong Melva sudah mendarat di atas permukaan lantai lorong dengan tidak estetiknya. Melva mengaduh sambil menepuk-nepuk bagian belakang roknya. Sial, mestinya Melva sudah belajar dari pengalaman kemarin. Pembantingan semacam ini harusnya sudah dapat diprediksinya sejak awal. Hal paling memyebalkannya adalah begitu mendapati si pelaku justru malah sudah berlalu meninggalkannya begitu saja. "Asem! Tanggung jawab, dong!"
Aakash berjalan lurus dan konstan, tak mengurangi kecepatannya sedikit pun. Aakash berhitung dalam hati. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Sesuai dugaan, pada detik ketujuh, gadis minimalis itu akan menyusulnya dengan susah payah, tetap tidak ingin ditinggalkan.
Di sampingnya, Melva menyilangkan kedua tangan di depan dada, memasang wajah paling kesal. Sudahlah. Memperdebatkan kelakuan laknat Aakash tidak akan pernah ada ujungnya. Bebal. Hal semacam itulah yang justru menjadi hal normal bagi manusia abnormal seperti Aakash. Daripada memikirkannya sampai stres, Melva memilih untuk bertanya, "Eh, kau tidak mempertanyakan alibi Mister Jen, barusan?"
"Keamanan sekolah sudah memastikan kepulangan Mister Jen, tepat sebelum pukul enam sore. Dan ia berkata, tidak melihat Pilar lagi sehabis itu. Mister Jen mengira Pilar sudah pulang lebih dulu."
Melva mengelus-elus dagu. "Bagaimana menurutmu tentang Zea?"
Aakash memainkan lidahnya di dalam mulut, berpikir sejenak. Benaknya kembali diisi kedua mata suram itu. Tatapan kosong, lingkaran gelap di kantung matanya, juga jejak-jejak air mata. Aakash mengangkat bahu sekilas. "Entahlah. Aku tidak berpikir seorang pelaku akan menjalankan aksinya dalam keadaan seberantakan itu."
Serta-merta, alis Melva mengerut dalam. Belum sempat mengajukan pertanyaan selanjutnya, Melva sudah diinterupsi teriakan seseorang yang memanggil namanya dari belakang punggung. Melva menoleh, dan Aakash refleks menghentikan langkahnya. Tampaklah seorang siswi berseragam olahraga dengan bola basket di tangan. "Eh?"
"Maaf belum memperkenalkan diri dengan baik. Kau ingat aku? Sabrina, teman sekelasmu yang jago basket," selorohnya dengan bangga. Kemudian, Sabrina melanjutkan perkataannya dengan bisikan, "Doakan tahun depan aku yang akan menjadi kapten basket putrinya."
Melva terkikik pelan. Baiklah, Melva cukup mengingatnya. Seorang gadis dengan rambut terikat yang selalu tampak asyik memutar-mutar bola basket di ujung jari telunjuknya saat hari pertama Melva masuk. "Ada apa?"
"Uhm, anu ... sebenarnya, ini cukup bersifat privasi. Kau hebat sekali bisa meraih nilai Kimia tertinggi dari satu angkatan, Melva!" Sejenak, Sabrina menengok ke sana kemari, memastikan tidak ada orang tak diinginkan, dengan tidak memedulikan eksistensi Aakash yang masih berada dalam jangkauan pendengaran. Sabrina berkata lirih, "Mengenai tugas Kimia untuk minggu depan, boleh beritahu aku?"
"Hah?" Melva terkejut dengan topik pembicaraan yang menikung tajam.
"Oh, tidak apa. Ajari saja, oke? Asal kau tahu, Kimia ini punya dendam kesumat padaku. Sedari dulu, selalu saja tidak pernah bisa mengertikan aku. Ya, ya. Boleh, ya? Aku yakin, nilaiku bisa jauh lebih baik kalau Melva yang menjelaskan."
"Ah, aku bukan tutor yang baik, sebenarnya. Sejak SD, orang-orang mengaku semakin frustrasi setelah aku menjelaskan ulang materi." Senyuman Melva merekah lebar. "Tapi oke! Mau kapan? Nanti malam, lewat WhatsApp? Atau secara langsung saja?"
"Besok, bagaimana? Hari Kamis, aku tidak ada jadwal latihan basket."
"Deal!" seru Melva. "Pulang sekolah, ya."
Mendadak saja, Sabrina sudah menghambur untuk menarik Melva dalam pelukannya. Masih dengan sebelah tangan yang menggenggam bola basket. Lama kelamaan, Melva mulai curiga bola basket itu sudah ditempeli lem yang membuatnya tidak pernah lepas dari tangan Sabrina. "Terima kasih banyak, Melva! Aku padamu! Nanti, kalau ...." Kalimat Sabrina terputus oleh denging speaker dari infokom yang baru saja dinyalakan seseorang.
"Mohon menjadi perhatian. Kepada seluruh siswa kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas, harap semuanya segera meninggalkan kawasan sekolah saat ini juga. Seluruh kegiatan di sekolah dibubarkan. Baik itu ekstrakurikuler, maupun organisasi."
Demi mendengarnya, Sabrina melepaskan pelukannya. "Apa!" Jika tidak mengingat situasi, mungkin saja Sabrina sudah melempar bola basketnya agar mengenai speaker sampai rusak tak berbentuk. "Oi, yang benar saja. Sebentar lagi ada turnamen! Belum lagi latih tanding dengan sekolahan sebelah."
Sabrina sibuk mencak-mencak sementara Melva mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tampaknya, kabar pembunuhan di toilet perempuan belum tersebar begitu luas. Sabrina saja terlihat masih sangat santai, tidak panik sedikit pun. Aakash sudah mengambil gestur untuk lanjut melangkah. Mungkin sebaiknya, Melva juga lekas kembali ke rumah. Di mana Aga, Sang Mata Traktiran itu? Apakah masih asyik-asyikan makan enak di warung Mang Dod? Dalam pencariannya, mata Melva justru menangkap hal lain di dekat mading. Sebuah sepeda motor terparkir di sana, sangat mencolok perhatian mengingat kebarbaran pemiliknya yang masa bodoh terhadap peraturan dengan menyimpannya di sembarang tempat. Menyeramkan. Kunci motormu bisa disita tiga hari sebagai sanksinya. Akan tetapi, dibandingkan bersimpati terhadap nasib pemiliknya, Melva justru lebih tertarik pada bagian belakang motornya. "Aakash! Aakash! Aku ... menemukan 1607!"
Aakash mengikuti arah yang ditunjuk Melva. Plat nomor. 1607.
"Eh? Itu motornya Moren. Kenapa?" tanya Sabrina begitu menyembulkan kepalanya dari balik punggung Melva.
Merasa tertarik, Melva kembali menghadap Sabrina. "Moren?"
"Teman sekelasku di SD. Parah. Kau tahu? Dia itu sudah dicap berandalan sejak dini, bahkan jauh sebelum dunia teenfiction Wattpad meramaikan karakter bad boy dan semacamnya." Sabrina mendribel bola basketnya singkat, lalu melambaikan tangan. "Aku akan pulang sekarang. Kelihatannya Pak Uzaz dan Mister Dalmas sedang berpatroli untuk memulangkan murid di lantai dua. Kau juga cepat pulang, ya. Eh, itu Moren yang baru kita bicarakan! Barangkali kau ada perlu dengannya. Haha, lihatlah. Sekarang dia tampak sedang diceramahi Pak Uzaz. Tertebak, sudah pasti pelanggaran. Apa lagi yang ia selundupkan di tasnya? Rokok? Vape? Majalah porno? Benar-benar jiwa bad boy sejati."
Sabrina pergi dengan gelak tawa. Sedangkan Melva melirik Aakash yang sedang menatap tajam interaksi di dekat tangga lantai dua. "Kenapa?"
Aakash berkedip. "Tidak. Hanya saja ... di situasi segenting ini, Pak Uzaz dan Mister Dalmas tidak akan repot-repot mengurusi berandalan hanya karena membawa barang semacam itu."
Frekuensi detakan jantung Melva meningkat. "Kalau begitu?"
"Sesuatu yang jauh lebih mendesak. Misalnya ... petunjuk kasus?"
Melva menelan ludahnya dengan susah payah begitu mendengar hipotesis Aakash. "Tunggu, Aakash. Aku belum juga mengerti. Bukankah kau sendiri yang bilang, pelaku kasus pembunuhan ini adalah BlackHiss, organisasi gelap yang kita buntuti saat itu?"
"Memang benar. Tanpa kita laporkan pun, BlackHiss memang sudah menjadi buronan kepolisian sejak dulu. Pertanyaan yang belum terungkap ini hanyalah tentang siapa yang berperan sebagai dalang dari keseluruhan kasusnya. Seorang informan yang menyukseskan misi BlackHiss. Dan kemungkinannya, masih termasuk warga Persatas, dengan motif dan bukti yang belum terkuak. Dan ... aku tidak berpikir pembunuhan ini hanya akan selesai sampai di sini."
Bulu kuduk Melva sempurna berjengit. "Maksudmu, akan ada ... korban selanjutnya?" Parah. Melva masih tak habis pikir, Aakash santai sekali saat mengatakannya.
"Kemungkinan besar," tambah Aakash. Tangannya merogoh kunci motor dari saku, lalu memainkannya dengan lempar-tangkap berulang-ulang. "The boss is still invisible. Dia atau mereka, akan berbaur dengan sesama. Boleh jadi ternyata musuh jauh atau sahabat dekatmu. Semua punya probabilitas yang sama untuk menjadi pelaku. Jadi, jangan sembarang percaya. Termasuk padaku sekalipun."
Hei, hei. Apa-apaan itu? Belum sempat Melva menyatakan keberatannya, tiba-tiba saja seorang lelaki menghadang jalan keduanya yang sudah sampai di tempat parkir. Melva mengerutkan dahi. Kenan? Garis wajah Si Tukang Cari Ribut itu masih tersimpan dalam ingatannya. Tentu. Bagaimana bisa Melva melupakan seorang anak random yang gabut maksimal untuk bermain-main dengan Melva di hari pertamanya masuk sekolah?
"Heiyow, apa kabar?" sapa Kenan dengan pose sok kerennya yang bersandar di tiang tempat parkir dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Setelah itu, Kenan melangkah mendekati Aakash. "Oh, tidak, tidak. Aku tidak menanyai kabarmu. Aku bertanya pada mereka, monster yang hidup dalam kepalamu."
Tidak ada respon. Aakash hanya menatap tanpa minat.
Kenan tersenyum miring dengan kedua mata sipitnya yang menusuk. Tepat di telinga Aakash, Kenan bertanya, "Bagaimana? Bagaimana rasanya? Katakan padaku! Sensasi menggelora yang beredar di pembuluh nadimu begitu melihat genangan darah di depan mata ... bagaimana? Menyenangkan, bukan?" Kenan mengalungkan tangan kirinya pada bahu Aakash, masih tersenyum iblis. "Ceritakan semuanya pada teman perempuan di sampingmu itu, Aakash. Melepaskan salah satu monster dalam dirimu bukanlah suatu masalah besar. Biarkan dia melihatnya! Tunjukkan, Aakash! Ketika jantung yang masih berdetak itu disuruh menyapa oksigen secara langsung di udara luar. Bukankah kau sangat menikmatinya?"
Tubuh mungil Melva menyempil di antara Aakash dan Kenan. Gadis itu berusaha keras melepaskan rangkulan tipu daya Kenan. "Apa maksudmu?" Melva sudah mengepalkan tangan.
Akan tetapi, tinjunya mengambang di udara. Aakash menahan lengan Melva, lalu memitingnya. Dengan aura suramnya, Aakash berbisik tajam, "Mau bertingkah? Ho, jangan memaksaku untuk mematahkan lengan ini."
Tidak, tidak. Melva tidak pernah terpengaruhi berbagai ancaman seklise itu. Melva tidak peduli meskipun Aakash memang mampu dan benar-benar berniat melakukannya. Akan tetapi, tatapan Aakash jauh berbeda dari biasanya. Melva menelan ludah. Menyerang dengan tinju seperti tadi itu bukanlah kebiasaan Melva. Sekali lagi, ditatapnya kepalan tangan di udara. Spontanitas. Melva hanya terlalu takut untuk menerima kenyataan ... tentang perkataan Kenan yang cukup membuat pikirannya tak keruan. Melva benci situasi di mana benaknya kalut oleh berbagai kemungkinan, dan tak kunjung berujung di pelabuhan jawaban.
Perlahan, tangan Melva turun. Terdengar suara sirene dari kejauhan. Kericuhan yang terjadi di sekitar tempat parkir itu sukses menarik perhatian ketiganya. Polisi telah tiba, lalu Kenan melangkah pergi, berbaur bersama kerumunan siswa yang masih dalam keadaan bertanya-tanya.
Melva tersentak. "Ah ... ya. Aku harus segera menemui Aga lalu kembali ke rumah. Dia pasti sedang enak-enakan saat ini. Mi ayam Mang Dod dengan sambalnya yang nendang itu? Sial. Kalau tidak segera kuseret, bisa ludes dompetku. Jaa ne! Kau juga cepatlah pulang, sebelum benar-benar diusir Pak Uzaz dan Mister Dalmas, huft, kombo yang mantap, memang."
Tanpa mengharap sedikit pun balasan dari Aakash—karena memang jelas-jelas tidak akan pernah dilakukan seorang Papan Tripleks Berjalan sepertinya—Melva berlalu sambil melambaikan tangan. Food court adalah tujuannya. Belum juga sampai, dalam benak Melva sudah tergambar wajah tengil nan menyebalkannya seorang Aga yang puas lahir batin sudah dapat traktiran makan. Rasanya Melva ingin menyumpahi mulutnya yang malah menjanjikan hal semacam itu pada Aga. Tanpa mengingat kelakuan Aga sebelum seminggu ini saja, Melva sudah mafhum betul tentang betapa boros pakannya makhluk satu ini. Orang sini menyebutnya Japar, akronim dari Jahat Parab.
Di koridor dekat ruang pramuka yang kini dialihfungsikan menjadi gudang, ponsel di saku Melva bergetar panjang. Oh, barangkali Aga menelepon. Melva menghidupkan layar. Akan tetapi, alih-alih lockscreen Kageyama Tobio yang terlihat keren dengan seragam volinya, yang muncul di screen-nya justru potret seorang pria berambut ikal hitam. Jelas saja Melva mengenalinya. Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam series Harry Potter: Sirius Black. Akan tetapi, di layar gawai Melva tertera tulisan yang cukup menarik atensi sekaligus kerutan di dahinya.

SIRIUSly WHITE.
Maksudnya ... ini pelesetan? Meme? Tunggu, Melva tidak pernah memasang layar kunci seperti ini, sebelumnya. Telunjuk Melva menyentuh sensor fingerprint di bagian punggung ponsel. Tidak terekam. Melva menggeser layar. Tidak ada reaksi atau perubahan sedikit pun. Tombol password itu tidak muncul. Melva menggoyangkan handphone, meskipun ia sendiri tahu bahwa itu adalah hal yang tidak ada gunanya. Layarnya benar-benar membeku.
Tak lama, getaran singkat merambat. Screen ponsel berubah gelap. Lantas, muncullah merek pengusaha telepon genggam dari Cina itu. Lockscreen Melva telah kembali seperti semula.

Melva mengerjap bingung. Ya sudahlah. Sambil meneruskan langkah yang sempat tertunda, Melva mengecek bar notifikasi. Tidak ada yang menghubunginya. Ah, tentu saja. Seorang Aga mana mungkin repot-repot berhenti makan gratis selama perut karetnya belum meledak. Kalau tidak segera dihentikan, Aga bisa membuatnya bangkrut total! Melva mengklik tombol panggilan. Calling ... Kelabang Kaneki.
Panggilan terhubung. "Ah, apes! Bagaimana bisa aku tak sengaja malah mengangkatnya di saat tanganku sibuk memburu upil!"
Mata Melva melotot. "Apa! Kau berniat pura-pura tak mendengar teleponku? Amboi, setelah uang jajanku kau gunakan demi kepentingan perutmu seorang, hah! Aku tidak akan membayarnya! Aku akan langsung pulang dan nebeng Aakash saja!"
"Aaaaaa!" Jeritan yang dipenuhi syok mendalam itu menembus jarak dan menusuk telinga Melva. "Ampun, ampun! Aku masih uwu bareng Mang Dod, nih. Kemarilah! Dari tadi, aku sudah menantikan panggilan cinta darimu, Sayang."
"Sayang? Kepalamu peang! Dasar, manusia purba!"
Tut. Melva mengakhiri teleponnya sesegera mungkin. Akhirnya, Melva menemukan sosok yang sudah tergeletak teler dengan tumpukan mangkuk di atas mejanya. "AhoGA! Kau sudah pesan berapa porsi, sampai mejanya bersih seperti ini!"
Mendapati tangan Melva yang sudah siap menciptakan tabokan cinta di pipi Aga, sontak saja lelaki itu melonjak untuk mengelak. "Ih, tangan Melva banyak sambalnya! Belepotan!"
"Hah?" Melva mengamati kedua tangannya. Ternyata, benar saja. Cairan merah hasil cabe yang ditumbuk halus itu mencoreng bagian punggung tangannya. Sejak kapan? Melva lekas menggapai kotak tisu di dekat meja utama yang sering digunakan sebagai tempat memesan, meja kekuasaan Dod. Karena fokusnya yang terbagi, Melva malah menjatuhkan kotaknya. Penutupnya terbuka. Lembaran tipis berwarna putih itu berhamburan di lantai. Melva bersiap memungut salah satunya. Namun, ini bukanlah tisu. Ini ... kertas HVS yang digunting kotak-kotak kecil. Daripada itu, ada yang jauh lebih mencolok di balik timbunan kertas. Ada selembar karton kasar berwarna cokelat kusam yang dilipat.
Mendapati Melva yang tak kunjung kembali, masih dengan tampang mager dan apatisnya, Aakash berteriak, "Ah, Mang Dod bilang stok persediaan tisu sedang habis. Cuci saja dengan wastafel di sana."
Tanpa berniat angkat suara, Melva membuka lipatan karton, lantas tertegun membaca tulisan yang tertera. Detik berikutnya, Melva sudah melesat kembali ke tempat parkir. Tak peduli pada Aga yang berkali-kali memanggilnya dengan keheranan.
• • •
Well, semakin sini semakin terasa anu'-'
Aku deg-degan parah mau publish chapter ini. Soalnya tiap disisipin gambar di tengah-tengah tu suka bikin error:') Kalo pas baca ada yang anu, kasih tau aku, ya!
•
[Devil Inside]
History Track
Officially published on Thursday, March 4th, 2021
Akan diupdate setiap hari Kamis dan Minggu
-wanderspace-
—your.dreamspace—
•
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top