Part 16

Seperti tak ada habisnya air mata mengalir, Zulaikha masih menangis. Padahal sekarang sudah jam empat pagi. Pikiran perempuan itu terus berkelana memikirkan Zacky dan Ranti. Ia tak habis pikir, kenapa begitu teganya mereka mengkhianati. Secara diam-diam menjalin hubungan serius di belakangnya, mereka seakan-akan telah dibutakan sampai tak melihat siapa dirinya. Ia juga teringat dengan video Zacky yang Danang rekam, sangat yakin jika perempuan yang bersamanya adalah Ranti. Sungguh, memikirkan itu jantung Zulaikha terus berdenyut nyeri. Sakit, yang benar-benar sakit.

'Apa mereka tidak memikirkan perasaanku? Juga tidak pernah mencariku selama ini?' batin Zulaikha, terisak pilu.

'Selama sebulan ini aku terus memikirkan mereka. Ingin meminta pertolongan agar bisa keluar dari jeratan Andreas. Tapi ... kenapa mereka justru bersenang-senang di belakangku?' Zulaikha meremas seprei kuat-kuat. Luruhan air mata semakin deras mengalir melewati tulang hidung ke mata sebelahnya, dan mengalir bersamaan menggenang di bantal.

'Aku juga lagi berusaha meluluhkan hati Andreas pelan-pelan, agar bisa keluar dari sini untuk menemui mereka. Tapi ....'

'Apa ketidak adaanku di antara mereka justru dijadikan aji mumpung?'

Zulaikha sibuk dengan pikirannya, membayangkan kehidupan sebelumnya yang begitu damai bersama Ranti dan Zacky. Ia pusing sendiri, serasa diputar-putar dan berat. Banyak kenangan manis bersama mereka yang tersimpan rapi di memori. Namun, justru keduanya sangat kompak untuk menyakiti. Jujur dalam hati, Zulaikha masih sangat berat menerima kenyataan ini.

Sementara di sebelahnya, Andreas termenung sambil memandang langit-langit. Ia pun terjaga semalaman tidak bisa tertidur. Setiap mata akan terpejam, bayangan wajah Zulaikha justru terpampang jelas. Ditambah lagi dengan suara isak tangis perempuan itu yang terdengar pilu, membuat hati tak tenang.

Andreas memiringkan tubuh, menatap iba Zulaikha yang terbaring membelakangi. Memerhatikan lekat-lekat, ia melihat jika punggung perempuan itu bergetar dan suara isakan masih terdengar jelas di pendengarannya.

'Seharusnya aku bahagia melihatmu hancur seperti ini. Merasakan sakit hati yang belum seberapa, dari yang aku rasakan saat kehilangan Mama. Tapi, kenapa hatiku juga ikut sakit dan tidak tega melihatmu menangis pilu? Kenapa kamu tidak mengamuk saja untuk meluapkan emosi, seperti yang kamu lakukan dulu saat menolak pernikahan ini, Zul?' batin Andreas.

Lelaki itu mengalahkan ego. Salah satu tangannya terulur menyingkirkan dua bantal guling yang digunakan sebagai penyekat antara dirinya dan Zulaikha.  Ia menaruh bantal guling itu ke lantai, kemudian beringsut pelan mendekati Zulaikha. Ia menarik dan membalikkan tubuh sang istri, lantas memeluknya erat.

"Pengkhianat seperti mereka tidak perlu ditangisi seperti ini. Buang-buang air mata," ucap Andreas lirih, dengan tangan mengusap rambut Zulaikha perlahan.

Zulaikha semakin tergugu. Ia mencengkeram punggung Andreas untuk mencari kekuatan. "Kenapa mereka tega mengkhianatiku dari dulu? Aku tidak pernah punya salah dengan mereka," ucap Zulaikha di sela isak tangisnya. Suaranya tidak terlalu jelas karena terhalang dada bidang Andreas.

"Berarti mereka bukan orang baik untukmu," balas Andreas, mencoba untuk memberi pengertian. "Terkadang orang yang terlihat baik dari luar, belum tentu baik hatinya. Pun, sebaliknya. Orang yang terlihat berandalan atau jelek dari luar, belum tentu seberandalan dan sejelek itu hatinya."

"Aku tulus menyayangi mereka. Aku sudah menganggap Ranti seperti saudaraku sendiri. Bahkan, tidak pernah berpikir negatif tentang dia. Kami saling terbuka satu sama lain. Tapi, kenapa Ranti setega itu merebut Zacky dariku?"

Andreas semakin mengeratkan pelukannya. Tanpa sadar ia mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Zulaikha. "Jangan pikirkan mereka lagi. Kamu juga tidak perlu meratapi kesedihan ini sampai berlarut-larut. Kita sudah menikah. Kamu bisa membalas perbuatan mereka dengan cara yang elegan."

"Pernikahan kita bahkan atas dasar balas dendammu terhadapku, Andreas. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari pernikahan ini. Kita sama-sama terpaksa."

Hening. Andreas tidak membalasnya. Mata elang lelaki itu menatap kosong ke arah dinding yang terlihat remang-remang, karena pencahayaan lampu tidur terlalu redup. Dalam benaknya, ia juga membenarkan ucapan Zulaikha. Apa yang harus dibanggakan dari pernikahan paksa ini? Bahkan, ia sendiri begitu membenci perempuan yang ada di dalam pelukannya.

"Kenapa semua orang jahat kepadaku? Termasuk kamu yang selalu menuduhku sebagai pembunuh Mamamu, padahal itu murni kecelakaan. Aku tidak tahu, kalian semua memiliki otak atau tidak. Atau otaknya sudah digeser ke lutut, makanya tidak berfungsi dengan baik. Suka berbuat semaunya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kalian sama saja, berengsek semua," lanjut Zulaikha lagi, semakin tergugu.

Andreas tidak tahu harus bicara apalagi sekarang. Ia hanya bisa diam. Sedangkan benaknya merenungkan ucapan Zulaikha, dengan satu tangannya masih mengusap pelan rambut perempuan itu.

Menarik napas dalam-dalam, akhirnya Andreas berucap, "Kamu perlu istirahat, Zul. Dari semalam tidak berhenti menangis. Tidurlah, agar tetap waras menghadapi kenyataan."

"Aku tidak bisa tidur. Pikiranku masih dipenuhi mereka. Banyak memori manis bersama mereka yang justru semakin membuat hatiku sakit, Andreas. Sakit sekali di dalam sini." Zulaikha memukul-mukul dadanya cukup kasar. "Aku memiliki perasaan. Aku tidak sekuat seperti yang kamu pikirkan. Kali ini aku ngaku kalah. Aku rapuh, Andreas," lanjutnya lagi, tubuhnya bergetar hebat.

Andreas membawa Zulaikha ke dekapannya semakin dalam, memeluknya erat-erat. "Biarkan seperti ini. Walaupun aku berengsek seperti yang kamu pikirkan, setidaknya aku bisa menjadi tameng untuk memberimu kenyamanan dan kehangatan. Tidurlah. Masih ada waktu sampai matahari terbit."

***

Langit siang ini tampak abu-abu pekat. Anginnya berembus kencang menggoyangkan ranting pepohonan di tepian jalan. Berdiri bersandar pada kusen jendela berteralis dengan tangan bersedekap, Zulaikha memandang ke arah luar. Tatapannya kosong. Seharian ini ia mengurung diri di kamar, sangat malas beraktivitas. Bahkan ia juga melewatkan sarapan, sengaja memang untuk bangun kesiangan.

Sementara Andreas sudah pergi bekerja. Ia tahu. Meskipun masih terbaring anteng di ranjang, ia sedikit membuka matanya untuk melihat lelaki itu bersiap. Andreas memakai kemeja biru muda, celana kain hitam serta jas hitam senada.  Sangat cocok melekat di tubuhnya yang atletis.

Kali ini Zulaikha harus berterima kasih kepada lelaki itu. Berkatnya, ia sedikit mendapat ketenangan saat tangan kokoh itu mengusap kepalanya dengan perhatian. Membawanya ke alam bawah sadar, padahal sebelumnya ia sangat kesusahan untuk terpejam.

Akan tetapi, ketika mata sudah mulai terjaga sempurna ingatan tentang video Zacky dan Ranti berkelebatan di otaknya kembali. Hati yang sudah mulai tenang bagai tertusuk belati lagi. Terasa nyeri dan sakit sekali.

Beriringan dengan rintik hujan yang mulai turun, Zulaikha meluruhkan air matanya kembali. Seperti tak ada habisnya bendungan air dalam kantung mata itu. Padahal, kelopak matanya sudah membengkak, ujung hidung tampak memerah, serta rambut panjangnya awut-awutan. Ia miris sendiri melihat penampilannya dalam pantulan cermin saat di kamar mandi tadi, sangat menyedihkan bak orang tak waras.

'Kenapa aku harus memikirkan mereka sampai seperti ini, jika mereka saja tidak memikirkan perasaanku? Apa mereka pantas dipikirkan, Kha? Benar kata Andreas, mereka bukan orang baik untukmu. Mungkin, dengan cara ini Tuhan menunjukkan seperti apa sifat mereka yang sebenarnya,' batin Zulaikha sambil terkekeh miris. Tangannya mengusap kasar wajahnya.

"Bagaikan buah mangga yang memanipulasi. Mulus di luar, tapi busuk di dalam," ucap Zulaikha lirih, tetapi begitu dalam.

Kemudian, ia mengalihkan perhatian dari rintik hujan saat mendengar pintu kamar terketuk dari luar. Tidak lama Bi Maryam membuka pintu. Perempuan paruh baya itu mengayunkan kaki memasuki kamar, menghampiri dirinya yang masih terbaring di ranjang.

"Non Zul, maaf kalau mengganggu," ucap Bi Maryam. Bibir tipis perempuan itu mengembangkan senyum. "Bibi ke sini untuk mengecek keadaan, Non Zul. Kata Tuan Andreas, Non Zul, sedang tidak enak badan. Sekarang sudah jam sebelas, dan Non Zul, belum sarapan. Bibi khawatir dengan keadaan,  Non Zul," sambungnya, senyumnya memudar berganti tatapan sendu.

"Tidak mengganggu, kok, Bi. Aku memang masih agak pusing saja. Terima kasih, Bibi, sudah mengkhawatirkanku." Zulaikha tersenyum tipis.

Bi Maryam memerhatikan wajah cantik perempuan di depannya, masih terlihat pucat dan berantakan. Ia ingin bertanya, tetapi takut tak sopan. Kemudian, ia mengalihkan perasaan penasarannya dengan bertanya, "Non Zul mau makan di bawah atau di kamar? Biar Bibi siapkan."

Zulaikha tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak menimang-nimang ingin makan atau tidak, karena selera makannya benar-benar sedang hilang saat ini.

Menatap mata wanita paruh baya yang masih sabar menunggu jawaban, akhirnya Zulaikha menjawab, "Nanti aku ke bawah saja, Bi."

Bi Maryam mengangguk. "Baik, Non. Bibi siapkan dulu makanannya, ya. Mau Bibi buatkan bubur ayam?"

"Boleh. Tapi, aku jadi merepotkan, Bibi."

Bi Maryam menggeleng, senyumnya mengembang lagi. "Tidak, Non. Sama sekali tidak merepotkan, Bibi."

"Terima kasih." Zulaikha mengukir senyum tipis. Ia merasa terharu. Setidaknya masih ada orang baik yang peduli pada dirinya.
***

Di ruang kerja kantornya, Andreas duduk di kursi kebesaran menghadap luar gedung. Ia bersandar, sedangkan kedua tangan saling bertaut. Memandang derasnya hujan yang turun, pikirannya berlarian ke kamarnya--tepatnya kepada seorang perempuan yang masih tertidur pulas saat ia berangkat.

Andreas bingung dengan dirinya sendiri. Perasaan yang seharusnya tidak hadir dalam hatinya, tetapi justru sebaliknya. Ia berusaha untuk menolak. Tidak ingin terjebak dalam perasaan salah, yang sama sekali tidak ia harapkan. Namun, semakin menekan untuk menghilangkan, perasaan itu semakin merambat bak akar menjalar.

Andreas membenci perasaan itu, yang pada akhirnya akan memporak-porandakan hati. Jika dua sahabatnya tahu, sudah pasti ia akan ditertawakan karena menjilat ludahnya sendiri. Jika ada penambal hati, sungguh, ia sangat membutuhkan itu. Untuk merapatkan sobekan karena Zulaikha telah berhasil merobeknya.

"Sial! Kenapa jadi seperti ini?" umpat Andreas, satu tangannya memukul sandaran lengan.

Kemudian ia beranjak. Mengayunkan kaki lalu berdiri di depan dinding kaca. Ia menempelkan kening ke kaca. Tangan kirinya terangkat ke sisi kepala, mengepal kuat. Perasaan gundah terhadap seorang perempuan, baru kali ini ia rasakan. Apalagi dengan orang yang paling ia benci.

"Permainanmu menjebakmu sendiri, Andreas. Mundur atau lanjut? Jika mundur, maka kamu yang akan diremehkan perempuan itu. Kalau lanjut, kamu harus bisa membuat Zulaikha semakin benci terhadapmu. Tolak perasaan tak masuk akal ini," gumam Andreas, suaranya agak tertahan.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top