Part 2

"Lagi ada masalah?" tanya Ranti--teman satu kontrakan sakaligus sahabat Zulaikha--yang baru datang dari dapur. Perempuan itu menaruh semangkuk mie instan kuah di meja, lantas meniup-niup asap yang masih mengepul.

"Lagi pusing aku. Anggap saja hari ini adalah hari sialku," balas Zulaikha, lesu. Ia menaikkan kedua kaki di kursi kayu bercat hitam, lalu memeluknya. Sedangkan matanya memandang mangkuk berisi mie instan Korea milik Ranti yang begitu menggugah selera. Warna merah dari kuah, aroma yang menguar sedap, serta terdapat campuran dari sayur, jamur inoki, bakso sapi, telur, dan ikan dumpling keju, berhasil membuatnya menelan ludah.

"Masalah apa? Hubunganmu dengan Zacky? Sepertinya hubungan kalian baik-baik saja." Ranti mulai menyeruput kuah mie instannya perlahan dari sendok. Sedangkan mata tertuju kepada sahabatnya yang memakai pyjama pendek berbahan satin malam ini.

Zulaikha memerhatikan mulut sahabatnya lamat-lamat. Setelah sadar, ia mengerjap dan menundukkan kepala menatap sandal jepit berkarakter panda. "Hubunganku dengan Zacky emang baik-baik saja. Yang gak baik itu nasibku hari ini. Dari kejebak macet. Ketemu klien yang rewel, bawel, dan ngeselin. Ditambah lagi ketemu sepasang kekasih yang sangat aneh, tapi nyata. Pokoknya semuanya bikin aku pusing dan mual."

Ranti mengangguk paham. Ia melahap ikan dumpling keju, mengunyahnya perlahan merasakan sensasi kelezatan dari butiran telur ikan bercampur keju. "Terus?" tanyanya santai.

Zulaikha mengangkat kepala menatap perempuan berambut sebahu itu. "Dari klien, dia marah karena aku telat datang. Lalu, memintaku untuk merevisi videonya lagi, tapi yang paling ngeselin dia tidak tahu apa yang harus direvisi. Nah, aku ubah semua tuh, dari filter, fitur, audio, dan lainnya. Pokoknya aku ubah semua. Tahu jawabannya apa? Dia minta video yang pertama lagi. Gila emang!" jawabnya dengan napas menggebu-gebu.

"Terus, yang kedua ketemu sepasang kekasih aneh itu. Mana ada pacaran hampir setahun, tapi si laki gak pernah ketemu sama teman ceweknya. Aneh 'kan? Nah, si perempuan ini merengek-rengek minta lakinya bertemu sama temen-temennya, tapi si laki gak mau. Akhirnya, mereka ribut dan debat deh, di kafe. Aku yang lagi dalam posisi emosi ingin makan orang, terlampiaskan nyemprot mereka. Tapi ternyata, si laki itu adalah pemilik kafe. Astaga, malu sekali aku," lanjut Zulaikha, lalu menangkup wajah dengan kedua tangannya.

"Apa? Hahahahaaa. Uhuk, uhuuuk." Ranti terbahak seketika. Bahkan ia tersedak kuah yang lumayan pedas, membuat tenggorokannya perih dan panas.

Dengan segera ia marih botol di sisi kiri mangkuk, berisi air mineral dingin yang tadi sudah diambil dari kulkas. Ia meneguknya cepat, lumayan untuk melegakan tenggorokannya. "Sorry, aku terlalu exited mendengar ceritamu, hahaha. Terus gimana?"

"Yaaa, untung saja si klien bawel itu cukup membantuku. Jadi, aku tidak perlu lama-lama menghadapi mereka." Merasakan perutnya keroncongan karena tergoda oleh aroma kuah mie instan itu, Zulaikha menarik mangkuk milik Ranti. "Bagi-bagi lah, sama sahabat. Aku sebenarnya sudah kenyang, tapi laper lagi setelah cerita. Ternyata cukup menguras tenagaku juga."

"Anjir, alasanmu saja itu. Bilang saja kepingin makan mie instanku. Dari tadi sudah nelen ludah terus 'kan?" ejek Ranti, tersenyum miring.

"Suka benar memang kalau ngomong." Zulaikha terbahak. Setelah melahap mie dan sebutir bakso sapi, ia menyodorkan mangkuknya kembali ke hadapan Ranti. "Eh, kayaknya Zacky datang itu," ucapnya saat mendengar suara deru mobil di teras kontrakannya.

"Kamu menyuruh dia datang?" tanya Ranti, seusai melahap mie dan menyeruput kuah yang tinggal separuh.

"Iya. Zacky bilang pulang jam setengah delapan. Jadi, aku minta dia datang ke sini dulu."

Zulaikha menurunkan kaki dari kursi, lalu beranjak dari duduknya dan berlari menuju ruang tamu. Senyumnya mengembang bahagia saat membuka pintu melihat sang kekasih turun dari mobil. "Hai!" sapanya, penuh semangat.

Lelaki itu tersenyum hangat. Meraih kantong plastik dari jok samping kemudi, lalu memperlihatkan kepada sang kekasih. "Martabak keju kesukaanmu."

Manik mata cokelat milik Zulaikha berbinar cerah. Ia melangkah semangat menghampiri Zacky. Kemudian, mengambil alih kantong plastik dari tangan Zacky dan berkata, "Waaa, makasih, Sayang."

Lelaki itu mengangguk. Usianya yang terpaut tiga tahun lebih tua dari Zulaikha, memang tampak sekali kedewasaannya. Zacky menutup pintu mobil. Ia mengusap puncak kepala sang kekasih penuh kasih sayang, lantas mengecup keningnya. Ia mencintai dan menyayangi perempuan itu sejak awal bertemu, ketika sedang melakukan project kerjasama. Baginya, Zulaikha adalah seseorang yang humble, welcome, ceria, lucu, energik, pantang menyerah untuk mencapai tujuan, penuh tanggung jawab, penyayang, dan masih banyak lagi yang ia sukai dari perempuan itu.

"Masuk ke dalam, yuk! Ada Ranti juga, lagi makan," ucap Zulaikha, menyadarkan Zacky dari lamunannya.

"Kamu sudah makan?" tanta Zacky, melangkah di samping sang kekasih. Ia menatap wajah cantik perempuan itu. Tubuhnya yang tinggi tegap, rambut tercukur rapi, serta kemeja warna biru muda yang digulung sesiku, semakin menambah kadar ketampanannya.

"Tadi sore doang, waktu di kafe. Masih agak kenyang sih, tapi nanti aku makan martabak ini." Zulaikha mengangkat kantong plastiknya ke depan wajah, memerhatikan. "Kalau sudah mencium aroma keju bercampur susu di adonan martabak. Beeeh, perutku tidak bisa diajak kerja sama lagi," lanjutnya lagi, terkekeh.

"Lucu sekali, sih." Zacky mengacak puncak kepala kekasihnya, gemas.

Tidak berselang lama mereka sampai di ruang makan. Ranti sudah selesai menyantap mie instannya dan sekarang sibuk memainkan ponsel, membiarkan mangkuk kotor bekas makannya masih di hadapan.

"Hai, Zack," sapa Ranti, menyadari Zacky duduk di hadapannya. "Baru pulang kerja?" tanyanya basa-basi.

"Seperti yang kamu lihat. Masih rapi dengan pakaian kerja," balas Zacky, mengembangkan senyum simpul.

Zulaikha mengabaikan percakapan mereka. Ia berlalu menuju kulkas, mengambil dua kaleng soft drink dan memberikan salah satunya kepada Zacky. Lantas, ia mendaratkan pantat di kursi samping sang kekasih.

"Kamu beli martabak di tempat biasa, 'kan?" tanya Zulaikha kepada Zacky, sambil membuka bungkus martabaknya.

"Iya. Selain martabak Pak Herman, mana ada yang kamu suka?"

"Gak ada." Zulaikha menyengir. "Adonan martabak Pak Herman memang yang paling pas endes di lidahku. Manisnya pas. Tidak bantat, terasa lembut dan kenyal. Apalagi aromanya harum, menggugah selera sekali."

Zulaikha mengambil sepotong martabak, diberikan kepada Zacky. Lalu mengambil lagi untuk dirinya sendiri. "Mau gak, Ran?" tawarnya kepada Ranti.

Perempuan itu menggeleng sambil mengusap-usap perut. "Udah kenyang. Dimakan kalian saja," tolaknya lembut, kembali fokus dengan ponselnya lagi.
Zulaikha mengiyakan. Sambil menikmati martabak keju, ia bertukar cerita dengan Zacky. Membicarakan kejadian tadi siang di cafe, pun dengan Zacky yang menceritakan bagaimana kesehariannya di kantor.

Sementara Ranti hanya diam sambil memainkan ponsel, sibuk berselancar di Instagram. Namun, diam-diam ia juga mencuri dengar pembicaraan Zulaikha dan Zacky yang begitu asyik dan akrab. 

***

Andreas Aidan, lelaki muda berusia 31 tahun itu, seorang pembisnis dalam bidang kuliner yang memiliki beberapa cabang kafe dan restoran. Bukan hanya itu, ia juga memiliki resort di berbagai wilayah Indonesia yang berkembang cukup baik.

Kesibukannya dalam bekerja, terkadang membuat ia lupa waktu dan mengabaikan jalinan hubungan asmaranya dengan Olivia. Sering kali ia mendapat rengekan dari sang kekasih, agar bisa menyisakan waktu untuk bersamanya. Namun, Andreas tetaplah Andreas. Lelaki gila kerja yang memiliki banyak tujuan dalam usahanya.

Ia ingin sukses, lebih dari papanya yang telah mengabaikan. Ia ingin membahagiakan mamanya, yang sudah susah payah membangun usaha kulinernya sejak dari nol. Ambisi besar untuk mencapai kesuksesan, membuat hidup Andreas terasa monoton. Tidak ada waktu untuk bermain-main, apalagi berkencan.

Pribadinya yang pendiam, penuh tanggung jawab, cekatan, datar, juga tidak peduli dengan orang-orang yang menurutnya tidak penting, sering kali ia dijuluki sebagai pria robot yang tak kenal lelah. Terpenting baginya, ia bisa mencapai target yang diinginkan dengan tepat waktu dan usahanya berjalan lancar.

Hari ini, setelah dua hari dari perdebatannya dengan Olivia di kafe, Andreas dilanda kebingungan. Ia mendapat kabar jika seorang fotografer yang ia sewa mendadak tidak bisa datang untuk melakukan pemotretan dan pembuatan video promosi di salah satu restoran barunya.

"Apa kamu sudah mencari fotografer lain sebagai pengganti dia?" tanya Andreas, kepada sang manager di restoran barunya tersebut. Lelaki itu berdiri dengan tangan bersedekap, menatap lelaki di hadapannya yang lebih muda darinya.

"Sudah, Pak. Dia kekasih dari teman saya. Dia juga sudah terkenal handal dalam menangi editing video. Dari beberapa contoh video di YouTube dan dari para klien yang memakai jasanya, hasilnya tidak diragukan dan memuaskan."

"Jam berapa perjanjiannya datang ke sini?"

"Jam sepuluh, Pak."

Andreas mengangguk, paham. Lantas, melirik Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul 09.55. Berarti, tidak lama lagi orang itu akan datang, batinnya.

Sembari menunggu, Andreas mengamati restoran barunya yang mengusung konsep restoran mewah dengan natural view garden. Dari bagian depan, pengunjung sudah disambut dengan tumbuh-tumbuhan hijau yang menghias seluruh dinding, langit-langit, serta terdapat jenis bambu fargesia rufa yang ditanam bak pagar di lorong pintu masuk.

Restoran yang diberi nama 'A2 Garden Restaurant' itu, memang terlihat sangat mewah. Pengerjaannya yang hampir satu tahun, dengan konsep berbeda dari restoran-restorannya yang lain, membuat Andreas merasa puas melihatnya.

"Permisi, Pak. Fotografernya sudah datang." Seorang karyawan berseragam kemeja biru terang datang menghampiri Andreas dan sang manager, bersama seorang perempuan dan laki-laki yang berdiri di belakangnya.

Andreas segera menoleh ke arah karyawannya tersebut. Terkesiap saat melihat perempuan yang sempat marah-marah tidak jelas kepada dirinya dua hari lalu. "Kamuuu," ucapnya, suara tertahan di tenggorokan. Sedangkan, mata melotot tajam menatap Zulaikha yang tak kalah kaget.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top