Part 29
Andreas terbangun dari tidurnya saat mendengar suara orang muntah-muntah. Masih terbaring sambil mengucek mata, ia menajamkan pendengaran. Lalu, menoleh ke samping, terkesiap saat Zulaikha tak ada di ranjang.
Dengan gerakan cepat lelaki itu melompat dari kasur, langsung berlari ke kamar mandi. Di ambang pintu, ia terhenti melihat Zulaikha menungging di wastafel, membelakangi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Andreas khawatir. Ia melangkah menghampiri Zulaikha, berdiri di sebelahnya. Agak mencondongkan tubuh agar bisa melihat wajah perempuan itu.
"Mual. Gak tahu kenapa, Andreas. Pas tidur rasanya kayak ada yang ngobok-obok perut." Zulaikha berkumur. Lalu, ia muntah-muntah lagi saat merasakan perutnya terkoyak dari dalam. Dibantu Andreas mengurut tengkuknya.
"Dari tadi mual terus, tapi yang keluar cuma cairan dikit. Pahit banget di mulut,” gumam Zulaikha, ia berkumur lagi dan membasuh wajah.
"Mungkin masuk angin, kelelahan bekerja."
"Bisa jadi. Apa darah rendahku kambuh lagi, ya?" tanya Zulaikha, mengingat dirinya memiliki riwayat darah rendah.
"Kalau begitu jangan masuk kerja hari ini, ya. Harus istirahat."
Zulaikha menatap sang suami, lalu menggeleng. "Enggak. Masih banyak pekerjaanku di kantor, Andreas. Ini masih bisa ditahan, kok. Lagian enggak pusing banget."
"Tidak, Zul. Kamu harus istirahat. Aku tidak mau sakitmu makin parah kalau dipaksa masuk kantor."
"Kalau gitu aku nyicil ngerjain di rumah."
"Aku pantau. Kamu tidak boleh terlalu lelah dan banyak berpikir. Aku juga akan bekerja di rumah, menemanimu."
Mau tidak mau Zulaikha mengangguk. Andreas yang keras kepala sama dengan dirinya, tidak akan menemukan titik terang jika terus dilayani berdebat dan ia tidak mengalah.
"Masih mual?" tanya lelaki itu, menatap sendu wajah sang istri.
"Sudah mendingan."
"Sekarang istirahat lagi, ya. Masih sangat pagi."
Zulaikha mengangguk. Saat Andreas membopong tubuhnya, ia menurut saja sambil mengalungkan kedua tangan di leher lelaki itu.
Andreas melangkah agak hati-hati menuju ranjang. Sampainya di sana, ia membaringkan tubuh Zulaikha perlahan, lalu mengecek kening perempuan itu.
"Agak demam juga. Nanti aku izinin ke bos kamu untuk tidak masuk kerja."
Zulaikha mengangguk lagi. "Siniii," pinta Zulaikha sambil menepuk kasur. Ia meminta Andreas tidur di sebelahnya.
Lelaki itu pun menurut. Berjalan mengitari ranjang, lalu ia merangkak ke atas. Membaringkan tubuh di samping Zulaikha berposisi miring, membuat perempuan itu langsung memeluk tubuhnya.
"Aku suka aroma tubuhmu, Andreas. Wangi dan bikin tenang," ucap Zulaikha. Ia mendusel-duselkan kepalanya di dada bidang lelaki itu, masih mencari posisi nyaman.
"Begitukah?" Andreas mengecup puncak kepala istrinya. Sedangkan salah satu tangannya mengusap-usap kepala bagian belakang perempuan itu, perlahan.
Manggut-manggut, Zulaikha menjawab, "Bikin candu aromanya. Kalau parfummu nempel di bajuku, aku suka ngendus-ngendus wanginya."
"Baru tahu aku, kamu punya kebiasaan seperti itu." Andreas terkekeh.
"Wanginya bikin gimanaaa gitu."
Masih terkekeh, Andreas mengeratkan pelukannya. "Tidur lagi, ayo. Biar rasa mualnya ilang."
***
"Ikha, kamu gak masuk kerja, gak ada hubungannya sama feed kamu semalam, 'kan?"
"Gak ada, lah. Lagian mereka gak penting juga. Andreas juga sudah bantu klarifikasi, 'kan? Aku memang lagi gak enak badan. Mau menjelang pagi aku muntah-muntah tadi. Agak pusing juga. Kayaknya darah rendahku kambuh, Ly." Duduk di karpet bulu ruang keluarga dengan tatapan masih fokus ke laptop, Zulaikha tetap mendengarkan Lyodra berbicara dari ponsel yang ia salurkan ke earphone.
"Muntah-muntah?!"
Zulaikha harus memejamkan mata saat mendengar Lyodra memekikkkan suara. "Kamu kenapa sih, Ly, teriak gitu? Ganggu yang lain kerja nanti."
"Kamu sudah pernah gituan, 'kan, sama Pak Andreas?"
"Sudah lah, Ly. Namanya juga suami-istri. Jangan ngiri kamu, ya." Zulaikha terbahak.
"Idih, enggak, Kha. Cuma mau ngasih tahu, pasti hasilnya positif, deh. Kamu udah menstruasi belum bulan ini?"
Zulaikha berhenti mengetik, mengingat-ingat tanggal menstruasi dirinya. Lalu, ia menggeleng dan berkata, "Bulan ini belum, sih. Mungkin telat. Aku kadang telat kok, datang bulannya. Sering pindah-pindah tanggal."
"Tapi feelingku kamu hamil, Kha."
"Hamil." Zulaikha membeo. Sedangkan jantung bertaluan tak karuan. Grogi. Apakah benar ia hamil? Ucapan Lyodra benar-benar mengusik otaknya sekarang.
"Ly, aku tutup teleponnya dulu, ya. Nanti kita sambung lagi," ucap Zulaikha, saat melihat Andreas melangkah dari dapur, menghampiri.
"Oke, Kha. Cepat sembuh sakitnya, ya. Biar cepat masuk kerja lagi. Nemenin aku di sini."
"Siaaap. Bye, Ly."
Zulaikha pun memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia mengamati langkah Andreas yang hampir sampai ke tempat dirinya duduk.
"Aku bikinin wedang jahe untukmu. Aku biasanya minum ini kalau lagi tidak enak badan," ucap Andreas, meletakkan gelas berisi wedang jahe yang masih mengepul asapnya di samping laptop sang istri.
"Terima kasih." Perempuan itu mengembangkan senyum simpul. "Andreas," panggilnya pelan, saat Andreas menghempaskan pantat di sebelahnya.
"Iya."
Zulaikha terdiam, tampak berpikir. Lalu, ia menggeleng. "Enggak jadi, deh."
"Enggak jadi apanya?" tanya Andreas, bingung.
"Enggak apa-apa." Zulaikha kembali fokus ke laptop.
Sementara Andreas yang terlanjur penasaran, langsung menutup layar laptop milik Zulaikha. "Katakan dulu ada apa. Kamu sudah terlanjur bikin aku penasaran, Zul."
"Enggak apa-apa. Enggak penting juga." Menatap Andreas, Zulaikha menggeleng. "Cuma pusing lagi, dikit," ucapnya lirih.
"Tuh, 'kan. Aku bilang apa. Jangan bekerja dulu, bandel, sih, kalau dikasih tahu. Untung gak berangkat ke kantor. Sekarang istirahat. Gak ada pegang-pegang laptop lagi," omel Andreas, ia khawatir sekali.
"Tapiii, ini masih banyak Andreas. Ada yang harus dikirim besok video iklannya." Zulaikha mendengkus. Berniat mencari alasan justru ia yang terjebak.
"Aku bilang tidak. Sini istirahat dulu." Andreas menarik lengan Zulaikha ke sofa panjang belakangnya. Perempuan itu menurut saja. Lalu, mereka merebahkan tubuh di sana, dengan Andreas merengkuh tubuh Zulaikha agar tidak terjatuh.
"Tidur dulu biar pusingnya hilang. Kamu harus banyak istirahat," ucap Andreas, sambil mengusap-usap kepala Zulaikha yang direbahkan di dada bidangnya.
"Enggak bisa tidur, Andreas," kata Zulaikha pelan. Telinganya sibuk mendengarkan degub jantung sang suami yang berdetak cepat.
"Baiklah. Kalau begitu rebahan saja. Biarkan seperti ini."
Zulaikha manggut-manggut. Namun, dalam benaknya masih memikirkan persoalan hamil.
"Andreas, kamu pingin punya anak tidak?" tanya Zulaikha sangat lirih.
Andreas agak menjauhkan kepalanya dan menunduk untuk menatap wajah perempuan itu. Namun, kesulitan karena Zulaikha tidak mendongak.
"Kenapa bertanya seperti itu, Sayang? Tentu saja aku pingin punya anak darimu."
"Sungguh?"
"Iya. Aku suka anak kecil. Kalau aku sudah jadi Papa, aku ingin menjadi Papa yang baik untuk anak-anakku agar tidak bernasib sama seperti diriku."
Kali ini Zulaikha mendongak. Menatap lamat-lamat wajah lelaki bercambang tipis. Hidung mancungnya terlihat jelas dari bawah. Lalu, ia mengembangkan senyum manis sambil menangkup wajah lelaki itu. "Kalau aku hamil?"
"Aku akan sangat bahagia." Andreas mengecup bibir istrinya sekilas.
"Nanti boleh antar aku ke dokter kandungan?"
"Untuk apa? Kamu hamil? Sungguh, Sayang?" tanya Andreas, terdengar antusias.
"Belum tahu." Zulaikha menggeleng. "Cuma kepikiran perkataan Lyodra barusan. Kata dia, mungkin penyebab aku muntah-muntah karena efek hamil muda. Aku juga sudah telat menstruasi."
"Nanti kita ke dokter. Sekarang istirahat dulu." Andreas semakin mengeratkan pelukannya. Binar bahagia terlihat jelas dari matanya.
**
Andreas dan Zulaikha keluar dari rumah sakit dengan perasaan berbunga-bunga. Setengah jam lalu, keduanya baru sampai di sana langsung menuju dokter kandungan. Sesuai prediksi yang diucapkan Lyodra, Zulaikha dinyatakan mengandung oleh dokter, baru enam minggu usia kandungannya.
"Sampai di rumah aku mau telepon Ibu, ngasih kabar gembira ini," ucap Zulaikha, sambil berjalan menuju mobil. Tangannya terus digenggam Andreas erat-erat.
"Mau ke makam Mama sekalian?" tawar Andreas, yang disetujui oleh Zulaikha.
"Aku mau curhat sama Mama juga. Pasti Mama senang sekali mau mendapat cucu."
"Betul." Tangan Andreas beralih merengkuh bahu perempuan itu dari samping, lalu mengecup pipinya sekilas.
"Oh, perempuan ini yang membuat anakku ingin memilikinya juga."
Langkah Andreas dan Zulaikha terhenti saat mendengar suara seorang lelaki berumur dari belakangnya. Mereka kompak menoleh. Seketika rahang Andreas mengeras, matanya melotot tajam. Tersirat akan kebencian.
"Siapa dia, Andreas? Apa dia Papa kamu? Wajahnya agak mirip denganmu." Zulaikha mencengkeram kemeja Andreas bagian pinggang, agak kencang.
"Lelaki bajingan," kata Andreas tegas. Suaranya terdengar dingin.
"Bagaimana kabarmu anak tak tahu diri? Aku dengar-dengar, Mamamu sudah mati, ya. Ah, kasihan sekali. Untung tidak mati ditanganku dulu, dan kamu masih bisa bersamanya sampai sebesar ini."
Rahang Andreas semakin mengetat. Zulaikha yang sadar langsung berbisik, "Jangan diladenin. Ayo, pergi."
Akan tetapi, Andreas masih bertahan. Berdiri di tempatnya. "Jika kalian pria tahu diri, jangan usik kehidupanku. Apalagi anakmu yang berusaha untuk mendekati istriku."
Lelaki paruh baya itu terkekeh pelan. "Kalau dia mau, aku tidak akan melarang, Andreas. Asal dia bahagia. Sekali pun itu merebut milikmu. Karena dulu, Mamamu pun merebutku dari Mamanya Michel. Kamu harus tahu itu."
Atmosfir di antara keduanya terasa mencekam. Saling melemparkan permusuhan, Zulaikha merasakan itu. Apalagi Andreas pernah menceritakan masa lalunya yang tidak baik-baik saja dengan sang papa, tentu membuat ia sedikit paham perasaan Andreas.
"Maaf, Pak. Kalau memang Anda sudah tidak ada urusan dengan suami saya, sebaiknya jangan mengusik kehidupannya. Seharusnya Anda tahu dan sadar diri jika Andreas pun anak Anda. Darah daging Anda. Bukan musuh Anda. Sangat tidak pantas jika seorang Ayah memusuhi anak kandungnya sendiri."
"Jangan mengatur kehidupanku."
"Dan Anda jangan mengusik hidup kami," ucap Zulaikha lagi, yang justru tersulut amarah sekarang.
"Apa Anda sakit keras sampai datang ke rumah sakit ini? Kalau iya, semoga cepat menyusul Mama. Malaikat sudah menunggu Anda di neraka," ucap Andreas sarkas, tidak memandang sedikit pun jika pria itu adalah ayahnya sendiri. Kebencian yang telah terbentuk sejak kecil, benar-benar membuat dirinya sengit.
"Kurang ajar sekali ucapanmu kepada orang yang lebih tua." Pria itu menggeram, mengepalkan kedua tangan.
"Anda yang membentukku memiliki sifat seperti ini. Anda juga yang memperlihatkan kepadaku betapa kejinya sifat Anda kepada Mama. Ingat baik-baik, kalau Michel sampai berani mengusik istriku, jangan salahkan aku jika perusahaan kalian akan bangkrut. Kecamkan itu! Aku tidak main-main," ancam Andreas, setelahnya menuntun Zulaikha menuju mobilnya. Meninggalkan sang papa yang berdiri mematung sambil menggeram.
***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top