None
Lautan api berkobar dalam langit, ratap penuh nestapa menghancurkan mental yang selama ini kubangun. Tak ada hasil dari setiap usaha kami, semua kembali kepada kesia-siaan.
Hidungku menangkap bau pesing, rekan yang menemani selama dua puluh hari bergetar ketakutan melihat musuh. Matanya melirikku sekejap, mengirimkan sinyal : _Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi._
Oh, sungguh. Belum puaskah mereka memainkan kami bak pion di atas papan hitam-putih. Para berengsek itu, yang hanya bisa bersembunyi dibalik kasur mewah dengan alibi tak bisa meninggalkan pemerintahan kosong membuatku ingin membunuh mereka alih-alih para musuh. Tak malukah mereka? Tak merasa bertanggung jawabkah mereka?
Mataku masih tetap melihat ke depan, para prajurit yang baru tadi pagi berjalan ke medan perang dengan dada membusung lari kocar-kacir. Dadaku tanpa sadar mencelos. Apa yang kau harapkan dari para petani menjalani latihan menjadi alih pedang selama dua puluh hari?
Kupejamkan mata, menarik napas gusar. Jauh di dalam bayangan, tercetak jelas wajahnya. Gadis yang hendak kunikahi, gadis yang dengan setia berkata akan tetap menunggu kepulanganku meskipun dengan tubuh cacat.
Gadis ... yang semakin lama aku lupakan namanya. Siapa dia? Kenapa aku melupakannya?
Selama sepuluh hari belakangan aku menanyakan hal tersebut. Akan tetapi tak ada yang menjawab, semua bungkam, seakan-akan jika mereka mengatakannya aku akan hancur berkeping-keping.
Sayup suara musuh mendekat, para prajurit dadakan telah gugur dalam duka tiada guna. Rekanku telah hilang untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Aku sendiri,
Aku hanya seorang biasa.
Kutarik napas lagi, kupacu kuda, suaraku serak sebab terlalu banyak berteriak. Aku tak apa, aku tak butuh mereka yang tak berguna.
Ya, aku bisa menghadapi 1.000 prajurit sendirian.
Omong kosong
Semua hanya bayanganku, hanyalah simulasi tak berbukti.
Aku kalah,
Aku gugur,
Dinapas terakhir, teringat dia, kekasih hati.
Nyatanya telah tiada dibunuh prajurit musuh tiga tahun lalu.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top