prolog

Prolog

"Mommy," panggil Emma sambil menarik ujung gaun yang dikenakan ibunya, Bianca, yang tengah sibuk menyirami tanaman di pekarangan rumah mereka yang teramat banyak.

"Yes, Darling?" Bianca menurunkan pandangannya pada anak kecil umur empat tahun yang akhir-akhir ini terlihat amat mirip dengan suaminya, Edward. Dari wajah, cara berpakaian, cara bicara, dan pesona yang sama seperti pria yang dicintainya lebih dari dua puluh tahun sejak sekolah menengah pertama.

"Kenapa setiap hari Minggu, ada om yang berwajah sama dengan daddy datang?" tanya Emma, ia menunjuk Edward dan Ethan yang tengah berdiri menghadap lukisan Edward yang sebesar pintu rumah mereka.

Bianca berusaha menahan tawanya. Sudah berulang kali ia menjelaskan jika Edward dan Ethan adalah saudara kembar, namun tampaknya, penjelasan darinya masih sulit dicerna oleh Emma. "Bagaimana kalau kamu tanyakan sama daddy dan om saja, Sayang?" Bianca mencubit gemas pipi gembul Emma yang merona akibat kepanasan setelah bermain dengan Michelle yang saat ini sedang masuk untuk mengambilkan mereka semua minuman.

"Tapi," Emma terlihat enggan beranjak dari tempatnya berdiri. Kedua tangan kecilnya masih menggenggam ujung gaun Bianca erat.

"Tapi?" ulang Bianca. Ia mematikan keran air kemudian berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan putri semata wayangnya ini, "Kenapa, Sayang?"

"Daddy bilang setiap hari Minggu, daddy itu alien yang bisa jadi dua," jawab Emma. Air mata mulai menggenang di ujung matanya. Bibirnya juga berkerut seperti tengah menahan tangis. Genggaman tangan pada ujung gaun Bianca sudah beralih menjadi pelukan pada kedua kakinya.

"Kenapa menangis?" Bianca memeluk erat Emma yang langsung mengalirkan air mata dan menangis sesegukan. "Sayang, kenapa? Cerita sama mommy."

Emma masih menangis, kesulitan untuk menjawab Bianca. "Emma...."

"Emma?" ulang Bianca untuk memancing Emma kembali bicara.

"Emma takut daddy pergi ke luar angkasa dan tidak pulang lagi." Setelah kalimat itu selesai diucapkan Emma dengan terbata-bata akibat sesegukan, anak perempuan Edward dan Bianca menangis kencang dan langsung menarik perhatian Edward dan Ethan yang sedari tadi sibuk.

Edward berlari kencang menghampiri Emma kemudian meraihnya ke dalam pelukan. Ia mengecup puncak kepala Emma berulang kali, "Ada apa, Sayang? Kenapa menangis? Mommy marah lagi?"

Pertanyaan terakhir Edward dihadiahi cubitan oleh Bianca hingga pria itu menjerit kencang akibat kesakitan. "Love! Cubitanmu sangat amazing."

Bianca memberi tatapan penuh peringatan pada Edward kemudian menatap Bianca yang masih menangis dalam pelukan Edward. "Kamu alien, heh?"

Bola mata Edward membesar kemudian terkekeh geli. "Bukan, aku manusia. Kamu dengar dari mana?"

Bianca menunjuk Emma dengan dagunya, "Emma takut kamu pergi ke luar angkasa dan tidak pulang lagi karena kamu alien yang berubah menjadi dua setiap hari Minggu." Bianca berdecak sambil menggeleng akan tingkah Edward yang sangat menyebalkan.

"Sayang, kamu menangis karena daddy alien?" tanya Edward. Ia melepas pelukannya dan Emma kemudian menatap putri kesayangannya itu sambil menahan tawa.

Emma menggeleng. Kedua pipinya basah oleh air mata.

"Lalu kenapa?" tanya Edward lagi. Ia mengusap air mata Emma dengan ibu jarinya kemudian mengecup pipi bulat anaknya.

"Takut daddy gak akan pulang lagi, karena alien pergi setelah UFOnya tidak rusak lagi." Emma kembali menangis, kali ini lebih kencang. Ia melemparkan dirinya ke dalam pelukan Edward. "Daddy jangan pergi."

"Bagaimana kalau Emma ikut daddy saja?" tanya Edward. Ia kembali mendapat cubitan pada perutnya dari Bianca akibat melanjutkan kebohongannya pada putri mereka.

"Mommy?" tanya Emma.

Bianca bernapas sedikit lebih lega karena Emma masih ingat akan dirinya.

"Mommy ikut juga," kata Edward. Ia kembali melepas pelukan Emma kemudian memegang pundaknya, "Bagaimana? Daddy mau tunjukkan markas alien, tidak jauh, tidak perlu sampai ke luar angkasa karena om dan daddy sudah tinggal di sini."

Emma berkedip berulang kali mencoba mencerna perkataan Edward yang amat panjang, kemudian mengangguk antusias. "Hm!"

"Kalau begitu, ayo kita berangkat!"

Edward mengajak Bianca, Ethan, dan Michelle yang kelihatan kebingungan. Tapi, hal itu sudah biasa bagi mereka mengingat Edward yang mendidik Emma dengan cara yang amat unik.

"Jadi, markas aliennya ada di mana?" tanya Ethan pada telinga Edward.

"Rumahmu."

Ethan menghentikan langkah kakinya, membiarkan Edward dan Emma berjalan jauh di depan. Ia berbisik pada Michelle dan Bianca, "Markas aliennya ada di rumahku."

"Aku sudah pasrah dengan tingkahnya yang menjengkelkan ini," kata Bianca pasrah. "Setelah ini aku akan menjelaskan ulang pada Emma kalau Edward berbohong padanya." Meskipun kalimat Bianca terdengar seperti keluhan, tapi ia tengah tersenyum, mengingat kembali dirinya yang juga tertipu oleh Edward hingga tidak bisa mengenali pria yang dicintainya lebih dari dua puluh tahun itu dengan baik. 

***

Tinggalkan vote dan komen, ya, temen-temen <3 

I'll be very happy. :D

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top