8. Progress
Written by nadialistinaa_
Hening. Hanya sesekali terdengar suara klik dari mouse. Mata Dexter fokus menatap layar komputer. Pandangannya menyusuri grafik cantik juga ribuan komentar positif yang ada di hadapannya. Ia tersenyum puas. "Tidak salah aku bekerjasama dengan mereka. Ini luar biasa!"
Dexter beranjak dari tempat duduknya. Setelah selesai dengan rutinitas paginya, ia pergi untuk sarapan lalu jalan-jalan dan membeli beberapa barang.
"Lucu. Gadis itu pasti akan menggemaskan jika memakai ini, tapi setelahnya dia akan memaki ku," ucap Dexter setelah menemukan sesuatu di salah satu toko. Ia tertawa membayangkan bagaimana wajah kesal Farra.
Setelah membayar, Dexter melangkah menuju mobil lalu bergegas menemui Farra.
"Selamat siang, Nyonya. Aku ingin mengajak Farra makan siang," ucap Dexter setelah mendapati mama Farra membuka pintu rumah.
"Oh, Dexter rupanya."
"Benar Nyonya." Dexter tersenyum, "bolehkan aku mengajak Farra pergi?" tanya Dexter lagi.
"Anak itu belum lama pergi, tak tahu dia pergi kemana."
Apakah dia menemui Leon?
"Baiklah, jika begitu aku permisi, Nyonya." Dexter sedikit membungkukkan badannya lalu berbalik meninggalkan rumah itu, dibalas dengan anggukkan dari mama Farra.
Dexter menyusuri jalan, ia berniat untuk pergi kerumah Leon. Barangkali saja Farra pergi kesana. Tapi laju mobilnya terhenti ketika mendapati sosok gadis yang ia cari sedang berdiri di bawah pohon, pandangannya tertuju pada Frost Lake. Tempat yang sama ketika mereka pertama kali bertemu.
"Apa dia selalu datang kemari?" Dexter memicingkan mata. Ia lantas memarkir mobilnya lalu pergi menghampiri Farra.
"Hai Farra. Apa yang kau lakukan di sini?" Dexter berjalan mendekat. "Sudah dua kali kita bertemu di sini tanpa sengaja bukan? Aku pastikan untuk ketiga kalinya, saat itu kita sedang berkencan." Dexter meringis.
Farra menengok ke arah sumber suara dan menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa kau kemari?"
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Aku baru saja mendatangi rumahmu tapi kau tak ada, dan kebetulan aku melihatmu di sini." Farra menghembuskan napas perlahan lalu mengalihkan pandangan kembali ke Frost Lake. "Sudahlah. Danau itu tak akan menghilang meskipun kau tak memandanginya. Ayo cepat pergi dari sini."
Dexter menarik tangan Farra, "Hei lepaskan tanganku!" Farra menarik tangannya. Dexter mengedikkan bahu.
"Kau ingin makan apa?" tanya Dexter saat mereka sudah memasuki mobil.
"Terserah kau saja."
"Baiklah." Setelah itu hanya keheningan diantara mereka.
***
Sampai di tempat makan, Dexter memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka. "Ini untukmu." Dexter memberi bungkusan kecil kepada Farra ketika sang pelayan sudah pergi.
Farra menautkan kedua alisnya. "Apa ini?"
"Buka saja. Aku membelinya tadi pagi. Kurasa itu sangat cocok untukmu." Dexter tersenyum lebar.
Dengan malas, Farra menerima pemberian Dexter lalu membuka bungkusan itu. Matanya membulat, "Kau memberiku ini?! Jepit rambut? Apa kau sedang bercanda?" pekik Farra dan membuat Dexter tertawa. "Aku tidak mau. Terima kasih."
Dexter berhenti tertawa, "Hei kau harus menerimanya."
Farra membuang napas kasar, "Baiklah. Aku akan terima ini. Tapi aku tak akan memakainya!"
"Kau harus memakainya. Setidaknya kau akan terlihat lebih feminin dan dengan begitu kau akan merasa malu ketika bersikap dingin terhadapku karena tak sesuai dengan penampilanmu ketika memakainya." Dexter mengacak sekilas ujung rambut Farra lalu tertawa kembali.
Farra menatap Dexter tajam dengan wajah kesal. Ia tak berniat untuk membalas Dexter, itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga.
"Baiklah ... maafkan aku." Dexter mengedikan bahu dan mengangkat tangannya. "Kenapa kau begitu dingin? Apa kau memang terlahir seperti ini? Apa kau tak takut menjadi perawan tua? Ah, tidak. Tenang saja, kau tak akan menjadi perawan tua karena aku akan menikahimu." Farra mendengus kesal lalu membuang muka, itu sukses membuat Dexter terkekeh geli.
"Apa kau marah? Sudah kuduga." Dexter tertawa lagi.
"Aku tidak marah. Untuk apa aku marah?"
Dexter berhenti tertawa. "Oke. Aku akan memberitahumu sesuatu agar kau tak marah lagi."
Farra menaikkan sebelah alis menatap lelaki di depannya. "Tentang apa? Traffic game kita? Aku sudah tau."
"Kau juga sudah melihatnya?"
"Aku sudah mengecek perkembangan game kita. Trafficnya meningkat secara signifikan. Banyak yang antusias dengan game ini," ucap Farra.
"Sudah kuduga ini akan terjadi, ketika kita bertiga bergabung, kita menjadi tim yang hebat. Game ini pasti sukses dan menjadi game terbaik sepanjang masa." Dexter menyadarkan punggung ke sandaran kursi dan melipat kedua tangan di depan dada.
"Aku memang hebat," sahut Farra singkat.
"Ya kau memang hebat. Tak hanya hebat membuat desain, kau juga hebat bisa membuatku takhluk." Dexter tersenyum lebar membuat Farra memutar bola mata malas.
"Ya ya! Ah, ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mengenal Leon? Apa kalian teman satu sekolah?" tanya Farra.
"Yup." Dexter mengangguk.
"Apa saja prestasi yang sudah diraihnya?" tanya Farra lagi. Dexter menaikkan sebelah alisnya. "Aku hanya bertanya."
Dexter membuang napas pelan. "Setahuku dia sudah cinta pada programming sejak secondary school. Ia juga membuat beberapa game Android, website, sampai sejumlah aplikasi Android dan IOs."
"Benarkah? Lalu apa lagi?" Farra antusias.
"Ia juga memperoleh beberapa penghargaan saat mengenyam studi di high school, yaitu medali emas untuk Teori Terbaik serta Peserta Pria Terbaik pada Olimpiade Sains. Tidak cuma itu, Leon juga sempat dinobatkan menjadi lulusan terbaik saat high school."
"Wow."
"Aku mengajakmu kesini untuk makan. Bukan membicarakan orang lain. Apalagi itu Leon!" Dexter mendengus kesal.
"Baiklah ... baiklah." Farra mengedikkan bahu lalu tertawa kecil.
***
Thank you readers .... Hope you enjoy this story 🐼
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top