Note 01
Tanganku terasa dingin. Kendati demikian, darah dalam diriku serasa mendidih. Tubuhku yang basah kuyup tak kuhiraukan, fokusku terpaku pada ruang kosong di kedua sisiku. Orang tuaku semula ada di sana, kami sedang bercengkrama sembari bergandengan tangan. Kemudian, banyak bulu putih turun, laksana sayap malaikat yang jatuh ke bumi dan memberi berkatnya kepada manusia.
Akan tetapi, semua salah. Tak lama berselang hujan turun. Bukan, itu bukan hujan biasa, melainkan hujan darah. Anehnya, ketika manusia terkena hujan tersebut, mereka meleleh seperti terkena cairan kimia.
Orangtuaku segera bertindak, mereka membawaku ke sebuah minimarket dengan atap kokoh, dengan tubuh sendiri sebagai tumbal, diakhir keduanya tersenyum cerah.
"Nak, jadilah anak baik, ya. Demi kami. Kami sayang padamu."
Ah, sial, mengingat kalimat itu yang mereka ucapkan sambil menyelamatkanku membuat air mataku mulai keluar lagi. Kuseka pipi kasar, kembali merenung dalam nestapa dengan tetesan hujan aneh sebagai suara latar.
Apa dunia akan kiamat?
Atau, ini karma untukku karena sering menjadi anak nakal?
Aku tak tahu. Jadi, dengan tubuh yang mulai merasakan dingin aku memeluknya erat. Isak keluar dari sela bibir, dan meski aku berusaha meredamnya suara tersebut semakin kencang saja. Satu-satunya hal yang teringat olehku hanya berjongkok dan menyembunyikan wajah di lipatannya. Kuharap tangis sialan ini tak pernah terdengar oleh siapa pun.
"Kakak ... kenapa?" Nahasnya, semua hanya harapan semu. Dengan patah-patah kudongakkan kepala, mendapati seorang bocah kecil berusia sekitaran lima tahun.
Sorot matanya terlihat sangat khawatir, walau aku tahu dia juga tak paham kenapa aku berada di situasi begini.
"Kakak? Kakak hanya sedang memeluk diri sendiri. Dingin soalnya." Bohongku dengan senyum dipaksakan. Anak kecil itu masih menatapku lurus. Membuat rasa tak nyaman hinggap di hati.
"Tapi kalau begitu, kenapa wajah kakak sembab? Kakak habis menangis, ya?"
"T-Tidak, kok. Udaranya dingin, jadi mata Kakak kedinginan juga."
Gadis manggut-manggut. Untunglah di cukup polos untuk ditipu. Kupikir, ini semua telah usai, tapi kalimat yang dilontarkan gadis ini barusan mengubah seluruh hidupku.
"Kak, aku memang masih kecil, jadi tidak pantas bicara ini. Tapi, Kakak jangan menyerah, ya? Aku tidak mau melihat orang yang kukenal tewas karena menyerah. Itu ... menyakitkan."
Wajah polosnya kala berujar menyadarkanku sesuatu. Anak itu benar. Aku tak boleh terpuruk terus menerus. Hidupku masih panjang.
"Terima kasih, ya."
"Untuk apa, Kak?"
"Untuk kata-katamu barusan."
Si gadis tersenyum polos. "Untunglah, Kakak tidak menyerah walau kedinginan. Semangat ya, Kak! Aku pulang dulu."
———
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top