Hello

Dipost di akun Real_YoungWriter sebagai project antologi cerpen tema Horor.
****

“Katanya rumah itu tak berpenghuni,” ucap seorang gadis dengan gaya rambut ponytail. Lawan bicaranya hanya menggeleng enggan, menyadari ke mana arah pembicaraan mereka.

“Jangan bilang kamu ingin ....” ucapannya terhenti, ia ragu melanjutkannya. Gadis di sampingnya itu mengangguk. Ia paham kalimat terakhir yang ingin lawan bicaranya kemukakan.

“Yep. Ayo, kita menjelajahnya!” perintah tak terbantah, gadis itu menyeret lawan bicaranya. Sedangkan sang lawan bicara, wajahnya pucat. Seakan-akan sumber kehidupannya diambil paksa. Di belakang mereka, berjalan dua gadis lainnya. Mereka bagai nyamuk kala menyimak percakapan gadis ponytail itu.

***
“Lucia, kita pulang saja, ya?” gadis yang dipanggil Lucia itu menggeleng, membuat ikatan rambutnya ikut bergoyang pelan.

“Ayolah, Rina. Mau sampai kapan kamu takut begini?” gadis bernama Rina itu tertunduk. Ucapan Lucia benar sih, cuma kan tidak sampai ke rumah dengan rumor hantu piano begini juga! Batinnya kesal. Gadis surai gelap itu akhirnya hanya diam. Percuma saja membantah, toh akhirnya dia akan tetap dipaksa ikut.

“Ehem! Kayaknya kami jadi nyamuk nih!” ujar seorang gadis dengan potongan rambut pendek. Gadis di sebelahnya mengangguk, menyetujui ucapan sahabatnya itu.

“Hehehe, maaf deh, Glisa, Grisel.” Lucia menggaruk tengkuknya tak enak hati. Kedua gadis yang sempat terabaikan itu hanya saling memandang. Mereka mirip, ya wajar saja. Mereka kan kembar identik.

Yang jadi pembeda hanya gaya berpakaian mereka. Glisa, gadis rambut pendek itu lebih sering menggunakan baju berbahan kaos dipadu dengan jaket bertudung hitam dengan celana berbahan denim. Sedangkan Grisel, gadis itu lebih memilih mengenakan dress simpel yang menampilkan kesan feminin. Pinang dibelah dua dengan kepribadian yang bertentangan. Yah, itulah mereka berdua.

“Jadi, kita benaran bakal masuk ke rumah ini?” Grisel angkat suara. Manik gadis surai coklat itu memandang rumah kosong datar. Yah, kesan horor rumah itu hanya karena rumor dan penampilannya yang berantakan. Sayang sekali rumah ini dikatakan berhantu. Padahal rumahnya luas dan megah.

“Ayolah kalian, kita pulang saja, ya?” Rina masih membujuk, berharap yang lain mengurungkan niat mereka. Namun, mengingat bagaimana hanya dirinya yang membantah tegas usulan ini, mustahil yang lainnya akan mengikuti bujukannya.

“Hah. Pada akhirnya, aku tetap harus mengikuti mereka juga,” gumamnya sembari melihat ketiga temannya melangkah ke dalam rumah dan tak lama kemudian, ia mengekor dalam diam.

Sungguh, keputusan yang sangat tak bijak, masuk tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi di dalam sana.

***

“Permisi?” Lucia mengedarkan pandangan, maniknya tak menemukan apa pun selain kekosongan di sana. Hanya ada tangga yang berbentuk kotak —mirip seperti tangga di film Harry Potter— menuju ke lantai atas di sebelah kiri ruangan, sebuah pintu ke ruangan yang dia yakini ruang tamu, serta piano di tengah ruangan depan.

Cahaya bulan masuk dari kaca mozaik yang panjangnya sampai ke lantai 3. Motif bunga mawar menambah keindahan kaca itu.

"Indahnya ...." gumaman Rina di balas ketiga temannya dengan cekikikan pelan. Mereka tahu gadis itu akan selalu terpesona oleh hal-hal semacam ini.

"Hm, tampaknya tak ada hal apa pun yang menarik di sini," ucap Glisa. Gadis itu memandang sekitar. Ya, tak ada apa pun. Jadi, buat apa mereka ada di sini?

"Ya, ya! Tampaknya tak ada hal menarik. Ayo, kita pulang saja sekarang. Sudah malam." Rina menimpali, gadis itu segera berjalan ke arah pintu dari kayu jati dengan dua daun di sisi kanan dan kiri.

Tapi, ada yang janggal. Gadis itu tak dapat membukanya. Kedua tangannya ada di kenop pintu memutarnya cukup cepat tapi tak ada hasil. Ia memandang horor temannya. Peluh mulai turun dari pelipisnya, perasaannya tak enak.

"Bagaimana ini?" Bahunya mulai berguncang, nafasnya mulai tak beraturan. Gawat! Ia kena serangan panik! Bayangan-bayangan menakutkan melintas di otaknya. Mulai menjadi liar, mencoba menelan Rina sampai gadis itu benar-benar tenggelam dalam fantasi.

"Hei, Rina! Sadarlah!" Suara Glisa sayup-sayup masuk ke telinganya. Ia masih tak dapat membalas. Fantasinya makin liar. Geram, Glisa mengguncang bahu Rina, menyentaknya dari khayalan yang menelannya dengan cepat.

"Glisa ... Huaaaaaaa!!" Rina memeluk gadis rambut pendek itu erat. Ia takut, fantasinya makin liar daripada sebelum-sebelumnya. Bagaimana bisa ia membayangkan mereka akan mati di rumah ini? Mereka pasti selamat. Ya, kan?

Dielusnya kepala Rina yang faktanya lebih pendek dari dia. Lucia dan Grisel hanya saling pandang sebelum berdeham.

"Hah! Gawat! Suasananya sangat menggelikan sekarang. Bagaimana bisa, Glisa yang sangat anti pelukan itu membiarkan Rina memeluknya erat." Pandangan Lucia dapat gadis rambut pendek itu pahami. Dia ingin mencairkan suasana. Tapi tak dapat memungkiri, ada kerlingan jahil darinya.

Rina melepaskan pelukannya. Ia tak enak hati karena memeluk gadis anti pelukan begitu saja.

"Yah, daripada kita berdiri di sini tanpa hasil, bagaimana jika berpencar dan mencari pintu keluar?" Grisel angkat suara setelah mendengar hal itu. Yang lain mengangguk, tak akan ada yang menyelamatkan mereka kecuali mereka sendiri.

***
Entah sudah berapa lama Rina mencari pintu atau setidaknya kunci di ruang makan yang merangkap dengan dapur ini. Tapi nihil yang ia dapat. Tak ada apa pun di sana.

Sudah sepuluh menit mereka berpencar, sudah saatnya mereka kembali bertemu di aula depan. Rina yang hendak membuka kenop pintu tersentak kala mendengar sebuah teriakan yang sangat ia kenal.

Semua berjalan lambat di matanya. Ia membuka pintu penghubung ruang makan dan ruang tamu. Namun, bukannya sebuah senyum, ia melihat Lucia terduduk di sofa yang terbungkus kain putih.

Tapi, bukan itu yang membuat perasaan aneh menerobos keluar. Tapi ... Penampilannya. Apa reaksimu jika melihat sebelah bola mata yang hilang dan lengan yang juga hilang di satu sisi? Mual? Tentu saja. Dan naasnya, dari seluruh temannya yang berani, dirinya yang harus melihat kejadian itu.

Perasaan yang tak tertahan itu akhirnya keluar. Ah, isi makan siang dan camilan sorenya terbuang banyak. Bukannya menjadi energi, makanan itu malah keluar tanpa meninggalkan energi apa pun.

Matanya sayu, ia berusaha memandang mayat temannya. Namun, sebuah tulisan bertinta merah di dinding  belakang temannya itu menarik perhatiannya.

Bagaimana dengan hadiah pembuka dariku? Apa kamu mulai mengingatku?

Apa-apaan ini! Siapa yang tega menulis hal tersebut dan membunuh temannya dengan brutal!

Hadiah pembuka katanya? Yang benar saja! Memangnya nyawa itu hanya mainan ya! Tak tahukah bagaimana Lucia merencanakan hidupnya di masa depan? Bagaimana ini bisa terjadi pada gadis baik sepertinya!

Matanya berkabut. Sial! Hal yang sangat tak ingin ia lakukan terjadi juga. Cairan bening itu mendesak keluar dari maniknya, semakin deras kala ia melihat mayat Lucia yang tak lengkap lagi.

Kan? Apa kubilang. Harusnya kita tak ke sini! Batinnya menggerutu. Tapi percuma saja, nasi telah menjadi bubur. Ia tak dapat mundur lagi. Teman-temannya yang lain masih bernafas, ia harus menyelamatkan mereka.

Namun, ekspektasi tak seindah harapan. Saat ia keluar dari ruang tamu dengan tekad kuat, kembali suara teriakan menjadi momok untuknya. Kakinya segera berlari ke arah tangga, menaikinya menuju lantai selanjutnya.

Kembali, dirinya harus dikejutkan lagi dengan pemandangan yang memuakkan. Glisa ada di sana. Tapi, ada yang aneh, gadis itu tak memijak tanah. Rina mendongak, pilihan yang salah, ia harus melihat tali yang melilit leher gadis tomboi itu. Kondisinya memang tak seperti Lucia, tapi tetap ada yang hilang. Kedua matanya, mereka hilang entah ke mana. Sebuah tulisan bertinta merah kembali tertoreh di dinding samping Glisa.

Masih belum ingat siapa aku?

Horor kembali melanda, gadis itu terlalu kaku untuk sekedar teriak dan muntah. Lagi pula, tak ada gunanya ia teriak. Tidak ada yang mendengar teriakannya.

Keparat! Siapa pun yang melakukan ini ia harus membayar semua perbuatannya! Ini kejam! Apakah ia sangat senang bermain-main dengan nyawa orang lain?

Maniknya menangkap sebuah pisau. Tergeletak tepat di bawah kaki Glisa yang mengantung. Dengan perasaan bergejolak, Rina mengambil senjata itu dan melanjutkan perjalanannya. Tak ada gunanya menangis dan berdiam diri, di atas masih ada Grisel. Apa pun yang terjadi, ia harus menolong gadis itu.

***
Suasana sepi melingkupi sekitar.

Tuk, tuk.

Ketukan sepatu yang mencium lantai menjadi backsoundnya. Degup jantung menjadi pemacu adrenalinnya. Perasaan tertekan dan cemas mendominasinya. Skenario terburuk yang berusaha ia singkirkan terus berputar di otaknya.

Gawat! Ia tak akan bisa melawan jika terus berpikiran buruk. Digelengkannya kepala sejenak, menghilangkan keraguan sebelum melangkah lagi. Hanya tinggal berapa undakan tangga dan ia akan sampai lantai terakhir. Tapi, sesuatu menghentikannya.

Grisel berada di berapa undakan darinya. Di belakangnya, seorang pemuda dengan topeng melingkarkan sebelah tangannya di leher Grisel.

"Hai." Hanya sebuah sapaan dan bulu romanya meremang hebat. Ia memandang sang penyapa nanar.

"Siapa ... Kamu?" Suara cekikikan keluar dari topeng itu. Memangnya apa yang lucu?

"Benar-benar tak ingat aku, ya," gumamnya pelan. Rina semakin merasa aneh. Alarm dalam dirinya meminta kabur sekarang, tapi kakinya malah berkhianat. Dasar, tak bisa diajak kerja sama.

"Baiklah, mari kita coba mengembalikan ingatanmu." Sebuah pisau muncul dari ketiadaan. Apa yang akan ia lakukan? Kenapa mengarahkan pisau itu ke arah ... Perut Grisel!

Belum sempat ia menyerbu ke arah mereka, pisau itu telah tertancap sempurna di perut gadis surai coklat itu. Lengkingan keras memecah hening antara mereka. Tidak, kenapa skenario terburuknya malah menjadi kenyataan!

Manik gelap Grisel memandang Rina nanar, meminta diselamatkan dari tempat terkutuk itu. Tapi, apa yang kalian harapkan dari gadis pengecut yang berusaha berani? Tak ada. Gadis yang ia harapkan malah menjatuhkan senjatanya. Kakinya tak kuat menopang bobot badan.

"R-Rina, t-tolong a-aku." Terbata-bata, perih di perutnya sungguh menyiksa. Kenapa? Kenapa ia harus merasakan hal begini? Mereka hanya ingin uji nyali, tapi, kenapa?

Tak terasa, gadis itu menangis. Darah semakin keluar deras dari lukanya. Apa mereka akan mati di sini? Atau ... Hanya Rina yang selamat? Pertanyaan itu berputar di otak kecilnya.

Sebuah tawa memecah hening, orang ketiga itu memandang Rina dengan senyum sinis di balik topeng.

"Masih pengecut seperti dulu, heh?" Tak ada balasan apa pun. Merasa di abaikan, pemuda itu mengeluarkan pisau daging yang entah dari mana ia dapatkan.

"Hah, aku bosan," ucapnya sembari menempelkan senjata itu di leher Grisel. Perasaan takut menyerangnya kala merasakan dingin pisau di lehernya. "Hei, Rina. Lihat ke sini," perintahnya. Rina mendongak, matanya melotot memandang pisau itu.

"Tidak, tidak, jangan...." Terlambat, pisau itu telah terayun, memisahkan kepala dan badan. Bongkahan itu menggelinding ke arah Rina, dan akhirnya berada di hadapannya. Entah sudah berapa kali ia menangis, ia tak ingat. Yang pasti, hatinya mencelus saat melihat tatapan itu.

"Kejam! Biadab! Kenapa kau lakukan ini!" Dengan sisa tenaganya, Rina mengeluarkan sumpah serapahnya, emosi yang bergejolak itu makin membesar, meninggalkan dendam kesumat yang tak kan hilang walau ia tiada.

Pemuda itu memandang datar badan tak berkepala itu sebelum melemparkannya ke bawah lantai satu, membuat bunyi yang memekakkan telinga.

"Harusnya, aku yang mengatakan itu," ucapnya melangkah ke arah Rina. "Tak tahukah kamu malunya aku harus menanggung bekas luka ini?" Ia membuka topengnya, di arahkannya pandangan Rina ke wajahnya. Hancur, bekas luka bakar membekas yang mengerikan berada di sana. Ah, ia ingat siapa dia. Tak mungkin ia akan lupa seorang yang berusaha ia singkirkan dulu.

"B-bukannya k-kau h-harusnya mati?" Jantungnya berdegup cepat, tidak. Ia ingat sekali bahwa pemuda itu telah mati, ia harusnya mati! Kakaknya harusnya sudah mati! Tapi ... Bagaimana bisa dia di sini? Dan sialnya ia membunuh semua teman dan akan segera membunuhnya!

"Lama tak berjumpa, Adik." Tidak, bukan ini yang ia harapkan. Ia tak ingin melihat wajah kakaknya lagi walau telah penuh luka, ia tak ingin! Bagaimana jika papa tahu bahwa anak kesayangannya masih hidup? Bagaimana jika mama tahu anak yang ia kasihi masih hidup? Mereka pasti akan lebih memilih kakaknya di banding dirinya!

Ia tak ingin lagi! Sudah cukup masa lalunya yang di abaikan keduanya kala kakaknya masih di sana! Ia tak ingin kehilangan kasih sayang lagi, ia tak ingin!

"Kakak harusnya mati! Kakak tak boleh hidup! Kalau kakak hidup, kalau kakak ada di sana, aku pasti ... Akan di abaikan!" Oh. Tampaknya akal sehatnya telah hilang, gadis itu mengambil pisau yang sempat ia jatuhkan. Ia berusaha mengarahkannya ke arah jantung kakaknya. Mudah baginya karena dia sedang berjongkok di hadapan Rina. Tapi, gadis itu kalah cepat.

Sebuah pisau malah bersarang di dada sebelah kiri gadis berusia 16 tahun itu. Ah, gilirannya tiba. Saatnya membayar kesalahan di masa lalu.

"Selamat tidur, Rina. Adik kecilku yang selalu kukasihi." Matanya mulai mengelap, pendengarannya tak sanggup bertahan lebih lama lagi untuk mendengar suara tawa kakaknya, ini akhirnya. Akhir dari gadis jahat yang berusaha menyingkirkan kakaknya karena iri.

Tak ada akhir yang indah untuk seorang pembunuh sepertinya.

Hanya ada sebuah palung gelap untuk golongan seperti mereka.

Fin

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top