Part 17 - Conversion

Ada berita heboh di sekolah. At least, kehebohan itu sudah bertahan selama seminggu belakangan ini. Sampai-sampai semua tercengang. Tidak ada satu pun yang menyangka jika ada perubahan drastis yang dilakukan Nick. Yep!

Sang preman sekolah kembali ke jalan yang benar. Dari segi penampilan sudah terlihat perubahannya. Kemeja seragam, kini sudah dimasukkan ke dalam celana, berikut dasi yang tersimpul rapi. Jika biasanya, Blazer seragam selalu disampirkan ke bahu, atau tidak dipakai sama sekali, kali ini sudah dipakai dengan benar.

Sepatu sneaker berwarna pun, sudah diganti sepatu hitam polos sesuai peraturan sekolah. Sepasang anting yang selalu bertengger di telinga, kini sudah tidak ada. Rambut shaggy gondrong-nya sudah dipotong lebih pendek dan ditata lebih rapi yang membalut pas di wajah maskulinnya. Meskipun kesemua perpaduan itu, tidak bisa menyembunyikan ekspresi judes yang memang sudah bawaan lahir.

Pak Jacob tersenyum senang melihat Nick yang melakukan apa yang dia katakan. Barusan saja, dia menerima laporan dari murid-murid lainnya. Dia berjalan mengelilingi sekolah untuk mencari tahu kebenaran rumor itu, dan benar adanya. Kembali dia tersenyum ketika mengingat laporan dari siswa-siswi yang ditemuinya.

"Sekarang udah berubah, Pak. Kemarin itu, kita piket di kelas. Yang cowok-cowok pada rese nggak mau bantu. Jadi kita yang cewek-cewek kewalahan dan nggak kuat geser meja. Eh, tiba-tiba ada Nick yang bantu geserin meja, Pak!" cerita Lusi, anak kelas 2-IPS2.

"Terus dia bantuin sampai selesai?" tanya Pak Jacob dengan kalem.

Lusi menggeleng mantap. "Dia bantuin sampai setengah, Pak. Setelah itu, dia ngomong 'lu semua yang terlalu manjain anak-anak cowok dengan ngebiarin mereka ngelakuin ini ke kalian', saya jawab nggak ada cara lain untuk bikin mereka membantu kami. Terus Nick langsung jawabin kita begini : 'Buat mereka sampai mau' dan dia langsung keluar kelas. Habis itu, nggak tau gimana anak-anak cowok pada masuk and langsung bantuin kita pak. Kyaaaaa.. sumpah pak, dia mendadak keren banget!" pekik Lusi histeris. Dibarengi kehebohan dari tiga temannya yang ikut menjerit.

Lain lagi laporan dari anak kelas 3-IPA1 yang tidak kalah hebohnya. Teman sekelas Nick.

"Seminggu lalu saya sempat nggak masuk karena harus ikut orang tua saya keluar kota, Pak. Ada urusan keluarga. Lalu kemarin pas pelajaran Pak Timo, saya ditanyain soal pelajaran, waktu saya nggak masuk, Pak. Tapi Pak Timo tetap nggak mau tahu dan suruh saya maju untuk tulis jawaban di papan tulis. Dan tahu nggak, Nick ngapain?" seru Yoan dengan mimik wajah gemas.

Pak Jacob langsung bisa menebak, "Pukul Pak Timo?"

Yoan langsung menggeleng cepat, tanda bahwa jawaban Pak Jacob salah. Dia langsung menjawab dengan nada girang. "Dia mendadak kasih kertas kecil berisi coret-coretan di meja saya, waktu pak Timo balik ke meja. Saya nengok-nengok ngeri ke arah Nick, terus baca kertas itu, Pak. Ternyata, itu jawaban buat soal yang diajukan Pak Timo. Dan dia langsung berbisik gini 'Bikin kicep si Guru Kampret itu!' Aaarrrggghhhh...disitu Nick gantengggg bangett pak!!"

And the list goes... banyak hal terjadi di minggu itu, dan Pak Jacob tersenyum senang, pertanda jika keputusannya untuk berunding dengan Nick adalah benar.

Pak Jacob sudah menduga jika anak berandal itu mempunyai potensi yang tersembunyi, sejak pertama kali Pak Jacob melihatnya. Menjadi seperti itu, sudah pasti ada yang ingin Nick sembunyikan. Anak itu tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Dengan adanya perubahan dari Nick yang begitu drastis, sudah pasti ada sesuatu yang penting baginya, untuk membuat keputusan yang cukup berat.

Pak Jacob meraih ponsel, menekan angka 3 di sana, dan menempelkan ke telinga. Panggilan itu diangkat setelah nada sambung terdengar sekali.

"All is well. Get ready for the surprise bomb, Sir," ucap Pak Jacob dengan suara dalam.

Kemudian telepon dimatikan. Dan Pak Jacob bersiul riang sambil berjalan menuju ke ruangan, menikmati hari yang begitu indah.

🌷🌷🌷🌷🌷

"Apa gue boleh ketawa sekarang, kalo orang model kayak lu bisa dateng kesini?" ejek Stephen sambil melihat kedatangan Nick, yang baru saja memasuki perpustakaan sambil menenteng sebuah buku.

"Dia udah tobat," celetuk Andrew geli.

Nick hanya melengos dan berjalan menuju ke rak buku untuk mengembalikan buku yang kemarin dipinjamnya. Ralat. Itu adalah buku yang dipinjam Tiffany kemarin, untuk memimpin kelompok belajar mereka.  Karena Tiffany yang tiba-tiba dipanggil Bu Riska, maka Nick yang terpaksa harus mengembalikan buku itu.

"Jadi, apa alasannya lu bisa berubah culun kayak gini? Efek siswa teladan dari cewek lu udah tertular? Buset, cinta banget yah," kembali Stephen bersuara, tahu-tahu dia sudah ada di sebelah Nick.

"Kalo boleh jujur, gue lebih seneng dengan penampilan lu yang kemarin-kemarin," timpal Andrew.

Nick mendesis ke arah dua orang yang sedang berdiri berdampingan, tepat di samping kanannya. Mereka sedang berada di lorong rak perpustakaan.

"Nggak usah kayak homo yang lagi ngincer mangsa deh. Gue nggak minat," ucap Nick sinis.

"Heh, sembarangan ngomong lu! Biar begini, cewek-cewek pada minta nambah sama gue!" sewot Stephen tersinggung.

"Apanya yang minta nambah?" tanya Andrew geli.

"Nggak usah diperjelas, pokoknya lu tahu yang gue maksud," jawab Stephen.

Andrew terkekeh geli dan berdeham ketika Nick semakin terlihat tidak senang. "Kita berdua lagi usaha mau jadi anak baek, Nick. Sesama pensiunan berandalan, kita kudu kompak."

"Jijik!" balas Nick dengan ekspresi seperti yang dia ucapkan.

"SONGONG!" sembur Andrew dan Stephen bersamaan.

Nick memutar bola mata dan melangkah keluar dari perpustakaan. Andrew dan Stephen mengikutinya dari belakang.

"Tunggu dulu, Nick," seru Stephen sambil menahan bahu Nick, tapi langsung ditepis kasar oleh Nick.

"Lu mau cari gara-gara sama gue?!" desis Nick galak.

"Nggak. Gue cuma kepengen ngajak lu nongkrong bareng pas pulang sekolah. Mau?" balas Stephen dengan kekehan geli diwajahnya.

"NGGAK!" tolak Nick mentah-mentah.

"Gue denger-denger, katanya lu jago basket. Gimana kalo lu ikutan masuk ke dalam tim? Stephen baru aja join," ajak Andrew, mengabaikan penolakan dan muka busuk Nick. 

"Gue nggak minat!" balas Nick langsung.

"Kampret lu, nolakin orang melulu? Dikasih pelet apa sama Tiffany, sampe lu bucin gitu?" desah Stephen malas.

"Mungkin dia emang nggak bisa basket kali, sok-sokan bilang nggak minat," ejek Andrew sinis.

"Kalo lu ngajak gue, maka pamor lu bakalan turun," ujar Nick penuh percaya diri.

Basket sudah seperti napas kehidupannya. Nick bahkan tidak perlu mengikuti eskul untuk bisa memainkan olahraga yang sudah digelutinya sejak SD.

"Semua orang juga bisa nyombong tanpa bukti, Brother," celetuk Stephen.

"Terserah," balas Nick cepat, dan menggeram ketika dua cowok brengsek itu, malah menahan langkahnya dengan berdiri tepat di depannya.

"Sumpah yah, lu berdua udah kayak homo yang lagi kegatelan! Pergi sana!" usir Nick galak.

Andrew mendengus dan menatap Nick kesal. "Kita taruhan. Kalo lu bisa masukkin bola sebanyak tiga kali, gue nggak akan ganggu. Tapi kalo lu kalah, lu harus masuk tim dan kita berteman. Deal?"

"Gue nggak minat buat main basket, apalagi temenan sama lu. Minggir!" desis Nick.

"Ya udah, kalo gitu nongkrong aja," balas Stephen nyolot.

"Kok gue kesel ya? Ngajakin dia nongkrong, kudu narik otot sambil ngegas gini?" keluh Andrew sambil menggelengkan kepala.

"Stop ngajakin gue! Gue nggak minat. Jangan ngikutin gue! Lu kira gue nggak tahu kalo kalian udah ngintilin gue dari kemarin?" ujar Nick tegas.

"Santai aja sih, nggak usah kayak gitu. Kita cuma ngajak nongkrong. Nggak ada yang aneh dengan sebuah pertemanan, kan?" sahut Stephen dengan alis terangkat setengah.

Nick menyipitkan mata dengan tatapan curiga. Kejadian hari ini seperti direkayasa. Tiffany yang tiba-tiba dipanggil guru, lalu dirinya yang dipaksa untuk segera mengembalikan buku ke perpustakaan. Andrew dan Stephen yang muncul di jam pelajaran, dengan tujuan yang sama seperti dirinya.

Ajakan pertemanan dan undangan masuk ke dalam tim basket, sudah pasti ada unsur kesengajaan di balik semua itu. Persis ketika Nick teringat dengan ucapan Tiffany agar dirinya mencoba membuka diri kepada orang lain, seperti berteman misalnya.

Dari sini, Nick sudah bisa menyimpulkan jika Tiffany yang berinisiatif untuk meminta dua cowok rese itu, sebagai teman pertamanya. Cih! Kayak nggak ada kandidat lain buat kenalin gue! Miranda Kerr kek! Batin Nick sewot.

"Kalo gitu sana bubar!" usir Nick lagi.

"Lu belom kasih jawaban," balas Andrew bersikeras.

Nick mendengus. "Fine! Gue akan ikut nongkrong, tapi nggak main basket!"

"Kok basket nggak, sih?" protes Stephen.

"Kulit gue alergi kalo kena panas matahari," sahut Nick asal, sambil lalu dan meninggalkan keduanya dengan santai.

Begitu Nick tiba di kelas, dia bisa melihat ekspresi riang di wajah Tiffany yang sedang memperhatikannya dari meja sebelah. Seharusnya, Nick memaki atau membentak Tiffany dengan niatnya yang tidak diperlukan itu, tapi nyatanya Nick malah terdiam saja. Dia membuka buku pelajaran dan menunduk saja. Menahan diri untuk tidak menoleh ke samping, karena sudah tidak sanggup menahan serangan berupa senyuman hangat, yang kini berhasil membuat degup jantung berdetak lebih cepat.



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Thanks to MokaViana for this awesome story trailer 💜



Revisi : 15.07.19 (11.52 AM)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top