Part 22 - Flashlight

Inspiration song :
Flashlight by Jessie J.

Lagu kesukaanku inilah yang jadi inspirasiku untuk kasih judul cerita ini.

Nih aku kasih trailernya lagi haha

Happy Reading 💜



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷



Nick tidak pernah merasakan amarah yang begitu besar seumur hidupnya. Jika dia sering berhadapan dengan para pecundang yang sama sekali tidak membawa pengaruh untuknya, lain halnya dengan kali ini. Darah Nick terasa mendidik dengan apa yang terlihat di hadapannya.

Dengan mata yang menyipit tajam, tubuh yang sudah bergetar karena menahan emosi, dan rahang yang mengetat. Napasnya sudah memburu dan degup jantungnya bertalu-talu ketika melihat Tiffany didorong lalu diduduki seperti itu. Terlebih lagi, cewek culun yang bernama Anna itu mengarahkan sebuah gunting tajam ke wajah Tiffany.

Dia sudah berada di balik persembunyiannya bersama dengan Andrew sedaritadi. Yeah. Dia sudah mendengar semuanya. Apa yang disampaikan Anna. Semuanya. Hanya saja dia melupakan bagian tentang Anna yang katanya pernah menyatakan rasa suka padanya. Sebab, daya ingat otaknya tidak bekerja maksimal jika berhubungan dengan orang jelek.

Dengan handycam yang dipinjam dari Andrew, Nick merekam semua percakapan itu dan tindak kekerasan yang dilakukan Anna pada Tiffany. Bukankah akan membuang waktu jika Nick menjelaskan sebagai saksi, dimana semua orang pasti tidak akan mempercayainya? Apa lagi yang mendampinginya kini adalah Andrew, orang yang sama-sama dicap jelek dari pihak sekolah. Tentu saja, keduanya akan dianggap telah memberikan kesaksian palsu pada kejadian yang melibatkan dua orang murid yang membuat harum nama sekolahnya yang sudah sangat busuk.

Setelah Nick yakin sudah merekam bagian yang penting, Nick menghentikan rekaman dan menggenggam handycam itu di tangan kanannya.

"Kalo lu nggak mau ke sana, biar gue yang ke sana. Gue udah nggak tahan," keluh Andrew yang sedaritadi begitu berisik ingin segera menghampiri Anna, demi menyelamatkan Tiffany.

Nick mengabaikan Andrew dengan membungkuk untuk mengambil sebuah batu berukuran sedang dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah Anna. Yes! Nick berseru dalam suara berbisik diiringi pekikan kemenangan dari Andrew.

Batu yang dilempar Nick sukses mengenai sisi kepala Anna hingga cewek sialan itu terjatuh ke samping bersamaan dengan gunting yang terlepas darinya. Tiffany terbebas dan segera bergerak menjauh lalu menatap Nick dengan sorot mata yang menyiratkan ketakutan. Cewek itu menangis semakin keras ketika bisa melihatnya dengan jelas, seolah bentuk kelegaan darinya.

Nick mengoper handycam pada Andrew tanpa menoleh padanya, karena tatapan tajamnya sudah mengunci pada Anna yang dengan kurang ajarnya mencekik Tiffany dari belakang sampai cewek itu terlihat sesak napas.

"Kenapa lu harus membela dia terus-terusan, Nick? Selama ini dia udah nyakitin gue dan sama sekali nggak pantas dapetin perhatian dari lu!" seru Anna dengan suara histeris, layaknya orang gila yang kesetanan di sana.

"Lu pikir lu tuh pantes dapetin perhatian dari gue?" desis Nick sambil melangkah tanpa ragu.

"Gue bilang jangan ke sini atau.. KYAAA!!!"

Nick dengan segala amarahnya melakukan tindakan dalam gerakan cepat. Dia mencengkeram pergelangan tangan Anna yang mencekik Tiffany, menariknya kencang, dan dipilin dalam satu putaran telak. Anna kesakitan dan menangis keras di sana. Tanpa mempedulikan rasa sakitnya, Nick menekan tangan Anna yang terpilin itu pada satu lututnya yang terangkat dan krek!

Terdengar suara tulang bergeser diiringi teriak kesakitan dari Anna. Nick bahkan tidak menaruh peduli dengan mendorongnya kasar hingga cewek itu terjatuh kembali ke tepi sungai. Masa bodo dengan anggapan cowok yang beraninya dengan cewek, karena bagi Nick sendiri, Anna bukanlah cewek yang perlu dihargai olehnya.

Andrew segera menarik Tiffany untuk menjauh dari situ, membiarkan Nick mengeksekusi Anna. Nick sempat menoleh pada Tiffany yang masih terisak dan Andrew berusaha menenangkannya. Melihat Tiffany yang sepertinya kedinginan, Nick spontan melepas jaketnya dan melempar ke arah Andrew agar dipakaikan pada Tiffany.

"Jangan pegang-pegang atau gue patahin tangan lu!" desis Nick sambil menunjuk Andrew dengan kasar ketika Andrew sedang memakaikan jaket pada Tiffany.

Andrew mendengus kasar dan melotot tajam ke arah Nick. "Diem lu, Bego!"

Nick melengos dan menunduk untuk menatap Anna dengan hunusan tajam yang menusuk. Selama ini, dia hanya berurusan dengan cowok-cowok rese yang bisanya menuai keributan yang tidak berarti. Tapi kali ini, dia tidak percaya jika harus berurusan dengan cewek gila yang sudah hilang akal dengan pikiran sempit seperti itu.

Anna menangis dan terlihat kesakitan sambil menangkup tangannya. Darah pun mengalir dari sisi kepalanya yang terkena batu. Cewek itu sangat kacau dan berantakan. Benar-benar seperti orang gila yang meresahkan masyarakat dengan tampilan culunnya yang semakin hancur. Itulah kenapa Nick membenci pecundang.

Meski Anna terisak, namun Nick sama sekali tidak merasa iba. Malahan, Nick merasa muak dan ingin segera menghajarnya saja. Tapi, akal sehatnya masih berbicara tentang memberi kesempatan untuk Anna berbenah diri sekalipun Nick ragu akan ide tersebut.

"Nggak susah untuk mencari siapa dalang dibalik semua ini. Dari awal, gue udah yakin cewek culun kayak lu emang nggak beres. Semua yang deket sama Tiffany pasti kena getahnya, tapi lu nggak. Sampe akhirnya, gue minta data siswa dan guru di sekolah dari orang terpercaya," ujar Nick dengan nada sinis.

Anna masih terisak dan tidak membalas ucapan Nick. Sorot matanya menyiratkan kekecewaan dan ketakutan di saat yang bersamaan.

"Kenapa lu bisa langsung curigain gue?" tanya Anna dengan suara parau.

"Gue pernah ngeliat lu keluar dari ruang loker sebelum kejadian telor busuk itu. Lu juga pernah terpergok sama gue beberapa kali dan berlagak bego setelah itu. Asal lu tahu aja, jangan terlalu geer karena gue ngeliatin lu terus, sampe lu nekat samperin Tiffany kayak gini. Gua cuma nungguin waktu aja buat ngelabrak lu dan sekarang udah waktunya," jawab Nick tanpa ekspresi.

"Menuduh orang tanpa bukti bukan hal yang gue lakuin. Kalo gue ngomong cuma berdasarkan asumsi, udah pasti nggak akan ada yang percaya sama gue. Apalagi cewek culun model kayak lu yang jadi murid kesayangan sekolah. Najis banget kalo gue disangka sirik atau suka sama lu," lanjut Nick dengan ekspresi judesnya.

Isakan Anna semakin keras dan menatap Nick dengan sorot mata yang begitu sedih. "Kenapa lu benci banget sama gue, Nick? Lu selalu cuek sama semua orang, termasuk gue. Tapi kenapa sama Tiffany nggak?"

"Suka-suka gue lah, maunya sama siapa bukan urusan lu. Jadi, nggak usah kepo!" celetuk Nick sengit.

Andrew menatap Anna dan Nick dengan tatapan tidak percaya lalu menunduk untuk melihat Tiffany yang mendengar pembicaraan itu dalam diam. Tiffany sudah tidak menangis dan terlihat memeluk tubuhnya dengan jaket Nick yang kebesaran seolah mencari kehangatan lebih banyak.

"Gue nggak nyangka kalo cowok tengil macam Nick ini malah jadi rebutan duo jenius di Lilin Harapan," komentar Andrew sambil menatap Nick dengan tatapan meremehkan dan berckckck ria. "Sial! Gue kurang ganteng apa sih sampe gagal jadi rebutan gini?"

Nick hanya memutar bola mata dan menghampiri Tiffany untuk memperhatikan keadaan cewek itu sekarang. Tiffany menatap Nick dengan ekspresinya yang begitu sedih dan terpukul. Kini, giliran Andrew yang mendekati Anna dan menatap keadaan cewek itu dengan penuh simpati.

"Seharusnya otak jenius lu bisa dipake dengan hal yang lebih berguna, Anna. Prestasi bukan obsesi yang harus lu lakuin. Kalo lu merasa harus jadi yang terbaik, lakukan dua kali lipat lebih banyak. Jadi juara sekolah itu nggak gampang. Gue yakin kalo Tiffany juga udah berusaha keras dalam urusan belajar dan sama kayak lu yang udah berjuang mempertahankan," ucap Andrew sambil menghela napas.

"Jangan pernah dengerin apa kata Liam, karena dia itu racun. Kalo emang dia mau bantu, dia nggak akan bikin lu sengsara. Yang dia mau cuma bikin lu makin benci sama Tiffany dan nekat ngelakuin hal absurd kayak gini. Semisal Nick dan gue nggak dateng, dan lu berhasil matiin Tiffany, apa yang lu dapet selain masuk ke penjara khusus remaja dan bikin malu keluarga?" lanjut Andrew tidak habis pikir.

Nick merasakan adanya pergerakan dari Tiffany yang menyusul Andrew untuk menatap Anna yang masih terduduk di sana. Anna terlihat menggigil sambil menangkup tangannya dengan erat, masih terisak dengan ekspresi kesakitan yang kentara.

Kini, Tiffany dan Anna saling bertatapan dalam diam. Masing-masing memberikan ekspresi yang tidak terbaca.

"Gue ngomong untuk sekali ini aja. Gue minta maaf kalau gue udah bikin lu merasa kalah dan sakit hati, demi apapun gue nggak pernah merasa bersaing dengan lu. Peringkat pertama yang gue dapet bukan secara instan, tapi belajar dengan sungguh-sungguh. Dan lu tahu kenapa? Karena gue hidup dalam keluarga yang nggak pernah berkumpul bersama, meski cuma sekedar makan malam. Gue pun tertekan dengan keegoisan kakak gue yang kepengen nyakitin setiap orang yang berniat jadi teman gue. Dan belajar adalah satu-satunya hal yang bisa gue lakuin untuk mengisi kekosongan gue dari semua tekanan yang gue dapatkan," ucap Tiffany dengan suara gemetar, menahan tangisnya dan berusaha untuk terdengar lantang.

Hening. Mereka semua terdiam. Tidak ada yang membalas, termasuk Nick. Isakan Anna pun terhenti dan menatap Tiffany dengan pilu.

"Dan soal Nick, gue nggak bisa berbuat banyak," lanjut Tiffany. "Gue merasa aman dan nyaman waktu bareng sama dia. Kami masih berteman, nggak tahu kalau nanti. Tapi yang jelas, gue memang suka sama dia. Gue udah tertarik sama cowok judes yang nggak suka diusik dan selalu menolong gue sejak hari pertama dia masuk ke Lilin Harapan."

Nick tertegun. Dia bergeming dan tidak memberikan reaksi yang berarti selain menatap Tiffany dalam diam. Sementara itu, Andrew mendesah malas dan segera menghampiri Nick sambil mengulurkan handycam miliknya.

"Pegang ini. Gue kasih lu pinjem, jangan sampe rusak. Cukup lu rusakin image keren gue karena kalah pamor di kalangan cewek jenius kayak mereka," celetuk Andrew kesal ketika Nick menerima handycam-nya.

Tiffany menoleh pada Andrew dan berkata dalam nada tegas. "I fall in love with souls, not faces."

Andrew menghela napas dan segera berjalan ke arah Anna, membantunya beranjak dari situ. Anna meringis kesakitan dan kembali terisak sambil menangkup tangannya.

"Seharusnya, sekesal apapun lu sama cewek, jangan sampe main kasar gini, Nick," tegur Andrew sambil mengangkat Anna dalam gendongannya.

"Dan lu yang nggak sabaran waktu kita masih di belakang tadi," celetuk Nick sinis.

Andrew mengangkat alis setengah. "Gue sama sekali nggak niat buat main tangan. Gue paham kalo lu bego soal cewek. Asal lu tahu, satu-satunya cara bikin cewek kicep yah cium! Kayak gini!"

Nick tertegun ketika melihat Andrew dengan bodohnya mencium bibir Anna yang masih terisak di sana. Tidak membutuhkan waktu lama, isakan Anna terhenti dan Andrew menyudahi ciuman itu dengan ekspresi tengil di wajah. Tiffany sampai harus membekap mulutnya melihat tindakan Andrew barusan.

"See? Apa gue bilang? Dia langsung kicep!" desis Andrew sengit.

Anna seakan membeku dengan tubuh yang sudah gemetar. Nick pun segera menarik Tiffany untuk menjauh dari sana.

"Lu urus dia! Gue bawa Tiffany pergi dari sini," ucap Nick dengan nada perintah sambil memasukkan handycam ke dalam saku celana trainingnya.

Andrew memutar bola mata dan segera melangkah tanpa berkata apa-apa lagi sambil membawa Anna dalam gendongannya. Dari kejauhan, dia bisa mendengar suara Andrew yang mengumpat dan memarahi Anna dengan ucapan panjang lebar dan nada tidak suka.

Kini, Nick dan Tiffany sedang berjalan berdampingan tanpa adanya pembicaraan.

"Ada yang sakit?" tanya Nick kemudian.

Tiffany menggeleng tanpa menoleh ke arahnya. Suasana yang sunyi dengan lampu jalan yang remang dan bunyi jangkrik yang memenuhi sekitarnya dengan gemericik air terjun yang deras. Nick pun membiarkan Tiffany terdiam dan berjalan di sampingnya tanpa berniat untuk memulai pembicaraan. Sampai akhirnya, langkah Tiffany tiba-tiba berhenti.

Nick mengerutkan alis dan menatap Tiffany heran. "Ada apa?"

Tiffany mendongakkan kepala, menatap Nick dengan penuh arti. "Di sini gelap dan senyap yah?"

"Eh? Maksudnya?" tanya Nick bingung.

"Di sini," jawab Tiffany sambil menunjuk sekitarnya tanpa mengalihkan tatapan. "Gelap dan senyap. Juga kosong. Hampa. Nggak ada siapa pun."

"Hah? Lu ngomong apa sih?"

Ekspresi Tiffany berubah menjadi sendu sambil menaruh kedua tangan di dadanya. "Sama kayak hati gue. Keadaan sekitar kita, persis kayak apa yang gue alamin dalam hidup gue."

Nick tertegun dan menatap Tiffany dalam diam. "Maksudnya lu...,"

"Lu bawa hape?" sela Tiffany cepat dan Nick langsung mengangguk.

"Ada di kantong sebelah kanan jaket gue yang lagi lu pake," jawab Nick sambil menunjuk jaketnya.

Tiffany menunduk dan merogoh saku jaket Nick untuk mengambil ponsek yang ada di dalam sana. Cewek itu segera menyalakan ponsel dan mencari sesuatu di sana.

"Lu mau telepon siapa?" tanya Nick heran.

Tiffany menggelengkan kepala dan memasuki aplikasi senter, lalu menyalakannya. Sekelilingnya menjadi terang seketika, memberikan penglihatan yang begitu jelas wajah Tiffany yang begitu sembap dan memerah di sana.

Tiffany memaksakan sebuah senyuman pada Nick. "Saat lu masuk dalam hidup gue, seperti ini keadaan hati gue sekarang. Lu adalah cahaya yang menyinari kehidupan gue, yang bisa menarik gue keluar dari kegelapan untuk melihat terang. Lu yang mengarahkan jalan untuk keluar dari ketakutan dan mampu berjuang dalam membela diri gue sendiri. Gue merasa bersyukur bisa bertemu dan mengenal lu, Nick. Thanks for everything."

Setelah mengatakan semua itu, isakan Tiffany mulai mengudara. Dia menangis keras dan isak tangisnya semakin kencang. Pertahanan dirinya rubuh dan Nick bisa merasakan apa yang Tiffany rasakan saat ini. Pengkhianatan dari seorang sahabat. Kejahatan dari seorang kakak. Tekanan hidup yang membuat batinnya tersakiti.

Tiffany tampak kalut, sedih, rapuh, takut, dan semuanya bercampur dalam ekspresinya yang begitu pilu. Membuat rasa sayang Nick tiba-tiba muncul dan menguar dalam tindakan spontan yaitu menarik Tiffany dalam pelukan. Memberikan waktu untuk Tiffany meluapkan perasaan lewat tangisan yang semakin keras di balik bahunya.

"You did good, Tiffany. It's okay, everything will be fine," ucap Nick pelan sambil mengusap lembut punggung Tiffany, lalu mengecup pucuk kepala dengan penuh rasa sayang.

Dia mengeratkan pelukan, membiarkan Tiffany menenangkan diri selama beberapa waktu. Di dalam hatinya, dia sudah berjanji untuk melindungi Tiffany dan membuat perhitungan dengan Liam secepatnya. Sebab hal ini tidak bisa didiamkan begitu saja, sebelum semuanya menjadi terlambat.



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Para visual makin kurang ajar ya?
Gimana nggak begah kalo disodorin muka kayak begini 😌

Lelah hati Noona.








Revisi : 31.07.19 (10.57 PM)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top