Part 25

"Aku mau bertemu Andreas? Dia ada di rumah, 'kan?" tanya Olivia angkuh, kepada Tama dan Edward yang berjaga di depan pintu. Ia nyelonong masuk begitu saja.

"Maaf, Nona. Anda ada keperluan apa untuk bertemu Tuan Andreas?" Tama mengikutinya. Langkah perempuan itu sangat cepat.

"Bukan urusanmu. Aku mau bertemu dengan dia sekarang. Katakan saja di mana dia?" tanya Olivia. Ia terus melangkah.

"Urusan Tuan Andreas akan menjadi urusan kami juga. Apalagi dengan hal yang tidak penting seperti ini, Nona." Kali ini Edward yang berbicara.

Olivia geram mendengar ocehan dua bodyguard yang mengikutinya. Ia berhenti di depan tangga lalu membalikkan badan. Ia berkacak pinggang menatap Tama dan Edward sangat enggan.

"Kalian ini hanya bodyguard. Jadi, tidak usah sok berkuasa untuk tahu segala hal tentang urusan bos kalian. Katakan saja di mana dia sekarang? Tadi aku ke kantornya, katanya dia sudah pulang," ucap Olivia meninggikan suara.

"Dan katakan saja apa perlu Anda sekarang untuk menemui bos kami? Ingat, Nona, Anda sudah tidak memiliki ikatan hubungan apa pun dengan Tuan Andreas." Edward yang suka berbicara ceplas-ceplos sangat suka beradu mulut dengan perempuan di depannya.

"Hei! Lancang sekali kamu, ya. Kamu tidak tahu tentang hubungan kami, jadi diam saja. Jangan banyak bacot!" Olivia mendelikkan mata, rahangnya mengeras karena geram.

"Ah, pantas saja Tuan tidak menyukai Anda. Perempuan sosialita tapi tidak bisa mengfilter ucapannya. Sangat kasar." Edward menyeringai sinis. Sedangkan Tama hanya memerhatikan dalam diam.

"Kauuu! Eergh!" Olivia menuding Edward sambil menghentakkan kaki.

"Anda mau bertemu Tuan Andreas, Nona? Baiklah, aku beritahu. Dia sedang berenang bersama istrinya. Ingat, Nona, istrinya. Bukan perempuan lain," kata Edward penuh penekanan. Ia tidak suka dengan perempuan itu. Angkuh dan tidak memiliki sopan santun.

Olivia semakin meradang. Ia langsung berlari menuju kolam renang. Sedangkan Edward terbahak melihat perempuan itu bak kebakaran jenggot.

"Niat sekali memanas-manasi dia, Ed." Tama terkekeh sambil menggeleng.

"Biar melihat sendiri bagaimana mesranya Tuan ke istrinya. Yang terpenting, aku tidak akan membiarkan perempuan lain merusak hubungan bos kita. Apalagi Nona Zulaikha orangnya sangat baik, beda dengan Nenek lampir itu. Kasar."

"Lagian, itu perempuan mau ngapain ketemu Tuan Andreas? Sudah diputus juga, kan. Terakhir aku melihat dia sebelum Tuan sama Nona Zul menikah."

"Masih belum bisa move on kali, Tam. Biasa lah, orang kalau sudah terobsesi tidak bisa membedakan mana cinta tulus dan mana cinta untuk sekadar ingin memiliki."

"Tugas kita semakin diperketat untuk membasmi hama yang akan menyerang." Tama tergelak. Lalu beranjak dari tempatnya diikuti Edward, ingin melihat bagaimana reaksi Olivia saat melihat kemesraan bosnya. Namun, dari kejauhan. Karena tadi sudah diwanti-wanti oleh Bi Maryam tidak boleh memasuki area kolam renang.

**

Olivia berdiri di ambang pintu menuju kolam renang, dengan kedua tangan mengepal kuat. Ia masih belum percaya melihat dua insan di dalam kolam renang itu sedang berciuman begitu mesranya.

"Berengsek! Jadi, perempuan itu berhasil meluluhkan hati Andreas?"

"Shit! Kenapa Andreas bisa tergoda dengannya? Sedangkan aku yang sudah mendekatinya selama satu tahun, lelaki itu tidak pernah membalas perasaanku. Selalu mencampakkanku."

Olivia semakin panas melihat Andreas melepaskan ciumannya, lalu mencium Zulaikha kembali. Dan kali ini semakin mesra dengan kedua tangan perempuan itu mengalung di leher Andreas.

Cemburu yang membakar hati, membuat Olivia semakin meradang. Tubuhnya gerah, panas menyeluruh.

Sementara itu, di kolam renang, Andreas masih menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan kecil dari rahang, leher, dan dadanya. Sedangkan tangannya meremas gemas bokong istrinya, membuat perempuan itu melenguh dan mendesah. Terdengar sexy suaranya di gendang telinga dirinya.

"Kamu membangunkan milikku, Zul." Suara Andreas menyerak. Ia tersenyum manis menatap wajah istrinya yang basah, tampak bersinar karena pantulan cahaya bohlam.

"Aku bisa merasakannya." Kedua tangan Zulaikha menangkup wajah sang suami, lalu menghujani banyak kecupan ke bibir lelaki itu.

"Melakukan di sini sepertinya menarik." Andreas menyeringai sambil mengangkat sebelah alis.

"Ngaco kamu!" Zulaikha memukul dada Andreas pelan. Lalu, memeluknya. Meletakkan kepala di bahu lelaki itu, ia menghadap menyamping. Tanpa sengaja penglihatannya menangkap sosok perempuan di ambang pintu, Olivia.

Ide menarik pun muncul di benaknya. Ia masih ingat bagaimana perempuan itu merendahkan dirinya di hadapan Andreas. Dan malam ini, waktu yang tepat untuk ia memperlihatkan bagaimana hubungannya dengan Andreas sangat baik. Tidak ada masalah seperti dulu.

Mengusap punggung Andreas dengan gerakan erotis, Zulaikha merasakan jika tubuh lelaki itu menegang. Terdengar desah tertahan di tenggorokan lelaki itu.

"Nakal sekali gerakan tanganmu," ucap Andreas lirih. Ia merengkuh tubuh istrinya semakin erat. Salah satu tangannya sama dengan Zulaikha menyusuri punggung perempuan itu, bergerak pelan.

"Kenapa?" Tanpa menatap lawan bicaranya, Zulaikha bertanya.

"Membuatku geli, Sayang."

Perempuan itu mengangkat kepala, memandang wajah Andreas penuh rasa bahagia. "Karena tubuhmu sudah diselimuti gairah. Makanya cepat bereaksi."

"Karena dirimu." Andreas menggigit gemas daun telinga Zulaikha, membuat perempuan itu tergelak sambil menggelinjang.

"Rasanya sudah makin dingin. Mau ke atas sekarang?" tawar Zulaikha, mendapat anggukan dari sang suami.

"Kita balapan lagi sampai ke sana. Yang kalah aku kasih hukuman," ucap Zulaikha sambil mengukir senyum. Ia melepaskan pelukannya. Lantas, berenang lebih dulu dan mempercepat gerakannya.

Sampainya di tempat semula dan menyembulkan kepala ke permukaan air, Zulaikha masih melihat Olivia berdiri di ambang pintu. Kali ini ia bisa melihat jelas bagaimana raut wajah perempuan itu yang merah padam dengan kedua tangan mengepal.

"Hai, Nona cantik. Kamu datang ke sini. Oh, mau menemui kekasihmu, ya? Eh, salah. Maksudku kamu mau menemui suamiku?" tanya Zulaikha seramah mungkin. Ia mengembangkan senyum.

"Sayang! Cepatlah renangnya. Itu ada tamu yang ingin bertemu denganmu!" Zulaikha berteriak kepada Andreas yang masih agak jauh.

Lelaki itu pun semakin mempercepat renangnya. Tidak berapa lama, ia sampai di tempat sang istri berdiri.

"Siapa?" tanya  Andreas sambil menyembulkan kepala ke permukaan air. Ia mengusap wajah agar pandangannya lebih jelas.

"Tuh." Zulaikha mengedikkan dagu ke arah pintu. "Kekasihmu," ucapnya.

"Oh." Andreas menjeda ucapannya. "Sudah jadi mantan sekarang. Kami sudah mengakhiri hubungan sebelum kita menikah," lanjutnya lagi tak acuh.

"Terus dia mau ngapain ke sini? Rindu sama kamu kali, ya."

Andreas mengedikkan bahu. Lantas, mendarat lebih dulu. Ia mengulurkan tangan membantu Zulaikha naik. "Tidak tahu," balasnya singkat.

Mereka melangkah beriringan menuju kursi santai, lalu mengambil bathrobe milik masing-masing. Keduanya mengusap tubuh dan rambut agar air tidak menetes lebih banyak ke lantai.

"Sini aku bantu." Andreas mengulurkan tangan, mengusap rambut Zulaikha menggunakan bathrobenya.

"Aku ke atas dulu. Kalau kamu masih ada masalah dengan dia yang belum terselesaikan, selesaikan saja dulu. Biar sama-sama tenang hatinya." Zulaikha memakai bathrobenya. Ia membalikkan tubuh, mengecup bibir Andreas lantas berlalu.

"Silakan kalau mau bertemu suamiku, Nona," ucap Zulaikha, saat melewati Olivia yang menatapnya tajam.

***

"Ada perlu apa datang kemari, Liv?” tanya Andreas, berdiri menghadap kolam renang. Ia bersedekap tangan.
Sementara Olivia menatap nanar lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu.

"Secepat ini kamu bisa membuka hati untuk perempuan yang membunuh Mamamu, Andreas? Kamu bilang, kamu akan balas dendam dengan dia. Bahkan, sampai rela mengorbankan hubugan kita dengan kamu memutuskanku." Suara Olivia bergetar. Ia menahan tangis.

Andreas menggangguk. "Awalnya memang berniat untuk balas dendam--."

"Tapi, kamu mencintainya? Ini menyakitiku, Andreas! Sedangkan kamu tahu sendiri aku sangat mencintaimu. Dari dulu!" Olivia meninggikan oktaf suaranya. Ia menangis tergugu. Memerhatikan Andreas yang hanya diam, ia langsung menubruk tubuh lelaki itu, memeluknya erat-erat.

"Aku masih sangat mencintaimu sampai detik ini. Aku sudah berusaha menjauh untuk tidak bertemu denganmu. Tapi, aku tidak bisa. Hatiku sangat tersiksa, Andreas. Aku tidak bisa jauh darimu," lanjut Olivia, di sela tangisnya.

Andreas mematung. Ia tidak membalas pelukan Olivia. "Liv, ini sudah menjadi keputusan terbaik untuk kita. Aku sudah mengatakan dari sebelumnya kalau aku tidak memiliki perasaan apa pun terhadapmu. Aku pun sudah mengatakan alasannya, kenapa aku bisa menerimamu dulu," ucapnya pelan, memberi pengertian kepada Olivia. Akan tetapi, perempuan itu justru menggeleng di dada bidangnya.

"Hubungan yang sehat, di mana dua orang itu saling memiliki perasaan yang sama. Akan seimbang dan tidak terbebani. Sedangkan kita, hanya kamu yang memiliki perasaan cinta terhadapku, Liv. Aku tidak." Andreas mengedarkan pandangan ke sembarang arah, lalu melanjutkan ucapannya lagi, "Kita akan sama-sama terbebani kalau masih dilanjutkan, dengan kamu yang akan menerima banyak kesakitan. Mengertilah. Ini sudah menjadi pilihan terbaik untuk kita mengakhiri hubungan. Aku sudah berusaha untuk mencintaimu selama setahun kita berhubungan. Tapi, tetap saja tidak ada getaran cinta dalam hatiku untukmu."

"Kamu tidak pernah mencobanya, Andreas. Kamu terlalu dingin terhadapku."

Andreas melepaskan pelukan perempuan itu, lalu memegang kedua bahunya. Dengan pandangan saling beradu tatap, ia berucap, "Aku sudah menemukan perempuan yang aku cintai, kamu juga akan menemukan pria yang akan mencintaimu tulus. Kita bisa melewati hidup ini tanpa beban kalau bisa mengikhlaskan semuanya, Liv."

"Aku tidak bisa, Andreas. Aku hanya ingin bersamamu." Olivia menggeleng, dengan luruhan air mata semakin deras.

"Aku tidak bisa." Andreas menggeleng mantap. "Aku yakin, kamu pasti bisa tanpaku. Kamu cantik, anggun, baik, anak orang kaya, pasti banyak lelaki yang mengantri untuk mendapatkanmu. Cobalah membuka hati untuk pria lain. Jangan stuck pada satu pria yang tidak mencintaimu."

Andreas mengulas senyum. Ada rasa tak tega melihat perempuan di depannya tampak hancur. Namun, segera ia singkirkan jauh-jauh.

"Aku masuk dulu. Baik-baik untuk dirimu sendiri, Liv. Maaf kalau aku tidak bisa membalas perasaanmu. Percayalah, ada pria yang akan mencintaimu dengan tulus." Andreas berlalu dari hadapan Olivia. Ia mencoba mengenyahkan perasaan tak enak di hatinya, karena sekarang ada hati yang harus ia jaga. Perempuan yang ia cintai tanpa alasan--Zulaikha.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, Zulaikha memerhatikannya dari balkon kamar Andreas. Ia mengulas senyum, merasa terharu melihat Andreas tetap memprioritaskan dirinya. Namun, ia juga merasa sedih. Kasihan melihat Olivia yang hancur seperti itu, karena ia pun pernah di posisi yang sama--dipatahkan oleh orang terdekatnya.

"Apa aku wanita yang egois? Sedangkan di sana ada wanita yang tersakiti karenaku, yang sedang memperjuangkan lelaki yang dicintainya," gumamnya pelan.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top