-6-

"Kau tahu apa kalimat pertama yang keluar dari mulutnya? 'Kenapa kau begitu gemuk?'" kataku pada telepon yang kuhubungkan dengan headset. Aku sedang sendirian di ruang kantor berplat 'administrative' yang terdiri dari sebuah meja bulat plastik putih di ujung serta empat meja persegi metal berlapis kayu cerah yang disusun berpasangan di dinding dan saling berhadapan. Tempatku adalah di meja terbesar, agak menghadap pintu, penuh oleh monitor lebar, rak dokumen mini berbahan besi, dan alat cetak plus pemindai di pinggir. Mesin printer itu cukup menegaskan pekerjaan yang akan sering kulakukan, seperti saat ini.

Akibat kena tegur dua kali tadi, aku jadi tidak berani makan siang sebelum tugasku selesai—orang kedua adalah Maggie Howard, yang mengantarku ke ruang ini sambil marah-marah karena dia-begitu-sibuk-menjalani-serangkaian-rapat-ketimbang-mengurus-anak-bawang-yang-tak-tahu-disiplin-sepertiku, lalu berseru nyaring ke seluruh staf administrasi, "Ini Ashley Hilary, rekan baru kalian. Tunjukkan padanya bagaimana menjadi karyawan yang layak."

Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Untunglah.

"Kita memang gemuk, Ashley," balas Mom di sana, "tapi itulah yang disukai Michael. Dia menjuluki perutku 'bantal menggemaskan'."

Aku menggeleng tidak nyaman sambil berdiri di depan mesin cetak untuk menunggu hasil scan. Berbanding terbalik dengan Maggie, rekan kerja adminsitrasi jauh lebih menyenangkan, dan salah satu cewek berdarah Asia, Vivian Lee, membuat suasana hatiku membaik dengan mengatakan kalau Maggie memang orang nomor satu yang paling dibenci di kantor ini. Heather adalah nomor dua. Jadi bisa dibilang aku cukup sial bertemu keduanya sekaligus pagi ini.

"Oke, lupakan soal bantal menggemaskan," desahku, membuka penutup scan yang sepaket dengan mesin cetak, lalu membalikkan kertas di dalamnya sebelum menaruh ke atas lempengan kaca. Masih ada dua map besar penuh dokumen yang harus ku-scan, dan ini sudah hampir setengah jam sejak istirahat makan siang.

"Kenapa kau tidak pernah bilang kalau Dad sudah menikah dan memiliki putri yang sarapan sebuah apel setiap pagi?"

Mom tertawa gugup jauh di sana. "Kukira ini akan menjadi kejutan saat kau tau kau punya saudara."

"Yeah, aku begitu terkejut, apalagi saat ban mobil yang seharusnya membawaku kerja ditusuk puluhan paku, dan akhirnya gajiku dipotong lima puluh dolar." Lambungku mulai menjerit minta diisi, dan aku mulai berpikir untuk menghentikan kegiatan scanning sejenak. Persetan dengan laporan penjualan, perutku lebih penting.

"Oh, putriku yang malang," kata Mom dramatis. "Kau pasti bisa menghadapinya, Ashley. Kau lah Drowen yang sebenarnya, satu-satunya putri yang membawa darah ayahmu, sang pewaris sah—"

"Tunggu," potongku tajam, "karena itulah kau menyuruhku ke sini? Untuk mewarisi semua kekayaan Dad?"

Suara tawa Mom terdengar lebih sumbang sekarang. "Sampai nanti, Sayang. Asal kau tahu, sekarang sedang jam kerja di New York. Bosku segera datang, buh-bye!"

"Halo, Anak Baru!" sapa Vivian yang membuka pintu, diikuti Stella dan Natasha, staf administrasi lain, serta dua laki-laki yang tidak kukenal. Ia menaruh sekotak pizza di atas meja bulat dekat dinding kaca yang menghadap halaman parkir. "Aku tahu kau belum berani makan—sebagian orang selalu begitu di hari pertama kerja—jadi kubeli pizza keju untuk kita makan di sini."

"Kau adalah penyelamat hidupku," kataku antusias, melepas blazer sebelum menghampiri meja makan yang sudah dipenuhi lima orang. Mereka beramai-ramai berdiri dan menawarkanku tempat, tapi segera kutolak sambil menarik salah satu kursi beroda, lalu duduk di antara Vivian dan seorang laki-laki berambut ikal kemerahan yang memakai kacamata hitam persegi.

"Sebenarnya aku yang memesan pizza ini," ucap laki-laki berambut merah itu. Dari kemeja biru kotak-kotak dan celana jins yang dikenakan, aku sudah bisa menebak kalau ia adalah staf IT.

"Oh, berapa aku harus membayarmu?" Aku bertanya sambil menarik sepotong pizza dan menggigit ujungnya. Gumpalan kue panggang berlumur keju tebal itu menyebar sempurna ke seluruh sudut mulutku, rasa asin gurihnya merangsang lidahku sedemikian rupa hingga aku mataku terpejam penuh kenikmatan.

"Tidak, tidak, aku mentraktir hari ini," kekehnya. Ia mengulurkan tangan. "Aku James Rutherford, bagian IT. Bagaimana hari pertamamu?"

"Ashley ... um, Ashley Hilary." Aku mengangkat pizza di tangan, memberi isyarat kalau tidak bisa membalas salamnya. "Well, yang baru kupelajari hanya memindai dokumen."

Laki-laki lain yang bertubuh kurus pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya tiba-tiba tertawa keras. "'Ku Frank," katanya memperkenalkan diri, lalu melanjutkan tawanya yang membahana lagi.

"Dia memang seperti itu," jelas James.

"Orang-orang menyebutnya Frankenstein The Undead—Frankenstein yang tidak mati," timpal Vivian.

"Tapi jangan khawatir, dia tidak akan memakan otakmu. Dia hanya makan pizza," sambung James lagi.

Yang disebut namanya itu malah terkekeh paling keras di antara semuanya, seakan menyetujui. Frank menghabiskan pizzanya dalam dua kali gigitan, yang membuat sebelah pipi tirusnya menggelembung seukuran bola golf setiap kali ia mengunyah.

"Ada lagi. Julukan untuk Maggie, apa itu namanya ...." Vivian berhenti sejenak untuk berpikir.

"Dia yang paling tidak diinginkan nomor satu?" Stella, yang tampak paling muda, menjawab ragu.

"Kukira Darth Vader," sela James.

Vivian menggeleng dengan gemas. "Bukan, itu untuk Heather. Astaga, kalau kita semua lupa begini terus, bakal susah mengatai mereka dengan aman. Kau juga harus terbiasa, Ashley. Ngerti kan, jadi kalau gajimu dipotong lagi dan ingin mengeluh, kau bisa meng-update status di Twitter, 'Mati kau, Darth Vader!', lalu kami semua akan like dan re-tweet karena paham."

"Dasar k'lian semua." Frank menunjuk kami sambil tertawa.

Baru saja ingin membalas kalau aku tidak punya akun Twitter, mendadak pintu kayu ruangan menjeblak terbuka dengan suara keras, mengakibatkanku tersentak sampai kursiku terdorong beberapa senti ke belakang. Vivian yang paling kaget di antara kami semua tanpa sengaja melempar pizzanya hingga jatuh ke atas rokku.

"Oh, sial, sial, maaf," gumamnya buru-buru sambil menarik tisu di tengah meja.

Si pelaku pendobrakan itu tidak mempedulikan insiden pizza jatuh, dan langsung mengarahkan telunjuknya pada James. "Kau," kata Heather lelah, seakan baru saja berlari dari satu benua ke benua lainnya sebelum berlabuh di depan pintu staf administrasi. "Rupanya kau di sini. Telepon kantor tidak diangkat, ponsel tidak aktif. Temui aku setelah pulang kerja, Rutherford."

Heather menyipitkan mata padaku kemudian. "Jangan pernah pakai blus itu lagi, Anak Baru," ucapnya sebelum pergi.

"Ada yang salah dengan blus putih?" tanyaku, mengambil tisu dari tangan Vivian agar ia berhenti mengelap rokku. "Maksudku, Stella juga pakai blus putih."

"Punyamu mirip dengan yang pernah dipakai Heather," jelas Vivian, merebut sampah tisuku, lalu aku lega karena ia meremasnya ke dalam bulatan padat dan melempar ke dalam tong sampah plastik di dekat kami. Bola tisu itu memantul dan menggelinding di sekitar. Berinisiatif, Natasha bangkit untuk memungut sampah itu kembali ke tempatnya.

James mendesah, lalu memutar bola mata. "Bagaimana kalau kita ganti julukannya jadi Pembawa Malapetaka saja?"

Spontan, aku menoleh lurus padanya.

"Jangan ganti terus." Vivian masih sibuk membersihkan rokku dengan tisu, walau sudah kubilang tidak apa-apa.

"Apa?" tanya James canggung saat kutatapi terus.

Aku mengerjap sambil menoleh ke arah lain, memasukkan sisa terakhir pizza ke mulut. "Itu julukan menarik."

"Oh." Vivian mengambil pizza baru lagi, sementara pizza yang kotor tadi ia letakkan di dalam penutup kardus. "Baiklah, baiklah, terserah kalian."

***

Kursi kayu berbantalan tipis itu sedikit berderak saat aku memanjat ke atasnya.

Berusaha menjaga keseimbangan, aku mengikat benang nilon yang baru kuminta pada Juliet tadi ke celah penutup lampu gantung di langit-langit bercat merah muda. Benang itu memanjang sekitar satu meter ke bawah, dan pada ujungnya tergantung bungkusan plastik berisi beberapa paku yang berhasil kuamankan dari tempat kejadian perkara di garasi, yang digunakan Celline untuk melubangi ban mobil. Di depan bungkus itu bertempel kertas dengan tulisan tinta merah, 'KUKEMBALIKAN PADAMU'.

Kamar Celline sedikit lebih besar dariku, bernuansa penuh merah muda dengan aroma mawar lembut dan pernak-pernik feminim sehingga aku merasa baru saja memasuki dunia Barbie. Celline bahkan memiliki poster seukuran orang asli bergambar dirinya sendiri yang memakai gaun putih dan sayap malaikat, ditempel samping kaca rias. Sedikit hiasan metal di kamarnya mungkin akan memberi variasi.

"Hei."

Tubuhku bergoyang ke segala arah bagai rumput ditiup angin, nyaris terjatuh dari kursi. Justin, yang mendadak muncul di depan pintu, segera masuk dan menahan kedua paha di bawah celana pendekku. Sadar kalau kaus longgar biru mudaku tersingkap sehingga siapa saja yang posisinya lebih rendah dariku mendapat pemandangan ekstra, aku menurunkan tanganku yang selesai mengikat simpul, lalu melipat lengan.

Justin melepaskan tangannya, nyengir lebar. Ia memakai kaus tanpa lengan bergambar wajah singa dan celana kargo pendek. Parfumnya yang berat dan menyengat terasa tidak cocok di tubuh remajanya, seolah ia berusaha terlalu keras untuk menunjukkan dirinya.

"Celline tidak di rumah," cetusku setelah melompat turun. Bantalan merah muda di atas kursi kayu yang mengempis itu pelan-pelan mengembang lagi ke bentuk semula.

"Aku tahu," katanya sambil menggaruk belakang kepala, "dia sedang pemotretan."

"Jadi apa yang kau lakukan?" Aku menepuk kedua telapak tangan, mengagumi karyaku yang bergelantungan di bawah lampu. Celline akan sangat menyukainya. Tentu saja, aku sudah merencanakan hal itu selama berhari-hari.

"Tentu saja menemuimu," jawabnya santai, terang-terangan menunjukkan ketertarikan untuk mengamati apa yang sempat dilihatnya tadi.

Aku mendengus, berkacak pinggang. "Kenapa? Kau dan Celline sudah putus?"

"Kuharap begitu." Justin mengangkat bahu, lalu mendesah sambil duduk di ranjang merah muda Celline. "Aku sudah tidak tahan padanya, tapi Celline terus memohon agar kami tidak putus. Kau tahu, terkadang dia menyebalkan, memaksaku untuk melakukan ini dan itu ..."

"Waduh," gelengku.

"Menangis jika aku tidak mengangkat teleponnya ...."

"Kasihan," kataku.

"Tidak pernah menghargai usahaku, saat aku menyiapkan kejutan makan malam ...."

"Menyedihkan," ucapku. "Pertanyaannya adalah, untuk apa kau katakan semua ini padaku?"

Justin mengerjap, tampak kehabisan kata-kata sejenak sebelum berkata, "Yeah, aku merasa seharusnya aku bersama orang lain, uh, mungkin seseorang yang lebih baik dan memahamiku." Ia bangkit dan berjalan ke arahku, mata birunya menatap intens. "Dan setelah melihatmu kemarin, aku baru sadar kalau kau tipeku, Ashley."

"Benarkah?" Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dengan lambat, lalu dalam hati puas saat Justin benar-benar terpengaruh oleh metode rendahan ini.

"Tentu saja, kau cewek yang paling luar biasa." Jakunnya bergerak, menunjukkan bahwa Justin sedang menelan ludah, dan itu dilakukannya dengan susah payah.

Tanpa permisi, cowok itu menyentuh rambut keriting di samping telingaku. Justin beberapa senti lebih tinggi dariku, dan ketika bau mint dari mulutnya tercium sementara wajahnya mendekat, aku menahan dadanya dengan kedua telapak tanganku. "Kau tahu, pintunya masih terbuka," bisikku dengan senyuman miring.

Saat Justin menyeringai nakal dan hendak menutup pintu, aku menarik kausnya sambil mengedipkan sebelah mata. "Biar aku yang melakukan."

Aku melangkah ke depan pintu, berbalik untuk menatapnya tajam. "Pertama, aku tidak baik. Kedua, aku sama sekali tidak memahamimu. Kalau kau mau cari selingkuhan, Justin, pergi ke kelab, bukan kamar pacarmu." Lalu, dengan satu tarikan keras, aku menutup kamar dari luar hingga daun pintu itu sedikit bergetar.

Mungkin kau mengira setelah ini Celline akan menangis terharu dan berterima kasih padaku karena telah menendang—secara mental—pacarnya yang mata keranjang. Dan kami akan melupakan insiden paku itu, lalu hidup rukun sebagai kakak adik tiri legendaris ala Kardashian-Jenner—kecuali kami hanya dua bersaudara, memiliki nama belakang yang sama, dan satu-satunya yang lolos kategori Kardashian hanya Hannah.

Tapi, karena tampaknya seluruh dunia tidak akan puas jika masalahku berhenti di sini, dan dongeng indah anak-anak pun punya konflik, jadi aku juga mendapatkan konflikku sendiri yang jelas tidak akan diselesaikan dengan mencari berlian ajaib di dasar goa dan menyihir orang jahat lalu menari di akhir yang bahagia.

Seolah sudah diatur dengan pas, adik tiriku tiba-tiba saja sudah berdiri di atas tangga dengan gaun magenta manik-maniknya, melirikku yang baru saja membanting pintu kamarnya. Tanpa melihat langsung ke matanya saja aku sudah tahu apa yang ia rasakan. Ada banyak sekali, semua bercampur aduk menjadi sebuah kerutan dalam di alis dan kepalan di kedua tangan. Aku bisa menyebut semua kata sifat, dan tidak ada satupun yang terdengar bagus.

Well, malapetaka yang sebenarnya baru dimulai.

-----

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top