Part 20 - Red Code
Nick memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan menilai. Well, harus dia akui jika pesona alam yang ada pada kawasan Air Terjun di Curug, Cilember ini benar-benar indah.



Kawasan air terjun ini, memiliki tujuh air terjun dimana semakin tinggi tingkat yang sanggup dinaiki, maka keindahan air terjunnya semakin terlihat. Dan bukan hal mudah untuk menaiki tingkat teratas karena jalanan yang sempit, batu karang yang licin dan tanjakan yang curam membuat langkah-langkah mereka menjadi melambat.
Sesampainya di kawasan air terjun, para rombongan kelas 3 langsung berjalan beriringan menapaki jalanan terjal dan licin. Tidak tanggung-tanggung, Pak Shawn menginginkan mereka langsung menuju ke tingkat teratas tanpa jeda. Alhasil, semuanya capek dan kewalahan.
Penderitaan mereka belum sampai di situ. Karena setibanya mereka di tingkatan teratas, Pak Shawn langsung menyuruh semua siswa cowok untuk memasang tenda sesuai dengan daftar nama yang sudah ditentukan. Sementara para siswa cewek disuruh untuk menyiapkan bahan barbeque seperti mengupas kulit jagung, mengiris sosis dan sebagainya untuk nanti malam. Tidak ada waktu istirahat. Aksi protes para murid pun diabaikan oleh Pak Shawn.
Nick hanya menarik napas sambil memberikan ekspresi judes yang sama sekali tidak hilang dari wajahnya sedaritadi. Rasa jenuhnya semakin menguap dan Nick mulai gerah. Seharusnya, dia bersantai sambil bermain games di apartemen.
Teringat dengan kakak sepupunya yaitu Nathan, yang memiliki rumah besar di daerah Bogor, Nick tergoda untuk menelepon Nathan dan memintanya menjemput ke sini. Tapi rasanya itu tidak mungkin, pikirnya sebal.
“Gue masih nggak habis pikir kalo lu mau ikutan hari ini." Tiba-tiba, Andrew sudah berdiri di sampingnya.
Nick memutar bola mata sambil menggelengkan kepala. Semenjak dia menerima ajakan Andrew dan Stephen untuk nongkrong di sebuah kafe dekat sekolahnya waktu itu, mereka semakin gencar untuk mendekati Nick.
Nick mulai jengah dengan sikap sok akrab dari dua orang itu. Dia malas dengan drama pertemanan yang membosankan. Bisa jadi, ada sesuatu dari pendekatan mereka yang tidak biasa.
“Terpaksa,” jawab Nick ketus.
Dia menoleh dan memperhatikan Andrew sedang melakukan pengaturan pada handycam-nya. Mau ngapain juga tuh anak bawa barang begituan? Emangnya apa yang bisa direkam dengan acara basi kayak begini? batin Nick heran.
Andrew menoleh lalu memberikan cengiran lebar ke arahnya. “Biar kata terpaksa, tetap aja lu ke sini. Dasar bucin. Bilang aja lu gak kepengen pisah bentaran sama Tiffany."
Nick melengos. “Nggak ada hubungannya.”
“Masa?"
“Gue sama dia belum pacarann, tapi bukan berarti lu bebas deketin dia,” tegas Nick.
Dia mengedarkan padangan ke sekeliling dan mendapati Tiffany sedang membantu untuk mengupas kulit jagung dengan cepat. Caranya bekerja sangat terlatih, berbanding terbalik dengan cewek lain yang terlihat ribet, karena memegang jagung layaknya kolor busuk. Cih!
"Gimana sih maksudnya? Nggak jadian tapi sikap lu malah pacar wannabe kek gini, pake-pake ngelarang orang segala," sinis Andrew.
Nick menoleh judes ke arahnya. “Terserah. Gue nggak punya kewajiban buat menjelaskan kepada semua orang."
“Okay, I got it. Santai dikit aja napa? We’re going to have some fun tonight. Katanya ada acara jurig malem, jadi kita bisa jahilin cewek-cewek untuk nakutin mereka sampai mereka teriak ketakutan. Bonusnya adalah kita bisa dapet pelukan gratis,” ujar Andrew geli.
“Gue nggak nyangka kalo lu bakat jadi cowok gampangan,” balas Nick sambil menyeringai licik.
“Bukan gampangan. Tapi bijak dalam mencari kesempatan,” sahut Andrew bangga.
Tak lama kemudian, suara peluit terdengar nyaring dari Pak Shawn. Semua murid langsung mendesah malas dan berkumpul di tengah-tengah area camping. Pak Shawn membagi beberapa tim untuk membuat tenda, lalu para murid langsung berpencar untuk memulai tugasnya.
Total yang harus dibuat ada 20 tenda dan itu berarti harus segera dilakukan dengan cepat. Tidak ada waktu untuk bersantai dan Nick kembali mendengus untuk yang ke sekian kalinya. Sedangkan Andrew tampak asik merekam lewat handycam yang dipegangnya.
Sekitar tiga jam kemudian, para murid cowok menghela napas lega karena akhirnya pemasangan tenda sudah selesai. Tenda yang dipasang itu cukup besar dan memuat hampir 10 orang didalamnya. Hmmm... not bad, pikir Nick.

Nick menengadah ke atas langit dan senja mulai terlihat. Kemudian, Nick mengedarkan pandangan sekeliling sambil beranjak berdiri. Tatapannya mempelajari semua murid yang ada di situ sambil mencari sosok Tiffany yang tidak terlihat dimanapun. Kembali dia menengadah ke atas dan langit mulai menggelap.
“Mau kemana, Bro?” tanya Andrew dengan alis berkerut bingung melihat Nick yang hendak melangkah pergi.
“Gue lagi nyari Tiffany, kok dia nggak keliatan yah?” gumam Nick seorang diri.
Karena sibuk memasang tenda, Nick sampai tidak mengawasi Tiffany kembali. Kemana dia pergi? Pikir Nick. Di lokasi air terjun seperti ini, Nick yakin jika Tiffany tidak akan mungkin pergi kemana-mana. Dan sedetik kemudian, mata Nick melebar dengan kemungkinan lokasi seperti ini. Sial!
“Kayaknya tadi Tiffany pergi sama cewek culun yang sarapan bareng sama kita ke arah sana,” ujar Andrew sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Nick terdiam sejenak lalu menoleh pada Andrew dengan tatapan menilai. "Stephen dimana?
"Lagi disuruh pak Timo buat bantu ngangkut kayu bakar," jawab Andrew.
Nick kembali terdiam sambil berpikir sejenak. Mungkin ada baiknya dia segera bertindak sebelum semuanya terlambat. Dia mencoba memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, dilihat dari segi permainan yang terpampang dan terbaca olehnya saat ini.
Kembali Nick menoleh pada Andrew. "Niat buat temenin gue jalan-jalan sebentar?"
Andrew tertegun mendengar ajakan Nick, seolah hal itu tidak mungkin dikeluarkan dari cowok itu padanya. Lalu dia mengangguk sambil mengembangkan senyuman.
"Of course, yes! Gue seneng kalo lu ngajakin gue jalan. Tahu aje lu kalo gue lagi boring," seru Andrew girang, sambil beranjak dari duduk dan mengalungkan handycam-nya.
"Udah ngerekam apa aja?" tanya Nick kalem.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan kecil yang terjal dan curam.
"Banyak banget. Pemandangan di sini bagus. Gue suka dengan suasana alam kayak gini," jawab Andrew antusias.
"Hobi?"
"Yoi."
"Oh, oke. Kalo gitu, handycam lu berguna banget buat acara jalan-jalan kayak gini."
“Iyalah. Berguna banget! Tempat ini banyak calon penganten yang foto prewed. Gue jadi mupeng kepengen kawin,” celetuk Andrew sambil tertawa geli.
Tanpa berniat membalas celotehan Andrew, Nick hanya mendengus sambil berjalan mantap menyusuri jalan turunan yang curam. Dimana Andrew tidak berhenti mengoceh hal apa saja dan terdengar membosankan sepanjang ritual jalan-jalan mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Banyak yang tanya, kenapa aku nge-ship Sehun Somi banget?
Katanya nggak cocok blablabla...
Simple aja.
Kamu punya kesukaan tersendiri, aku pun demikian 😊
Bagiku, mereka cocok.
Yang 1 judes tapi malu2
Yang 1 atraktif tapi malu2in 🤣
Kalo mereka jadian, lucu aja gitu.


Revisi : 25.07.19 (08.39 AM)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top