Luka
Aku dan ayah, tak pernah bisa akur walau hanya sekejap. Berputar dalam lingkaran, tak ada ujung mau pun awal. Tertelan akan egoisme, teracuni akan stigma "Aku tak pernah salah."
Hanya ibu yang dapat menjadi penegah di antara kami, dan dalam diam aku mensyukuri ibu tak berperilaku sama seperti kami. Kami saling sayang, sebagaimana hubungan ayah dan anak gadisnya. Namun, selalu ada tembok yang entah siapa yang membangunnya.
Sama seperti dua tahun yang lalu, aku yang berada di fase pendewasaan diri tak menerima segala sarannya. Walau niatnya baik, tetapi pelafalannya tak benar.
Bedebat adalah satu-satunya cara kami saling peduli. Menyakiti dengan kata-kata hanyalah cara kami mengatakan saling menyayangi walau salah. Ibu kala itu jatuh sakit, jadi tak ada siapapun yang mencegah.
"Sudah bapak bilang, kamu kuliah di sini saja!" seru Ayah sambil memerah wajahnya. Aku pun ikut merah, geram akan setiap sikap pengaturnya.
Ku katakan dengan lantang. "Aku tak sudi di sini! Lebih baik aku jauh-jauh dari bapak dari pada dekat bapak!" Suaraku menggelegar di ruang tamu. Ibu ada di kamar, tengah batuk-batuk. Tak lama kemudian, suaranya terdengar parau, dan ayah segera berlalu dengan wajah geram akan diriku.
Seminggu kemudian, ibu tiada. Luka tak terobati bersarang di antara kami. Bersama luka, jarak semakin jauh. Ayah semakin gila kerja, meninggalkanku sendirian karena tak ada adik atau kakak.
"Yah, aku ingin kuliah di luar kota." Dengan ragu, aku berkata sembari menyender di kusen pintu. Ayah memandangku sendu, rasa tak enak hinggap dan aku tak suka akan fakta itu.
"Ya, lakukanlah apapun yang kamu inginkan." Sorot matanya dingin dan kosong, membuatku menyesal sekaligus dongkol karena sekarang is begitu mudah melepasku.
Terus, drama kemarin-kemarin apa gunanya? ucapku dalam hati.
Saat aku pergi keluar kotapun, ayah tak memelukku. Aneh, ia biasanya akan memeluk walau selalu adu argumen denganku. Satu luka lagi, terbit di hatiku akan tindakan ayah.
Tahun demi tahun, kulewati semua tugas kuliah dengan lancar. Mengunci segala kenangan akan ayah. Bahkan sekadar menelpon pun aku tak mau, komunikasi kami hanya melalui sms dan itu pun hanya ketika aku butuh uang.
Ya, aku memang tak tahu terima kasih. Namun, hatiku tak sanggup lagi jika harus mendengar suaranya yang dingin itu.
Bagiku, sosok ayah yang laksana _superhero_ hilang tak berbekas. Tertelan angin kala itu, melambung tinggi tak tentu arah.
Sebuah sms masuk ke ponselku. Pesannya hanya sedikit.
_Ayah sakit, ia ingin bertemu denganku_
Semula, aku tak ingin. Tak sudi lagi rasanya aku pulang. Keegoisanku berkata alangkah baiknya jika kami tak perlu bertemu lagi. Namun, hati kecilku tak tega. Dia ayahku, mau bagaimana pun sikapnya saat itu.
Jadi aku memutuskan pulang. Setidaknya hanya mengecek keadaannya terus kembali kuliah. Yah, pada akhirnya aku tak bisa secepat itu kembali.
Ayah terlihat sangat lemah dari pada saat terakhir kulihat. Badannya kurus, matanya cekung dan ada warna hitam di sana. Namun tetap saja senyumnya terkembang kala melihatku.
"Kenapa ayah bisa sampai sakit begini?" Hanya itu yang kutanya saat duduk di samping ranjang rumah sakitnya. Baru kemarin ia diantar oleh adik ayah yang tinggal cukup jauh dari rumah. Menurut ucapannya, paman menemukan ayah terduduk lemas di kursi ruang tamu.
Senyum ayah masih ada di sana kala membalasku. "Ayah tak apa."
"Bohong, kalau tak apa-apa kenapa jadi begini?" Kupukul pelan tangan ayah yang tinggal tulang. Ayah pura-pura meringis dan aku sedikit tertawa dibuatnya.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Baik, semua aman-aman saja," balasku tetap memandangnya dengan sendu. Tangan ringkihnya menggenggam tanganku yang ada di atas kasur rumah sakit.
"Ayah bersyukur kamu mau datang. Setidaknya, ayah bisa tenang setelah ke atas sana." Genggamannya makin kuat. Tak cukup menyakitiku, tetapi rasa aneh menyusup ke sanubari.
"Apaan sih ayah. Ada-ada aja," tukasku dengan tawa dipaksakan. Ayah hanya tersenyum saja sebelum menutup mata.
Besoknya, ayah tak membuka mata lagi. Dia pergi dalam keadaan damai. Meraung-raung, aku tak terima dirinya pergi. Aku masih belum menghabiskan waktu lebih lama dengannya! Kenapa ia pergi dengan cepat?
Sehabis pemakamannya, hanya tersisa aku sendirian di rumah penuh kenangan.
Aku yang berusia enam tahun, inginkan sepeda sampai demam. Besoknya, ayah pulang dari kerja dengan sepeda warna pink yang sekarang berada di gudang belakang.
Teringat saat ayah mengajariku menggunakan sepeda itu di halaman depan. Kala diriku terjatuh, dengan lembut dirinya mengobati lukaku. Ayahku, adalah pahlawan hidupku sejak saat itu. Ia akan selalu ada setiap aku membutuhkannya.
Kala di usia tujuh tahun. Dirinya membangun ayunan di bawah pohon beringin halaman belakang. Setiap sore, kami akan selalu bermain di sana. Ayah akan mendorongku kuat-kuat, membuat langit sore dengan berhias jingga terlihat dengan jelas. Seakan-akan aku tengah terbang, tanpa sayap.
Diruang tamu, ada foto besar dengan bingkai warna emas. Memuat wajah kami bertiga. Tersenyum dengan lebar seakan tak ada satupun masalah. Itu kali terakhir aku menjadi anak baik, saat usia kedua belas. Setelah itu, aku memberontak. Tak menerima keputusan ayah, dan selalu mendekap egoisme kuat-kuat.
Ruang tamu tempat kami terakhir kali berbicara, masih sama. Dingin, tak terjemah kehangatan apa pun. Sama seperti hatiku kala ini.
Air mata meluruh kala teringat betapa dinginnya kami dulu. Betapa egoisnya aku tak mengikuti keinginan ayah. Aku ... menyesal, tetapi tak ada gunanya menyesali yang telah berlalu.
Pada akhirnya, memori hanya akan terus berputar di ingatan dan luka baru kembali tertoreh dalam hatiku.
End
A/N : Nggak ku edit lagi ini. Sekian, dan terima kasih.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top