Part 20

"Gara-gara dirimu datang ke kantorku, semua temanku jadi heboh, Andreas."

Zulaikha masuk ke mobil. Ia langsung mengomel kepada Andreas yang duduk di balik kemudi. Sore ini lelaki itu menjemput dirinya di kantor, menepati ucapannya tadi pagi.

"Aku tidak melakukan apa pun di sana. Hanya duduk, makan bersamamu. Sudah, itu saja, 'kan? Terus kegaduhan apa yang kulakakun di ruang kerjamu?" tanya lelaki itu sambil melajukan mobilnya dari parkiran. Tama dan Edward mengikutinya.

Zulaikha masih sibuk memasang sabuk pengaman, setelahnya bersedekap. Membuang muka ke jendela, ia mengurungkan niat untuk menjawab pertanyaan lelaki itu, padahal sudah membuka mulut. Takutnya, setelah mendengar alasan dari dirinya, Andreas semakin besar kepala. Sebab, yang diributkan teman-temannya adalah ketampanan dan kebaikan lelaki itu.

'Baru sehari dikasih makanan gratis, tapi mereka sudah berlebihan menanggapi Andreas. Bagaimana kalau dikasih makanan gratis setiap hari salama seminggu, sebulan, atau bahkan setahun? Bisa jadi mereka menyembah Andreas. Pasti itu,' batin Zulaikha.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Zul. Kegaduhan apa yang aku lakukan di kantormu?"

Tanpa menoleh, Zulaikha berucap tegas, "Gak usah kirim-kirim makanan lagi ke kantor. Pokoknya jangan."

Ia masih kesal teringat teman-temannya yang heboh, terutama Lyodra yang menyanjung-nyanjung Andreas sampai menampilkan wajah dramatis. Katanya, jika dirinya tidak cinta dan tidak mau dengan Andreas, lelaki itu akan didekati untuk dijadikan gebetan. 'Teman macam apa itu? Cukup Ranti saja yang menjadi pengkhianat.'

Mendengarnya, Andreas mengernyit. Lalu, berucap santai, "Apa masalahnya? Itu dariku, bukan darimu."

"Aku tahu. Tapi kamu sengaja untuk cari muka kepada mereka, 'kan?" Zulaikha menoleh ke arah Andreas, lalu berucap lagi, "Katakan padaku, rencana apa yang sedang kamu rancang sekarang?"

Andreas menatap Zulaikha sekilas, lalu fokus ke jalanan depannya. "Tidak ada. Dan aku sudah beritahu alasannya kepadamu tadi siang."

"Aku tidak percaya itu. Pasti ada rencana lain." Zulaikha menyipitkan mata, sambil mengatupkan bibir rapat-rapat.

"Ya, tentu saja ada rencana lain. Setelah teman-temanmu tahu statusmu sekarang, apalagi memiliki suami tampan sepertiku, mereka atau bahkan lelaki lain tidak ada yang berani mendekatimu."

"Sejak kita berhubungan intim, sifatmu jadi berubah gini. Jadi posesif, sok manis, dan sok romantis. Apa kamu sudah jatuh cinta kepadaku, Andreas? Kamu sudah lupa dengan rencanamu untuk menyakitiku, yang katanya ingin membuatku hancur sehancur-hancurnya?"

Ucapan serta pertanyaan Zulaikha yang terdengar frontal dan mengintimidasi, berhasil membuat Andreas salah tingkah. Jantung lelaki itu bertaluan tak keruan. Ingin mengakui perasaannya kepada perempuan di sebelahnya, tentu saja ia gengsi.

"Jangan kepedean, Zul. Meskipun kita sudah berhubungan badan, tapi tidak ada kata cinta untukmu." Suara Andreas terdengar kaku.

"Begitu?" Zulaikha menjeda ucapannya, lantas berkata lagi, "Baiklah. Berarti aku bebas untuk mencari pria lain yang tulus mencintaiku. Dan pria itu yang bisa membawaku keluar dari pernikahan ini."

Mendengar itu, hati Andreas meradang. Darahnya berdesir membuat tubuh gerah seketika. Ia pun semakin mengeratkan cengkeramannya pada setir, untuk menyalurkan rasa geram yang melanda. "Berani bertindak seperti itu, jangan harap lelaki itu akan hidup lama," ucapnya datar, sambil mengetatkan rahang.

"Kenapa? Bebas dong, aku memilih dan mencintai pria lain."

"Dalam surat perjanjian masih tertulis jelas apa saja peraturan yang harus kamu patuhi."

Melihat Andreas menahan amarah, Zulaikha mengulum senyum. Lelaki itu terlihat begitu tampan jika sedang cemburu. Bisa dilihat dari rahangnya yang mengeras dan nada suaranya berubah dingin. 'Astaga, dari kapan aku memuji ketampanan Andreas? Padahal dari dulu wajahnya sama saja. Tapi, kenapa aku baru sadar jika lelaki itu memang tampan,' batinnya.

"Tinggal aku sobek semua sudah beres. Tidak ada lagi perjanjian laknat itu," ucap Zulaikha, berusaha bersikap biasa saja.

"Ingat Ibumu yang masih dalam genggamanku, Zul."

"Wooow, senjata pamungkas dikeluarkan lagi." Zulaikha tertawa.

"Sepertinya untuk menghilangkan senjata pamungkas yang terus digunakan untuk mengancamku harus dihilangkan. Bagaimana kalau aku yang membuatmu jatuh cinta kepadaku? Bermain di ranjang saja aku bisa menaklukkan dirimu. Untuk membuat hatimu jatuh kepadaku ... it's easy," lanjut Zulaikha lagi. Kemudian, ia beringsut mendekati Andreas. Mengulurkan tangan kanannya ke tengah selangkangan lelaki itu, ia mengusap dan membelainya pelan.

'Shit!' Tubuh Andreas menegang, panas dingin rasanya. Gelenyar aneh pun datang tiba-tiba.

"Ini ... sangat mudah kubangunkan. Bohong kalau kamu tidak memiliki perasaan cinta kepadaku. Setelah kita melakukan satu kali, kamu ingin terus melakukannya berkali-kali," ucap Zulaikha lirih di samping telinga Andreas bak bisikan. Ia menyeringai.

Sementara Andreas harus menahan mati-matian libidonya yang meningkat, membuat sekujur tubuhnya merinding. 'Zulaikha sialan! Beraninya membangunkan milikku. Kalau tidak ingat sekarang sedang di jalan raya, habis kamu, Zul,' umpatnya dalam hati.

"See, Andreas! Punyamu sudah mengeras." Zulaikha semakin membuat Andreas meradang dengan belaiannya yang erotis. Sama sekali tidak memikirkan jika lelaki itu sedang menahan hasratnya susah payah.

"Zul, tolong jauhkan tanganmu dari milikku."

"Kalau aku tidak mau?" Zulaikha semakin menantang. Dengan gerakan sensual, ia mengusap dan meremasnya. Kemudian, mengecup pipi Andreas.

"Masih di jalan. Kita harus jaga keselamatan." Suara Andreas semakin memberat. Rasanya, ia benar-benar ingin menerjang Zulaikha sekarang juga.

Perempuan itu pun menjauhkan tangannya dari selangkangan Andreas, kasihan melihat wajah lelaki itu yang sudah memerah. Membenarkan posisi duduknya menghadap depan, ia berucap tenang. "Okaaay." Tangannya bersedekap lagi. "Bagaimana rasanya disiksa gairah, Andreas? Dulu kamu pernah melakukannya kepadaku waktu di puncak, malam pertama setelah kita menikah."

Andreas menghela napas lega. Lalu, mengatur pernapasannya yang terengah, dengan ritme jantung yang mengajak berlarian. Namun, ia terus merutuk dalam hati. Sebab, miliknya di dalam celana masih menegang, membuatnya benar-benar tersiksa.

Tidak lama kemudian, Andreas sampai di kantornya. Ia melangkah lebar sambil menggandeng Zulaikha menuju ruang kerjanya.

Memasuki ruangan, lelaki itu menyeret kencang Zulaikha lalu mengunci pintu dengan cepat. Ia mendorong tubuh ramping istrinya sampai membentur pintu, mengurungnya di sana dengan kedua lengan menumpu pada daun pintu.

"Kamu yang sudah memulai. Mari kita selesaikan di sini," kata Andreas dengan suara beratnya.

"Di kantor?" tanya Zulaikha tak percaya. Ia menatap lekat-lekat lelaki itu.

"Ya. Di mana pun tempatnya, aku tidak peduli."

Tidak membuang waktu, Andreas langsung menyambar mulut perempuan itu, melumatnya pelan penuh gairah. Sedangkan Zulaikha mengalungkan kedua tangan di leher jenjang lelaki itu, membalas ciumannya sambil memejamkan mata.

Saling menikmati cecapan yang diciptakan, Andreas mengangkat tubuh Zulaikha lalu membopongnya bak koala, masih dalam posisi sama. Kemudian, satu tangannya menyusup masuk ke balik kaus rajut berlengan panjang perempuan itu, meraba kulitnya yang terasa mulus lantas melepaskan kaitan bra-nya. Tangan Andreas beralih ke dada memeremas dua gundukan itu bergantian, membuat Zulaikha semakin diliputi api gairah. Melepaskan pagutan, ciuman Andreas berpindah ke leher Zulaikha untuk memberi tanda kepemilikan di sana.

"Andreas." Zulaikha menggelinjang. Ia meremas kencang rambut lelaki itu.

"Hmm."

"Aku ...." Zulaikha menggantungkan ucapannya, ia meringis lagi saat Andreas menghisap kulit lehernya.

"Katakan, Zul," kata Andreas, setelah melepaskan isapannya.

"Please, I want you ... now."

Andreas mengecup bibir Zulaikha.

"Katakan lagi, Sayang." Tanpa sadar ia menyebut kata sayang untuk Zulaikha.

"I want you." Zulaikha berucap lagi.

Andreas tersenyum mendengar kemauan Zulaikha. Ia melangkah menuju sofa panjang, lantas membaringkan tubuh istrinya di sana. Masih saling mencumbu sambil melucuti pakaian yang membuat gairah keduanya semakin menggila. Akhirnya, mereka pun melakukan penyatuan tanpa menggunakan pengaman.

***

Duduk di kursi kebesarannya, lelaki itu mematikan komputer dan laptop. Ia merapikan berkas di hadapannya dan menyimpannya ke laci meja. Melihat mejanya telah rapi, bolpoin dan kertas telah tersimpan ke tempatnya masing-masing, Andreas bersandar sambil mengamati Zulaikha dalam diam.

Perempuan itu masih terlelap tidur di sofa setelah melakukan percintaan panasnya. Wajahnya tampak lelah. Jas hitam yang menyelimuti tubuh bagian atas masih rapi di sana.

"Melawan hati untuk tidak jatuh cinta kepadamu, ternyata sangat sulit, Zul?" Suara Andreas terdengar sangat lirih.

"Kamu wanita pertama yang berhasil narik-ulur perasaanku. Tapi, kenapa harus berawal dari kejadian yang sangat kubenci?"

"Andai kamu tidak ada andil atas kematian Mama, pasti akan beda cerita. Karena dari pertama melihatmu di kafe dan di restoran, kamu sudah berhasil membuatku penasaran dengan tingkahmu yang bar-bar."

"Sialnya, perasaan sukaku untukmu berubah menjadi kebencian saat tahu kamu yang menyebabkan Mama meninggal. Tapi, untuk membencimu terlalu jauh, ternyata sangat sulit bagiku, Zul."

Andreas berhenti bergumam ketika melihat Zulaikha menggeliat. Beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri perempuan itu, ia berjongkok di samping sofa. Lalu, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menghalangi mata perempuan itu.

Zulaikha membuka mata, ketika merasakan geli di kepalanya. Melihat Andreas di hadapannya, ia bertanya lirih, "Jam berapa sekarang?"

"Delapan lebih."

Zulaikha terdiam sejenak, kemudian beranjak duduk dan bersandar. "Aku terlalu lama tidur. Tubuhku pegal-pegal semua." Ia berucap, tetapi matanya masih terpejam.

"Hanya dua ronde tadi."

"Tetap saja. Kamu bikin tubuhku remuk."

Andreas mengulas senyum. Ia menangkup wajah Zulaikha lalu mengecup bibirnya.

"Nanti nambah lagi kalau sudah di rumah," ucap lelaki itu, sengaja menggoda Zulaikha.

"Gila aja, kamu."

"Katanya ingin membuatku jatuh cinta kepadamu. Semangat dong, jangan loyo. Aku sudah menerima tantangan darimu ini."

"Ternyata keputusanku salah besar, Andreas. Kalau caranya seperti ini---."

"Aku akan cepat jatuh cinta kepadamu."

Zulaikha membuka mata. Ia menatap lekat-lekat wajah Andreas. "Kalau aku bisa membuatmu jatuh cinta, harapan pertama yang kuinginkan memusnahkan surat perjanjian laknat itu," ucapnya.

"Makanya, harus semangat bikin aku jatuh cinta kepadamu. Taklukkan hatiku hanya untukmu."

"Ini ceritanya aku mendapat dukungan dari musuhnya langsung." Zulaikha terkikik, lalu mengulurkan kedua tangan ditenggerkan ke bahu Andreas.

"Pria kejam." Perempuan itu mencubit pipi kanan Andreas sambil mengulas senyum.

"Dan wanita pembunuh." Andreas bergantian mencubit hidung Zulaikha sambil ditarik, tidak terlalu kencang.

Mereka berdua pun terkikik bersamaan. Merasa lucu sendiri dengan keadaan sekarang.

"Sebelum pulang bisa antar aku ke kontrakan? Aku mau mengambil barang-barangku yang di sana."

Mendengar permintaan istrinya, Andreas mengaguk patuh.

***

Cerita lengkapnya sudah ada di ebook ya teman-teman👇

Ada informasi menarik juga buat kalian, nih, Guys.


Yang mau ikutan kuis dari Karos Publisher, kalian bisa baca cerita ini 👇

Ada juga cerita-cerita punya yang lain, bisa kunjungin ke reading list aku yang paling bawah.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top