Part 24

2020.10.24 [20.38]

GOODBYE
by Inas Sya

"Anggap saja tiap langkah yang kuambil adalah detik-detik pembalasan dendam itu."

Now playing | Dear No One – Tori Kelly

***

"Halo?" Rendi mengangkat telepon begitu keluar dari ruangan Arnold. Ia baru saja mendapatkan jackpot sehingga memiliki dugaan kuat tentang siapa pelaku di balik semua ini. Argo tiba-tiba menghubunginya, mengatakan ada hal penting yang harus ia katakan. "Kenapa? Gak ada masalah di sana, kan?"

"Gak ada. Sepertinya ini memang benar markas pelaku. Gue nemu hal yang aneh di sini."

Rendi tampak tertarik. Dia berjalan menjauh dari ruangan Arnold, berhenti di depan sebuah laboratorium sembari menatap ke bawah, tepat di mana lapangan outdoor berada. "Apa?"

"Di pintu belakang, ada jalan setapak. Kalau kita ngikutin jalan itu sekitar 15 menit, bakalan sampai di belakang rumah saksi."

"Rumah Karen?" ulang Rendi tak percaya. Dia jadi ikut mencurigai Karen, meski kemungkinan gadis itu terlibat sangatlah kecil.

"Iya. Ada lagi yang mau gue omongin." Sepertinya apa yang akan Argo katakan lebih penting dari berita jalan temuannya. Ia mendengar helaan napas dari seberang sana.

"Ada yang penting lagi?"

"Penting, ini penting banget menurut gue. Kalau pelaku gak ditemukan di sini, dia ada di mana? Firasat gue mengatakan bahwa dia sedang menjalankan rencananya. Rencana apa, gue gak tahu pasti." Argo terdiam sejenak. Tampaknya ia ragu mengatakan kelanjutannya pada Rendi.

"Ada yang lo sembunyiin dari gue?"

"Ini cuman dugaan gue. Gue harap apa yang gue duga bukan kebenarannya." Lagi-lagi Argo menghela napas lalu melanjutkan, "Devan kemungkinan ada di daftar target pelaku."

Rendi tak percaya mendengarnya. "Devan? Maksud lo keponakan gue?"

"Emang ada yang namanya Devan selain keponakan lo?" Argo berdecak. "Gue kemarin cari tahu dari nomor ponselnya dia. Lo masih ingat pesan yang dikirim ke nomor Nizar dan Aldian, kan? Di situ jelas ada yang mengirimkan pesan kalau mereka disuruh ke sekolah. Awalnya gue lagi cari tahu dari nomornya Brian, dan ternyata emang ada pesan yang sama. Lalu gue penasaran juga sama Devan, karena dia salah satu anak donatur Andromeda. Yang mengejutkannya, Devan juga dapat pesan yang sama persis dengan mereka bertiga."

"Jadi, lo punya dugaan kuat bahwa Devan ada di daftar target pelaku sejak dulu?" tanya Rendi memastikan. Ia memang telah menangkap maksud dari ucapan Argo. Sebagian dari dirinya berusaha meyakinkan bahwa Devan tak mungkin menjadi incaran pelaku.

"Bukan hanya itu, Devan bisa saja diincar oleh pelaku malam ini." Argo berdiri di depan sebuah papan tulis. Ia mengambil foto seorang pemuda yang tengah berjalan dengan seragam SMA. "Ada foto Devan di ruangan pelaku. Di sini tertulis, 1 Agustus."

"1 Agustus? Artinya besok," gumam Rendi. Argo masih bisa mendengarnya.

"Lebih tepatnya, dua puluh menit lagi."

***

"Ayah? Karen gak punya Ayah, Ma."

"Kamu punya," ujar Emma. Ia mengambil tangan Karen, menggenggamnya. "Dia ada di sini, darahnya mengalir di dalam tubuh Karen. Mama gak akan pernah lupa itu."

Karen menatap wajah ibunya di kaca. Ia melihat Emma tersenyum, lantas kembali menyisir rambutnya seperti tadi. "Bagaimana rupa Ayah, Ma?"

"Rupa Ayah?" Emma terlihat berpikir, gerakan tangannya semakin memelan. Cahaya matahari sore yang melewati celah jendela di kamar itu tak membuat ruangan Karen terang sepenuhnya. Tak ada suara selain hal yang mereka bicarakan, seolah di dunia ini tak ada orang lain. Hidup berdua di rumah besar yang terlihat kuno memang bukan perkara mudah, namun tak ada yang bisa mereka lakukan selain menjalaninya. Bagi Karen, ia tak mempermasalahkan semua yang terjadi padanya, asalkan Emma senantiasa berada di sisinya. "Dia sangat tampan dan pintar. Bahkan Mama tidak bisa menyaingi keunggulannya saat sekolah dulu."

Mata Karen tampak berbinar, tertarik dengan bahan pembicaraan mereka. "Mama sama Ayah dulu satu sekolah?"

Emma mengangguk. "Kami satu sekolah dari TK, bahkan sampai SMA selalu satu kelas. Bukan hanya itu, Mama juga satu kampus dengan Ayah kamu."

"Benarkah?" Karen menoleh ke belakang, menatap ibunya. "Ayah sama Mama temenan dari kecil, dong."

"Benar. Mama sama Ayah dekat banget."

Karen melihat raut wajah cerah ibunya. "Tapi, sekarang Ayah di mana? Kenapa Karen gak pernah melihatnya?"

Emma tak menjawab. Tangannya menangkup wajah kecil Karen, mengarahkan untuk menatap ke depan. Ia mengumpulkan rambut Karen, mengepangnya. Diambilnya jepit bunga putih untuk dipasangkan di rambut Karen. Ia tersenyum puas melihat tampilan sang putri.

"Karen tahu kenapa Mama suka bunga daisy?"

"Karena namanya sama kayak nama Karen. Itu yang Mama pernah bilang," jawab Karen.

Emma meletakkan tangannya di kedua bahu Karen, ia berbisik, "Karena Ayah kamu."

"Karena Ayah?"

"Mama suka bunga daisy karena dia sangat mirip dengan Ayahmu." Emma menghentikan ucapannya. Ia mengusap lembut pucuk kepala Karen. "Suatu hari nanti pasti Karen paham dengan apa yang Mama katakan. Ayahmu seperti daisy di kehidupan Mama. Mama juga pernah bilang, Ayahmu adalah satu-satunya teman yang Mama punya dari dulu. Tanpa seorang teman, kita gak akan bisa bertahan hidup."

"Ayah gak ada di sini, Ma. Itu artinya Mama gak bisa bertahan hidup?" tanya Karen polos. Tatapannya tampak sendu.

Emma terkekeh kecil. "Kan, ada Karen. Sejak Karen ada di dunia ini, posisi Ayah kamu sudah tergeser."

"Tergeser? Kenapa, Ma?"

"Karena Ayah memilih untuk pergi dan ninggalin Mama sama Karen. Bukankah Mama tidak lagi bisa menganggapnya teman?" Ibu anak satu itu menatap wajahnya sendiri di kaca. Tatapannya terlihat datar.

Karen mengangguk saja. "Ayah pergi ke mana? Kata anak yang satu kelas sama Karen, Ayah pasti udah pergi ke surga karena Karen gak pernah ketemu."

Emma menggeleng, bibirnya tersenyum kecil. "Ayahmu tidak di surga," ujarnya tenang. "Dia ada di neraka."

Bola mata Karen membulat, menatap ibunya tak percaya. "Neraka?"

Suara tawa terdengar, Emma menepuk pipi gembul putrinya. "Tidak, sayang. Mama cuman bercanda."

"Gak mungkin." Karen menggelengkan kepala berulang kali. Ia mengusap wajahnya. Tatapannya tampak tidak fokus.

"Gue pasti udah gila," gumamnya. Karen tertawa, seolah ada yang lucu tentang dirinya. "Tulisannya cuman mirip sama punya Mama. Bukan berarti ini memang tulisan Mama."

"Mama gak mungkin melakukan semua ini."

Suatu hari nanti pasti Karen paham dengan apa yang Mama katakan.

Perkataan yang pernah terucap dari bibir Emma memenuhi pikiran Karen. Ia dulu masih sangat lugu, tak tahu apapun. Semua hal yang dikatakan Emma seolah menjadi pedoman baginya karena hanya wanita itulah satu-satunya keluarga yang ia punya. Satu-satunya teman yang selalu ada sejak Karen terlahir di dunia ini.

Apa yang dikatakan Emma di masa lalu mengingatkan Karen akan perkataan Genta tentang bunga daisy beberapa jam lalu.

Lo tahu arti nama Daisy, kan? Bukan bunga, tapi matahari.

"Matahari?" gumam Karen mengulangi. Artinya, Ayah Karen memiliki arti seperti matahari bagi Emma. Itu cukup mendalam menurut Karen.

Lalu, apa hubungannya dengan semua ini?

Seberapa keras Karen menyangkal semuanya, ia tak bisa mengabaikan fakta bahwa dirinya sangatlah mengenali tulisan tangan yang ada di kertas anonim itu. Bukan hanya mirip, dalam dirinya sangat yakin bahwa kertas itu ditulis langsung oleh Emma. Karen tak mungkin salah dengan ibunya sendiri.

Tapi, Mama sudah lama menghilang.

Dua tahun lamanya Karen tak bisa menemukan keberadaan Emma. Bahkan polisi terpaksa harus menutup kasus menghilangnya Emma setelah kecelakaan. Lantas, apa ini? Benarkah ibunya kembali? Dan apa hubungannya dengan semua hal yang telah terjadi padanya?

Bola mata Karen kembali bergerak menatap kertas yang masih ia pegang. Semua pesan anonim yang selalu ia dapatkan seolah menyiratkan bahwa penulisnya menjadikan Karen sebagai prioritas, namun dengan cara yang salah.

Besok hari yang istimewa?

Dahinya terlipat dalam membaca kalimat itu. Karen termenung, ia bergegas kembali ke kamar, mengambil ponsel. Tak dipedulikannya Bong-Bong yang tiba-tiba bangun karena terusik. Ia menemukan ponselnya tergeletak di atas kasur.

"Sekarang hari Jumat, tanggal 31 Agustus." Karen memutar otak, berpikir hari istimewa apa yang sangat penting bagi dirinya besok.

"Artinya besok tanggal 1 Agustus," lirihnya. Ia menutup mulut tak percaya. Tangannya gemetar.

Esok tepat hari ulang tahun Karen.

***

Suara kaki melangkah di antara keheningan tengah malam itu terdengar jelas. Seorang wanita dengan wajah tertutup tudung jaket hitam yang ia kenakan berjalan menyusuri jalanan setapak yang sepi. Bibirnya melengkung ke atas, dengan warna lipstik merah pekat yang menghiasinya. Tak urung ia juga menyenandungkan lantunan nada mengiringi setiap langkah yang ia ambil.

Tangannya terangkat, mengarahkan satu tangkai bunga daisy yang dia pegang ke depan hidung, merasakan aroma khas yang sangat ia kenali. Lampu jalan di depannya meredup, lalu tiba-tiba mati dan menyala lagi. Begitu seterusnya, seakan sedang bermain dengan gelapnya area perumahan itu.

Ia membelokkan arah menuju sebuah rumah tanpa gerbang. Dalam sekali lihat, siapa saja bisa tahu penghuni rumah pasti sudah tidur karena kondisinya yang sepi dan gelap. Kakinya melangkah tanpa ragu, seakan berniat untuk bertamu meski waktu hampir menunjukkan di ujung hari. Dalam hitungan menit telah berganti tanggal dan bulan, berganti dengan hari yang paling ia tunggu.

Ia membungkuk. Diletakkannya bunga daisy tepat ketika kakinya menginjak teras rumah besar itu. Ia kembali berjalan dan berhenti di depan pintu. Sudut bibirnya tertarik ke bawah, membuat garis datar tanpa ekspresi sebelum akhirnya mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

***

To be continued....

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top