Chapter 5 : Cat

Angelo's PoV

Hari kedua di SMA Seretie. Aku menghirup napas panjang begitu sampainya di lingkungan sekolah menyegarkan ini. Matahari tampak muncul dari arah timur. Langit biru menggambarkan betapa cerahnya langit pagi.

Aku melangkahkan kaki penuh kebahagiaan tanpa beban. Namun, kakiku berhenti melangkah begitu aku teringat pesan Line yang Aya berikan padaku.

Aku pernah bertemu dengannya di sekolah. Aku memberitahukan nama lengkapku. Aku merasa kesal saat dia tahu id line ku tanpa seizin pemilik. Aku pun tenang ketika tahu cewek bernama Aya itu adalah orang yang baik-baik.

Mau bertemu dengannya, tapi aku tidak tahu bagaimana wajah cewek bernama Aya itu. Soalnya, kontak Line dia tidak ada foto profil yang dapat berguna untuk melihat wajah kontak yang kita ajak mengobrol.

Mungkin aku akan meminta satu fotonya di Line. Lalu, aku pun tahu bagaimana wajahnya nanti. Dengan begitu, aku dapat menemukan yang mana cewek bernama Aya Angelica.

Koridor sekolah yang ramai oleh siswa-siswi yang berdiri mengisi termasuk diriku melewati beberapa koridor dan sampai di depan pintu kelas. Aku ingin membuka pintu, tapi aku mengarahkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Melihat pintu ruangan sebelah pintu kelasku.

Seharusnya, kelas Hitam tidak jauh dari sini. Aku jadi penarasan, kenapa harus membuat kelas Hitam? Jas putih? Hanya memuat beberapa orang? Ketiga faktor itu membuatku ingin mencari tahu sesuatu. Letak di mana kelas Hitam diadakan.

Aku tidak jadi masuk ke dalam kelasku. Memilih berpetualang mencari kelas Hitam yang terkenal akan siswanya yang di dalam. Cewek. Kelas Hitam itu berisikan cewek semua. Setahuku, begitu yang Zezen pernah ceritakan padaku.

Sepanjang lorong yang kulewati, tak ada ruangan yang bernamakan kelas Hitam. Aneh, kan? Seharusnya ada. Tapi di mana? Kelas yang misterius.

"Meong."

Ada suara kucing. Eh, gawat. Aku kan alergi kucing. Padahal aku suka sekali dengan kucing. Aku celingak-celinguk mencari keberadaan kucing itu. Tidak lama aku mencari, mataku melihat seekor kucing hitam bermata kuning garis hitam yang menggemaskan sekali.

Hidup kucing itu mudah sekali. Langsung masuk, dia sudah diterima menjadi penghuni sekolah ber-AC ini. Kucing pun membawa untung sekolah ini dan siswa-siswinya. Huh. Kenapa aku ditakdirkan alergi kucing? Kejam.

Kucing itu berjalan menjauh ketika aku sedang mendekatinya. Kuputuskan untuk mengikutinya sampai titik akhirnya dia berhenti. Tunggu. Di mana aku sekarang?

Lapangan basket. Aku tidak pernah berkunjung ke sini. Tapi, kenapa sepi? Harusnya ada beberapa anak cowok maniak basket yang bermain. Tidak ada manusia satu pun selain diriku. Karena kucing hitam itu, aku sampai di lapangan basket ini. Di mana kucing tadi?

"Poula! Dari mana saja kau?"

Ada suara cewek. Kepalaku mengarahkan ke sekitarku mencari sosok dari suara tadi. Dan kulihat, aku menemukannya di atas kursi para penonton yang juga tidak ada yang duduk selain cewek berambut sebahu keriting itu.

Dia memakai jas putih. Aku bertemu dengan anak kelas Hitam lagi.

Cewek itu melompat dari atas sana ke bawah lapangan dengan mulusnya. Seperti baru terbang saja. Aku tidak tahu apa aku salah lihat atau dia memang seorang pelompat yang handal. Dia menghampiri kucing yang dipanggilnya Poula dan menggendongnya sambil mengelus bulu-bulunya.

Dari tadi, aku memerhatikannya. Kenapa dia tidak melihatku? Apa cewek kelas Hitam seperti dia tidak mau berhadapan dengan kelas biasa sepertiku?

"Hei, bocah, aku bisa melihatmu, kok. Kau pikir aku buta?"

DEG!

Apa apaan dengan pertanyaannya itu? Bocah? Aku bukan anak kecil! Karena dia kakak kelas, dia bisa seenaknya memanggil adik kelasnya dengan sebutan bocah, begitu? Kakak kelas macam apa dia? Dan, tunggu. Itu hanya kebetulan atau dia bisa membaca pikiranku? Lalu, dia berbicara tidak menggunakan kata 'lo-gue' yang biasa digunakan dalam berbicara di sekolah maupun di dunia maya.

Aku diam. Tidak membalas ucapannya. Tapi, mataku mendelik tajam padanya. Aku tidak suka dipanggil bocah. Ingin rasanya tanganku menonjoknya. Karena dia adalah kakak kelas dan bukan cowok, dengan sabarnya aku mengurungkan keinginan kekerasanku padanya.

Dia juga melihatku dengan matanya yang tidak kalah tajam. Dia juga terlihat tidak suka padaku. Oke, kalau tidak suka, aku akan pergi dari sini dan masuk ke dalam kelas saja. Mengobrol dengan Zezen lebih bermanfaat dibandingkan saling diam tatap tajam dengan cewek kasar itu.

Cewek itu berhenti menatapku. Dia menurunkan kucingnya dan mengelusnya lagi dengan lembut.

"Aku suka sekali dengan kucing. Aku merasa mereka sudah menjadi keluarga besarku selain di rumah. Tapi tahunya, aku tidak punya keluarga di rumah."

Curhat, nih? Tidak mau berantem denganku saja? Baiklah, sepertinya akan lebih baik jika aku diam saja.

"Dan ditambah lagi, aku harus membuat kucing yang kutemui tidur selamanya."

Apa maksudnya itu?

Cewek itu tersenyum. Senyuman itu bukanlah senyum ramah yang biasa aku dapatkan oleh para tetangga yang menyapaku saat aku akan berangkat ke sekolah. Tapi, senyuman yang ini ... membuatku merinding.

"Ahh, aku lapar."

Tidak sarapan, ya?

"Dia manis. Aku yakin dia manis sekali."

Kucingnya, kan?

"Waktunya Poula tidur. Terima kasih sudah hadir dikehidupanku, Poula. Aku senang sekali. Kau pasti enak."

Apa yang ingin dia lakukan pada kucing itu? Kata-katanya seolah-olah ingin mematikan kucing itu dan segera memakannya hidup-hidup. Dia psikopat?!

"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" Astaga Angelo, beraninya kamu bertanya pada seorang psikopat seperti dia! Harusnya kamu kabur!

Cewek itu menoleh ke arahku. Tersenyum.

"Dia manis sekali. Rugi kalau aku tidak menyantapnya tanpa perlu membaginya kepada orang lain," jawabnya seraya menggendong kucing itu kembali. Apa dia sudah gila?

Cewek itu mendekatkan tubuh kucing itu ke wajahnya, lebih tepatnya ke mulutnya. Lidahnya tampak menjilat ke bibir bagian atasnya. Jarakku dengannya lumayan sudah dekat karena aku melangkah demi langkah mendekat padanya.

Betapa terkejutnya, dia benar-benar menggigit kucing itu. Aku menutup mulut dengan tanganku merasakan rasa mual pada diriku.

Aku bisa melihat dua giginya yang lebih panjang dari pada giginya yang lain menancap di punggung kucing itu. Kucing itu mengeong kesakitan sampai akhir nyawa kucing itu melayang. Kucing itu sudah mati karena cewek itu.

Dia psikopat atau kanibal? Tapi, dia bukan memakan manusia melainkan hewan alias kucing. Astaga, aku ingin muntah.

Darah kucing bersimbah di pinggir lapangan basket. Kucing itu dipenuhi oleh darah. Mulut cewek itu juga tidak kalah merahnya oleh darah kucing. Bau amis darah kucing itu mengundangku untuk segera memuntahkan sarapanku.

Aku terduduk begitu saja. Menahan rasa mualku dengan susah payah. Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku harus berurusan dengan cewek psikopat di sekolah? Aku harus lari dari sini dan melupakan segalanya. Kalau aku diam saja di sini, nyawaku juga akan ikut melayang menyusul kucing itu. Tentu saja aku belum siap untuk menghadapi kematian.

Segera diriku berdiri. Dia menghempaskan kucing itu begitu saja ke bawah. Darahnya lagi-lagi keluar deras begitu dia menghempaskan kucing malang itu. Perutku lagi-lagi berhula-hula. Aku tidak akan tumbang begitu saja hanya karena darah. Ini masalah nyawa. Aku harus pergi dari sini.

"Mau ke mana kau, bocah?"

DEG!

Aku membalikkan badan. Tanpa menggubrisnya, aku berusaha membuat kedua kakiku berjalan meninggalkan tempat ini. Tapi, keberuntungan sama sekali tidak berpihak padaku. Aku bisa merasakan satu napas seseorang terhembus di tengkukku.

"Aku mencium sesuatu yang lebih manis di sini. Kebetulan, aku masih haus."

DEG!

Apa yang dia inginkan padaku? Tunggu. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Ini aneh. Kenapa aku harus berhadapan dengan situasi mengerikan seperti ini?

Aku terkejut melihatnya merengkuhku dari belakang. Sambil itu, dia melucuti jas hitamku dan membuka beberapa kancing kemejaku. Astaga, kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan? Aku tidak mau mati dengan cara seperti ini!

Dia mengarah ke bagian leherku. Mengendus leherku seperti tengah mengecek apa aku bisa dimakan ataukah tidak. Sesuatu yang aneh dan basah mengenai leherku. Dia menjilat leherku. Ini menjijikan.

Tolong, aku tidak mau mati dalam keadaan bersimbah seperti kucing itu. Apa kesalahan yang sudah kuperbuat? Apa aku pernah menindas orang? Tidak. Kenapa orang baik-baik sepertiku harus berurusan dengan seorang psikopat? Mataku sudah memejam rapat. Pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Hentikan, Deola."

Aku merasa kenal dengan suara itu. Dia tidak berteriak, tapi suaranya begitu tegas seperti memerintah kepada bawahannya.

"Cih." Cewek bernama Deola itu tidak jadi menggigitku dan malah mendorongku sampai tersungkur. Memalukannya diriku.

Cewek berambut panjang lurus melebihi punggung itu berjalan tenang mendekati kami. Tatapan dari mata itu dingin dan tajam menusuk mata Deola. Lantas Deola menunduk tapi masih sempatnya berdecih.

"KAU TIDAK MENGERTI, KETUA! DIA ITU RANTAI MAKANAN KITA! KENAPA KITA TIDAK BOLEH MEMINUM DARAH MANUSIA? KENAPA KAU DAN YANG LAINNYA MENYURUH KAMI SEBAGAI PEMINUM DARAH BINATANG? AKU TIDAK VEGETARIAN!"

Cewek itu bicara apa? Aku tidak ingin mengerti, tapi kenapa pikiranku terus menggali maksud dari ucapannya?

Cewek berambut panjang itu menghela napas. Dia berjalan lagi mendekati Deola. Mendadak tangannya menjambak seluruh rambut Deola. Aku terkejut sekali melihat dia melakukan itu pada temannya sendiri.

"Karena itulah, Ayah dan Ibumu menyekolahkanmu di sini untuk memperbaiki tata kramamu yang menjijikan itu. Kau masih anak-anak. Membutuhkan pelajaran yang banyak tentang bagaimana cara hidup berdampingan dengan manusia. Kalau kau menggigit manusia, kau sudah dicap sebagai seorang VAMPIR rendahan!"

DEG!

Vampir. Itukah yang mereka maksud? Alasan Deola menggigit kucing hitam malang itu dan berusaha menggigitku, karena Deola adalah vampir? Vampir yang haus akan darah manis? Mustahil.

Vampir? Mana ada vampir di dunia serba canggih ini. Mana ada makhluk fantasi di dunia ini. Siapa yang berpikir vampir itu ada? Ini lelucon yang paling basi yang pernah aku dengar.

Cewek itu melepas jambakannya dengan hempasan sampai membuat pemilik rambut itu terjatuh. Cewek itu tampak marah, tapi ekspresinya tetap datar seakan tidak ada yang perlu diekspresikan.

Tunggu dulu. Rambut panjang lurus hitamnya. Aku seperti pernah bertemu dengan cewek ini. Tapi kapan? Suaranya juga pernah kudengar. Apa ... dia cewek pertama yang pernah berbicara denganku di sekolah? Cewek bermata super yang memberitahukan nama kelasku saat aku kesulitan untuk mendekati papan pengumuman.

Cewek berambut kuntilanak!

"Angelo Arshyomathara."

Dia masih mengetahui nama lengkapku. Bahkan tak ada pengucapan yang salah. Dia berjalan ke arahku yang masih terduduk. Berjongkok di dekatku. Kini aku bisa melihat wajahnya dari dekat.

Cantik.

"Angelo Arshyomarthara, gue gak mau menghapus ingatan lo tentang rahasia kami. Tapi, sebagai balasan dari itu, lo bisa gak menjaga rahasia kami rapat-rapat? Jangan katakan rahasia kami ini kepada orang lain termasuk orang-orang terdekat sekali pun. Gue mau lo jaga rahasia."

Rahasia mereka? Rahasia apa yang tidak sengaja sudah aku ketahui? Kenapa tatapannya serius begitu?

"Angelo Arshyomarthara."

Kenapa dia selalu saja menyebutkan nama lengkapku?

"Lo udah tau siapa gue dan Deola. Juga kelima anak kelas Hitam lainnya. Kami adalah vampir."

"A-apa?!"

Ini terlalu mengejutkan atau aku yang tidak bisa memercayai kalau mereka adalah makhluk lain dari manusia.

"Angelo Arshyomarthara."

Sudah tiga kali dia menyebutkan nama panjangku. Dan yang membuatku terkejut, dia mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Dahi kami saling menyentuh lembut. Mulutku kelu tak dapat berkata. Jarak ini terlalu dekat. Seharusnya aku menghindar. Tapi, mata itu mengunci seluruh tubuhku.

"Lo udah liat semuanya. Lo harus percaya dan gue percayakan rahasia ini ke lo. Gue vampir, tapi gue gak akan nyakitin lo, karena gue tau seorang vampir harus menahan nafsu darah manusianya agar dapat hidup damai saling berdampingan dengan manusia."

Walaupun dia sudah mengatakan itu, tetap saja dia sempat-sempatnya melirik bagian leherku. Oh iya, jasku masih terlepas dan kemeja yang kupakai sedikit membuka bagian dada dan leherku. Tentu saja dia melihat bagian favorit seorang vampir.

Aneh sekali. Tiba-tiba kepalaku pusing. Dia menjauhkan wajah dan masih dengan datarnya melihatku menahan sakit di kepala. Cewek itu tersenyum hangat.

"Aya Angelica. Itu nama gue. Salam kenal, Angelo Arshyomarthara."

Setelah mendengar itu, penglihatanku berkunang-kunang dan berakhir gelap. Karena vampir. Ini karena vampir. Aku terlibat dalam masalah vampir. Aku harap ini cuma mimpi.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top