6 - MACARON

~~~
Ava mengamati tiga paragraf yang sudah berhasil dia kumpulkan mengenai Metis Patisserie, dan sesekali mencocokkan dengan catatan yang dimilikinya. Dua telinganya sudah tertutup headphone, memutar rekaman percakapannya dengan Kastra Moga.
" ... selalu ada cinta buat Indonesia. Thanks to My Mom who introduced me to this beautiful and multicultural country. Meski nggak punya darah Indonesia, saya selalu menyebut diri saya, Indonesian by heart. Semua hasil kreasi yang ada di Metis adalah gabungan budaya yang ada di keluarga saya. Papa yang orang Amerika dengan darah Prancis dari nenek, almarhumah Mama yang orang Kanada tapi punya darah Jerman, dan Mama yang murni orang Indonesia. Everything you taste here is the mix of all the flavors of the things that have shaped me as an individual."
Ava menekan tombol pause sembari memikirkan kalimat yang pas untuk merangkum penjelasan Moga mengenai latar belakang keluarganya yang sangat multikultural dengan singkat dan tidak bertele-tele. Sejujurnya Ava tidak memiliki kemampuan membedakan rasa tarte tatin yang dipilih Moga untuknya dengan kue-kue yang dipilih Sabrina. Dia tentu harus mencicipinya agar mampu memberikan deskripsi yang akurat. Baginya, tarte tatin yang masuk ke mulutnya masih terasa seperti apel berbalut karamel dengan sedikit rasa kayu manis. Rasa apelnya memang tidak lagi asam, bahkan dia yakin orang awam tidak akan tahu buah yang disajikan di atas tarte tatin itu adalah apel jika bukan karena teksturnya.
Mengingat kembali percakapannya dengan Sabrina begitu mereka sampai di rumah Ava, sahabatnya tersebut justru berseri-seri untuk alasan yang sama sekali tidak berkaitan dengan kue-kue yang mereka coba.
"Ava, Moga jelas tipe kamu banget! Selain tinggi, aku bisa ngerasain dia passionate banget dengan apa yang dia lakuin. Bukankah itu yang kurang dari cowok-cowok yang selama ini kamu kencani? Cowok yang passionate dengan apa yang mereka kerjakan?"
"Bri, bisa nggak kita fokus ke alasan utama aku ngajak kamu ke sana? Buat ngasih pendapat tentang kue-kue di Metis, bukan untuk bahas soal Moga." Ava agak menggerutu karena sejak meninggalkan halaman Metis, obrolan Sabrina tidak jauh dari Moga. "Kamu naksir? Ya udah, gebet aja sana."
"Ava, salah satu alasan kita masih temenan sampai sekarang adalah tipe cowok kita yang sangat berbeda. Moga bukan tipeku, tapi tipe kamu banget."
"Jadi yang mana yang paling kamu suka?" Ava menegaskan pertanyaan yang sebelumnya dia utarakan agar mereka kembali ke fokus utama. "Dari yang paling enak sampai yang rasanya biasa aja."
"Ava, kamu percaya aku, kan? Nggak ada yang biasa aja di Metis. Everything was exceptional. Bahkan macaron mereka aja beda rasanya dari yang pernah aku beli. Aku nggak tahu apa yang ditaruh Moga di sana, tapi yang pasti, aku bakal balik ke sana buat beli lagi. Éclair mereka juga pas rasanya, nggak terlalu manis dan cokelatnya nggak bikin eneg."
Ava meraih catatannya yang berisi tentang poin-poin yang perlu dia sebutkan di artikel ketika sebuah notifikasi muncul di layar komputernya. Obrolan dengan Sabrina tergantikan dengan kebutuhan melirik pengirim surel. Saat mengetahui nama yang tertera pada kotak masuk, Ava mengeluarkan geraman pelan. Dia membukanya dengan sekali klik.
From: [email protected]
Subject: First Draft
Ava,
I hope the visit to Metis Patisserie went well as I'm expecting the first draft ready by Wednesday before noon. I know you'll submit excellent work.
Kind regards,
Brama
Tanpa bisa ditahan, Ava mengeluarkan umpatan pelan karena merasa kalimat Brama terdengar seperti ejekan. Namun dengan cepat, dia mengendalikan diri dengan menarik napas panjang. Menekan tombol reply, Ava membalas surel teresebut.
To:
From:
Reply: Re: First Draft
Brama,
Noted. Will try to submit it before DL.
Regards,
Ava
Begitu notifikasi balasan itu terkirim, Ava menegakkan tubuh dan kembali menekan tombol play pada rekaman percakapan antara dirinya dan Moga.
"... Keputusan untuk membuka Metis di Bali sepenuhnya karena secara target, Bali punya potensi yang cukup besar. Nggak menutup kemungkinan akan ada cabang lain di Jakarta atau kota-kota besar lain ke depannya. Personally, the ultimate goal is to bring Metis outside of Indonesia. Selama ini, jika kita bicara soal makanan Indonesia di luar negeri, selalu berkaca pada makanan utama. But Indonesian dessert has so much potential! Menggabungkan French pastry dan Indonesian dessert bukan hanya akan jadi tantangan, tapi juga akan jadi kepuasan pribadi buat saya."
Memainkan pulpen di tangan, mudah bagi Ava menjadikan kecintaan Moga akan Indonesia sebagai porsi utama cerita tentang Metis Patisserie. Namun dia tidak sedang menulis profil mengenai salah satu chef melainkan tentang Metis Patisserie. Artikel yang ditulisnya harus berfokus pada makanan yang ada di tempat itu sekalipun ada bagian kecil dari tulisannya yang pasti menyinggung soal Moga.
Ava membaca kembali poin-poin yang tertera pada tablet-nya tentang kue-kue yang dia cicipi bersama Sabrina. Meskipun nama Moga selalu terselip dalam percakapan mereka, Sabrina menepati janji untuk memberikan Ava gambaran sedetail mungkin melalui gambaran tentang rasa beberapa item. Hanya saja, Ava memang kesusahan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Jika ini untuk restoran yang menghidangkan set menu, otaknya pasti langsung bisa diajak berkompromi.
Meraih ponselnya, Ava mencari nomor telepon Moga. Pria itu memang dengan sengaja memberikan nomornya supaya Ava bisa lebih gampang mengajukan pertanyaan jika menginginkannya. Setelah menimbang, Ava meletakkan ponsel dan mengurungkan niat untuk mengirimi Moga pesan.
Masih belum perlu, ujarnya dalam hati.
Ketika berniat untuk kembali menulis, ponselnya bergetar. Mengetahui ada pesan masuk dari Sabrina, dia langsung membukanya. Sahabatnya itu mengirimkan satu foto di Whatsapp dan dua pesan singkat.

Ava menggeleng heran mengetahui kelakukan Sabrina. Dia meletakkan kembali ponselnya supaya bisa fokus menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu meskipun dirinya masih punya lima hari. Artikel pertamanya di bawah Brama sebagai assistant editor.
Namun lagi-lagi, sebuah gangguan muncul dalam bentuk rekan kerjanya.
"Serius amat lo, Va!"
Dengan santainya, Rida masuk ke ruangan dan menjadikan ujung meja untuk menyandarkan pantatnya. Dia lantas meletakkan sesuatu di hadapan Ava.
"Apa-apaan sih? Aku—" Namun protes Ava tidak berlanjut saat menyadari kotak berwarna hijau tua yang diletakkan Rida di depannya bertuliskan Metis Patisserie berwarna putih. Ada kartu yang ditempel di ujung kanan atas kardus dan namanya tertulis jelas di sana.
"Ada kiriman buat lo, tuh. Ini patisserie yang disuruh Brama buat lo ngeliput?"
Tanpa ragu Ava mengangguk. "Cuma aku nggak tahu kenapa sampai dikirimin ini." Dia lantas mencabut kartu itu dan membuka isinya.
Thank you for coming to Metis Patisserie. I hope you like the macarons.
Nama Kastra Moga tertulis di bawah pesan itu. Ketika membukanya, dia menemukan sepuluh macaron seperti yang baru saja dikirimkan fotonya oleh Sabrina.
"Gue ambil satu, ya!"
Tanpa diminta dan menunggu persetujuan Ava, Rida mencomot satu macaron. Tidak ayal, hal itu membuat Ava berdecak.
"Nggak sopan!"
"Enak nih, Va. Itu dikirimin sama siapa? Marketing mereka?"
"Nama yang di kartu sih head pastry chef yang aku temuin pas ke sana kemarin. Cuma nggak mungkin juga kan dia sendiri yang repot-repot ngirim beginian?"
"Naksir kali sama lo. Ganteng?"
"Sama sekali nggak penting," balas Ava. Dia lantas menyodorkan kotak it uke Rida. "Ambil semua aja kalau mau. Aku lagi nggak pengen."
"Lo yakin?"
"Rida, kamu kan tahu aku nggak terlalu doyan makanan manis. Daripada nggak kemakan dan malah kebuang, mendingan aku kasih ke kamu."
"Asik! Dapet rejeki nomplok! Thanks, Va!"
Dalam waktu sekejap, rekan kerjanya itu sudah meninggalkannya sendirian sambil membawa satu kotak berisi macaron. Dia lebih lega Rida pergi dari ruangannya dibandingkan tidak mencoba satu pun pemberian Moga sekalipun kartu yang disematkan pria itu masih dipegangnya.
Walau Moga memberinya nomor telepon, Ava merasa mereka belum sedekat itu untuk bisa saling berkirim pesan. Dia memutuskan untuk mengirim ucapan terima kasih melalui surel. Jauh lebih aman dan juga profesional.
To:
From:
Subject: Thank You
Hi Moga,
I have received the macarons you sent to the office. Thank you so much. You didn't need to do that.
I will send you the article's copy once it is approved so you can read it first.
Have a great day!
Regards,
Ava
Setelah yakin isi surelnya tidak terlalu formal, Ava menekan tombol send.
Godaan menganalisis serta membuat daftar alasan Kastra Moga mengiriminya satu kotak macaron begitu kuat dirasakan Ava. Namun Ava menepisnya. Ada pekerjaan yang jauh lebih membutuhkan perhatiannya saat ini meskipun masih berhubungan dengan Metis Patisserie.
~~~
Halo semuanya,
Harapannya bab ini sih terus pada kepengen makan macaron dan nyari-nyari Kastra Moga di patisserie terdekat, LOL.
Selamat berakhir pekan dan semoga suka dengan bab ini.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top