-32-
Keesokan harinya, aku sudah merasa jauh lebih baik sehingga memutuskan kembali masuk kerja, walau terpaksa mengenakan setelan longgar untuk menghindari rasa nyeri akibat tekanan di pinggangku. Satu-satunya pakaian terlonggarku adalah terusan bekas Mom, berwarna putih dengan pita di bagian lengan, dan aku tidak tahu bagaimana ceritanya sehingga pakaian itu bisa berakhir di koperku alih-alih dress lain yang lebih bermode. Parahnya, aku tidak bisa meminjam baju Celline, dan kau tahu kenapa.
Jadi, mengakali dengan memakai ikat pinggang yang sengaja kupasang tinggi-tinggi, aku mengambil blazer untuk menutupi lengan yang norak dan memakainya sambil menuruni tangga, kemudian mendapati Dad terkesiap di bawah.
"Kau terlihat persis ibumu."
Aku menatapnya bingung sambil menyentuh rambutku, kemudian menunduk untuk mengamati seluruh tubuh. Maksudku, aku memang putri Mom, tapi tidak ada bagian dari tubuhku yang mewakili bentuk Mom selain ....
"Apa aku terlihat lebih lebar?" tanyaku. Pasti karena terusan putih ini.
"Bukan," sergah Dad. "Gaun itu. Milik ibumu kan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku yang membelinya."
Tanpa sadar aku tersenyum. "Kau masih mengingatnya?"
"Tentu saja. Ibumu memaksaku membelinya dan mengancam akan melepaskan pakaiannya di mal jika aku tidak melakukannya."
"Well." Aku ikut tertawa ketika Dad terkekeh, kemudian teringat sesuatu. "Mom akan menikah."
"Oh." Dad hanya berkedip sambil menerawang ke arah pegangan tangga di tanganku sebelum mengangguk. "Itu bagus."
"Bulan depan."
"Oh," katanya lebih lebar lagi karena terperangah. "Bagus."
"Kau tidak mungkin masih mencintainya kan?" tanyaku dengan sebelah alis terangkat.
Dad tertawa lagi. "Tidak, aku hanya ... mengingat ibumu seperti membayangkan kisah cinta masa remaja. Kita terlalu muda dan tidak paham segalanya."
"Jadi siapa cinta sejatimu? Ibu Celline?"
"Aku ...."
Aku mendengus saat melihat Dad yang tergagap sambil mengusap belakang lehernya. "Terkadang orang yang saling tidak mencintai harus hidup bersama, sementara orang yang saling jatuh cinta memutuskan berpisah."
"Bukan begitu," sergah Dad. "Aku dulu mencintai ibumu."
"Yeah, aku tahu," balasku mengangkat bahu, berusaha menunjukkan bahwa aku tidak mempermasalahkannya. Setelah kami hanya saling berpandangan sambil menebak isi pikiran satu sama lain, aku melanjutkan, "Maaf karena pernah menyebutmu ayah yang payah."
Dad terperangah sesaat, kemudian sebuah senyuman lebar terbentuk di bibirnya. "Kurasa aku memang ayah yang payah."
"Memang benar," kataku menyepakati, sehingga Dad memberiku tatapan bingung, "tapi aku tidak berhak menyalahkanmu. Mungkin kau ayah yang payah, tapi itu tidak apa-apa."
"Yeah," angguk Dad, walau aku yakin dia mencerna perkataanku.
"Semua orang juga payah," tambahku.
Hal berikutnya, tahu-tahu saja Dad sudah menghampiriku dan menarikku ke dekapannya. Sambil menepuk punggungku, Dad berbisik, "Aku bangga sekali memiliki putri sepertimu."
"Karena itulah kau menyembunyikan nama belakangku di kantormu?" balasku tanpa bisa menahan diri.
Dad melepas pelukannya dengan cepat dan menatapku. "Tidak, aku sudah memperbaikinya. Sebenarnya itu saran Hannah karena rasanya tidak etis jika membiarkan putri sendiri bekerja di perusahaanku, jadi aku mencoba memasukkanmu ke jajaran bawah. Hari ini kau akan pindah ke ruang COO."
"Dad," kataku, terperangah atas semua perubahan dadakan ini. Ekstrim pula. "Apa itu tidak terlalu ... maksudku, kurasa aku harus beradaptasi di tim administrasi dulu selama beberapa waktu."
"Ohoho, aku tidak menyuruhmu menjadi COO langsung. Hanya sebagai asistennya. Tenang saja, Ashley, kau akan belajar secara bertahap sampai kau familier dengan ... well, kinerja perusahaan kita."
Perusahaan kita.
Aku membayangkan lebih banyak pakaian baru—tidak hanya blus murah yang dibeli di Target, tapi jaket kulit bergaya atau mantel berbulu Chanel. Sambil mengorganisasi kloset kamar dengan gaun dan sepatu fiktif di kepalaku, aku bertanya, "Apa ini berarti kita akan berangkat ke kantor bersama?"
"Oh, aku baru akan ke kantor pukul sepuluh nanti," kata Dad sambil melirik arloji dan menatapku dengan perasaan bersalah. "Mungkin besok."
"Bukan itu maksudku. Aku berharap, um, memiliki kendaraan sendiri. Untuk mempermudah segalanya," kataku sesantai mungkin. Celline memiliki Porsche sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-enam belas, jadi kenapa aku tidak?
"Tentu saja. Aku baru saja ingin memberi ini." Dad mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, lalu meletakkannya di atas telapak tanganku. Kunci Audi perak. "Ini memang milikmu, Ashley."
"Cool." Aku tersenyum lebar dan memeluk pinggangnya—well, leher Dad terlalu tinggi untuk kucapai. "Thanks, Dad."
"Minta Manuel mengantarmu sampai kau mendapatkan izin mengemudimu," tambah Dad ketika aku sudah berada di pintu.
"Aku tahu," balasku seadanya. Dengan tidak sabar, aku berjalan ke teras, melanjutkan kegiatan penyusunan rak kloset di kepala, kemudian koleksi tasku mendadak buyar saat melihat sosok yang berdiri di depan sambil berkacak pinggang. Orang itu memandangku tanpa ekspresi, tapi aku tahu dia sudah tidak sabar menungguku sejak tadi.
Tanpa berbasa-basi, dia menghampiriku, kemudian meraih pergelangan tanganku dan detik kemudian aku sudah terseret ke Jeep-nya yang terparkir di depan gerbang. Dia tidak memandangku saat menyalakan starter, dan aku berpura-pura tertarik pada ujung jendela yang kotor ketika mesin mogok setidaknya tiga kali sebelum benar-benar menyala dengan suara bising.
Biarpun adegan penculikan ini tidak keren, aku masih tidak mengomentari apa pun. Kami seperti berada dalam permainan 'siapa-yang-bicara-duluan-dia-kalah', dan aku jelas bukan orang pertama yang akan menyerah.
Kami tiba di tepi danau. Tempat yang sama dengan ketika dia mengutarakan hampir seluruh perasaannya—pada karir, impian, dan aku. Di sini juga aku menyadari kalau tidak semua ciuman harus berujung pada kejadian tangan di balik pakaian dalam. Setelah menarik tuas rem dan membuka jendela, kami terhenyak di kursi masing-masing, saling menunggu sesuatu entah apa.
Aku melempar blazer ke jok belakang, lalu menoleh pada cowok di sampingku sambil mengangkat sebelah alis tidak acuh. Itu berhasil membuatnya menggeram dengan gemas.
"Serius, Ashley? Apa kau benar-benar sudah tidak peduli?" Matt akhirnya membuka suara.
"Apa?" tanyaku dengan nada bingung. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi, tapi tetap saja, aku berhak kebingungan. "Semua penerbangan ke Los Angeles dibatalkan? Atau kau berubah pikiran dan berniat meneruskan wasiat ayahmu untuk menjadi Pastor?"
Dahi Matt berkerut ketika dia memutar tubuhnya menghadapku. Tangannya menopang dagu dengan siku di tombol klakson. "Apa kau tidak membaca suratnya?"
"Maksudmu, yang isinya semacam, 'Dear Ashley, ketika kau membaca ini, aku sudah berada di alam lain yang tidak akan bisa kauraih lagi blablabla'?
"Kau membacanya?" tanya Matt lagi, tidak yakin.
"Astaga, kau benar-benar menulis surat semacam itu? Dan apa yang kaulakukan di sini? Merasa hampa karena tidak ada yang meneriaki namamu saat kau akan naik pesawat?" decakku.
"Kau belum membacanya," tukas Matt sambil memijat dahinya.
"Apa yang kau harapkan? Aku tidak sedang berada dalam suasana hati yang baik," kataku membela diri.
"Keluarkan kertas itu dan baca sekarang," katanya lelah.
"Menurutmu aku akan membawanya ke mana-mana untuk membaca ulang setiap ada kesempatan dan menambah tetesan air mata ke kertas itu?"
"Dengar, itu hanya lelucon," kata Matt. "Yeah. Aku sengaja mengatakan pada Celline kalau aku akan pergi dengan harapan kau segera membaca surat itu dan menyusulku—"
"Bagus, berusaha membuatku kelihatan bodoh."
"—ke sini—"
"Oh, karena kau akan berangkat dengan helikopter?"
Tiba-tiba Matt menghentikan ucapannya, sehingga aku merasa agak bersalah. Dia mengambil ponsel, menekan sesuatu, lalu menyerahkannya padaku.
"Kau memotret suratmu sendiri?" tanyaku geli saat melihat foto di layar ponselnya.
"Untuk berjaga-jaga. Dan lihat, berguna." Dia tersenyum tanpa ekspresi.
Sambil memperbesar layar, aku membaca tulisan tangannya yang putus-putus, namun rapi, nyaris terlihat seperti diketik.
'Hey Ashley,
Saat kau membaca ini, mungkin aku sudah berada di ... suatu tempat. Baiklah, aku bercanda. Aku masih di sini. Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menemuimu, bahkan melihatmu dari dekat karena sepertinya kau ingin menjaga jarak.
Aku paham jika kau kecewa. Semua ini memang agak mendadak. Aku jadi kayak cowok-cowok di film remaja yang suka mencampakkan gadis-gadis, padahal tidak seperti itu.
Melihatmu sekarang membuatku memikirkan banyak hal. Well, sejak awal bertemu denganmu aku memang selalu berpikir banyak. Juga merasakan banyak, meski dalam waktu yang singkat. Aku ingin makan bareng denganmu terus, lalu berkendara berdua—astaga, aku bahkan menginginkan ciuman—dan mendengar setiap asumsi-asumsi ajaibmu terhadap segala hal.
Jadi kuputuskan untuk tinggal di sini. Mungkin aku bisa mencari kuliah hukum di Tashver, dan barangkali kita akan satu kampus? Omong-omong aku belum mengatakan ini pada Detektif Wilson, karena sebenarnya dia mendukungku pindah dan bahkan mendaftarkan beasiswaku di Los Angeles. Bisa kau kasih saran kalimat apa yang bagus?
Wow. Panjang juga suratku. Lihat apa yang kulakukan demi menarik perhatianmu. Aku ingin mengecek kondisimu tapi kau selalu ... yeah, aku mengerti jika kau masih kecewa dan ingin menjaga jarak. Tunggu, aku mengulang kalimat yang sama dengan di atas.
Baik, ini serius. Aku ingin bertemu langsung denganmu. Hidup-hidup. Bergerak. Persis di depanku. Aku sudah menunggu di Swan Lake.
Matthias.
P.S. aku tahu ajakan bertemu di sini jadi terlihat mirip seseorang, tapi aku bukan James.'
"Kau serius?" seruku dengan nada tinggi.
"Itulah kenapa kau harus berhenti berasumsi sebelum memastikan apa yang sebenarnya terjadi."
"Kau tidak jadi ke L. A.?"
"Yeah, aku—"
"Bagaimana dengan beasiswa itu?"
"Detektif Wilson memang memastikan kalau aku akan mendapatkannya, kau tahu, karena ternyata dia agak berjasa di kampus itu. Tapi itu bisa dibatalkan—"
"Jangan," potongku keras, "berani-berani."
Matt mengerjap. "Tapi aku akan berada di tempat jauh darimu jika menerimanya."
"Maksudmu, tiga jam perjalanan darat dari sini? Matt, apa kau berpikir kita hidup di jaman di mana transportasi umum menggunakan tenaga kuda?" Aku menatapnya heran.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?" tanya Matt pelan. Dia menarik sebelah lenganku, lalu mengusap plester di bagian dalam siku seakan sedang menyayangkannya. "Di sini aku akhirnya mengakui perasaanku. Jadi aku ... er, ingin berkata ... um, bertanya ...."
"Maukah aku jadi pacarmu?"
Terkejut, Matt terbelalak padaku. "Yeah. Tunggu, seharusnya aku yang menanyakannya."
Aku terkekeh ketika Matt menutup wajahnya dengan sebelah tangan. "Aku tidak menyangka kau benar-benar akan menanyakannya. Apa aku pacar pertamamu?"
"Ashley, kau wanita pertama yang kusuka."
"Merasa terhormat," kataku nyengir. "Dan kau serius soal ingin menciumku?"
Matt mengernyitkan dahi, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyuman. Cahaya matahari yang semakin terang membuat wajahnya cerah, dan aku tidak tahan untuk menyentuh rambutnya saat dia perlahan menarik bahuku. "Mungkin tidak sekarang," bisiknya.
"Yeah, tentu saja. Sekarang bukan saat yang tepat, ya? Di pagi hari yang tenang dan sunyi bersama angin sepoi-sepoi yang membelai kulit kita, dan kita berdua di depan danau yang permukaannya berkilau," dengusku. "Kenapa namanya Swan Lake, sementara tidak ada satu ekor pun angsa yang terlihat di sini."
"Karena kitalah angsanya," kekeh Matt. Dia mulai memainkan rambutku saat aku melingkarkan kedua tangan di lehernya. "Bercanda, katanya itu terinspirasi dari judul lagu klasik."
"Aku akan berpura-pura tidak mendengar fakta nomor dua karena itu agak menyedihkan. Dan agak merusak suasana."
"Kau mau jadi pacarku?" bisiknya.
Aku mengangkat alis. "Lagi?"
"Tidak," gelengnya. "Tadi aku tidak bertanya dan kau tidak menjawab."
"Astaga. Tentu saja, Matt. Aku bersedia. Sangat. Apa kita juga harus mengucapkan sumpah hidup setia?"
"Ashley, kau lah yang selalu merusak suasana," desahnya sambil memutar bola mata.
"Mungkin romantis bukan genre kita. Kenapa kita tidak berhenti berbasa-basi dan segera beraksi?" Aku bergerak untuk mendekatinya, tapi kemudian meringis saat luka di pinggangku tiba-tiba berdenyut.
Dengan cemas, Matt mendorongku supaya bersandar, lalu dia sudah setengah menduduki persneling. Masih menyentuh pinggangku, dia bertanya dengan nada yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Seperti apa?"
"Kau tahu apa," bisikku, mencoba terdengar menggoda, namun terkutuklah sisa flu yang masih bersarang di tubuhku sehingga alih-alih seksi, suaraku seperti gadis sakit yang selesai menangis.
Untunglah Matt tidak menyadarinya. Atau dia tahu, tapi tidak mengatakan apa pun. Well, tidak banyak komentar yang bisa kami lontarkan lagi sejak Matt mempertemukan bibir kami, mengecupku lembut, dalam dan lama. Sial, ini ciuman terbaiknya.
Apa aku terlalu sering menyebutnya? Kurasa setiap kali kami melakukannya, ciuman Matt selalu menjadi ciuman terbaiknya. Dan seterusnya.
"Jadi, hubungan jarak jauh?" tanyaku saat dia menarik bibirnya, untuk memastikan.
"Kau yakin?" Matt balik bertanya.
Kujawab Matt dengan kecupan tambahan.
- THE END -
‐--------------------
A/N:
TAMAT, KAWAN-KAWAN.
Aku senang sekali bisa menamatkan ini lagi, dan aku belum hitung jumlah wordsnya, tapi kurasa hampir 60k. Gila. Dari 30k ke 60k.
Funfact, Fortune Cookie tidak pernah direncakan akan direvisi sebelum aku mengikuti event GMG, yang ternyata gagal karena tidak bisa menyelesaikan revisi cerita pada waktunya.
Funfact kedua, semua revisi ini dilakukan murni di HP. Yah, aku mengetik semua ini di HP karena terlalu malas membuka laptop yang nge-lagnya minta ampun.
Funfact ketiga, ini novel pertamaku yang tanpa unsur magis/fantasi, karena sebenarnya rencanya ini chicklit atau slice of life biasa. Rupanya aku tidak bisa hidup tanpa misteri. Misteri adalah micin bagiku, dan cerita tanpa misteri seperti nasi goreng tanpa penyedap.
Funfact keempat, belum kepikiran.
Anyway, terima kasih untuk semua pembaca Fortune Cookie! Aku terharu masih ada yang mampir. Apalagi pembaca lama yang mampir ke sini lagi. RetnoRahayuningsih adalah salah satu pembaca yang paling kuingat sejak, hmm aku lupa, sejak lama sekali sepertinya, dan hingga sekarang :'D //mengusap air mata.
Aku akan sangat senang menerima kritik dan saran, apalagi pendapat kalian mengenai cerita ini. Silakan komentar apa pun!
//membungkuk dalam-dalam saking dalamnya sampai roll depan
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top