Elder

.

.

.

Fandom: Arknight
Elysium x Doctor!Reader

.

.

.

"Lihat siapa yang sedang bersembunyi dari tugasnya."

"Eep!"

Komentar itu sukses mengagetkan seseorang yang hampir terlelap. Orang itu menoleh ke belakangnya, mendapati seorang laki-laki dengan ekspresi tersenyum.

"Ah, Elysium—kau menemukanku lagi."

Elysium hanya mendengus geli mendengar penuturan lawan bicaranya itu.

"Dokter," Elysium menarik boneka yang sedang dipeluk lawan bicaranya itu, "kau belum menyelesaikan satu pun tugasmu hari ini."

Dokter yang bernama (Name) itu langsung merengek seperti anak kecil.

"Apa yang kau lakukan pada Grizzly!? Kembalikan!!"

"Tidak," jawab Elysium singkat.

(Name) mengembungkan kedua pipinya, alisnya berkerut kala dirinya menatap kesal Elysium.

"Hghhh—kembalikan!!"

"Tidak."

"Elysium jahat!"

"Aku memang jahat."

Ekspresi kaget terlukis di wajah (Name), dengan sentakan kaget samar terdengar keluar dari mulutnya. Elysium menahan tawa yang keluar saat melihat wajah (Name).

"Karena aku orang yang jahat, aku akan menyandera boneka ini."

"Hah!?" (Name) spontan berdiri dan berusaha meraih boneka yang Elysium pegang.

Namun nihil, usahanya sia-sia karena perbedaan tinggi antara Elysium dengan dirinya. Senyum jahat Elysium mulai muncul dan melebar.

"Aku akan melepaskan sandera ini, jika kau melakukan apa yang kuperintahkan, dokter."

"Dasar penjahat," ucap (Name) mundur beberapa langkah, "apa begitu caramu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan? Dengan mengancam nyawa Grizzly!?"

Elysium hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan (Name).

"Dokter, jika kau mengerjakan semua tugasmu hari ini sebelum malam tiba, bonekamu akan lepas dan aku akan meminta Matternhorn untuk membuatkanmu kue."

'Kue!!' Elysium mendengus saat melihat wajah (Name) mencerah, 'setidaknya, itu yang dokter pikirkan,' batinnya dapat mendengar suara pikiran (Name).

(Name) tersadar, dan ekspresi curiganya langsung muncul.

"K-kau pikir aku akan tergoda!?"

'Tapi kau sudah tergoda, dokter.'

"Oh, apa tawarannya kurang menarik?" tanya Elysium masih dengan sisi jahatnya, "bagaimana kalau ditambah dengan boneka baru dari Broca?"

Jika wajah (Name) saat mendengar kata kue masih kurang cerah, maka sekarang adalah wajah tercerahnya. (Name) kembali tersadar, lalu berdehem pelan.

"Ehem, nyawa Grizzly perlu diselamatkan," gumam (Name) membuang pandangan—walau sesekali dirinya melirik Elysium, "dan dia juga perlu teman. Jadi aku akan melakukan apa yang aku bisa untuk bisa menyelamatkan Grizzly, baik dari Elysium yang jahat ataupun dari kesepian."

Senyum jahat Elysium seketika berubah menjadi senang.

"Bagus! Kalau begitu, ayo ke kantor dokter untuk mengerjakan tugasmu hari ini."

.

.

.

"Elysium."

Mendengar namanya dipanggil, Elysium menoleh ke sumber suara. Dirinya langsung mendapati bahwa Sesa yang memanggilnya.

"Ada apa?"

"Dokter menghilang."

Ekspresi Elysium datar sejenak, sebelum akhirnya menghela napas.

"Lagi?"

"Lagi," sahut Sesa mengangguk mantap.

"Ini pasti karena kau tertidur saat menjadi asisten dokter!" protes Elysium memukul pundak Sesa, "aku heran kenapa dokter masih memilihmu untuk menjadi asisten."

Elysium terdiam sejenak, sebelum akhirnya menyadari maksud tersembunyi sang dokter.

"Ah, mungkin itu alasannya," ucap Elysium masih memukul pundak Sesa, "agar dokter bisa kabur saat kau tertidur."

"Ack! Berhenti memukulku!" komentar Sesa, "kau bisa mencarinya atau tidak?"

"Apa kau meragukan kemampuanku?" heran Elysium mengeluarkan senjatanya, "operator yang selalu menemukan dokter pertama kali, selalu aku kan?"

Elysium mengentakkan senjatanya ke lantai lalu samar terlihat gelombang yang muncul dari senjata Elysium. Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya merasakan keberadaan yang dia cari.

"Oh, dia ada di Factory lantai 3."

"Terima kasih, Elysium. Aku akan menjemputnya sendiri," sahut Sesa menepuk pundak Elysium sambil berlari menuju Factory.

"Aku tidak akan membantumu lagi jika kau kehilangan dokter!"

.

.

.

"Yo, Elysium."

Elysium menoleh ke belakangnya, melihat Chiave sedang melambai ke arahnya.

"Hm," Elysium mengerutkan alisnya, "biar kutebak, dokter menghilang?"

"Tepat sekali!" ucap Chiave, "bisakah kau mencarinya? Aku sudah berkeliling Rhodes Island tapi tetap saja tidak menemukan dokter."

"Aku mulai percaya kalau dokter punya kemampuan invicible seperti Reunion," komentar Elysium mengeluarkan senjatanya untuk mencari (Name).

Seperti biasa, tidak perlu waktu lama bagi Elysium untuk menemukan (Name). Setelah memberitahu posisi (Name), Chiave langsung pergi menuju lokasi (Name).

"Aku tidak mau bekerja!!"

Elysium melihat dalam diam saat (Name) dibawa seperti karung oleh Broca, dengan Chiave berada di belakang—tampak mengejek (Name).

"Aku juga tidak mau bekerja, tapi Dokter Kal'tsit akan membantai kita jika pekerjaan hari ini tidak kita kerjakan tepat waktu. Oh, lebih tepatnya membantaiku, sih."

(Name) langsung diam saat mendengar penjelasan Chiave. (Name) menoleh ke arah lain, dan saat itu pandangannya dengan Elysium bertemu. Ekspresi ngambek langsung muncul di wajah (Name)—sedikit mengagetkan Elysium.

"Jahaaat!!"

Elysium hanya tersenyum sambil melambai melihat gerakan mulut (Name).

.

.

.

"Sepertinya kau bisa menemukan dokter dengan mudah."

Itulah yang Elysium ucapkan saat melihat Flamebringer membawa (Name) di pinggangnya, seperti membawa barang. (Name) sendiri hanya mengembungkan sebelah pipinya, tidak mengatakan apa-apa.

"Hm? Oh, terima kasih padamu, Elysium," sahut Flamebringer, "(Name) mungkin tidak menyadarinya, tapi posisi menghilangnya punya pola, jadi kami para asistennya bisa menebak tempat persembunyian (Name) selanjutnya."

Elysium melihat ke arah (Name) yang ternyata memerhatikannya. Elysium memiringkan kepalanya dengan heran, tapi (Name) tidak mengatakan apa-apa.

"Ada apa, dokter?" tanya Elysium akhirnya.

"Hmph," (Name) membuang pandangannya.

"Kalau begitu kami permisi dulu, Elysium. (Name) punya tugas yang menumpuk."

Elysium mengangguk singkat, bersamaan dengan Flamebringer (yang membawa dokter) berjalan melewatinya.

'Ada apa dengan dokter? Tidak biasanya dia diam seperti itu,' batin Elysium menoleh ke arah mereka berdua, 'perasaanku tidak nyaman mengenai ini.'

.

.

.

Brak!!

Elysium tersentak kaget saat pintu ruangannya dibuka tiba-tiba, menampilkan teman operatornya dengan ekspresi panik.

"Ada apa?" tanya Elysium langsung berdiri dari kursinya, "apakah kita—"

"Dokter (Name) hilang!"

Elysium terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkedip beberapa kali.

"Y-ya?"

"Dia hilang!" ucap Sesa mengulangi.

"Apa hari ini kau yang jadi asistennya, Sesa?" tanya Elysium menormalkan detak jantungnya yang berdetak cepat karena terkejut.

'Jika asistennya Sesa, maka—'

"Tidak, hari ini aku asistennya."

Elysium berkedip kaget, saat si pemilik suara menampilkan dirinya.

"Executor?"

"Dia menghilang tepat di depan mataku, sesaat setelah pekerjaan terakhirnya selesai," jelas Executor.

"... kalau begitu, tidak perlu mencarinya, kan?" tanya Elysium.

"Elysium," Sesa menyisir rambut merahnya dengan sebelah tangan, "apa kau lupa dua jam lagi kita ada operasi annihilation di Lungmen?"

Elysium diam, lalu detik selanjutnya wajahnya memucat.

"Benar juga!"

Saat tangannya terangkat untuk meraih senjatanya, Elysium tidak merasakan apa-apa. Dia menoleh ke arah tangannya—senjatanya tidak ada.

"Kenapa hilangnya harus di saat sekarang!?"

"Hah, senjatamu hilang?" heran Sesa.

"Ini bukan kali pertama, tapi timing-nya jelek sekali!" jawab Elysium.

"Jika ini bukan kali pertama senjatamu hilang, setidaknya kau menyiapkan senjata cadangan, kan?" tanya Executor.

Elysium berhenti, sebelum akhirnya menatap Sesa dan Executor dengan wajah pasrah.

"Myrtle mematahkan semua senjata cadanganku."

"Itu balasan karena kau memanggilnya pendek," komentar Sesa langsung.

"Tapi dia memang pendek!"

"Begitu juga dengan operator Ptilopsis dan operator Silence yang bisa memutar kepala mereka 270 derajat," sahut Executor.

"Eh, serius?" tanya Sesa dan Elysium terkejut.

"Tentu saja tidak," jawab Executor.

"Engh," Elysium menggerutu kecewa, "mari abaikan topik ini dulu, karena aku tidak menemukan senjataku—mau tidak mau kita harus mencarinya dengan cara manual."

Sesa dan Executor mengangguk, sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan Elysium. Sementara Elysium sendiri masih diam di posisinya. Setelah cukup lama, akhirnya Elysium menghela napas lalu berjalan keluar dari ruangannya.

'Sungguh, sepertinya hariku tidak bisa bebas dari kebiasaanmu untuk menghilang, dokter.'

.

.

.

Elysium memasuki ruang kerja (Name). Sudah satu jam semua operator mencari, namun tidak ada satu pun yang berhasil menemukan (Name).

'Ini waktu terlama dokter bisa bersembunyi,' pikir Elysium.

"Sebenarnya apa tujuanmu bersembunyi?" gumam Elysium—untuk dirinya sendiri.

"Aku marah pada Elysium."

Elysium langsung merinding saat mendengar suara membalas ucapannya.

"Holy shit, setan—tunggu itu suara dokter," komentar Elysium.

Dirinya langsung melihat ke sekitarnya—ruang kantor (Name) yang kosong, dan tatapannya terhenti pada bawah meja kerja (Name).

Bagi orang lain, mungkin yang mereka lihat itu adalah meja kerja.

Namun Elysium bisa mengetahui kebenarannya saat dia fokus dan menggunakan sedikit Originium Arts miliknya. Walaupun samar, ada seseorang yang sedang duduk di depan meja kerja itu, yang tak lain dan tak bukan adalah (Name). Sang dokter hanya duduk dengan memeluk lututnya, namun terlihat (dengan samar) ada beberapa boneka yang menemaninya.

"Dokter?"

Sepertinya sang dokter tidak tahu kalau Elysium mengetahui keberadaannya. Dia hanya diam dengan posisi yang sama. Saat itulah Elysium menyadari bahwa tongkat senjatanya ada pada (Name), berada di sebelahnya.

'Jadi denganmu rupanya, dokter,' pikir Elysium, 'setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan kesiapanku untuk operasi, sekarang.'

"Sepertinya dokter tidak ada di sini—" ucap Elysium dengan suara yang agak keras—sambil mendekati (Name), "—itu yang kau harapkan, dokter?" tanya Elysium berjongkok di depannya, tepat menghadap (Name).

(Name) spontan mengangkat kepalanya, terkejut saat Elysium sudah di depannya—menatap dirinya. Elysium tersenyum lebar, lalu kedua tangannya menarik pipi (Name).

"Dokter (Name), ditemukan."

Saat itulah tubuh transparan (Name) perlahan mulai terlihat.

"Engh, lepaskaan!" protes (Name).

.

.

.

"Eh, kau marah?" kaget Elysium saat mereka sudah sampai di lokasi operasi.

(Name) yang sedang memeluk salah satu boneka kesukaannya sambil memasang wajah ngambek, hanya mengangguk penuh semangat.

"Sudah berapa lama terakhir Elysium menjadi asistenku?"

"Hm," Elysium berpikir sejenak, "sebulan yang lalu?"

"Salah! Tiga minggu dan dua hari yang lalu!" protes (Name).

"Itu hampir satu bulan, apa bedanya?" tanya Elysium tertawa.

'Dokter dan ingatannya yang tajam, seperti biasa.'

"Tentu saja berbeda," gumam (Name), "tidak seperti Elysium, operator yang lain tidak mengizinkan aku membawa Grizzly, Yayan, Arumi, Eclair, Ame ...."

Elysium hanya tersenyum mendengar deretan nama yang keluar dari mulut (Name).

'Ada berapa boneka yang bertambah sejak terakhir aku menjadi asistennya?' pikir Elysium melirik boneka beruang yang (Name) bawa—Grizzly.

"Selain itu!" ucap (Name) tiba-tiba, "kenapa saat aku bersembunyi, bukan kau yang mencariku?! Kenapa operator lain yang justru mencariku!?"

'Itu karena mereka meminta bantuan dariku yang selalu berhasil mencarimu, dokter.'

"Aku tahu mereka pasti meminta bantuan darimu, dan aku tahu kau tidak akan bisa mencariku tanpa menggunakan senjatamu, jadi aku mengambilnya dan sedikit menggunakan Arts agar bisa menghilang," gumam (Name) panjang lebar.

Elysium berkedip kaget mendengar penuturan (Name).

"Jadi itu sebabnya senjataku hilang?" kaget Elysium.

(Name) tidak membalas, hanya kembali mengembungkan kedua pipinya. Elysium yang tidak mendapat respons hanya tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di atas kepala (Name).

"Baik-baik, maafkan aku—mulai sekarang aku yang akan mencarimu dan memberitahu operator lain untuk mengizinkanmu membawa boneka saat bekerja. Jadi jangan ambil senjataku lagi ya, dokter?" pinta Elysium.

(Name) yang ngambek detik itu juga langsung mencerah, lalu mengangguk dengan semangat—membuat Elysium menegakkan kepalanya.

"Oke!"

(Name) lalu menoleh ke arah medan pertempuran—ke arah anggota Reunion. Masih dengan senyum kekanak-kanakannya, tangan (Name) mulai terangkat.

"Myrtle, Elysium, Siege—mari jadi pembuka operasi ini, oke? Myrtle, Elysium—berdirilah dua meter dari kotak ini. Siege, tiga meter dari mereka berdua."

Nama yang disebut mengangguk singkat lalu melakukan apa yang (Name) perintahkan.

"Siap, dokter!"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top