Blank
Terjebak di sini membuat dia hampir frustasi. Bisik-bisik tak kenal tempat itu membuatnya hampir gila. Ruangan putih tak luas namun tak juga sempit itu membuat mata sakit.
Berulang kali ia berusaha melarikan diri dari sana. Namun, seseorang selalu memegang tangannya dan menyuntikkan cairan yang membuatnya terlelap.
Pada akhirnya, ia masuk alam mimpi. Kembali terbuai dalam angan sedangkan tubuh diikat oleh pengikat ranjang. Dan kejadian ini bukan sekali dua kali, terlalu sering sampai rasanya ia tak ingat lagi.
Sama seperti kemarin, ketika jam menunjukkan angka dua belas, wanita muda berpakaian serba putih datang. Dengan senyum, ia sapa dia yang terikat di atas ranjang.
"Halo, Ina," sapanya dengan pelan sembari meletakkan nampan berisi bubur lembek di hadapannya. Namun, bukan Ina namanya jika bubur itu tak berakhir di lantai. Lengkap dengn kelontang nampan plastik yang membertemu dengan lantai.
"Harus berapa kali lagi kukatakan, lepaskan aku!" Dadanya naik turun dengan cepat, mukanya memerah dan alisnya bertautan satu sama lain. Ina ... tak sanggup di sini lebih lama lagi.
Sembari membereskan bubur yang jatuh, suster itu geleng-geleng kepala. "Maaf, kami tak bisa melepaskanmu," ujarnya dihadiahi pelototan tajam. Namun, tak berpengaruh sama seali.
"Kenapa?" Alih-alih berontak, Ina malah bertanya. Membuat si suster bungkam sejenak. Tak lama, sampai sebuah seringan terbit di sana.
"Yah, kamu tak bisa pergi karena sudah mati." Dalam sejekap, semuanya gelap, dan Ina tenggelam di dalam genggaman iblis.
Buah dari perbuatannta mengiris nadinya sendiri di hari kemarin.
Tamat
A/N : Aku, nggak tau nulis apa. Intinya, ya nulis. Maafkan kalau mata kalian picek, karena emang nggak ada arahan mau ke mana nih cerita. Wkwkwkkw intinya ya gitu sih, sekali lagi, mohon maaf jika mata picek dan sakit.
Udah minta maaf ya aku, jangan salahkan kalau kejadian. Udahlah, banyak bacot aku.
Aku, Catris undur diri dulu. Sekian, dan terima kasih.
Yey! Dada~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top