< IX >; n u e v e.

Seungwoo menatap layar ponselnya dengan sorot tajam. Emosi terpatri jelas di wajah rupawan itu. Mungkin ia akan melubangi ponselnya sendiri, jika saja sorot matanya dapat menjadi suatu hal yang nyata. Jemarinya bergerak cepat, membaca satu persatu dari ratusan pesan yang baru saja ia periksa pagi ini. Fokusnya terpecah, mengabaikan pagi yang sebenarnya terasa menyenangkan, sebab Narvik menawarkan udara yang begitu segar saat ini.

Telapaknya mencengkram ponsel miliknya hingga bergetar, sementara telapak tangannya yang lain mengepal kuat di atas pangkuan. Derak tulang terdengar pelan dari kepalan tinjunya. Seungwoo menarik nafas secara bertahap, berusaha menghilangkan rasa membakar di dalam dadanya sendiri.

"Bajingan," desisnya kaku. Lehernya menegak, menjauhkan pandang dari ponselnya. Sorot datar tetap mengisi maniknya yang terasa dalam dan gelap. Hela nafas kasar menjadi titik turunnya emosi Seungwoo.

Sebuah pelukan yang kemudian melingkar di tubuhnya berhasil mengejutkan Seungwoo dari lamunan setelah memunggungi sosok lain di atas kasur sejak ia membuka mata. Byungchan mengeratkan lingkaran lengannya pada leher Seungwoo, membawa tubuh kecilnya setengah menggantung pada pria itu. Maniknya mengintip, tampak tertarik dengan hal yang membuat emosi Seungwoo melonjak di pagi hari.

"Selamat pagi, cheri," Seungwoo menoleh dan tersenyum hangat, melupakan sejenak rentetan kalimat penuh makian kawannya juga pesan suara yang sempat ia dengarkan ketika terbangun dari tidurnya. Seungwoo memilih abai sejenak akan emosi Seungyoun juga tentang kepulangannya yang begitu mendadak malam nanti.

Ia meletakkan ponselnya kembali di meja nakas, tak peduli dengan Byungchan yang sudah cemberut karena belum sempat membaca apapun atau mengetahui apa yang menjadi pemicu dari emosi Seungwoo. "Sudah sadar?," lanjut Seungwoo dengan tawa lembut.

Byungchan menggeleng dan memilih untuk memejamkan kelopak matanya. Sesekali ia akan menguap atau juga menenggelamkan wajahnya di bahu Seungwoo. "Kau sudah bangun dari tadi?," tanyanya dengan suara serak khas orang yang baru saja terbangun.

"Tidak juga. Apa aku mengganggu tidurmu?"

Entah apa jawaban yang akan Byungchan berikan ketika Seungwoo menanyakan hal itu padanya. Ia memang terbangun karena Seungwoo. Telinganya mendengar gumam dengan nada kesal berisi makian tanpa henti, dan mau tak mau, pria Choi itu membuka matanya untuk memastikan apa yang terjadi. Terakhir ia mendengar kata bajingan, itulah saat ia memilih untuk membawa tubuhnya mendekat dan memeluk Seungwoo, berharap tindakannya itu dapat meredakan sedikit emosi Seungwoo di pagi hari.

Byungchan memilih untuk bungkam dan mengecup pipi Seungwoo dari samping. Bibirnya melengkungkan senyum yang tampak sangat manis. Seungwoo jelas melebarkan senyum melihat tingkah Byungchan yang benar-benar mengubah paginya yang semula nyaris meledakkan kepala karena masalah yang menumpuk menjadi pagi yang begitu indah.

"Tidak baik marah di pagi hari. Sebaiknya kau cuci muka," tegur Byungchan. Kalimatnya jelas tidak menjawab Seungwoo sama sekali. Telapak Byungchan justru merayap pada kepalan tangan Seungwoo dan menggenggamnya, melepaskan emosi yang terkumpul disana, hingga jemari keduanya saling tertaut.

Senyuman di wajah Seungwoo mungkin akan merobek wajah pria itu sendiri. Ia melempar tubuh keduanya untuk merubah posisi, memindahkan Byungchan yang kini berakhir di bawah kungkungannya. Kecupan-kecupan ringan silih berganti mengisi leher jenjang Byungchan. Pria muda itu terkekeh, merasa geli juga gemas dengan perilaku Seungwoo yang terkesan begitu manja di matanya.

Seungwoo sudah memeluk punggung Byungchan erat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher porselen pria dihadapannya, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam disana. Tubuhnya perlahan menjadi kian rendah, setengah menindih Byungchan, hingga kini Seungwoo tampak seperti orang yang baru saja bangun jika dibandingkan dengan Byungchan.

Gumaman manja terdengar samar dari bibir Seungwoo yang masih mengecupi leher Byungchan atau juga menggesek puncak hidungnya disana. "Tidak mau, aku masih mau tidur. Atau setidaknya seperti ini bersamamu," sergahnya setengah merengek.

Ya ampun, Byungchan baru tau bahwa Seungwoo dapat berubah menjadi seorang bayi raksasa di pagi hari.

Byungchan tersenyum dan membalas pelukan Seungwoo. Ia tak lagi melontarkan kalimat lain pada pria itu. Byungchan memilih untuk mengusap surai Seungwoo lembut, membawa tubuh Seungwoo untuk lebih bersandar padanya, mengabaikan mentari yang sudah meminta mereka untuk beranjak dari kasur.

Keduanya saling memberikan kenyamanan. Sejenak mereka melupakan beban pikiran masing-masing, atau juga memilih untuk tidak memusingkan status mereka saat ini. Byungchan tidak keberatan untuk membalas pelukan Seungwoo dan mengecup puncak kepalanya sesekali, Seungwoo pun tidak keberatan untuk bertingkah bak kucing kecil dihadapan Byungchan.

"Aku baru tau orang sepertimu bisa jadi begitu menggemaskan seperti saat ini," Byungchan tertawa pelan pada Seungwoo yang telah meletakkan dagunya di dada Byungchan dan menatap manik sang pemuda.

Seungwoo menekuk bibirnya. Kedua alisnya naik cukup tinggi. "Orang sepertiku? Memangnya aku orang yang seperti apa?"

"Entah," telapak Byungchan menangkup pipi Seungwoo dan mencubitnya sesekali. "Yang jelas, kau saat ini tidak seperti kau biasanya. Apalagi di malam hari. Aku rasa tidur dapat merubah susunan otakmu ya."

Keduanya tertawa. Seungwoo bergerak maju lebih dulu, merayap di atas tubuh Byungchan perlahan dan mendekatkan wajah keduanya. Tanpa permisi, bibirnya mendarat begitu saja di bibir Byungchan dan memagutnya. Ciuman keduanya tidak lama, hanya sebuah sapaan untuk memulai pagi, tanpa ada nafsu apapun disana.

Seungwoo mengecup bibir Byungchan sebagai kecupan terakhir kegiatan bermalas-malasan mereka. Telapaknya terasa hangat ketika mengusap kepala Byungchan dan turun menangkup pipinya. Senyum keduanya tampak penuh makna, diikuti dengan sorot dalam seakan keduanya tengah bertukar pikiran melalui pandangan saat ini.

"Kurasa kita harus sarapan sekarang. Aku tidak mau kau kelaparan dan jatuh sakit nantinya hanya karena aku terlambat mengajakmu sarapan."



Byungchan sampai di cottage ketika bulan mulai menggantikan cahaya matahari di barat. Seungwoo tidak turun dari mobil SUV yang ternyata merupakan mobil sewaan. Ia mengatakan bahwa ia tidak sempat mengantar Byungchan hingga kamarnya. Pria itu meminta maaf karena harus kembali ke hotel dengan cepat. Ia hanya mengatakan bahwa ia memiliki pekerjaan yang harus ia lakukan, dan kebetulan laptopnya berada di kamar hotel.

Byungchan sebenarnya hendak protes. Ia masih mau menghabiskan waktu bersama Seungwoo, setidaknya hingga makan malam. Tapi melihat pria itu menatapnya dengan tatapan memohon dan penuh maaf, ia tak dapat menolak selain mengizinkan Seungwoo untuk kembali ke hotelnya.

Keduanya berpisah dengan sebuah kecupan lembut di bibir. Byungchan beranjak setelah melambaikan tangannya pada Seungwoo yang memacu kendaraannya cepat. Ia mendecak pelan, lupa menanyakan kapan Seungwoo akan kembali ke Korea. Mungkin ia akan menghubungi Seungwoo besok pagi, lagi dan lagi, untuk menanyakan jadwal pria itu.

Merasa diperhatikan, Byungchan yang semula menundukkan kepala sembari melangkah perlahan menaikkan pandangan. Sorot matanya terpaku pada sosok Sihoon yang sudah berdiri di pintu utama cottage dengan kedua lengan tersilang dan ponsel menggantung di genggaman telapak tangannya.  Pria itu menatap Byungchan dengan tatapan kesal bukan main.

Telepon Byungchan berdering ketika ia berdiri tepat dihadapan Sihoon. Nama sang manajer tertera di layarnya sebelum digantikan oleh gelap dengan cepat. Sihoon memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana setelah menelepon ponsel Byungchan.

"Hanya memastikan ponselmu menyala dan dapat bersuara karena aku tidak merasa Choi Byungchan mengangkat teleponku sejak pagi hari," ucap Sihoon dengan nada ketus.

Byungchan meringis, rasa bersalah mengisi ketika melihat kekesalan sang kawan. Sihoon memang selalu khawatir dengannya, oh astaga bahkan ini bukan di Korea tapi pria itu masih saja kelewat khawatir. Keduanya memang saling memberi kabar layaknya sebuah keluarga, karena yah, mereka memang sudah tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama dan saling mempercayai. Jelas kekesalan Sihoon saat ini sangat berdasar.

Lengan Byungchan terbuka lebar, membawa Sihoon dalam rengkuhan hangat. "Maaf ya sayangku cintaku Sihoonku, aku sedikit sibuk sebenarnya," dalih Byungchan. Suaranya terdengar parau dan terpenggal di pangkal tenggorokannya, berusaha tampak menyedihkan meski hasilnya ia harus mendapatkan sebuah jitakan di kepala.

"Sibuk apa kau dengan pria kemarin huh? Malam hingga malam, kau mau pantatmu jadi apa memangnya?"

"Sialan," Byungchan melepas pelukannya dan mendorong tubuh Sihoon menjauh. "Aku tidak melakukan apapun dengan pria itu okay? Maaf maaf saja, aku bukan tipe yang suka hubungan semalam sepertimu."

Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam cottage. Sihoon melanjutkan kembali gerutuannya dengan sebuah sanggahan bahwa hubungan semalam itu bukan masalah karena kau dapat belajar banyak hal untuk seks selanjutnya. Oh astaga, ingatkan Byungchan bahwa Sihoon berusia lebih muda darinya namun memiliki mulut yang lebih kurang ajar dibanding dirinya.

"Kita besok pulang jam berapa?," Byungchan memotong kalimat Sihoon tentang panasnya seorang dominan di atas ranjang. Kepala Sihoon berputar, wajahnya tertekuk kesal.

"Kita pulang sendiri, kau mengingatkanku tentang itu," Sihoon melempar tubuhnya di atas kasur. "Hangyul harus pulang lebih dulu, tadi ia berpamitan padaku ketika aku bangun dari tidur siang. Dia bilang, ada urusan mendesak di Korea yang mengharuskan dia pulang lebih dulu dari rencana awal."

Decihan meluncur dari celah bibir Byungchan. "Pria yang menyebalkan. Kenapa kita tidak sekalian pulang malam ini juga? Ia harusnya juga dapat menjadwalkan ulang tiket kita."

"Mana kutau," Sihoon mengendikkan bahu. "Aku sudah menanyakan hal itu pada Jinhyuk, tapi dia bilang kita memang sebaiknya pulang besok saja. Tampaknya memang ada masalah cukup genting yang terjadi dan harus diselesaikan kakak beradik itu."

"Tapi kita akan jadi manusia yang kehilangan arah― apa? Tunggu, kau bilang Hangyul berpamitan denganmu ketika kau bangun tidur siang?," Byungchan duduk di sisi tubuh Sihoon. Sebuah senyum jahil menghias wajahnya. Kedua alisnya bergerak naik dan turun, menggoda yang lebih muda.

Sebuah bantal terlempar, menabrak Byungchan dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi debum pelan ketika benda itu bersentuhan dengan wajah sang kawan. Byungchan menggeram nyaring, memberikan protes pada Sihoon yang juga menatapnya kesal.

"Dia datang ke kamar bodoh, jangan berpikir yang tidak-tidak!"

"Aku kan tidak bilang dia ada di kamar yang sama dengamu!"

Setelahnya, keduanya saling menendang setelah Sihoon memulai pergulatan terlebih dulu.



Byungchan menatap layar ponselnya kesal.

Ia telah sampai di Korea, dan pesan yang ia kirimkan pada Seungwoo sama sekali belum dibalas. Jangankan dibalas, bahkan pesan itu belum dibaca sama sekali oleh pria itu. Seungwoo setidaknya akan meninggalkan pesan Byungchan dalam keadaan terbaca atau juga langsung membalasnya jika tidak ingin mengejutkan Byungchan seperti apa yang terjadi di Narvik. Bahkan pria itu langsung mengangkat telepon Byungchan di dering kedua meski ia tengah bekerja malam itu.

Sekarang? Sialan. Byungchan benci ketika harus merasa ialah yang selama ini aktif mengejar Seungwoo. Bagaimana jika Byungchan tidak menanyakan Seungwoo ketika pria itu tidak mengabarinya setelah pertemuan pertama? Mungkin mereka tidak akan saling berkabar. Bagaimana jika ia tidak menelepon Seungwoo malam itu? Mungkin mereka tidak akan berkeliling kota. Bagaimana jika ia tidak memberi informasi tentang jadwalnya di Narvik?

Bagaimana jika Seungwoo melakukan apa yang Byungchan harapkan hanya untuk menyenangkan Byungchan tanpa benar-benar berniat untuk dekat dengannya? Mungkin Seungwoo hanya ingin Byungchan tidak merasa terlalu menyedihkan sebagai seorang manusia.

Byungchan menggeram dan memilih untuk memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Telapak tangannya menarik koper miliknya yang baru saja muncul dengan kekesalan yang lumayan kentara. Bahkan Sihoon yang berdiri di sebelahnya dan meraih koper miliknya sendiri mulai memandangi Byungchan dengan penuh keheranan. Ia berusaha menepuk pundak sang kawan, namun Byungchan justru menepis tangannya. Kalau sudah seperti itu, Sihoon tidak dapat berbuat banyak selain diam dan berusaha untuk tidak terpancing.

"Ayo keluar," Sihoon memimpin langkah lebih dulu, meninggalkan Byungchan yang masih menekuk wajahnya. Keduanya tampak tak peduli dengan lautan manusia yang memenuhi pintu kedatangan, setidaknya begitu, sebelum kerumunan mulai memadati keduanya dan menahan langkah dua pemuda itu.

Byungchan tidak siap dengan hujan blitz dan bunyi berderet yang dihasilkan dari banyak tangakapan gambar pada kamera. Dua matanya membola melihat semua ini. Bahkan Sihoon yang semula berdiri di depannya kini mulai memundurkan langkah dan menyembunyikan Byungchan di balik tubuhnya, sebuah usaha yang sia-sia karena kerumunan itu terus mendesak keduanya.

Kini Byungchan melihat lebih dari lima mikrofon tanpa kabel merangsek maju,  bahkan nyaris menghantam wajahnya karena benda-benda itu terus disodorkan padanya. Petugas bandara tak dapat berbuat banyak, sebab dua orang jelas tidak dapat menahan padatnya manusia dengan kamera dan mikrofon di tangan mereka.

Semuanya berdesakan dan saling dorong, berusaha mendekati Byungchan yang masih saja kebingungan. Suara mereka riuh, Byungchan tak dapat menangkap satu kata pun yang dilontarkan padanya atau juga Sihoon. Ia tak sempat berbalik dan kembali masuk ke dalam ruang tunggu sebab salah satu ―atau mungkin beberapa orang― dari kerumunan itu telah menarik lengannya.

"Choi Byungchan, bagaimana perasaanmu saat ini?"

"Apa tanggapanmu tentang berita yang tersebar, Byungchan?"

"Apa benar ini kalian terikat dalam hubungan berdasarkan nafsu semata?"

Apa apaan?

Byungchan merasakan pening merambat. Teriakan demi teriakan yang ternyata berupa pertanyaan terus saja mengalir. Sihoon menarik tubuhnya ke depan, mencoba menerobos kerumunan wartawan televisi dan jurnalis majalah itu. Setidaknya, mereka harus mencapai tepi jalanan dan masuk ke dalam salah satu taksi yang ada.

"Aku tidak mengerti apa maksud kalian!," kesabaran Byungchan berada di ujung tanduk. Sihoon sudah memperingatinya untuk tidak menanggapi apapun sebab keduanya sama sekali tidak tau apa yang tengah terjadi saat ini. Jelas sebuah reaksi hanya akan memperburuk keadaan.

Benar saja. Riuh kian menjadi-jadi. Entah siapa yang memulai, sebab mungkin ia menyadari bahwa baik Byungchan dan Sihoon tampak terkejut dengan serbuan wartawan, desisan untuk menutup mulut mulai tersebar. Riuh berangsur reda hingga akhirnya hanya ada hening disana. Salah satu diantara para wartawa memilih sebagai yang pertama mengajukan pertanyaan pada Byungchan.

"Apa benar kau dekat dengan Han Seungwoo, Byungchan?"

Dan rentet pertanyaan mulai mengalir meski tidak seanarkis tadi.

"Kalian bertemu di pesta?"

"Apa dia mendekatimu karena kau model majalah dewasa?"

"Jadi benar kau dan dia terikat dalam hubungan yang didasari nafsu saja?"

"Apa benar kalian melakukan liburan bersama di Narvik?"

"Pemotretanmu di Narvik hanya sebagai kedok atas hubungan kalian?"

"Sejauh apa hubungan yang terjalin antara kalian berdua?"

Byungchan berang. Sihoon sudah menarik-narik lengannya, memaksa untuk masuk ke dalam taksi setelah usaha mereka untuk menembus kerumunan itu berhasil. Byungchan justru menyentak cengkraman Sihoon, mengabaikan sang manajer yang nyaris menjerit dan memakinya dihadapan para wartawan atau juga jurnalis.

"Aku bersumpah tidak mengerti apa maksud kalian! Aku bahkan tidak mengerti apa yang terjadi disini!"

Tidak pernah sekalipun Byungchan disambut wartawan atau jurnalis ketika ia berpergian atau juga ketika ia bekerja. Memang ia merupakan model yang memiliki nama cukup besar, pula didukung dengan perusahaan majalah yang sudah mengglobal sebagai tonggak karirnya. Hanya saja, ini semua terlalu berlebihan. Siapa yang mau menyorot seorang model majjalah dewasa untuk berita mereka? Gila, tidak mungkin.

Dan, apa tadi? Han Seungwoo katanya?

Para wartawan dan jurnalis saling melempar pandangan kebingungan mendengar tanggapan Byungchan. Mereka mulai menulis sesuatu di ponsel atau juga notes kecil mereka, entah apa itu. Salah satu yang berdiri cukup dekat dengan Byungchan berdeham, menarik atensi sang model juga manajernya.

"Apa kau tidak tau, Byungchan? Han Seungwoo ditangkap karena kasus narkoba yang begitu besar dan menghebohkan di Korea. Tidak ada yang tau siapa Han Seungwoo sampai polisi menangkapnya kemarin malam di bandara dengan tuduhan tersangka gembong narkoba. Kau tau siapa Han Seungwoo, benar?"

Byungchan benar-benar merasakan pusing menghantamnya.

Ia tidak mendengar Sihoon yang bercakap-cakap dengan orang lain dengan nada terkejut dan suara bergetar.

Byungchan mengerjap setelah menyadari ia kini telah berada di dalam mobil sedan hitam, duduk di sisi kemudi dengan pandangan kosong. Maniknya bergerak lambat, menangkap sosok asing melajukan kendaraan dengan kecepatan yang tidak wajar di jam kerja seperti saat ini.

Sang pria menoleh, menatap Byungchan sejenak dari sudut matanya dan Sihoon yang duduk di kursi belakang melalui spion. Ia mendesah jengah dan bergumam kasar dengan bahasa yang belum pernah Byungchan dengar sebelumnya.

"Aku akan mengantarkan kalian ke rumah utama, kalian akan menetap disana sampai semuanya menjadi lebih baik," sang pria mendorong kacamata hitam yang sempat merosot dari pangkal hidungnya. Kalimatnya terdengar berantakan karena harus bersinggungan dengan permen lolipop di dalam mulutnya.

"Namaku Seungyoun," lanjutnya. "Seungwoo dan Hangyul memintaku untuk menjemput kalian."

"A-apa yang terjadi―?"

Seungyoun mendengus muak tanpa menoleh pada Byungchan. Ia tetap fokus dengan jalanan di depannya. Bahkan pria itu lebih terkesan seperti orang yang tengah membuang pandangannya dari dua sosok lain di dalam mobil.

"Aku tidak berhak menjelaskannya. Tanya saja dua manusia tolol itu," Seungyoun melirik Byungchan sekilas, menangkap pandangan sang pemuda untuk fokus pada dirinya. "Terutama Seungwoo."

.
.
.
.
.

a/n:

Jadi:

1. Hangyul penyedia jasa pembunuh bayaran.

2. Seungwoo dituduh sebagai bandar besar narkoba.

3. Jinhyuk merasa bersalah dengan Hangyul karena dia dari kecil sampai cukup dewasa tidak mengerti apa yang terjadi dan hanya menikmati pemberian orang tua keduanya tanpa menolak, bahkan dia senang akan hal itu. Itu kenapa Hangyul bilang secara tersirat bahwa apa yang terjadi sama Hangyul hingga karakternya terbentuk berkebalikan dengan Jinhyuk, kenapa dia jadi seperti ini sekarang, itu semua karena Jinhyuk selalu egois.
Dua-duanya salah, Jinhyuk nggak menolak sejak awal dan Hangyul nggak mau coba mengerti kalau Jinhyuk masih belum tau kalau apa yang dilakukan orang tua keduanya terhadap Hangyul selama ini salah karena bagaimanapun Jinhyuk cuma anak kecil waktu itu.

4. Awalnya Hangyul memang cuma memanfaatkan perasaan Sihoon dan menjadikan pria itu mainannya. Tapi dia salah, memanfaatkan perasaan tulus seseorang pada akhirnya hanya membuat dia jatuh di perasaan yang sama. Iya, Hangyul mencintai Sihoon. Keduanya saling mencintai tapi dengan cara yang salah. Hangyul takut kalau Sihoon harus terkena imbas dari pekerjaannya, dan berakhir menjadi orang yang terlampau posesif. Dia melakukan kekerasan hanya untuk menahan Sihoon agar tidak berani pergi darinya. Itu kenapa Hangyul tanya kenapa Sihoon melakukan ini, membuat dia jatuh cinta, karena Hangyul tau resiko yang mungkin bakal Sihoon tanggung (dicelakai orang, dsb).
Seungyoun memperingati Seungwoo bahwa dia akan berakhir sama seperti Hangyul kalau dia memanfaatkan orang, terlebih mengenai perasaan tulus orang tersebut. Maksudnya Hangyul retak dan siap menjadi abu: Hangyul mudah untuk dihancurkan, caranya? Sihoon, of course.

5. Hari dimana Sihoon ditarik pulang dari pesta Cerulean dan Jinhyuk menelepon Byungchan ketika melakukan seks adalah hari yang sama ketika Seungwoo menanyakan Byungchan untuk pertama kalinya dan menyulut Hangyul dengan mengatakan Sihoon cukup menarik di matanya.

6. Seungwoo punya informasi tentang orang yang mau menjatuhkan usaha Jinhyuk, juga perlindungan yang lebih besar terhadap Jinhyuk dibandingkan Hangyul. Dia memanfaatkan informasi-informasi dan proteksi yang dia punya untuk ditukar dengan apa yang dia mau, Byungchan contohnya. Win win solution.

7. Tawaran untuk membujuk Seungwoo turun tangan salah satunya dengan menyediakan jasa baginya untuk melakukan hubungan seks.
Itu kenapa Jinhyuk nggak bisa menolak Seungwoo ketika pria itu menanyakan tentang Byungchan (Jinhyuk bermaksud untuk memperingati bahwa ia tidak akan menyerahkan model-modelnya untuk melakukan hubungan seks pada siapapun tapi Seungwoo sudah memotong kalimatnya lebih dulu dan menyinggung tentang Wooseok).
Wooseok siapa? Nanti deh.

8. Sudah paham kan kalau Seungyoun itu orang kepercayaan Seungwoo? Dia yang mengurus banyak hal terkait Seungwoo, termasuk menahan polisi untuk tidak berbuat lebih selain menjemput Seungwoo untuk diinterogasi. Yah, tapi Seungwoo terlalu bebal dan memilih untuk mengabaikan kemungkinan kehancuran dari karirnya dengan mangkir dari panggilan kepolisian.

9. Seungwoo sangat sangat berbahaya.

Masih bingung?

3014 kata nih buset panjang bener:( maap ya kalian pasti pusing baca sepanjang ini:(

With luv,
Jinny.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top