Bab 6

*** 

Vita memutuskan menjadi anak yang rajin tanpa menimbulkan masalah. Setelah bernegoisasi dengan Fikri, gadis itu datang ke kelas lebih cepat dari biasanya.

Banyak teman-temannya yang heran dengan perubahan sikap Vita begitu naik semester.

"Secepat itu kamu berubahnya, Vita. Kamu disemprot sama Pak Fikri, ya? Supaya kamu bisa sadar?" cicit Yuri begitu Vita duduk di hadapan sahabatnya.

Memang sejak semester lima, Vita berubah drastis dari anak rajin menjadi anak bandel. Tapi kembali lagi menjadi anak rajin. Teman-teman kelasnya menganggap Vita adalah anak yang suka cari masalah, wajar saja banyak yang tercengang dengan Vita yang sekarang.

"Dari dulu juga rajin, tahu," protes Vita lalu memalingkan wajah Yuri ke depan. "Jangan sembarangan ngomong!"

"Ah, iya. Aku tahu," kata Yuri menyerah.

"Selamat pagi!" sapa Fikri begitu membuka pintu ruang kelas. Semua mahasiswa memposisikan tempat duduknya ke depan.

Fikri menatap Vita dengan tajam. "Kamu datang juga ternyata. Baguslah," puji Fikri bangga.

"Ini demi nilai akademik, pak," tegas Vita mengobar.

"Oke. Untuk ke depannya, kamu harus lebih rajin lagi. Bisa?" tanya Fikri masih fokus pada Vita.

"Bisa, pak." Vita mulai mengulum senyum sambil meluruskan tubuhnya untuk memperhatikan Fikri.

"Baik, kita mulai pelajaran hari ini." Fikri mulai memasang kabel proyektor untuk menghubungkannya ke laptop dan langsung membuka slide pertama file PPT.

***

Jam makan siang. Vita tidak keluar untuk membeli makanan cepat saji. Dia ingin makan sesuatu di kantin kampus. Vita pun menjaga jarak dari teman-temannya sehingga kini dia sendirian tanpa ditemani siapa-siapa.

Melihat Fikri yang baik padanya, membuat hatinya penasaran tentang siapa penulis HEART FOR YOU. Ini hanya sehari setelah pergulatan panjang dengan Fikri. Dan dia tidak tahu penulis novel yang sukses mengacaukan hatinya dengan putusnya hubungan Angeline dan Niko.

"Kalau kukasih tahu bagaimana hubungan Angeline dan Niko pada Pak Fikri, apa dia akan memberikan bocorannya padaku? Apa dia juga membaca novel itu?" tanya Vita menerka-nerka.

Vita pun langsung menyelenong duduk di meja Fikri dan memasang muka di hadapan dosen berkacamata itu.

"Apa ini? Ngapain kamu di mejaku? Tidak lihat, aku baru mau makan?" Fikri seolah tak nyaman dengan keberadaan Vita.

"Sepanjang pemikiranku, kenapa aku semakin yakin kalau penulis novel HEART FOR YOU adalah Anda?"

Pertanyaan Vita sukses membuat Fikri kebingungan. "Apa maksudmu?"

"Hanya saja ... aku kepikiran. Bagaimana isi novel itu terus membuatku kesal sejadi-jadinya karena tidak sesuai ekspetasiku."

"Ngomong-ngomong, adegan mana yang membuat kamu bilang tidak sesuai ekspetasimu?" tanya Fikri memancing Vita.

"Adegan putus nyambung Angeline dan Niko tidak masuk akal. Bagaimana bisa sih, para pembacanya disuguhi manis-manis antara mereka? Eh, malah putus lagi. Dikasih konflik berat lagi, dan lain-lainnya. Harusnya kalau aku bisa menuliskan novel itu, aku akan mempersatukan mereka terus."

Sebagai pembaca setia, rasanya kurang kedua tokoh utama tidak bersatu. Vita malah menuntut keadilan pada novel yang sedang dia baca.

"Enak sekali kamu meminta hal yang omong kosong," ketus Fikri. "Kamu harus tahu sebab-akibat mereka harus bersatu. Memang, setelah melewati badai, kamu akan menyatukan mereka bagaimana?"

Fikri tak dapat menerima Vita mengucap seenaknya seperti itu. Dia tersinggung dengan tanggapan Vita mengenai novelnya.

"Lagipula baru bab 57. Kamu harus bersabar dan tunggu keajaiban penulis. Kamu tidak bisa menuntut sembarangan pada mereka. Pasti ada alasan kenapa hubungan Angeline dan Niko renggang begitu saja."

Vita lantas mencondongkan tubuhnya seolah ingin memalak Fikri memberitahu bocoran novel selanjutnya.

"Anda tahu segalanya tentang HEART FOR YOU. Jadi Anda pun tahu bagaimana penyebab Angeline dan Niko putus?" Vita semakin nekat untuk menuntaskan rasa penasarannya. Bahkan dia belum peka siapa penulis HEART FOR YOU yang sebenarnya. Sejak kemarin dia menyangkal, sekarang dia ingin mencari tahu.

"Kamu benar-benar tidak waras," ledek Fikri dingin sembari membawa nampan makanannya menjauh dari Vita. Fikri berniat pindah meja dan melarang Vita untuk mengikutinya.

"Tetap saja, meski aku berbaikan dengannya, sikap dinginnya tidak lepas dari dirinya," komentar Vita mengerucutkan bibirnya sebal.

***

"Bab 58 sampai bab 60 sudah kukirim di surelmu, silakan kamu cek." Fikri memastikan pada Surya. Dia ingin mengirim lanjutkan HEART FOR YOU pada editor handal macam Surya.

"Selagi kamu kirim, selagi itu juga aku langsung komentari," balas Surya sangat bersemangat. Di meja komputernya, tampak jarinya berulang kali meng-klik sampai dokumen itu terbuka.

Fikri yang sedang berada dalam mobil, mencoba mengendalikan setirannya hingga memasuki jalan yang ramai dengan kendaraan. Baru saja dia selesai dengan rutinitas mengajarnya.

"Wah, semakin rapi dan terstruktur. Bagaimana aku harus mengecek kesalahan, bila di penglihatanku tidak ada satupun typo atau kesalahan EBI."

Fikri tertawa pelan dengan pujian Surya yang dia berikan padanya. "Jangan seperti itu. Jelilah sedikit. Mana tahu tanganku khilaf. Asal kamu tahu, dua jam mengetik menghasilkan 2 ribu kata."

"Wah, bagus itu. Kalau aku mungkin masih 1 ribu kata lebih tapi membuang waktu hampir tiga jam," tutur Surya sembari menyeruput colanya. "Sebentar, aku pakai kacamata dulu. Mana tahu aku menemukan typo dan kesalahan lain."

"Loh, tiba-tiba begini?"

"Tadi katanya disuruh jeli. Makanya aku cari-cari kacamata dulu." Tangan Surya meraba-raba meja di sekitarnya. "Di mana lagi kacamataku?"

Di saat pencarian kacamata Surya, Fikri merasakan getaran di ponselnya tanda ada notifikasi. Dia mengecek, dari akun media sosialnya. Username itsmevita_98 menandai akun Instagram miliknya untuk postingan ulasan novel HEART FOR YOU hari pertama.

"Tunggu, bukankah dia yang selalu tag di Insta Story tentang novelku? Aku menghukum Vita menyuruh mengulas HEART FOR YOU. Dia tidak tahu siapa yang nulis."

Fikri jadi bertanya-tanya sendiri. Dia bahkan tak peka bahwa itsmevita_98 adalah Vita, mahasiswinya sendiri.

"Kenapa aku baru tahu kalau dia Vita? Pembaca setiaku."

Belum memutuskan sambungan telepon, Surya langsung berteriak. "Kacamataku sudah ketemu! Sekarang aku bisa review milikmu."

Tidak ada jawaban dari Fikri karena sedari tadi pandangannya nalar di depan seraya mengemudikan mobilnya.

"Fikri! Kamu baik-baik saja, kan?"

Sekejap dia mengumpulkan kesadarannya. "Ya, ya. Maaf, tadi aku berpikir sesuatu."

"Berpikir apa? 'Mau makan malam apa hari ini?' begitu yang kamu pikirkan, bukan?" Surya menggoda dengan leluconnya, membuat Fikri menyangkal.

"Ish, enggak lah!"

"Kita tidak pernah ketemu. Adanya lewat daring terus. Kapan kita ketemunya?"

"Revisi dulu naskahku baru rencana kapan ketemunya. Lagipula masih ada hari esok."

Surya tahu betul bagaimana semestinya mereka menahan rindu untuk ketemu. Fikri hanya bisa menyerahkan naskahnya tanpa punya rencana bertemu.

"Aku tutup dulu. Aku masih di jalan, tidak baik menelepon selagi mengemudi." Fikri meminta, lalu Surya memutuskan sambungan telepon.

Lantas dia berpikir, kenapa dia baru peka kalau Vita—mahasiswinya—adalah pembaca setianya? Bagaimana caranya kalau Vita tahu dia penulis HEART FOR YOU? Apa yang akan terjadi?

*** 

Hayo, sedikit lagi Fikri akan peka. Vita juga.

Tunggu kelanjutannya.

*

20 Januari 2021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top