Raya
Mimpi yang sama.
Entah sudah berapa kali ia memimpikan kejadian ini. Dirinya dan seorang gadis tak dikenal sedang bergandengan tangan. Dilihat dari bentuk tubuhnya, mereka berdua sekitaran usia tujuh atau delapan tahun. Namun, dirinya tak ingat tangan siapa yang ia genggam di mimpi itu.
Wajahnya kabur, semakin membuatnya penasaran. Dan ada sebuah perasaan bersalah kala ia tak mengingat siapa seorang tersebut. Seolah-olah, ia melupakan sosok berharga di hidupnya.
Dan saat seseorang itu ingin mengucapkan sebuah kata, maniknya terbuka. Selalu, di saat yang paling penting, ia terbangun.
“Siapa ....,” gumamnya sembari mengacak surai sewarna tanah. Manik segelap langit malam menerawang ke jendela di sebelah kanannya. Bertanya-tanya, kenapa ia bisa melupakan hal yang menurut kata hatinya sangat berharga.
***
Hidup dengan penuh warna-warni. Selama tujuh belas tahun, Raya tak pernah merasakan kesengsaraan. Baginya, hidup itu laksana taman bermain. Selalu ada kebahagiaan di setiap detiknya.
Hidupnya memang benar-benar sempurna. Kebutuhannya terpenuhi, ia memiliki kedua orangtua yang sangat mengasihinya, dan teman-teman sekolah yang baik. Perangainya juga ramah dan hal itu membuat semua orang nyaman berada di sisinya.
Namun, hidup tak sesempurna itu, selalu ada retakan yang terjadi. Suka ... atau tidak suka.
Pertengahan musim panas, di mana seharusnya ia berlibur dengan kedua orangtuanya, hal aneh terjadi. Sangat tak biasa saat ia tak melihat kedua orangtuanya berada di meja makan.
Yah, mungkin mereka masih terlelap.
Dengan asumsi yang sangat biasa. Ia duduk di meja makan, menunggu dengan tenang. Namun, satu jam berlalu dan tak ada tanda kedua orangtuanya akan bergabung di meja makan.
Dengan inisiatif, gadis itu beranjak menuju kamar mereka. Namun, bukan kedua orangtuanya yang ia dapati alih-alih keadaan kamar yang sangat berantakan. Pakaian kedua orangtuanya telah hilang, berganti dengan lemari yang kosong melompong.
Ke mana mereka, tidak mungkin mereka meninggalkannya di hari ulang tahunnya kan?
Dengan sisi positif, ia menelepon sang ibu. Namun, alih-alih suara lembut yang menyapa suara dingin menyambut indra pendengarannya.
“Siapa?” Hanya dengan suara itu, hatinya seakan-akan jatuh ke jurang tak berujung.
“Ibu, ini Raya. Ibu di mana? Kenapa Ayah dan Ibu tidak ada di rumah?” gadis itu berusaha mengontrol nadanya yang mulai gemetar.
Lawan bicaranya tertawa kecil sejenak sebelum membalas. “Aku? Aku sedang ada di tempat yang membuatku bahagia. Dan masalah kami tak ada di rumah, tak perlu kamu pusingkan. Kami telah berakhir,” ujarnya dari seberang sana. Namun, tak ada nada sedih di ucapannya. Hanya ada nada bahagia seakan-akan seluruh beban yang ia pikul hilang.
“Apa? Kenapa ....” Belum sempat ia menanyakan lebih lengkap, panggilan tertutup secara sepihak. Apa-apaan ini? Berakhir? Apa maksudnya?
Maniknya bergetar, dengan sisa kekuatannya, ia mencoba panggilan kepada sang ayah. Namun, jangankan mendapatkan penjelasan, mendengar suaranya pun ia tidak bisa. Sang ayah tak menjawab panggilannya.
Hancur.
Hati yang selalu dipenuhi dengan warna cemerlang itu memudar. Seakan-akan hal yang ia alami selama ini hanya fatamorgana. Bagai seorang yang mendambakan air di gurun pasir. Ia mengejar hal yang tak nyata.
kenapa kamu masih mengejar hal yang tak nyata?
Sebuah suara menghentikan isak tangis yang pecah. Ia memandang sekitar, tak menemukan siapapun selain dirinya.
Dan secara sangat ajaib, seseorang muncul di hadapannya. Bagai sihir, seseorang itu menyeka air mata yang mengenang di pipinya. Senyum miris terbit di pipi putih dengan rona kemerahan. Hatinya sakit saat melihat kondisi Raya.
“Kenapa kamu harus bersedih sampai seperti ini?” tanyanya. Jemari pendek tapi bertekstur halus itu tetap mengusap pipi Raya. Membuat gadis itu merasakan tenang.
“Siapa ....” Maniknya memandang sosok asing itu. Ia tak pernah mengenal seorang pun yang seperti dia.
Gadis misterius itu tersenyum. Tak menjawab pertanyaan Raya. Namun satu yang Raya ambil darinya, hanya sebuah senyum gadis misterius itu yang dapat menstabilkan jiwanya yang terguncang. Seakan-akan ia sudah sangat mengenal senyum itu.
***
Entah sudah berapa lama ia lalui hidupnya tanpa kedua oranguanya. Gadis misterius itu mengatakan padanya, bahwa ia terjebak di dunia kebalikan. Di mana rasa cinta dan sayang akan hilang berganti dengan perasaan kosong. Bagai kertas putih yang tak tersentuh tinta.
Hanya ada satu cara agar ia bisa keluar dari dunia itu.
Hancurkan intinya
Tapi, bahkan sang gadis pun tak tahu inti apa yang harus ia hancurkan. Dan walau mereka mencari informasi, tak ada gunanya.
“Harus berapa lama terjebak di sini ....,” gumamnya sembari memainkan anak rambut. Hingga minggu kedua musim panas, ia tak bisa keluar dari dunia itu. Sang gadis misterius memandangnya sendu. Seakan-akan ada hal yang harus ia katakan, tapi ia tak bisa mengatakannya. Eksistensinya bergantung pada hal yang akan ia katakan.
“Kumohon, hancurkan perasaan itu, Raya ....,” gumamnya. Namun naasnya, gadis pemilik surai coklat gelap itu mendengar.
“Perasaan apa yang harus aku hancurkan, Refa?” gadis bernama Refa itu mengibas-ngibas tangan. Mengatakan bahwa itu bukan hal penting yang harus dipikirkan olehnya.
Tak ada salahnya kan, menikmati sedikit waktu lebih lama lagi?
***
Mimpi itu semakin menghantui Raya. Selalu pemandangan yang sama dengan orang yang sama. Namun, mirisnya ia bahkan tak mengingat wajah dan nama orang tersebut.
Di saat ia sedang melihat pemandangan itu seperti biasanya sebuah suara masuk ke dalam pendengarannya.
“Kumohon, hancurkan perasaan terdalammu, Raya.” Perasaan terdalam? Tapi, apa?
Di tengah perasaan gundah, ia terbangun secara tiba-tiba. Ia samar-samar seperti melihat wajah lawan bicaranya di dalam mimpi itu.
Manik secerah langit dan kulit putih dengan rona kemerahan di pipinya.
Tampaknya, ia tahu siapa orang yang selalu menghantui dirinya di dalam mimpi itu.
“Refa, kamu mengenalku kan?” Disertai dengan perasaan campur aduk, ia bertanya kepada Refa yang sedang duduk di ruang tamu. Mata gadis itu terbelalak. Ia tak menduga bahwa Raya akan menanyakan hal semacam itu.
“Apa maksudnya, Raya?” Dan dari semua balasan yang lebih baik, gadis itu malah menanyakan hal yang semakin membuat Raya curiga.
Maniknya mengelap, tak ada binar di sana. Perasaan cemas melingkupi Refa. Tidak, jangan sampai ia melepaskannya.
Aura gelap merambat ke seluruh rumah. Meneror Refa dengan perasaan sedih dan takut yang tercampur. Ia cemas, tentu saja. Tak ada yang lebih menakutkan selain melihat Raya melepaskan sisi gelapnya di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.
“Raya, dengar penjelasanku dulu ....” Belum sempat ia melanjutkan, sebuah bayangan melesat kepadanya dan melingkarkan jemari di lehernya
“Hoho, lama tak bertemu, Refa.” Hanya dengan sapaan itu saja Refa gemetar di buatnya. Di tambah dengan senyum yang menyiratkan dendam kesumat, hal itu semakin membuat gadis bermanik sewarna langit itu tercekat.
Ia diam seribu bahasa. Padahal, ia mengharapkan Raya menghabisi perasaan terdalamnya tanpa perlu mengeluarkannya. Dengan sisa tenaga, ia berusaha memandang Raya yang menatapnya nyalang.
Ia mengerakkan mulutnya, berharap gadis itu menangkap maksudnya.
Maafkan dirimu sendiri, semua yang terjadi bukanlah salahmu, Raya.
Manik langit itu terpejam. Eksistensinya mulai memudar. Menyisakan Raya yang terdiam kaku kala menangkap ucapan tak bersuara dari Refa.
Sekelebat memori menghantamnya.
Senyum gadis berusai Delapan tahun bernama Refa. Sahabat masa kecilnya, tentang mereka yang selalu pulang sekolah bersama sembari bergandengan tangan.
Tentang semua liburan yang selalu mereka lalui bersama. Hingga ... saat musim panas, mereka harus terpisah selamanya.
Semua itu terjadi karena Refa menyelamatkannya. Dirinya yang hampir tertabrak bus yang melaju kencang digantikan oleh Refa.
Trauma masa kecil membuatnya melupakan sahabatnya itu. Dan walau ia melupakannya, perasaan menyesal selalu berada di hatinya tanpa ia ketahui.
Isaknya meledak setelah semua kenangan itu berakhir. Bagaimana bisa ia sekali lagi —dan dengan kedua tangannya— menghabisinya lagi. Walau hanya berupa roh tak berwujud di dunia yang ia ciptakan sendiri.
Sebuah jemari kecil mengusap puncak kepalanya yang sedang berlutut itu. Maniknya memandang sang pengusap. Refa dalam wujud anak kecil tersenyum senang. Maniknya semakin berair saat melihat sahabatnya itu.
“Maafkan aku ....,” lirihnya hampir tak terdengar. Refa masih tetap tersenyum cerah. Ah, bagaimana bisa ia melupakan senyum yang selalu memberinya warna.
“Kuharap kamu memaafkan dirimu sendiri dan berbahagia, Raya.” Usai mengatakan itu, ia berjalan menjauh. Jemarinya berusaha mengapai Refa. Namun, gerakannya terhenti kala ia melihat dirinya sendiri di masa kecil, berdiri di depan. Mengulurkan tangannya untuk Refa.
Dan dalam kesunyian itu, Refa dan dirinya pergi meninggalkan dirinya yang sekarang yang masih berlinang air mata.
Ah, tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Semua takdir, aku harus memaafkan diri sendiri. Demi kebahagiaanku, dan dirinya ... di atas sana
Pandangannya mengabur dan ia terlelap. Rasanya sunyi, tapi semua itu tak bertahan lama. Saat ia membuka mata, maniknya menemukan sang ibu dan ayah yang memandangnya dengan cemas.
Maniknya kembali berair. Dipeluknya kedua orangtuanya dengan suka cita.
Ia kembali, dari dunia kebalikan. Semua berkat sahabat yang telah lama ia lupakan.
End
A/N : Last. Selesai sudah targetnya yey. Sekian, terima kasih.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top