Langit ~ 22
Aku tersenyum saat keluar dari kamar mandi bersama Desember. Kami berdua mandi bersama pagi ini. Awalnya dia tidak mau, tapi aku langsung saja menyelonong masuk ke dalam saat dia mau menutup pintu. Niat sih ingin mandi, namun begitu melihat Desember menyabuni tubuh polosnya. Imanku mendadak runtuh dan akhirnya aku mengajaknya untuk desah-desahan lagi.
Bercinta di dalam kamar mandi bersama dengan istri sendiri, itu rasanya sungguh luar biasa mantap. Di sana, aku bisa mendengar desahan dan teriakan Desember tanpa perlu takut ketahuan orang rumah. Sepertinya aku dan Desember harus punya tempat tinggal sendiri, mengontrak di rumah kecil juga tak apa-apa. Supaya kami berdua bisa mandiri dan bebas mau melakukan apapun.
"Des, kamu mau kan kalau kita berdua tinggal di rumah kontrakan?" Tanyaku sambil berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil baju dinasku.
"Mau ngontrak di mana?" Dia bertanya balik.
"Di dekat kantor aku ada ruko yang dikontrakkan. Kalau kamu mau, biar aku bilangin ke orangnya nanti," Kataku seraya membuka handuk dipinggul dan menggantinya dengan pakaian kerja.
Desember menunduk malu saat melihatku berganti pakaian. Dia kenapa coba? Kayak nggak pernah lihat aku telanjang saja. Masih malu kucing, padahal dia sudah tahu betul bagaimana bentuk dan rasa dari setiap tubuhku. Bahkan kami sudah 3 kali melakukannya. "Kamu mau atau tidak Des?" Tanyaku lagi.
"Aku mau Mas, tapi tempat itu terlalu jauh. Apa tidak ada kontrakan yang dekat dengan kampung kita? Supaya aku bisa sering berkunjung ke rumah Bapak," Jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
Ah, aku lupa kalau dia tidak bisa jauh dari Bapak dan adiknya. "Di sini nggak ada tempat yang mau dikontrakkan. Kebanyakan lahan sawah, Des."
"Kalau begitu tidak usah Mas, kita di sini saja. Lagian setelah bayi ini lahir, kita kan mau bercerai. Jadi sayang uang kontraknya nanti."
Cerai? Oh sial! Dia masih ingat dengan ucapanku yang dulu. Perkataan itu keluar di saat aku lagi emosi. Dan aku tidak sungguh untuk hal itu. Aku tidak mau menceraikannya. Aku mau Desember tetap menjadi istriku, yang akan melahirkan anak-anak kami nantinya.
Selesai berpakaian, aku menghampiri Desember yang duduk di atas ranjang. Dia mengeringkan rambut panjangnya yang basah karena habis keramas tadi dengan tubuh yang masih terbalut handuk.
"Aku tidak mau kita bercerai," Kataku dengan duduk di sampingnya. Lalu ku kecup bahu nya yang masih basah dari tetesan rambutnya. Aroma shampoo dari rambutnya begitu menggoda, padahal dia hanya memakai shampoo biasa yang dijual di kedai.
"Mas Langit," Desahnya saat bibirku mengecup lehernya serta tangan kananku meremas dadanya yang masih tertutupi handuk.
"Kenapa Des?" Tanyaku sambil menggigit cuping telinganya.
"Jangan lagi, aku benar-benar lelah." Tangannya menahan tanganku untuk tidak nakal lagi.
"Oh ya?" Tanyaku memastikan.
Desember mengangguk pelan dengan mata terpejam. "Kita sudah tiga kali melakukannya. Tadi malam, subuh dan barusan di kamar mandi."
Aku tersenyum dan menarik diri untuk menjauh darinya. "Baiklah, terimakasih sudah mengingatkanku."
"Mas sudah berpakaian lengkap, kenapa tidak keluar kamar dulu? Aku mau memakai baju juga."
"Kalau aku tidak mau keluar memangnya kenapa? Kamu kan istriku, jadi tidak masalah jika aku melihatmu berganti baju."
"Tapi aku malu."
"Astaga Des, kita sudah tiga kali bercinta dengan berbagai posisi. Dan sekarang kamu masih malu hanya untuk berganti baju?" Tanyaku heran.
Dia menutup mulutku dengan satu tangannya. "Jangan kuat ngomongnya Mas, kalau bang Pramuda dengar gimana?" Tanyanya khawatir.
"Biarin saja, biar dia cepat menikah. Sekarang mana pakaianmu? Biar aku bantu memakaikannya."
"Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri," Tolaknya cepat sambil menyembunyikan pakaiannya dariku.
"Udah sini." Aku mengambilnya paksa. "Kamu jangan malu lagi, aku kan udah lihat semuanya."
"Tapi... nanti Mas minta begituan lagi," Cicitnya pelan.
"Enggak. Aku kan harus ke kantor juga."
Terdengar suara helaan nafasnya. Kemudian dia membuka handuk putih itu dari tubuhnya. Demi Tuhan, aku ini adalah pria brengsek. Jangankan nonton bokep, aku bahkan sudah sering melihat bagian dada dari semua mantan kekasihku. Tapi tubuh istriku jauh lebih menggoda dari mereka semua. Kulitnya tidak seputih Naomi. Kulit Desember bewarna kuning langsat.
Biasanya aku suka perempuan berkulit putih karena tampak bersih dan seksi. Tapi kali ini semua kriteria impianku itu, sudah tidak berlaku lagi semenjak melihat tubuh istriku.
"Besok aku pergi ke bandung selama tiga hari. Ada tugas dari kantor," Kataku sambil mengaitkan bra hitam miliknya di punggung belakang.
"Jo ikut pergi juga?"
Dahiku berkerut. Kenapa dia menanyakan Jonathan? Bikin bad mood saja. "Memangnya kenapa kalau Jo tidak ikut? Kamu mau selingkuh dengan dia? Gitu? Sayang sekali Des, dia juga ikut ditugaskan ke Bandung. Jadi jangan bermimpi bisa berduaan dengannya!"
"Kan aku hanya bertanya, kenapa Mas jadi sewot begitu?"
Aku berdecak kesal melihat ekspresinya yang bertanya seolah tanpa dosa. "Pria manapun akan sewot seperti aku, kalau punya istri kayak kamu! Sumpah ya Des, kamu pintar banget bikin aku darah tinggi."
"Yaudah kita sarapan pagi saja, biar Mas nggak darah tinggi lagi." Dia pun memakai baju dan celananya.
"Mana ponsel kamu?"
"Untuk apa?"
"Aku mau lihat, nggak boleh?" Tanyaku sensitif.
Dia menatapku sesaat dan akhirnya mengambil ponselnya untukku. "Mulai sekarang, kamu pakai ponsel sama kartu punya aku saja. Ponsel kamu ini udah model lama, jelek lagi. Ibaratnya Hp kamu ini kalau ngelempar anjing, pasti langsung mati."
Desember melotot menatapku. "Udah nggak usah melotot kayak gitu. Aku berbicara sesuai dengan kenyataannya," Ucapku lagi seraya memberikan ponselku padanya.
"Ponselku tidak seburuk itu," Balasnya.
Bodo amat! Yang penting dia nggak bisa berkomunikasi lagi sama Jo. "Nanti kita bisa video call pakai ponsel ini."
"Oh...." Gumamnya sambil menatap ponsel itu. "Kalau ini untuk aku, terus punya mas Langit mana?"
"Ponsel aku ada dua, jadi nggak masalah."
Dia mengangguk pelan. "Aku harus bayar berapa?"
"Itu gratis untuk kamu. Berhubung kamu udah jadi istri aku, otomatis kamu adalah tanggunganku. Jadi setiap bulan nanti, aku akan kasih setengah gaji aku ke kamu secara tunai. Gaji dan tabunganku sudah lumayan banyak, soalnya di masa lajang aku tidak terlalu boros dan tidak merokok. Jadi, cukuplah untuk sekolahin anak kita jadi pilot, dokter ataupun arsitek nantinya."
"Enggak usah, Mas nggak perlu kasih uang ke aku."
"Jangan menolak Des. Aku tahu kamu adalah tulang punggung di keluarga. Menikah denganku, otomatis kamu berhenti bekerja dan tidak mendapatkan uang lagi. Maka nya kamu pakai uang yang aku berikan saja."
"Tapi kita akan terlihat seperti suami istri sungguhan. Bukannya kita mau bercerai?"
Aku benci mendengar kata cerai keluar dari bibirnya itu. Kedua tanganku menangkup wajahnya dan ku cium bibirnya yang menjadi canduku. Kuhisap dan kugigit bibirnya. Dia meringis dan menarik diri untuk menatapku.
"Sakit Mas," Protesnya sambil menyentuh bibir bawah yang kugigit tadi. Aku tidak peduli dan kembali menciumnya dengan kasar. Aku ingin dia tahu kalau aku sedang marah padanya saat ini.
Dia menutup bibirnya dan berusaha menghindar dari ciumanku. Tapi aku pun terus memaksa sampai akhirnya dia menyerah dan membiarkan aku menciumnya.
Dia menangis, aku dapat merasakan cairan asin dari air matanya dibibirku. Tanganku memeluk pinggangnya untuk mendekap ke arahku. Kali ini aku menciumnya dengan lembut. Perlahan-lahan dia berhenti menangis dan membalas ciumanku.
Setelah puas, aku melepaskan ciuman kami. "Kita tidak akan bercerai, kamu dengar itu Des? Kalau perlu, aku akan membuatmu hamil setiap tahunnya supaya kita tidak bisa bercerai!"
Dia menunduk dan tak berani menatapku. Tubuhnya tampak bergetar karena takut kepadaku. "Jangan coba menantangku dan jangan pancing emosiku. Aku tidak suka!" Ucapku lagi dengan penuh penekanan. Setelah itu aku keluar dari dalam kamar meninggalkannya yang kembali menangis.
30-Desember-2016

Sampai ketemu mbak Desember dan bang Langit tahun 2017.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top